
Rana
"Boleh nggak, kalau Saya ngomong jujur?" tanya Fathan yang mengulum senyum melihat Kirana yang mendengus kesal, membuatnya semakin ingin mencandai gadis kota itu.
Sang petani itu sekarang sadar bahwa kebahagiaannya sedang berada di sampingnya, bukan kesuksesan kesuksesan yang sudah diraih bersama kelompok keranjang sayur, melainkan bisa duduk bersama sambil mengobrol diselingi canda tawa.
"Mau ngomong apa sih?" Ketus Kirana.
Sebelum berbicara Fathan pun mengambil tangan gadis itu, kemudian mengusapnya penuh kelembutan membuat Kirana hanya menatap nanar ke arah Fathan, beruntung keadaan mobil yang remang-remang, sehingga wajah kagumnya tidak nampak begitu jelas.
"Maafkan saya bu!" ujar Fathan Setelah lama ditunggu Akhirnya dia pun berbicara.
"Maaf untuk apa? dan coba Jangan panggil saya Ibu!" tanya Kirana.
"Maaf...! karena selama ini saya mengacuhkan kamu, selama ini saya telah salah menilai kehidupan. saya kira dengan memikirkan pertanian yang sedang terpuruk, perasaan saya akan bahagia. namun itu tidak terwujud, sekarang saya sadar bahwa bersamamu lah kebahagiaan itu hadir," ujar Fathan mengungkapkan isi hati terdalamnya, membuat hidung Kirana kembang kempis, namun dengan cepat dia memalingkan wajah agar tidak terlihat.
"Kamu nggak salah Minum obat kan?" tanya Kirana.
"Nggak...! sudah dua hari ini saya sudah tidak minum obat, karena saya sudah sembuh. Emang kenapa Bu? Eh sayang." tanya Fathan sambil melirik wanita yang ada di sampingnya dengan sudut mata.
"Ya, lagian aneh kamu tiba-tiba berbicaranya kayak orang ngelantur."
"Maafkan saya..! kalau saya tidak bisa berdiksi seperti para pujangga, bersajak seperti para penyair, namun yang ibu harus ketahui bahwa."
"Ibu lagi...! Ibu lagi..! panggil nama aja sih, kesannya aku sudah tua banget dipanggil ibu," potong Kirana yang terlihat mendengus kesal.
"Maaf Bu...! Eh sayang. soalnya kalau panggil kir nanti disangka tukang parkir. kamu bisa lebih tersinggung," ujar Fathan sambil melempar senyum.
"Ya jangan panggil Kir lah, panggil ana kek!"
"Yah maaf, Rana!"
"Minta maaf melulu, kayaknya kesalahanmu sangat banyak ya?" tanya Kirana.
__ADS_1
"Banyak, bahkan kalau dituliskan mungkin tidak akan cukup satu buku."
"Apa aja kesalahanmu?"
"Tidak menyambut perasaan Cinta dari sang Bidadari."
"Wah benar...! kayaknya kamu harus dibawa ke psikiater, otakmu kayaknya Ada benjolan sedikit, sehingga ngobrolnya ngelantur ke mana-mana."
"Aku serius loh! dimaafin nggak?"
"Apanya yang harus dimaafkan?"
"Aku mengabaikanmu."
Mendapat pertanyaan seperti itu, Kirana pun terdiam seolah sedang mengingat kelakuan-kelakuan kekasihnya yang sering menyakiti hati. meski sakit itu bukan karena penghianatan, melainkan sikapnya saja yang begitu Acuh dan cuek terhadap pasangan, Tak seperti layaknya kekasih pada umumnya.
"Dimaafkan nggak Rana?" tanya Fathan setelah tidak mendapat jawaban.
"Diulang kembali nggak?" jawab Kirana membalikkan pertanyaan.
"Serius...!" tanya Kirana namun dengan cepat dia menggigit bibir, harusnya dia tetap kalem seolah tidak butuh dengan pria yang ada di sampingnya.
"Serius...! tapi ada satu yang masih mengganjal."
"Mengganjal bagaimana?"
"Apakah Rana masih tetap mau menerima saya seperti menerima waktu dulu. karena seperti yang Rana ketahui, Sekarang saya sedang terpuruk." ujar Fathan yang terlihat menghela nafas kemudian dia pun membuangnya dengan perlahan, berharap semua beban yang ada di pikirannya ikut Terhempas.
"Hubungan itu bukan melihat Siapa yang sempurna atau tidak, Tapi dengan adanya hubungan kita bisa saling menyempurnakan satu sama lain, bisa saling melengkapi antar kekurangan."
"Maksudnya Ibu setuju! eh Rana setuju?" Ungkap Fathan memastikan.
"Setuju apanya?"
__ADS_1
"Setuju kalau saya melamar Ibu, meski tidak dengan orang tua saya. nanti setelah semuanya kembali normal Saya akan meminta bapak dan ibu untuk melamarmu secara resmi."
"Apa kamu nggak bohong, seperti yang diucapkan beberapa waktu lalu?" tanya Kirana yang sudah sering dibohongi oleh Fathan, sehingga dia tidak yakin dengan apa yang dibicarakan oleh sang petani itu.
"Kayaknya sekarang saya tidak bohong Bu, soalnya pertanian sedang tidak membutuhkan saya."
"Berarti kalau pertanian sudah kembali normal, pandemi covid sudah hilang. kamu akan melupakan janjimu seperti yang sudah-sudah?"
"Nggak akan melupakan! nanti setelah pulang mengantarkan Rana, saya akan menemui bapak untuk memintanya menemui Pak Wira dan ibu Winda."
Mendengar perkataan Fathan, hati kirana pun seketika berubah menjadi bahagia. kalau dia tidak malu Mungkin dia akan keluar dari mobil lalu menari-nari mengungkapkan kebahagiaannya. tapi Walau begitu masih ada yang mengganjal di hati Kirana, walaupun Fathan tidak pernah melirik wanita atau gadis lain. tapi untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih sakral, beberapa kali dia mengungkapkan namun beberapa kali juga dia mengingkari. sehingga hatinya sekarang menjadi Dilema antara bahagia atau was-was.
"Rana saya yakin! Rana pasti nggak akan percaya dengan apa yang saya ucapkan, namun Sekarang saya sudah sadar bahwa Rana adalah orang yang terbaik yang bisa paham dan mengerti Kondisi saya. Jadi Rana nggak usah takut kalau saya mengingkarinya lagi!" Ujar Fathan memberi ketegasan karena dia juga sadar dengan kesalahannya.
"Aku akan selalu sabar menunggumu, sampai kamu benar-benar memintaku kepada orang tua untuk disahkan!" ujar Kirana dengan suara pelan, karena sebelum dia mendengar ijab qobul yang dibacakan oleh Fathan, mungkin hatinya akan terus dihantui oleh rasa tidak percaya. ini bukan murni kesalahannya, melainkan kesalahan Fathan yang tidak peka, yang selalu mengingkari janjinya.
Mobil SUV itu terus melaju membelah kegelapan malam, yang hanya disinari oleh cahaya lampu lampu yang berjajar di pinggir jalan, yang terlihat Suasananya sangat sepi, karena masih ada dalam kondisi Lockdown.
"Ya sudah Rana Tidur aja dulu! nanti setelah sampai aku bangunkan!" ujar Fathan.
"Nggak...! aku nggak ngantuk kok! mau keripik?" tanya Kirana mengalihkan pembicaraan sambil mengambil goodie bag yang berisi makanan.
"Kalau roti Saya mau, soalnya saya belum makan!"
"Sama! saya juga belum makan, tadi cuma makan bubur kacang pemberian Bibi Sari."
"Ya sudah nanti kalau ada restoran yang buka, kita mampir makan dulu."
"Yah, tapi sekarang makan yang ada aja dulu!" ujar Kirana sambil membuka bungkusan makanan, kemudian dia mengambil lalu dia menyuapkan ke arah sang petani.
Mereka pun terlalut dalam obrolan obrolan yang ringan, obrolan obrolan yang tak pernah mereka dapatkan selama berada di kampung sukadarma. Karena ketika di kampung hanya pembicaraan permasalahan yang menimpa kantor keranjang sayur yang biasa mereka bahas. berbeda dengan sekarang tidak ada sedikitpun yang mengucapkan kata keranjang sayur, mereka terlarut dalam pembahasan pembahasan kehidupan yang indah yang akan mereka lalui.
Lama di perjalanan akhirnya mereka pun melewati cek poin psbb di Ciawi, sama seperti ketika di Sukabumi. Mereka pun bisa lewat dengan aman, karena para penjaga hanya duduk tanpa ada melakukan razia, mungkin mereka sudah lelah apalagi masa Lockdown di beberapa kota sudah hampir sebulan.
__ADS_1
Setelah melewati gerbang cek point ciawi. mobil SUV itu melaju di jalan tanpa hambatan namun berbayar. Kirana yang tidak melihat ada restoran yang buka, Dia pun memutuskan untuk beristirahat dengan menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, hingga dia pun terlelap meninggalkan keindahan yang sudah lama ia harapkan.