Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Isi hati Linda


__ADS_3

Semenjak acara pesta itu aku dan Niel semakin dekat kami sering pergi jalan-jalan berdua. Entahlah aku seperti menemukan belahan jiwa. Aku merasa kami cocok, dan Niel tahu mengenai aku yang sementara ini tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Aku menceritakannya saat dia meminta aku untuk menjadi kekasihnya. Aku menolaknya dan dia mau mengerti perasaanku saat ini, tapi meski begitu kami tetap dekat. Dia menjadi pendengar yang baik untukku, aku selalu bercerita tentang apapun padanya.


Mengenai Jacob, Niel juga mengetahuinya. Walau terkadang terlihat matanya yang kecewa saat aku bercerita tentangnya.


Aku dan Jacob, hubungan kami masih sama. Aku tidak tau harus menyebutnya seperti apa. Dia bukan kekasihku. Tetapi jika di bilang hanya teman, hubungan kami lebih dari itu. Terkadang di tengah malam dia akan datang menyelinap ke kamarku. Apa aku bisa menyebut ini friends with benefit atau hanya partner s*ex semata? Entahlah. Karena sampai saat ini dia selalu mengklaim kalo aku ini miliknya. Aku tidak mau mengambil pusing itu.


Lalu, mengenai perasaanku pada Jacob. Aku sendiri juga masih bingung. Sian bilang aku mencintainya, karena beberapa kali aku kedapatan cemburu karena melihat gadis-gadis yang mendekati Jacob. Tapi aku masih keras kepala tidak mau mengakui itu.


Aku sadar diri, terlalu tinggi dinding pembatas di antara kami. Aku sudah membayangkannya, serumit apa nanti jika aku berhubungan serius dengan Jacob. Keluarganya yang bangsawan itu sudah di pastikan tidak mungkin akan menerima gadis biasa sepertiku.


Satu lagi alasanku tidak ingin terikat hubungan juga karena setelah lulus kuliah nanti aku bisa saja pulang dan tidak kembali lagi ke negri ini, aku belum kepikiran untuk hidup menetap disini. Kasihan ayah dan ibuku jika aku terus-terusan hidup jauh dari mereka, mereka hanya punya aku seorang. Siapa yang akan menjaga mereka kelak jika bukan aku.

__ADS_1


Rencana awal aku pergi ke luar negri memang hanya untuk menimba ilmu dan mencari pengalaman hidup dan sedikit bersenang-senang tentu saja. Aku tidak ingin terlibat hubungan percintaan yang rumit. Jalani saja semua yang ada di depan mata. Dan Niel dia orang kedua yang mengetahui pikiranku ini selain Sian.


Sebenarnya Sian selalu menceramahi ku, dia selalu bilang ' jangan terlalu memusingkan itu semua Linda. Kita nikmati saja semua yang ada di depan mata selama itu tidak membuat kita masuk penjara.'


Ya aku memang menikmati ini semua, tapi aku tetap pada pendirianku untuk tidak terikat hubungan resmi yang bernama pacaran. Asal kalian tahu jika kalian sudah di klaim menjadi pacar seseorang, semua gerak kalian akan di batasi oleh orang yang di sebut pacar itu. Semuanya harus di bicarakan bahkan berteman atau dekat dengan orang lain pun harus seijin pasangan kalian. Begitu sih yang aku lihat selama ini. Makanya aku lebih memilih hidup bebas dan single, entah sampai kapan aku tidak tau, mungkin sampai nanti jika ada pria yang benar-benar membuatku takluk padanya. Karena aku masih ingin bebas berteman dan berhubungan dengan siapapun yang aku mau, tanpa ada yang mengekang ku.


Ngomong-ngomong soal Jacob sudah beberapa minggu ini aku tidak melihatnya. Thea bilang ayah Jacob jatuh sakit, jadi Jacob harus menghandle semua pekerjaan yang terbengkalai itu. Tidak bisa di pungkiri rasa rindu itu ada di hatiku, mungkin tubuhku yang biasa di sentuhnya merasa sedikit kehilangan atau memang aku sudah mulai terbiasa dengan kedekatan kami.


Kebetulan aku kebagian tugas berjaga di area dan ada satu pria muda yang mabuk, karena aku yang menemukannya jadi aku harus mengevakuasi dia, membawanya keluar dari club. Pria mabuk itu berontak menolak untuk keluar dan wajahku terkena tinjunya sampai-sampai hidungku mengeluarkan darah. Malam itu juga aku mengundurkan diri sambil menangis, aku kapok dan aku takut sekali.


Sekarang aku sedang bersantai tiduran di kamar Sian, dia sedang bersiap untuk pergi dengan kekasihnya.

__ADS_1


"Aku berangkat ya, jangan lupa kunci pintu kamarku saat kau pergi." Aku mengacungkan ibu jari tanda setuju.


"Jalani hidupmu sesuai dengan yang kamu mau, bawa happy saja Linda," kata Sian sebelum pergi.


Sejak tadi aku memang sedang berada di kamarnya, merenungkan tentang semua yang terjadi padaku selama ini.


Setelah lama berpikir, aku keluar dan mengunci pintu kamar sesuai pesan yang empunya. Aku memandang pintu kamar yang jaraknya tidak jauh dari kamar Sian, iya itu kamar Jacob. Masih belum ada tanda-tanda kehidupan di sana. Dia masih belum pulang ternyata.



Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, dan vote nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil mengahalu author abal ini. Love you guys muach muach.!

__ADS_1


__ADS_2