
Pak Usro
Kira-kira pukul 18.30, Fathan bersama Asep sudah tiba di kampung sukadarma. dengan cepat Mereka pun bergegas pulang ke rumah masing-masing, untuk melaksanakan salat magrib terlebih dahulu. sehabis Isya para anggota yang pergi mencari para petani, Mereka berkumpul di rumah kamal, karena rumah itu adalah kantor kedua kelompok keranjang sayur.
Idan dan teman-temannya mulai menyampaikan penemuan mereka, yang tidak berhasil menemukan para petani yang dibutuhkan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh supermarket. namun ketika mendengar ketua mereka berhasil bertemu dengan Pak Usro, Mereka pun terlihat lega.
"Bagaimana, kalau ke depannya kita menyewa lahan warga saja, karena kalau kita mengandalkan hasil dari pertanian orang lain, mereka bukan kita. Mamang bukan melemahkan, tapi Mamang khawatir kalau mereka tidak menjaga kualitas sesuai standar kita," saran Kamal yang ikut bergabung berdiskusi bersama para anak muda itu.
"Ide bagus tuh Mang...! tapi untuk sekarang uang kas keranjang sayur sedang tipis, karena selain dipakai membangun Mini hotel. kita, beberapa minggu terakhir pembayaran dari supermarket tidak sesuai dengan pendapatan sebelumnya, karena kurangnya barang yang kita kirim," ujar Fathan menyampaikan kondisi keranjang sayur.
"Iya...! ini semua gara-gara Kang Ujang ,akhirnya kelompok tani kita terpecah belah," gumam Kamal sambil menghela nafas berat.
"Kok gara-gara Kang Ujang?" tanya Fathan yang mengerutkan dahi.
"Iya setelah mamang selidiki, ternyata si Dadun sama konco-konconya mereka terpengaruh oleh perkataan si Ujang, sehingga mereka pun tidak berpikir panjang dan memutuskan untuk berpisah dengan kita. padahal seperti yang kita sadari, pertanian itu tidak akan selalu membuahkan hasil, Adakalanya di mana hasil panen akan sangat mengecewakan," jelas Kamal menyampaikan kekesalannya.
"Oh seperti itu mang...! tapi nggak apa-apa mungkin mereka ingin mengatur sendiri tanpa ada campur tangan saya. yang terpenting buat saya adalah para warga Kampung sukadarma tetap bisa menghasilkan uang, walaupun tidak Merantau," jelas Fathan dengan muka datarnya Tak sedikitpun dia terpengaruh oleh aduan kamal.
"Terus bagaimana tentang menyewa lahan pertanian itu?" tanya Idan mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin untuk sekarang kita fokus dulu dengan mengandalkan hasil pertanian dari warga Desa Ciparay, sambil kita berpikir dan mencari uang lebih untuk menyewa lahan pertanian," ujar Fathan seperti biasa dia tidak pernah menolak pendapat orang lain ketika itu benar.
"Emang kualitas pertanian warga Kampung Ciparay bisa dimasukkan ke supermarket Than?" tanya Kamal yang terlihat meragukan.
"Insya Allah bisa Mang, walaupun hasil pertanian tidak sebagus kualitas yang dihasilkan oleh pertanian kita. namun itu cukup untuk menutupi kebutuhan sementara, sambil sedikit demi sedikit kita mengumpulkan tabungan untuk menyewa tanah warga, sebagai lahan pertanian kita."
__ADS_1
"Apa nggak sebaiknya lahan persawahan dialihfungsikan sebagai kebun sayuran?" saran Asep yang sejak tadi dia memperhatikan.
"Itu juga bisa...! namun untuk merubah sawah menjadi lahan sayuran, itu sangat sayang...! karena sawah sudah produktif, dari dulu kita harus memanfaatkan lahan-lahan yang tidak terpakai atau belum produktif, agar pertanian kita semakin produktif," jelas Fathan.
"Iya benar, kalau sawah sudah jadi kebun, nanti suka susah ketika mau jadi sawah lagi, soalnya harus ada perawatan ekstra agar tanahnya bisa menjadi lumpur kembali," Timpal Kamal membenarkan.
Rumah Kamal pun terlihat hidup, dengan pembicaraan pembicaraan, perdebatan-perdebatan kecil, demi untuk memajukan keranjang sayur yang sudah ditinggal oleh beberapa anggota kelompoknya. namun mereka tetap bersemangat dan mereka yakin bahwa setiap perjuangan pasti akan membuahkan hasil.
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali. terlihat ada dua mobil sayuran yang masuk ke kampung sukadarma, Fathan yang sudah mengetahui bahwa mobil itu adalah mobil yang dikirim oleh Pak Usro, dengan cepat dia mengarahkan agar mobil itu masuk ke halaman kantor keranjang sayur, agar mudah ketika menyortir barang-barang yang akan dibawa ke supermarket.
Sesampainya di kantor keranjang sayur, terlihat ada orang tua yang kemarin Fathan temui keluar dari salah satu mobil, lalu menghampiri Fathan. dengan cepat sang petani pun mengulurkan tangan, untuk mengajaknya bersalaman. tak lupa dia mencium punggung tangannya sebagai bentuk penghormatan.
"Bapak ikut juga?" Tanya Fathan menatap ke arah pria yang sejak dari tadi cilingukkan memperhatikan pertanian yang sangat maju, karena sangat berbeda sekali dengan pertanian yang berada di kampungnya. di pertanian keranjang sayur terlihat banyak green house yang berjajar dengan rapi. Menandakan kemajuan pertanian yang dikelola oleh Fathan.
"Terima kasih banyak bapak sudah mau mengunjungi saya, namun maaf kalau penyambutannya kurang sesuai dengan yang Bapak harapkan." Jawab Fathan merendah.
"Ah, sama aja Kang Fathan, sudah diakui saja, Bapak sudah sangat senang. oh iya, mau diapakan sayuran-sayuran yang bapak bawa?"
"Sebentar saya panggil orang-orang yang bekerja agar menyortir sayuran Bapak, tapi mohon maaf kalau tidak semuanya saya beli?"
"Nggak apa-apa Kang, ini bisa menjadi cambuk bagi saya dan bagi warga kampung Ciparay, agar ke depannya bisa menjaga kualitas dan meningkatkan kualitas itu menjadi lebih baik.
"Sep...! Asep!" Panggil Fathan.
Asep pun berlari menuju ke arah Fathan, kemudian dia menatap sang petani itu seolah menunggu perintah. "Ya Ada apa Kang?" tanya Asep yang terlihat selalu siap.
__ADS_1
"Tolong kamu Arahkan mobil itu ke tempat penyortiran sayuran, agar bisa secepatnya kita kemas dan kita serahkan ke supermarket!"
"Baik Kang..!" jawab Asep kemudian dia mengarahkan para sopir untuk masuk ke gudang penyortiran. Fathan dan Pak Usro pun mereka mengikuti, karena orang tua itu ingin mengetahui cara pengemasan yang baik dan benar.
Sesampainya di gudang. sayuran yang dibawa oleh Pak Usro, dengan hati-hati Asep mulai turunkan. dan mulai dikeluarkan dari karung-karung. setelah dikeluarkan Asep dibantu Idan dan beberapa anggota lainnya, mereka mulai disibukan menyortir dan memisahkan. sayuran mana Yang layak masuk ke supermarket, mana yang masuk ke pasar, setelah dipisahkan kemudian ditimbang. Pak Usro dan Fathan mereka duduk memperhatikan, sambil ditemani kopi dan buah-buahan yang baru dipetik dari perkebunan.
Setelah sayuran ditimbang, Asep dan Idan pun mereka terus bekerja mulai membungkus sayuran-sayuran itu, dipisahkan satu persatu. ada yang dibungkus dengan koran, ada juga yang dibungkus dengan plastik, sesuai dengan arahan yang sudah ditetapkan.
Setelah dikemas serapih mungkin sayuran pun mulai dimasukkan ke dalam keranjang, kemudian dinaikkan ke atas truck. Pak Usro yang dari tadi memperhatikan, dia berdecak kagum dengan apa yang dilakukan oleh sang petani itu, dia tidak menyangka bahwa prosesnya sangat rumit, walaupun untungnya sangat besar.
Setelah sayuran yang dibawa oleh Pak usro selesai dinaikkan ke mobil. perlahan para petani keranjang sayur pun mulai berdatangan dengan membawa hasil pertanian mereka, membuat Pak Usro semakin melongok karena kalau dibandingkan hasil pertanian terbaiknya, berbeda jauh dengan hasil pertanian yang Fathan kelola.
"Seger-seger dan bagus-bagus ya hasil pertaniannya." Puji Pak Usro.
"Alhamdulillah Pak...! ketika dikelola dengan benar sesuai dengan anjuran yang ditetapkan oleh pertanian. maka kegagalan panen bisa diminimalisir, sehingga para petani bisa meminimalisir kerugian."
"Kapan-kapan boleh nggak warga kampung saya diajak study tour ke sini, agar mereka bisa paham tentang pengelolaan pertanian yang baik dan benar."
"Harus Pak...! harus....! karena kalau bukan kita yang peduli dengan pertanian, mau mengandalkan siapa lagi, biasanya orang-orang mereka bisanya protes kalau hasil pertanian jelek, tapi tidak mempunyai solusi.
"Benar...! kita dituntut oleh pasar untuk menyediakan komoditas makanan yang terbaik dan unggul, tapi mereka tidak tahu bagaimana susahnya untuk mewujudkan semua itu."
Mereka berdua pun terus mengobrol sambil terus memperhatikan para anggota keranjang sayur yang sedang sibuk merapikan hasil pertanian mereka. seperti biasa ketika ada yang bagus mereka akan bawa ke supermarket dan kualitas Kedua mereka akan bawa ke pasar, kualitas ketiga akan dibawa ke rumah untuk menjadi lauk makan para petani. karena begitulah keuntungan pertanian, walaupun keuntungan yang didapat kecil, tapi mereka mempunyai nilai lebih yaitu makanan yang melimpah.
Setelah semua sayuran-sayuran dikemas dan dinaikkan ke mobil. Para sopir pun mulai berangkat membawa truk yang sudah diisi oleh berbagai sayuran, dengan berbagai tujuan. ada yang ke pasar, ada juga yang ke supermarket, sehingga beberapa mobil milik keranjang sayur terlihat berkompeoi menuju ke Kota Sukabumi.
__ADS_1