Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks. 94


__ADS_3

Rencana memberi pelajaran


Matahari sebentar lagi berada tepat di atas ubun-ubun, panasnya sangat terik membuat orang-orang akan bersembunyi dari sinarnya, para petani yang biasa Bekerja di kebun dan di sawah mereka sudah mencari tempat-tempat teduh untuk beristirahat, bahkan sebagian sudah ada yang mulai pulang, mereka lebih memilih beristirahat di rumah.


Di teras salah satu rumah terbesar di kampung sukadarma, terlihat ada dua orang yang sedang duduk mengobrol, membahas kejadian yang menimpa tamunya.


"Akang harus beri pelajaran terhadap Fathan, tapi pelajarannya jangan dengan bertutur kata, karena kalau kita berdebat dengan orang yang keras kepala, Maaf! seperti anak Kang Farhan, kita tidak akan menang, karena orang-orang seperti itu, mereka merasa pintar, sehingga tidak mau menerima pendapat orang lain," ujar Ujang yang mendapat pertanyaan dari Farhan, dia terlihat bijak sana namun hatinya sangat busuk.


"Caranya harus bagaimana Kang?" tanya Farhan.


"Orang akan sadar tentang pentingnya orang yang selalu berada di sampingnya, ketika orang itu sudah tidak ada."


"Maksudnya, saya harus meninggal begitu? biar si Fathan mengerti tentang menghormati?" tanggap Farhan yang sedang kalut sehingga dia tidak bisa berpikir jernih.


"Hehehe, Bukan begitu maksud saya, Akang tinggalkan Fathan, biarkan dia hidup sendirian! lambat laun Saya yakin anak akang berubah."


"Mohon maaf Kang Ujang, pikiran saya sedang kalut, sehingga saya tidak bisa mencerna dengan apa yang disampaikan oleh Akang. berarti saya harus meninggalkan Fathan begitu?"


"Benar...! Akang harus menjauhi Fathan agar dia sadar kalau Akang adalah orang yang harus dihormati di dalam hidupnya, orang yang harus dibanggakan dan dimuliakan oleh dirinya." jelas Ujang yang terlihat semakin bersemangat.


Mendengar saran lintah darat seperti itu, Farhan kembali terdiam menimbang baik buruknya ketika dia melakukan apa yang disarankan oleh Ujang. Setelah lama berpikir Akhirnya dia pun mengambil keputusan, namun ketika dia hendak mulai berbicara pardi yang ditugaskan membuat kopi sudah datang, Lalu menghidangkan di atas meja.


"Kopinya Kang Farhan!" tawar Pardi sambil kembali duduk di kursi yang tadi ia tinggal.


"Terima kasih Kang Pardi! benar, kayaknya saya harus ngopi terlebih dahulu," jawab Farhan sambil mengambil gelas miliknya, kemudian dia mulai meneguk kopi panas itu sedikit demi sedikit.

__ADS_1


"Rokoknya kang!" tawar Ujang sambil menyodorkan bungkusan rokok yang tadi dia beli.


"Terima kasih..!" jawab Farhan sambil mengambil sebatang, kemudian membakarnya. setelah menghembuskan asap yang baru dihisapnya Farhan pun berbicara kembali. "Sebenarnya saya sudah memiliki rencana untuk pergi meninggalkan kampung sukadarma, karena semenjak kepulangan Fathan dari tempat bekerjanya, kegiatan saya tidak ada. saya Hanya berdiam diri di rumah, tanpa tahu harus melakukan apa."


"Mau pergi ke mana?" tanya Ujang yang terlihat antusias.


"Kalau rencana jual beli kita terlaksana, saya akan mengurus kembali tanah-tanah saya yang berada di kampung situmekar, Kampung kelahiran saya." jelas Farhan.


"Nah, itu ide bagus kang! lebih baik Akang menenangkan diri terlebih dahulu di kampung halaman sambil memberikan pelajaran terhadap Fathan agar dia tidak melunjak!" Kata Ujang menyemangati, seolah mendukung keputusan yang hendak diambil oleh tamunya.


"Iya benar, kayaknya saya harus menenangkan diri dulu di Kampung saya. siapa tahu saja ke depannya Fathan bisa berubah," ujar Farhan seperti sudah membulatkan tekad.


"Benar kang! Kalau akang mau sawah yang hendak akang jual, jaminkan aja ke saya, nanti saya akan membuat penawaran yang bagus."


"Mohon maaf Kang Ujang, kalau untuk meminjam uang saya tidak biasa," tolak Farhan yang selalu memegang teguh dengan pendiriannya.


"Maksudnya bagaimana?" Tanya Farhan yang belum mengerti.


"Kalau akang berniat memberi pelajaran sama anak akang, maka saya akan mengasih uang tanda jadi pembelian sawah Akang. karena saya yakin ketika Akang pergi meninggalkan rumah, Fathan akan menyesali semua perbuatan yang dilakukan terhadap Akang, sehingga dia mau menyetujui jual beli yang akan kita lakukan, namun dengan syarat surat tanah akang berada di tangan saya."


"Terus?" tanya Farhan yang sudah mulai mengerti Ke mana arah pembicaraan Ujang.


"Akang nggak usah khawatir, Saya tidak akan berbuat curang terhadap Akang. karena saya sangat menghormati Akang sebagai sesepuh di kampung sukadarma, saya melakukan seperti ini, semata-mata hanya untuk menolong warga sekaligus sahabat saya yang sedang kesusahan."


"Kalau surat tanahnya ditahan sama Akang, berarti saya harus membayar bunga?"

__ADS_1


"Nggak harus Kang..! ini bukan pinjam meminjam, ini murni tanda jadi jual beli, nanti kalau akang setuju saya akan buatkan perjanjiannya, yang cukup di tanda tangani kita berdua  ke depannya semisal akang tidak jadi menjual sawah maka akang cukup pulangkan uang saya, sesuai yang akan saya serahkan, Itupun kalau akang setuju."


"Jadi kalau saya mengambil uang dp yang akan akang berikan, saya tidak harus membayar bunga dan ketika jual beli itu tidak jadi saya cukup mengembalikan uang yang diberikan oleh Akang?" ujar Farhan menegaskan.


"Benar seperti itu!"


"Terima kasih banyak Kang, Terima kasih Akang memang benar-benar orang yang sangat baik," ucap Farhan yang terlihat sumringah, satu persatu pikirannya mulai terbuka, jalan keluar dari masalah yang dihadapi sudah perlahan terbuka.


"Sama-sama kang! yang terpenting akangnya harus berkomitmen untuk memberikan pelajaran terhadap Fathan, agar dia tidak melunjak. soalnya saya juga merasakan sakitnya Seperti apa tidak dihargai oleh seorang anak," jelas Ujang yang sangat bijak.


"Kalau begitu, kira-kira akang mau ngasih DP berapa dan kalau Akang ngasih dp akang memberi waktu berapa bulan, agar persyaratan yang diajukan oleh notaris itu bisa diselesaikan."


"Saya akan memberikan uang rp75.000.000 sebagai tanda jadi. untuk tenggang waktu saya tidak akan menentukan, karena saya jelas ingin menolong Akang, Saya tidak ada sedikitpun ingin mengambil keuntungan dari warga yang sedang terkena musibah," jelas Ujang.


"Terima kasih banyak Kang! Terima kasih, kalau akang benar memberi uang dp sebesar rp75.000.000, saya akan menenangkan diri terlebih dahulu di kampung situmekar, sambil menunggu kepastian dari Farah kapan dia mau menikah."


"Ide bagus tuh Kang, Kalau bisa jangan lama-lama agar Fathan semakin cepat dia sadar, bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan. Dan niat Akang menjual tanah bisa secepatnya terealisasi.


"Terima kasih banyak Kang, namun saya ada permintaan Satu lagi."


"Boleh permintaan apa?" tantang Ujang.


"Kalau Akang Mau menolong saya, bagaimana jika uang yang Rp75 juta itu akang pegang terlebih dahulu, nanti setelah saya sudah mendapat kepastian tentang pernikahan Farah, maka saya akan ambil sambil membawa surat tanah, itupun ketika Fathan tidak menyetujui, tapi kalau anak saya setuju, maka saya akan jual."


"Oh itu, gampang...! gampang kang! pintu rumah saya akan selalu terbuka buat Akang ,dan uang saya akan selalu disediakan buat Akang."

__ADS_1


"Terima kasih, terima kasih banyak," ujar Farhan yang mengulum senyum, Jalan kehidupannya kembali terbuka lebar.


Akhirnya mereka pun mengobrol ngalor-ngidul, namun obrolan mereka tidak jauh tentang membahas Fathan dan Farhan yang akan pergi meninggalkan kampung sukadarma. obrolan itu terhenti sesaat setelah Azan zuhur berkumandang, karena Farhan ingin segera berkemas untuk menjalankan niatnya.


__ADS_2