
Pagi ini terasa berbeda dengan pagi-pagi biasanya. Lobby kantor di penuhi oleh ucapan-ucapan selamat datang dan seluruh orang seperti sudah datang meskipun jam masih menunjukan pukul 8.30 pagi, 30 menit lebih awal dari jam masuk kantor.
"Rasanya, sambutan ini sangat berlebihan sekali. Seperti akan menyambut Presiden yang akan berkunjung saja," bisik ku pelan.
Max tertawa, "Namanya juga bos besar, saat ini semua orang pasti ingin terlihat baik di depannya." Max menggandeng tanganku, kami berjalan sambil bergandengan tangan menuju lift.
Aku keluar terlebih dahulu karena lantai tempat kami bekerja berbeda. Max mengecup keningku sebelum aku keluar.
"Sampai ketemu saat jam makan siang nanti ya," katanya sambil tersenyum.
Saat baru keluar dari lift mang Ujang menghampiriku, dia memberikan sebuket besar bunga mawar merah.
"Buat saya?" kataku heran. Mang Ujang mengangguk.
"Siapa yang kasih mang?"
"Saya ga tau, tadi kurir yang anterin. Permisi mba," katanya sambil berlalu.
Besar sekali bunganya, aku membauinya. Wanginya segar dan harum sekali.
__ADS_1
Aku menuju meja kerjaku, lalu merapihkan laporan keuangan yang kemarin sempat di minta oleh Bu Gina, kemudian menuju ruangannya untuk menyimpan laporan itu.
"Wow, bunga dari siapa ini. Dari Max? Romantis sekali." Sinta baru datang, dia melihat dengan antusias buket bunga mawar di meja kerjaku.
"Oh... tadi di kasih Mang Ujang."
"What? masa OB kaya Mang Ujang ngasih kaya ginian? Ga salah?" Sinta terlihat tidak puas dengan jawaban asal yang aku berikan. Dia memang selalu penasaran dan ingin tahu orangnya.
"Ya, engga. Maksudnya Mang Ujang yang kasih karena di titipin. Pemberi yang aslinya gue ga tau, gue belum sempet lihat tadi. Beresin laporan buat Bu Gina dulu."
"Nih ada kartunya," kata Sinta sambil menycium-cium bunga itu. Sinta mengacungkan kartu berwarna merah muda di tangannya.
Good Morning Malinda
Aku harap kamu tidak tersinggung dengan ucapan ku semalam.
Saat melihat bunga ini, aku langsung teringat padamu. Sangat mempesona namun sangat berduri.
Aku berharap bisa menyingkirkan duri-duri itu dan bisa menikmati pesona mu lagi.
__ADS_1
J. L
"J.L ..., siapa itu? Gue pikir bunga itu dari Max." Aku terperanjat kaget. Tanpa aku sadari, Sinta ada di belakang tubuhku, dia ikut membaca kartu ucapan ini.
Aku terdiam, apa mungkin Jacob. Apa maksud dari kata-katanya ini. Dia tahu aku sudah mempunyai kekasih, berani sekali dia mengirimiku bunga, mana di kirim ke kantor lagi. Semua teman-teman ku tahu aku berpacaran dengan Max. Aku takut ada rumor aneh yang tersebar nanti.
"Wow... Lo punya penggemar rahasia," Sinta berkata dengan antusias.
"Ssst... jangan ngomong sembarangan! Bahaya, nanti bisa jadi gosip. Di kantor ini tuh tembok aja punya kuping tau ga!" Aku takut ada yang mendengar gurauan Sinta tadi. Aku buru-buru menyimpan bunga itu di bawah meja.
"Linda, gimana kemaren? Beruntung banget sih loe bisa liat lebih deket si bos. Aslinya gimana? Ganteng kaya di foto ga?" Pagi-pagi gini Sinta sudah memberondong ku dengan banyak pertanyaan. Kalau dia tau aku sudah pernah tidur dengan bos tampannya itu, bisa nangis jerit-jerit dia.
"Liat aja nanti sendiri, bentar lagi juga pasti dateng kan orangnya," jawabku sambil memeriksa beberapa pekerjaan.
"Ah ga seru, gue kan pengen ngegosip. Mau kopi ga? Gue mau ke pantry, disana pasti lebih banyak bahan gibahan."
Aku tertawa, " Boleh deh, jangan terlalu manis ya." Sinta mengacungkan jempolnya lalu pergi.
Wahai para silent raiders tinggalkan lah jejak keberadaan kalian!!!
__ADS_1
Semakin banyak komentar dan like dari kalian, semakin bikin othor semangat buat lanjutin ini cerita(๑˃̵ ᴗ ˂̵)و