
Pergi
Suara adzan Dhuhur bergema memenuhi seluruh area penjuru kampung sukadarma, mengingatkan bahwa setiap orang yang bernyawa dan memiliki akal sehat untuk melupakan sejenak tentang haliyah duniawi, dengan mengingat perintah sang penciptanya.
Farhan yang bertamu ke rumah Ujang dia terlihat bangkit dari tempat duduknya, dia berpamitan ingin segera berkemas untuk pergi meninggalkan kampung sukadarma, demi memberikan pelajaran terhadap Fathan, yang menurutnya tidak bisa menghormati orang tua.
"Saya sedang tidak memegang uang Kang! namun ini lumayan buat ongkos di jalan," ujar Ujang sambil mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak 2 lembar.
"Buat apa?" tanya Farhan yang mengerutkan dahi.
"Buat nambah-nambah ongkos, semoga Anak akang secepatnya bisa berubah kembali menjadi anak yang baik. kalau bisa Semoga dia mau bekerja lagi di kota sesuai dengan apa yang akang harapkan," jelas Ujang yang terlihat Dermawan padahal dia sangat pelit, hanya demi cita-citanya dia berbuat seperti itu.
"Nggak usah ngerepotin Kang! saya juga ada uang di rumah."
"Terima kang! nggak baik menolak rezeki," paksa Ujang.
Setelah dipaksa beberapa kali, akhirnya Farhan pun mengalah mengambil uang pemberian Ujang, Setelah semuanya selesai dia pun pergi meninggalkan rumah terbesar yang berada di kampung sukadarma, dengan mengendarai motor miliknya.
Sepeninggal Farhan, terlihat kedua sudut bibir Ujang tertarik begitu sempurna, karena semua yang direncanakan berjalan begitu sangat mulus dan sangat lancar. Fathan yang menjadi musuh besar dalam bisnisnya, sekarang sedang diuji dengan berbagai masalah, sehingga dia yakin kedepannya semua orang akan kembali meminjam uang terhadapnya.
"Saya juga izin pamit kang, mau makan terlebih dahulu," ujar Pardi yang baru keluar dari rumah, setelah merapikan bekas gelas kopi mereka.
"Oh ya sudah! tapi ada tugas buat kamu," jawab Ujang.
"Tugas apa kang?" tanya Pardi yang mengerutkan dahi
"Kamu pastikan kalau si Farhan itu benar-benar pergi dari kampung kita,"
"Caranya bagaimana?"
__ADS_1
"Caranya terserah kamu, yang terpenting kamu pastikan agar secepatnya Farhan pergi dari kampung sukadarma, supaya si Fathan sang penipu itu hatinya semakin hancur, sehingga dia memutuskan untuk pergi dari kampung sukadarma."
"Aduh....! saya bingung kang, seperti yang akang bilang saya tidak pandai berpikir," tolak Pardi dengan menyindir.
"Kalau sekarang masih bingung?" Ujar Ujang sambil mengeluarkan selembar uang merah, kemudian ditunjukkan kepada Pardi.
"Kayaknya langsung cerah kang, kalau melihat yang merah-merah seperti itu."
"Halah....! Dasar mata duitan, dasar matre. Ya sudah, sana kamu pastikan Si Farhan pergi dari kampung kita," ujar Ujang sambil memberikan uang Rp100.000, kemudian tanpa menunggu jawaban dari adik iparnya, dia langsung masuk ke dalam rumah, karena Darmi sudah memanggil untuk mengajaknya makan siang.
Setelah Ujang masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya dengan rapat. Pardi pun mengulum senyum kemudian memasukkan uang ke dalam kantongnya, lalu dia pun pergi meninggalkan rumah kakak ipar sekaligus majikannya.
Sedangkan orang yang dibicarakan, Farhan setelah sampai ke rumah, dia pun bergegas menemui istrinya yang sedang berada di dapur. tanpa basa-basi Farhan mulai menceritakan keputusan Ujang dan dirinya, tentang jual beli sawah yang dibatalkan. Tak lupa dia pun menyampaikan niatnya yang hendak tinggal di kampung situmekar.
"Apa nggak Ada cara lain untuk mendidik anak kita agar menjadi lebih baik?" tanya Sri setelah mendengar apa yang ingin dilakukan oleh suaminya.
"Ini adalah cara yang terbaik yang harus kita jalani, agar keluarga kita kembali dipenuhi dengan kebahagiaan. kebahagiaan yang beberapa tahun ini hilang entah ke mana."
"Kalau kamu sudah setuju, Ayo kemasi barang-barang kamu, kebetulan di kampung situmekar rumah peninggalan orang tua Akang masih kosong," jelas Farhan
"Terus bagaimana dengan Sarah dan Farah?"
"Sebentar lagi Sarah pulang dari sekolah, kita ajak dia tinggal di rumah almarhumah neneknya. kalau Farah Nanti kita kabarin kalau sudah sampai di kampung situmekar."
Setelah mendapat persetujuan, akhirnya mereka berdua pun disibukkan dengan mengemasi barang-barang yang hendak mereka bawa pindah ke kampung orang tua Farhan yang berada di situmekar. sehingga ketika Sarah pulang dari sekolah, Mereka pun langsung berangkat, karena Pardi yang dari tadi mendatangi rumah Farhan, dia pun menawarkan untuk menggunakan mobil Jeep milik Ujang. Awalnya lintah darat itu menolak untuk membantu Farhan, namun setelah dibujuk oleh Pardi dia pun bersemangat, karena Sebenarnya dia sangat pelit, Tapi demi menunjang kesuksesan dia berani melakukan apapun tanpa menghitung untung rugi.
Sedangkan Fathan yang berada di kantor keranjang sayur, dia tidak tahu kalau orang tuanya sudah meninggalkan rumah. kepalanya terasa nyeri ketika bergerak, sehingga ketika Azan zuhur berkumandang Dia Hanya berbaring di dalam kantor.
Kirana yang sebenarnya sudah dingin terhadap Fathan, tapi ketika melihat kekasih hatinya sedang kesakitan seperti itu, dia pun membantu Fathan dengan menemaninya, sehingga mereka berdua tidak mengetahui kalau Farhan sudah pergi dari kampung sukadarma.
__ADS_1
Kira-kira pukul 01.00 siang, Kamal yang sudah selesai beristirahat dia pun menghampiri Fathan, karena dia mendengar bahwa keponakannya mengalami sakit kepala.
"Kamu ke Puskesmas aja Tan, biar bisa ketahuan penyakitnya Seperti apa?" saran Kamal yang sudah duduk di samping sang petani itu.
"Saya sudah mengajaknya Mang, namun dia menolak karena menurutnya ini penyakit biasa saja." jelas Kirana yang sebenarnya sudah dari tadi mengajak Fathan untuk berobat ke Puskesmas.
"Iya susah kalau mengingatkan orang seperti Fathan, ibu yang sabar ya!" jelas Kamal yang menghalang nafas mungkin merasa berat dengan apa yang sedang dihadapi oleh keponakannya.
"Insya Allah Mang, saya selalu sabar," jelas Kirana sambil menatap wajah Fathan yang matanya tertutup.
"Mending ibu makan dulu kebetulan saya membawa nasi titipan istri saya," lanjut kamal sambil memberikan rantang berisi nasi, Sari memang sangat perhatian terhadap keponakannya itu.
"Nggak usah repot-repot padahal, sebentar lagi saya mau pulang, kalau kepala saya sudah agak mendingan," jelas Fathan yang memaksakan untuk berbicara. Walaupun matanya tertutup namun dia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Oh iya, Hampir lupa, Kapan kamu mau ke kampung situmekar?" tanya Kamal sambil menatap ke arah Fathan yang sedang berbaring di atas tikar.
"Mau ngapain Mang?" tanya Fathan sedikit membuka mata.
"Yah menyusul orang tua kamu, katanya kamu tidak ikut karena kamu sedang sakit."
"Apa, maksudnya bagaimana Mang?" tanya Fathan, dengan sedikit gontai dia pun bangkit dari tempat tidurnya.
"Tadi ketika Mamang pulang, di depan rumah kamu ada mobil Kang Ujang, setelah Mamang perhatikan ternyata. mobil itu mengangkut bapak serta ibu kamu dan Sarah Mamang Yang penasaran pun bertanya mau ke mana, Mereka pun menjawab mereka akan pergi liburan ke kampung situmekar, sekaligus bertakziah."
"Apa....! kok bisa seperti itu mang, bapak dan ibu tadi kira-kira pukul 10.00 dia mendatangi saya untuk menandatangani berkas jual beli tanah, mereka tidak membicarakan untuk pergi ke kampung situmekar, apa jangan-jangan...!" ujar Fathan terhenti kemudian dia memaksakan bangkit dari tempat tidurnya.
"Iya mamang juga memiliki prasangka yang sama, karena melihat dari barang yang mereka bawa, sangat banyak. mungkin mereka kecewa karena kamu tidak mau menandatangani surat jual beli."
"Ya Allah....! bagaimana ini," ujar Fathan kemudian dia memaksakan bangkit dari tempat duduknya. rasa bersalah mulai menyeruak memenuhi dada mengalahkan sakit kepala yang sedang diderita.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tanya Kamal.
"Saya Harus menyusul mereka Mang, ini harus segera diluruskan, agar tidak merembet ke mana-mana." ujar Fathan sambil berjalan dengan sempoyongan keluar dari keranjang sayur.