Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Emergency Call


__ADS_3

Aku berusaha merilekskan tubuh yang kaku udah kaya kanebo kering ini perlahan.


Keadaan kami saat ini sungguh sangat canggung sekali.


"Rileks Linda, aku ga akan culik kamu ko." Max tertawa. "Muka kamu keliatan tegang banget tau. Ekh tapi kalau nanti aku tau Jacob bikin kamu sedih atau pun nyakitin kamu, siap-siap aja aku bakalan culik kamu beneran!" Suara tawanya kembali memenuhi mobil ini.


Aku memperhatikan wajahnya yang saat ini sedang mengumbar senyum.


"Kenapa liat aku kaya gitu, pasti kamu sekarang nyeselkan udah ninggalin cowok seganteng aku," candanya.


"Max kamu ga sedih?" Aku bertanya karena penasaran. Dia selalu tersenyum di depanku, hatinya terbuat dari apa coba. Setelah aku menyakitinya sedemikian rupa tapi dia tidak membenciku.


"Siapa bilang? Aku sedih ko. Selama seminggu ini aku menghilang dan sudah puas mengeluarkan kesedihanku." Sorot matanya terlihat nanar.


"Aku ga mau kamu liat aku yang lagi sedih dan terpuruk," lanjutnya lagi. Sesekali dia mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya untuk menoleh padaku dan memberikan senyum terbaiknya.


"Kamu jangan ngerasa sungkan lagi ya sama aku, aku sama sekali ga marah sama kamu ko. Aku akan tetap ada kalau kamu butuhkan bantuan aku."


Aku tidak tau harus berkata bagaimana lagi. Hidupku sangat di berkahi sepertinya, karena di cintai laki-laki sebaik ini.


"Ah iya, aku akan pindah dari kosan minggu depan. Nanti jangan cariin aku ya," katanya sambil tertawa.

__ADS_1


Aku tau pasti berat untuknya bila terus berada di sekitarku. Aku tidak akan menahannya.


"Max, thanks ya. Aku sayang kamu." Mataku berkaca-kaca melihatnya.


*****


Sekarang fokusku kembali pada layar monitor di hadapanku yang penuh dengan deretan angka-angka. Dalam pekerjaan ini aku memang di tuntut untuk fokus sekali, karena salah satu angka saja bisa fatal akibatnya.


Telpon yang ada di mejaku berbunyi.


"Hallo, dengan Linda, ada yang bisa saya bantu?"


"Hallo Linda, cepat buka pesan-pesan masuk di HP mu terus angkat telpon dari Mr Lautner!" Ini suara pak Chandra.


"Baik Pak, nanti saya angkat," jawabku sekenanya.


Nanti saja pas istirahat makan siang aku telpon balik dia. Sekarang pekerjaanku sedang banyak, aku masih sibuk.


"Sekarang ya, Linda!"


"Baik, Pak." Telpon pun di tutup.

__ADS_1


Aku kembali mengerjakan laporan di depanku dengan serius lagi. Hingga beberapa saat kemudian. Tiba-tiba saja pintu ruangan ku di dorong dari luar dengan keras. Pintu seberat itu menabrak tembok, bunyi debumannya keras sekali sangking kencangnya dorongan itu.


"Linda! Kamu belum angkat telponnya ya?" Pak Chandra bicara sambil berkacak pinggang di ambang pintu.


Aku terlonjak kaget, begitupun semua teman-teman satu ruangan ku. Mereka semua kini menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.


"Saya ... masih kerja, Pak ... . Nanti saya pasti telpon balik pas istirahat makan siang," jawabku. Aku merasa tidak enak karena membuat seorang CEO sampai turun sendiri untuk mendatangiku begini.


"Sekarang, Linda. SEKARANG! Aku tidak mau di teror terus menerus oleh Mr Lautner!"


"Ba-baik, Pak."


Pak Chandra masih berdiri disana memperhatikanku.


"Ambil HP kamu Linda! Saya harus memastikannya sendiri dengan kedua mata saya ini. Sebelum kamu mengangkatnya saya tidak bisa kembali keruangan saya dengan tenang."


Duh suaranya itu menggelegar sekali. Kalo gini sih orang-orang di luar ruangan ini juga bakalan bisa denger suaranya itu.


Dengan ragu aku mengambil ponsel yang aku simpan di dalam tas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Duh Jacob ini malu-maluin Linda aja deh. Mau ga mau Linda kudu angkat telponnya kalau gini sih. Holang kaya mah bebas ya. Bisa-bisanya Jacob ngerjain orang tua nyuruh turun buat mastiin Linda angkat telpon dia. Linda kan jadi mati kutu tuh. wkwkwk


Btw Max pindah ke rumah Mamih aja sini. haha😂


__ADS_2