Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 49


__ADS_3

Berdamai


"Terima kasih, terima kasih banyak atas bantuannya Pak! namun Kalau boleh kami tahu, kapan kami bisa bertemu dengan warga kampung sukaramah?" tanya Pak RT mewakili pertanyaan warganya.


"Untuk masalah kapan dan di mana kami belum bisa memastikan, namun menurut saya semakin cepat semakin baik, Jadi kalau boleh memberikan saran besok kita adakan pertemuan itu." Jawab Pak Polisi.


"Mohon maaf Pak! kira-kira di mana?"


"Lebih nyaman di tempat yang netral, kita bertemu di kantor desa." jawab Pak Polisi masih memberi saran.


Mendapat keterangan seperti itu, Pak RT membagi tatap ke arah warganya, seolah meminta pendapat dengan apa yang harus dia lakukan.


"Mohon maaf saya ikut berbicara!" ujar Fathan sambil mengangkat tangan.


"Silahkan!"


"Menurut saya, apa yang disarankan oleh pihak yang berwajib, itu sangat baik. karena kalau masalah ini dibiarkan berlarut-larut, takut ada orang yang menunggangi. Mending kalau kita tidak terpengaruh, kalau terpengaruh itu akan sangat fatal."


Mendengar penyampaian Fathan warga pun kembali terdiam, seolah sedang menimbang baik dan buruknya keputusan yang hendak mereka ambil. setelah terdiam agak lama Pak RT pun menarik napas, hendak menyampaikan pendapatnya. "benar dengan apa yang disampaikan oleh Fathan dan pihak Kepolisian, kita harus cepat-cepat menyelesaikan masalah ini, agar kita bisa hidup dengan nyaman dan aman, tanpa ada ketakutan diserang oleh warga kampung sukaramah."


"Iya bener, menurut keterangan, kita tidak boleh bermusuhan lebih dari 3 hari." ujar pak ustad menambahkan.


Akhirnya para tetua-tetuah lainnya pun mereka memberikan pendapat, bahwa mereka bersedia bahwa besok mereka akan berkumpul di kantor Kepala Desa, untuk membicarakan perdamaian.


Setelah mendapat keputusan, akhirnya pihak kepolisian pun berpamitan dan berjanji, sebelum mereka pulang akan menemui ketua kampung sukaramah, untuk menyampaikan berita baik ini. Dan beliau meminta agar para warga kampung sukadarma, menjaga kampungnya dan tidak ada yang terpancing sehingga keributan itu bisa pecah kembali.


Mendengar permintaan pihak keamanan para ketua Kampung sukadarma pun berjanji, akan menjaga kenyamanan warga kampungnya agar tetap kondusif, agar tidak memancing masalah-masalah baru sehingga bisa menimbulkan pertempuran.


Setelah kepergian pihak yang berwajib, para warga kampung sukarama  sama sama membubarkan diri ke rumah masing-masing. namun ketua-ketua yang tergabung dalam kelompok keranjang sayur, mereka bergegas pergi ke kebun untuk membantu warga yang sedang panen sayuran.


Akhirnya hari itu meski sangat sibuk, namun pertanian tetap dirawat sebagai mana mestinya. hingga Asep dan beberapa anggota keranjang sayur yang ditugaskan untuk mengirim barang, mereka sudah berangkat menuju pasar untuk menjual hasil pertanian mereka.

__ADS_1


*****


Keesokan paginya, sesuai yang sudah direncanakan. bahwa hari itu warga Kampung sukadarma dan Kampung sukaramah akan mulai mengadakan pertemuan, untuk mengadakan perjanjian perdamaian.


Matahari yang belum tinggi terlihat dari upuk Timur, memancarkan sinar yang terasa hangat. memberikan semangat dan pengharapan bagi jiwa-jiwa yang tersinari oleh sinarnya. burung-burung berkicau seolah ikut bahagia menyambut hari baik itu, hari di mana sejarah baru akan dimulai. para warga yang dianggap paling tua dan dianggap bisa menyelesaikan masalah, mereka berbondong-bondong menuju kantor Kepala Desa.


Kantor Kepala Desa yang biasanya sepi, karena hanya mengurus kebutuhan-kebutuhan sipil. hari itu terlihat sangat ramai karena warga Kampung sukaramah dan sukadarma sudah datang memadati halaman Kantor Kepala Desa. sesuai dengan apa yang disampaikan oleh pihak kepolisian, menunjukkan bahwa kedua kampung itu benar-benar ingin berdamai.


Setelah warga berkumpul, kepala desa yang memfasilitasi mediasi perdamaian, mempersilahkan masuk ke aula kantor agar mereka bisa mengobrol dengan tenang.


"Sudah kumpul semuanya?" tanya pak polisi sambil menatap ke ketua dari kedua belah pihak.


"Warga Kampung sukadarma semuanya sudah kumpul Pak! karena tadi kita berangkat bareng-bareng menggunakan mobil pick up." jawab Pak RT kampung sukadarma memberi penjelasan.


"Terima kasih! kalau sukaramah?"


"Tinggal beberapa orang lagi pak, Mungkin dua atau tiga orang," jawab ketua kampung sukaramah.


sambil menunggu orang yang belum datang, mereka para warga kampung terlihat bercengkrama, seperti tidak ada permusuhan di antara mereka. Kampung mereka yang berdekatan hanya terpisah oleh sawah dan lembah, sehingga tidak jarang dari mereka saling mengenal, bahkan akrab. karena sebenarnya dalam waktu 10 tahun terakhir, Pak RT dan ketua Kampung sukaramah mereka sudah melakukan perdamaian, dengan bertukar perjodohan. walaupun tidak memaksa, namun itu cukup efektif, karena 10 tahun terakhir tidak ada serangan seperti dua hari yang lalu.


Pihak kepolisian sebagai mediator mulai menyampaikan maksud dan tujuan, mereka dikumpulkan di kantor kepala Desa.


"Sesuai kesepakatan dari kedua belah pihak, bahwa bapak-bapak yang hadir di sini, ingin menyelesaikan pertikaian dengan cara berdamai. silahkan Jalan seperti apa, yang hendak diambil," ujar pak polisi mempersilahkan.


Ketua Kampung sukadarma dan ketua Kampung sukarama mereka saling menatap lalu mempersilahkan.


"Silakan ketua Kampung sukadarma dulu!"


"Ketua Kampung sukaramah aja!" jawab Pak RT


Akhirnya kedua orang itu saling mempersilahkan, hingga pihak mediator pun memberikan waktu pertama untuk ketua kampung sukaramah.

__ADS_1


"Baik terima kasih atas waktunya! saya sebagai wakil ketua Kampung sukaramah, dan mewakili semua warga kampung. saya mohon maaf Yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang merasa dirugikan, oleh kelakuan barbar warga kampung saya. terutama kepada warga kampung sukadarma yang telah terganggu kenyamanannya. saya mohon maaf dan saya berjanji kejadian itu tidak akan terulang lagi. Cukup sampai hari kemarin permusuhan kita. kedepannya Saya berharap kita bisa hidup rukun aman dan damai. sesuai dengan motto Kabupaten kita. repeh, rapih, aman tentram, Kerto Raharjo," ujar ketua Kampung sukaramah menyampaikan permohonan maafnya.


"Silakan Tan!" perintah Pak RT sambil menatap ke arah Fathan yang duduk di sampingnya


Fathan pun berdiri, kemudian dia menghela nafas dalam, seolah sedang mengumpulkan tenaga Dan keberanian untuk menyampaikan semua yang ada di dalam hatinya.


"Terima kasih, kami sebagai warga kampung sukadarma, kami memaafkan kejadian yang menimpa Kampung kami. Mungkin ini bukan murni kesalahan warga Kampung sukaramah, mungkin juga ini kesalahan ada di pihak kami. maka dari itu saya mewakili warga Kampung sukadarma. memohon maaf kalau kami memiliki salah terhadap warga kampung sukaramah. Saya berjanji tidak akan ada serangan balasan dari pihak warga Kampung kami kepada Kampung sukaramah. walau Paman saya, tetangga kami terluka sampai harus dilarikan ke rumah sakit. kami ikhlas menerima semuanya. mungkin ini adalah jalan cerita yang harus kami lalui, demi tercapainya kedamaian di antara warga kampung kita. namun saya berharap kedepannya tidak ada kejadian-kejadian yang memilukan seperti dua hari yang lalu." jelas Fathan panjang lebar.


"Sama-sama! Mulai sekarang kita saling memaafkan dan saling berjanji. kedepannya kita harus saling membantu, saling tolong menolong, layaknya saudara. Karena sebenarnya kalau ditarik ke masa lalu, warga Kampung sukadarma dan kampung sukaramah adalah saudara, hanya kesalahan orang-orang tua kita yang membiarkan permusuhan itu terus tumbuh di setiap anak-anaknya. Sehingga sampai sekarang rasa itu masih tumbuh subur." jawab ketua kampung sukaramah.


"Terus kalau kita sudah saling memaafkan, kita harus memiliki solusi agar kejadian seperti kemarin tidak terulang lagi, kira-kira apa yang harus kita sepakati?" ujar Fathan memberikan pertanyaan, agar kedepannya kejadian serupa bisa ditanggulangi dengan cepat.


"Kita buat perjanjian ditandatangani oleh semua warga yang hadir, agar ketika ada kericuhan, ada keributan, ada pertikaian kita harus berjabat tangan, merapatkan barisan untuk mencegah kerusuhan itu semakin meluas." jelas ketua kampung sukaramah.


"Caranya?"


"Kita harus bisa menjaga anak, keluarga, saudara sampai warga Kampung masing-masing, agar tidak menimbulkan pertikaian."


"Boleh saya menambahkan?" tanya Fathan setelah ketua Kampung sukaramah berhenti berbicara.


"Boleh, silakan! karena apapun pendapatnya, ketika itu baik untuk semuanya. kita harus menaati, demi terwujudnya kedamaian di antara kita," jawab ketua kampung sukaramah.


"Bagaimana kalau ada yang mulai memancing keributan, saya yakin setiap keributan pasti akan ada orang yang mengawali. Maka kita harus menyepakati bersama, bahwa orang yang mengawali menimbulkan atau mempengaruhi, menghasut warga agar melakukan hal-hal yang menjurus ke pertikaian, kita serahkan ke pihak yang berwajib. untuk diproses secara hukum yang berlaku. kita sebagai ketua dari kampung masing-masing, tidak boleh ada yang ikut campur dalam proses penyelidikan, dan penegakan hukum. kita harus sama-sama mendukung dan menerima apa yang diputuskan oleh pihak yang berwajib." jelas Fathan menyampaikan pendapat.


"Setuju! saya setuju sekali! karena pengacau harus lenyap dari muka bumi ini. dari kemarin saya sudah mengancam warga saya ketika ada orang yang memulai keributan kembali, maka sayalah orang yang pertama yang akan menjebloskannya ke penjara." jawab Pak RT sukaramah dengan tegas.


Akhirnya siang itu warga Kampung dari kedua belah pihak. mereka menyampaikan inspirasi dan aspirasi mereka agar Kampung mereka bisa ditinggali dengan nyaman dan tidak ada kejadian-kejadian pertikaian seperti yang sudah-sudah.


Setelah mendapat keputusan dan disepakati bersama, para warga Kampung pun berbondong-bondong untuk menandatangani kesepakatan itu bersama-sama. dan ketika ada orang yang memulai maka mereka semua akan bekerja sama untuk melaporkan pengacau itu ke pihak yang berwajib, agar memberikan Efek Jera.


Selesai menandatangani perjanjian perdamaian, akhirnya para warga kampung sukadarma dan sukaramah mereka berpelukan dan mengucapkan maaf. sama seperti Fathan yang menghampiri Sobri yang wajahnya terlihat masih banyak lebam, karena kalah bertarung dengannya.

__ADS_1


"Maafkan saya Bri, Kemarin saya lupa kalau kita dulu pernah berteman." ujar Fathan sambil mengulum senyum.


"Nggak apa-apa Bro! namanya juga laki-laki, luka segini jamak. Maafkan gua juga ya!" ujar pria berkulit hitam itu, sambil memeluk Fathan, tak ada sedikitpun dendam di hatinya Karena Dia berbuat seperti itu bukan tujuannya untuk menjadi pengacau antar kampung.


__ADS_2