Kekasihku Ternyata Tuan Muda

Kekasihku Ternyata Tuan Muda
Forced


__ADS_3

Satu-satunya cara untuk menghilangkan pikiran buruk dan asumsi-asumsi bodoh tentang Jacob adalah dengan bekerja. Konsentrasi penuh pada pekerjaan membuatku jadi agak lupa dengan wajah sedih Jacob yang selama ini menghantuiku. Angka-angka pembukuan kantor ini selalu menjadi pelampiasan ku, karena pekerjaan ini memaksaku untuk selalu fokus dalam mengerjakannya. sehingga pikiranku hanya tertuju pada angka-angka itu saja.


Angka-angka ini juga yang membuatku ingat pada Max. Laki-laki itu sangat tergila-gila dengan angka. Dia merupakan salah satu lulusan terbaik universitas Stanford dan mempunyai segudang piala dan mendali kejuaraan olimpiade matematika.


Saat aku sedang melototi angka-angka di depan monitor, tiba-tiba saja Max datang sambil menenteng dua kantong besar tas belanjaan lalu dia taruh di atas meja kerjaku.


Max mencium kepalaku lalu mengambil kursi di sebelah dan duduk di dekatku. Penghuninya sudah pulang dan aku sedang lembur sekarang. Ada sekitar 4 orang yang lembur hari ini. Oh iya Max akrab dengan teman-teman satu ruangan ini, karena dia sudah terbiasa datang. Sudah aku bilang kan Max itu orangnya sangat cepat akrab dengan orang lain. Bahkan dengan manager ku pun dia berteman.


"Masih belum selesai?"


"Sedikit lagi," jawabku sambil melihat kearahnya. Lalu pandanganku tertuju pada dua kantung besar tas belanjaan dengan tulisan brand ternama yang tadi dia taruh di mejaku.

__ADS_1


"Apa itu? habis belanja lagi?" Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Kamarmu sudah seperti walk in closet Max. "


Max tertawa, "Buka dulu, baru mengomel."


"Sambil nunggu kamu selesai lembur, tadi aku nge-gym dulu terus pulangnya mampir beli itu buat kamu."


Aku mengambilnya dan melihat Isi dari kantong belanjaan itu, isinya adalah gaun pesta dan satu kantung lagi berisi sepatu high hills yang indah.


"Bagus," Komentarku. "Tapi buat apa?"


Besok adalah hari kedatangan bos baru kita, dan malamnya diadakan pesta sekaligus makan malam bersama untuk menyambutnya. Tapi yang datang hanya petinggi-petinggi dan orang yang memiliki jabatan saja. Divisi ku di wakili oleh Randy dan juga bu Gina manager kami.

__ADS_1


"Max, kan aku sudah bilang--"


"Aku udah terlanjur nyombong pada mereka kalau aku punya pacar cantik, ku mohon kamu mau ya!" Alisnya naik, tanda kalau dia tidak ingin di bantah.


Ku genggam tangannya, lalu aku mengusapnya pelan. "Max aku tidak punya kewajiban untuk datang. Ah iya, bajunya aku pakai pas kita kencan saja ya," kataku untuk menghiburnya. Sumpah aku belum siap untuk bertemu dengannya lagi. Aku takut.


Tiba-tiba saja suara Randy nyeletuk nimbrung obrolan kami berdua, "Sorry nih Lin, kayanya kamu wajib dateng deh." Randy menyodorkan ponselnya, memperlihatkan pesan whatsaap dari manager kami. "Bu Gina besok ga bisa dateng, sekarang anaknya lagi di rawat. Dia nyuruh kamu yang gantiin dia. Jadi aku sama kamu yang akan mewakili divisi Keuangan." Kata-kata Randy itu terdengar mutlak, aku tidak bisa mengelak lagi karena atasanku yang mengintruksikan.


Max menyunggingkan senyum kemenangannya, "Sudah tidak bisa beralasan lagi kan sekarang?"


Aku menarik nafas dengan lesu, lalu kembali menatap layar monitor di hadapanku yang menampilkan banyak angka yang berderet. Aku berusaha menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat. Sekarang sudah hampir jam tujuh malam aku sudah lelah dan ingin segera beristirahat.

__ADS_1


Yang baca mohon tinggalkan jejak ya, jempolnya tolong gunakan untuk pencet tombol like, favorit, vote dan komentar nya. Terimakasih sudah setia membaca cerita hasil menghalu author abal ini. Mari kita menghalu bersama. Love you guys muach muach.!


Oh iya jangan lupa share cerita ini di media sosial kalian dan bersabar ya menunggu part selanjutnya. (๑˃̵ ᴗ ˂̵)و


__ADS_2