Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 100


__ADS_3

Keributan kecil


Suasana pun semakin lama semakin gelap, karena Lembayung senja yang tadi menyinari sekarang sudah perlahan menghilang. suara orang bersholawatan dari arah masjid menyambut waktu Isya mulai terdengar kembali, orang-orang tua yang rajin mereka sudah bersiap-siap berangkat kembali untuk melaksanakan salat berjamaah. Ada pula yang sejak dari sehabis melaksanakan salat magrib, mereka tetap diam di masjid sambil menunggu waktu Isya datang.


Berbeda dengan keadaan di rumah Kamal, suara Deru mobil memenuhi halaman rumah, lampunya yang menyala semerbak sampai ke jalan. Fathan yang sejak dari tadi mengetuk-ngetuk pintu mobil untuk meminta waktu agar dia bisa berbicara dengan Kirana, namun sampai sekarang gadis itu tetap tidak membukakan pintu, seolah dia sudah menutup rapat dengan pintu hatinya.


"Asep....! Tolong buka pintunya Sep!" tidak mendapat tanggapan dari Kirana dia pun mengetuk-ngetuk pintu samping kemudi, membuat asep melirik ke arah Kirana yang sedang terpejam sambil melipatkan tangan.


"Buka Sep...! Buka! Kamu jangan seperti ini!" teriak Fathan sambil terus mengetuk-ngetuk pintu membuat Asep sedikit agak panik.


"Sudah biarin saja, Awas kamu sampai keluar dari mobil atau sampai membukakan pintu!" terdengar ancaman suara seorang wanita dari kursi belakang, membuat Asep hanya memegang kemudi, matanya terfokus ke arah depan, mengacuhkan panggilan Fathan, persis seperti orang yang tidak memiliki pendengaran. padahal hatinya sedang Dilema, di satu sisi Dia kasihan sama Kirana, di sisi lain kasihan melihat Fathan seperti itu, namun keduanya mereka adalah atasannya, sehingga dia tidak bisa menolak kemauan mereka.


"Sudah...! nanti kaca mobilnya pecah!" tahan Kamal sambil memegang tangan keponakannya.


"Tapi Mang, Saya harus berbicara dengan Kirana!"


"Iya tunggu aja....! sampai Bu Kirana keluar, soalnya dia tidak akan bisa pergi karena motormu menghalangi. sekarang sabar aja menunggu," ujar Kamal menenangkan.


"Tapi Mang, saya belum bisa tenang kalau saya belum berbicara sama Kirana. saya ngaku salah, saya terlalu Acuh sama dia. Bagaimana ya mang agar Kirana bisa memaafkan kesalahan saya?" tanya Fathan yang terlihat mengiba.


"Benar kamu menyayangi Bu Kirana?" jawab Kamal balik bertanya.


"Dari dulu dari semenjak saya bertemu dengan Kirana ketika saya bekerja di perusahaan orang tuanya, saya sudah suka. namun saya mawas diri Mang, saya bukan dari kalangan orang yang berada, bukan orang yang setara dengan kehidupan keluarganya. awalnya saya minder namun setelah saya pikir-pikir Kenapa harus malu demi untuk bahagia. sehingga mulai saat itu, Saya memberanikan diri mengungkapkan perasaan saya. namun Saya bukan orang yang pandai Membagi waktu, sehingga saya mengabaikannya." ujar Fathan sambil menundukkan Kepala, dia mengakui kesalahan terbesar dalam hidupnya. Sang petani itu terlalu fokus mewujudkan kebahagiaan orang lain, sampai lupa dengan kebahagiaan dirinya sendiri.


"Sekarang mamang mau tanya sama kamu!"


"Mau nanya apa Mang?"

__ADS_1


"Kalau ada dua pekerjaan, yang kedua-duanya memiliki keuntungan yang sama. namun yang berbeda adalah jalannya, jalan yang pertama sedang menemui kendala, tapi keuntungan kedua jalannya terlihat ringan. apa kamu masih mau berkutat dengan kesusahan, sedangkan jalan yang kedua terbuka lebar?" tanya Kamal sambil menatap ke arah keponakannya.


"Maksudnya bagaimana Mang?"


"Begini saja! sekarang ada dua kebahagiaan di kehidupan kamu. yaitu ambisimu mewujudkan kampung sukadarma yang gemah ripah loh jinawi aman Sentosa Karto Rahardjo, yang kedua adalah orang yang akan memberimu bahagia, yaitu Bu Kirana. namun Sekarang kamu sedang memiliki kendala untuk mewujudkan ambisimu di bidang pertanian, sehingga kamu tidak memiliki jalan keluar. tapi jalan untuk kebahagiaan yang kedua terbuka lebar, Apa kamu masih akan tetap memikirkan pertanian yang tak menemui solusi atau mengejar kebahagiaan yang kedua terlebih dahulu yang jalannya sangat enteng dan gampang?" ujar Kamal menjelaskan.


Mendengar penjelasan pamannya, Fathan pun terdiam seolah Sedang berpikir mencerna apa yang disampaikan oleh Kamal. Setelah sekian lama berpikir dia pun mulai paham dengan maksud dan tujuan yang disampaikan oleh orang yang berada di hadapannya.


"Terus sekarang Saya harus bagaimana Mang?" tanya Fathan meminta solusi.


"Sekarang Bu Kirana mau pulang, kamu antarkan ke keluarganya dan pastikan bahwa kamu adalah orang yang tepat untuk mendampingi anaknya. jangan sampai pertanian nggak berjalan, kehidupan kedepanmu juga tidak berjalan jua!"


"Kalau menemui Pak Wira dan ibu Winda saya rasanya sangat malu, karena saya sadar saya bukan orang yang pandai mensyukuri tentang nikmat, sehingga saya mengacuhkan orang terbaik seperti Bu Kirana."


"Ya sudah kalau malu, berarti dua kebahagiaanmu akan hilang. pertanianmu sudah jelas tidak bisa berjalan, orang-orang yang menyayangimu perlahan akan pergi."


"Tapi bagaimana saya mau mengantarkannya pulang, sedangkan saya tidak bisa berbicara dengan Bu Kirana?"


"Itu masalah sepele, kita tinggal minta Asep untuk keluar. kamu menggantikannya lalu kamu antarkan pulang."


"Caranya?"


Ditanya seperti itu, Kamal pun memperhatikan tubuh Fathan mulai dari atas sampai bawah, kemudian dia memanggil Idan.


"Yah kenapa Pak?" tanya Idan yang sejak dari tadi diam memperhatikan.


"Tolong kamu ambilkan pakaian Fathan di rumahnya!" Titah Kamal.

__ADS_1


"Buat apa?"


"SUdah jangan banyak tanya, sana ambilkan pakaian terbaik!"


Melihat bapaknya berbicara dengan serius, Idan tidak menjawab, Dia hanya mengangguk kemudian pergi menuju rumah Fathan. sedangkan di area rumah Kamal masih terdengar suara deru mobil, namun dari arah Masjid azan Isya pun sudah berkumandang. orang-orang yang mau melaksanakan salat Isya berjamaah Mereka pun berhenti sebentar untuk menanyakan Kenapa di rumah Kamal seperti sedang ada keributan kecil. hingga halaman rumah Kamal terlihat semakin banyak orang yang menonton, karena sebenarnya mereka juga ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Fathan terhadap Kirana, sebenarnya para warga merasa gemas ketika melihat Fathan yang selalu mengacuhkan gadis kota Jakarta itu.


"Bu...! Ibu!" Panggil Kamal.


"Iya kenapa Pak?" tanya Sari yang menghampiri.


"Tolong ambilkan handphone Bapak!"


Saripun mengangguk, kemudian dia masuk ke dalam rumah. Tak lama dia pun kembali berbarengan dengan Idan yang membawa baju Fathan yang dimasukkan ke dalam tas.


Setelah memegang handphone, kamal pun menelepon seseorang, hingga terlihat Asep yang berada di dalam mobil mengangkat telepon itu.


"Asep sekarang kamu keluar dari mobil, biarkan Fathan yang mengantarkan Bu Kirana ke Jakarta!" Seru Kamal setelah teleponnya tersambung.


"Baik Mang!" jawab Asep.


Tap! tap! tap!


"Awas aja kalau kamu sampai keluar! maka Saya tidak akan mau mengenalmu lagi." ancam Kirana yang sebenarnya sudah mengetahui rencana Fathan, karena tadi ketika orang-orang yang di luar tidak terfokus dengannya, dia menurunkan sedikit kaca mobil agar bisa mendengar apa yang bicarakan oleh Fathan dan Kamal.


"Maaf bu saya pengen buang hajat, nggak kuat....!" ujar Asep berbohong, wajahnya dibuat meringis agar aktingnya menjiwai.


"Sejak kapan mau buang air harus ditelepon terlebih dahulu?" Ketus Kirana.

__ADS_1


"Eeeeu anuuu eeeeu!' Jawab Asep tergagap. "Saya mau menyingkirkan motor Kang Fathan dulu Bu, biar kita cepat pergi." Pinta Asep dengan cepat dia pun membuka pintu, mobil sebelum Kirana menahannya, Fathan sudah masuk ke dalam mobil kemudian sang petani itu mengambil tas yang diberikan oleh Idan.


__ADS_2