
Meminta persetujuan
"Aduh maaf Kang Ujang, Sebenarnya saya belum berbicara dengan anak-anak saya. tapi kalau seperti ini aturannya nanti saya akan coba berbicara," ujar Farhan yang merasa tidak enak.
"Saya yang seharusnya meminta maaf Kang, karena saya tidak memberitahu akang terlebih dahulu. namun meski begitu, saya sudah janji akan membeli tanah akang, jadi akang nggak usah khawatir kapanpun Akang bisa memenuhi syarat yang diajukan oleh notaris saya, maka saya akan segera membayar Tanah Akang!" jawab Ujang memberi kelonggaran.
"Ya sudah diminum dulu airnya, nanti saya akan berdiskusi dulu dengan anak-anak saya!"
"Ya kang!" jawab Ujang.
Akhirnya mereka pun mengobrol ngalor-ngidul, namun obrolan itu tidak lama karena notaris Ujang ada kepentingan. sehingga mereka bertiga pun berpamitan dan berjanji akan mengadakan pertemuan lagi sesaat setelah mendapat persetujuan dari ahli waris Farhan.
Setelah kepergian Ujang, Farhan dan Sri pun saling menatap, mereka merasa bingung karena kalau sampai Fathan mendengar sawahnya mau dijual, dia pasti akan menolak.
"Bagaimana nih Kang?" tanya Sri yang terlihat menghela nafas,.
"Nggak tahu...! Akang juga bingung, tapi walau Bagaimanapun kita harus menemui si Fathan, karena kuncinya hanya di dia. Bapak yakin kalau Sarah dan Farah mereka akan setuju dengan apa yang kita lakukan!"
"Nemuin di mana, si Fathan kan sedang berjualan sayuran?"
Sedang asyik mengobrol, terlihat dari arah depan Sari adiknya Sri berjalan menghampiri. Mungkin dia merasa heran kenapa ada Ujang mampir ke rumah Farhan, karena sejak dari dulu Farhan bukan orang yang suka menggadaikan surat tanahnya.
"Ada apa Kok Kang Ujang mampir ke sini?" tanya Sari yang terlihat penasaran.
"Gak Ada apa-apa! cuman mampir aja Sar! mungkin udah lama tidak berkunjung," jawab Sri berbohong, sedangkan Ujang masuk ke dalam rumah, mungkin dia tidak mau mengganggu adik kakak itu mengobrol.
"Oh kirain ada apa?" jawab Sri yang duduk di kursi teras.
"Ndak ada apa-apa, Saya lagi bingung Sar, sebentar lagi Farah mau nikah, tapi uangnya belum ada."
"Bukannya Fathan sudah menanggung semua biaya yang dibutuhkan."
"Iya ngomongnya sih, seperti itu. tapi kenyataannya lain, karena jangankan untuk mengadakan uang buat resepsi pernikahan, untuk dirinya sendiri sekarang sangat kesulitan, ditambah hasil pertaniannya tidak bisa dikirim ke pasar." Keluh Sri yang curhat sama adiknya.
"Benar...! Kasihan juga ya anakmu itu, tadi saja kata Idan dia tidak ikut jualan, karena badannya meriang mungkin masuk anginĀ karena setiap malam begadang terus memikirkan bagaimana agar pertaniannya tidak terpuruk?"
__ADS_1
"Berarti Fathan ada di saung keranjang sayur?" jawab Sri yang terlihat antusias.
"Iya, kenapa emang?"
"Gak Apa-apa..! tapi kalau meriang Kasihan juga, Ya sudah maaf nih bukan mengusir, saya mau menjenguk anak saya terlebih dahulu," ujar Sri mengakhiri pembicaraan.
Mendengar ucapan kakaknya seperti itu, Sari hanya mengurutkan dahi tidak mengerti dengan apa yang ia dengar. karena semenjak Fathan bertani Sri seolah kehilangan respect terhadap anaknya, jangankan mengurus ketika sakit, menyapa pun jarang dia lakukan.
"Ya sudah saya masuk dulu...!" ujar Sri setelah tidak pendapat jawaban, dia pun masuk ke dalam rumah meninggalkan adiknya Yang terlihat masih kebingungan. Akhirnya Sari pun bangkit dari kursi tempat duduknya, kemudian dia pulang ke rumah, dia tidak mau mencampuri urusan orang lain. sedangkan Sri setelah berada di dalam rumah, Dia pun mencari keberadaan suaminya. terlihat Farhan sedang duduk sambil menonton TV.
"Ayo kita temui Fathan!' Ajak Sri.
"Temui di mana? kan dianya lagi jualan?" jawab Farhan yang tak bergeming.
"Dia sedang sakit, jadi dia tidak ikut jualan. ayo kita temui agar semuanya cepat beres!'
"Iya benar...! Jangan membuang waktu kalau si Fathan beneran ada." jawab Farhan yang terlihat bersiap siap mengencangkan ikatan sarungnya, kemudian dia pun mengambil kontak motor lalu mengeluarkan dari rumah.
Tak lama menunggu akhirnya motor itu mulai menyala, kemudian melaju Keluar dari gang menyusuri Jalan Besar Kampung sukadarma. ketika ada belokan motor itu berbelok masuk ke parkiran keranjang sayur.
"Bangun....! bangun! Kenapa kamu tidur di sini, Kenapa kamu nggak tidur di rumah saja?" ujar Sri membangunkan anaknya dengan menggoyang-goyangkan tubuh Fathan.
Akhirnya Fathan yang sedang tidur untuk menghilangkan pusing di kepalanya. matanya perlahan terbuka kemudian memindai orang yang membangunkannya, setelah matanya terfokus dia pun terperanjat kaget kemudian membenarkan posisi duduknya.
"Ibu....! ada apa Bu ke sini?" tanya Fathan yang menatap ibunya dengan penuh keanehan, karena semenjak kantor keranjang sayur berdiri, Baru kali ini Sri menghampirinya.
"Gak Apa-apa! katanya kamu sakit, jadi ibu datang ke sini. Sekalian ibu ada yang mau dibicarakan dengan kamu."
"Soal apa Bu?" tanya Fathan sambil menatap penuh heran.
"Ibu tahu sekarang kamu sedang kesusahan dalam masalah finansial karena hasil pertanian tidak bisa dikirim ke kota, jadi ibu tidak mau merepotkan dan memberatkan anak ibu."
"Maksudnya bu?" Tanya Fathan yang belum mengerti.
"Kamu nggak punya uang kan buat mengadakan resepsi Adik kamu?"
__ADS_1
"Ada bu, tapi masih dalam berbentuk barang, Kenapa Ibu mau uangnya sekarang?"
"Nggak! Ibu nggak akan merepotkan kamu, tapi Ibu hanya minta kamu menyetujui maksud dan tujuan ibu dan bapak!"
"Tujuan Apa itu Bu?"
"Sawah kita yang kamu garap, bapak akan jual ke Kang Ujang, namun syarat jual beli itu harus ada tanda tangan kamu." Jelas Sri.
"Apa.....!" tanggap Fathan dengan membulatkan mata, seolah tidak percaya dengan apa yang didengar.
"Benar Bapak mau Menjual sawah bapak, tapi walaupun itu sawah Bapak, ketika mau dijual harus ada tanda tangan kamu, sebagai anak kami." jawab Farhan menimpali.
"Fathan nggak akan mau menandatangani jual beli itu, Fathan yakin Fathan akan bisa mengumpulkan uang sesuai dengan yang Bapak minta. tolong kalian berdua sabar dulu, sebelum kondisinya membaik," tolak Fathan.
"Kenapa kamu melarang..? lagian kan itu bukan tanah kamu, itu tanah ibu dan bapak?" tanya Sri sambil menatap penuh heran ke arah sang petani.
"Nggak...! pokoknya tanah dan sawah kita tidak boleh dijual."
"Kenapa kamu menentang ibu dan bapak, kami berdua tidak meminta apapun dari kamu, kami hanya meminta persetujuan Tanah kami untuk dijual."
"Itu adalah permintaan terbodoh yang Saya dengar, orang lain berlomba-lomba ingin memiliki tanah berlomba-lomba ingin memiliki sawah. sedangkan kita yang sudah memiliki semuanya, masa iya Mau dilepas begitu saja, hanya untuk mempertahankan Gengsi?"
"Gengsi apa....?"
"Gengsi karena malu sama tetangga, kalau pernikahan Farah tidak dirayakan. padahal untuk sekarang jangankan merayakan pernikahan, berkerumun lebih dari 3 orang aja sudah tidak boleh. sabar dulu pak! Sabar dulu Bu! Fathan akan secepatnya mengusahakan uang itu." Ujar Fathan sambil membagi tatap ke arah kedua orang tuanya.
"Mau sampai kapan kamu berkilah seperti ini, ingat kami tidak pernah meminta apapun sama kamu. walaupun kami sudah banyak berkorban agar kamu bisa kuliah tinggi dan mendapat pekerjaan yang layak. hanya kamunya saja yang tidak mengerti, yang tidak tahu di untung, tidak tahu cara balas budi kepada orang tuamu, sehingga kamu lebih memilih bertani."
"Maaf Bu...! Pokoknya saya nggak setuju Kalau bapak sama ibu menjual tanah kita."
"Ya sudah Bu! Ayo pulang..! Ngobrol sama orang keras kepala seperti dia, itu nggak akan nyambung. ayo nanti kita usahakan bagaimana agar tanah kita bisa laku terjual tanpa memakai tanda tangan si Fathan," ujar Farhan sambil membalikkan tubuh hendak pergi meninggalkan kantor keranjang sayur.
"Kalau bapak sampai memalsukan tanda tangan saya. maka saya tidak akan segan-segan melaporkan bapak ke polisi, agar Bapak mendekam di penjara," teriak Fathan mengingatkan.
Plak!
__ADS_1
Satu tamparan dilayangkan oleh Sri, karena dia merasa kesal diancam oleh anaknya seperti itu. "Dasar kurang ajar..! dasar nggak tahu berterima kasih! sampai beraninya kamu mau melaporkan bapakmu," ujar Sri sambil berjalan meninggalkan Fathan yang masih termenung. menyusul suaminya yang sudah menaiki motor.