
Kelompok Usaha Bersama
Setelah kepergian Pandi, Fathan pun mulai mencoba menaiki mobilnya.
"Ayo ikut!" ajak Fathan sama kedua asistennya.
"Nanti kotor Tan, mobilnya. kan masih baru!" jawab Kamal menolak.
"Nggak apa-apa! ada asep ini yang nyuci." ujar Fathan sambil tersenyum
"Siap Bos! nanti saya cuci sampai catnya mengelupas." Jawab Asep membalas candaan atasannya.
Akhirnya ketiga orang itu melakukan test drive. ternyata Seno memang orangnya bukan orang yang suka memanfaatkan teman. mobil yang dikendarai oleh Fathan ternyata sangat bagus dan enak. sehingga Asep dan Kamal mereka merasa bahagia, karena merekalah orang pertama yang diajak oleh Fathan Untuk menaiki mobil baru.
*****
Keesokan paginya, sesuai yang sudah direncanakan. bahwa mereka akan melakukan panen hari itu. dengan giat mereka bertiga bekerja, apalagi melihat hasil panen yang sangat melimpah. hanya dari satu jenis sayuran saja mobil mereka sudah penuh, bahkan masih tersisa beberapa Bedeng lagi yang belum dipanen.
"Wah kayaknya kamu ngambil mobil salah nih Tan! masa baru 5 Bedeng saja, mobilnya sudah penuh terisi oleh mentimun."
"Alhamdulillah saya gak Menyangka kalau hasil panennya akan seperti ini. kirain akan gagal!" jawab Fathan mengucap syukur.
"Terus sisanya bagaimana?"
"Nanti kita pikirkan lagi, siapa tahu aja warga didesa kita, ada yang memiliki mobil truk. agar kita mudah mengirimkan hasil pertanian, ketika panen kita melimpah seperti sekarang."
"Ada Tan! di Kampung Sebelah, Kampung Sukajadi! ada mobil milik Pak Haji Rohman. Mobil itu biasa di sewakan untuk mengangkut barang dari kota ke kampung, atau dari kampung ke kota."
"Serius mang!" ujar Fathan sambil tersenyum bahagia, Karena Allah selalu memudahkan setiap jalan yang ia kerjakan.
"Seriuslah! Emang kapan Mamang pernah bohong sama kamu?"
"Ya sudah! ayo kita pulang, kita siap-siap pergi ke kota. Nanti pulang dari Kota Baru kita temuin Pak Haji rohman!"
"Emang Asep diajak Kang?" tanya Asep seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Harus dong! sesekali kita harus jalan-jalan. nanti kalau ada waktu kalian harus bisa membawa mobil, agar kita bisa saling berbagi tugas." Jawab Fathan sambil tersenyum.
"Wah! terima kasih banyak, Kang! terima kasih." ujar Asep yang terlihat raut wajahnya menunjukkan kebahagiaan. karena belum tentu setahun sekali dia pergi ke kota.
__ADS_1
Akhirnya mereka bertiga pun bersiap-siap untuk melakukan perjalanan mengirim barang. menurut keterangan Asep, dia pergi ke kota hanya dulu waktu kecil. Itu pun ada hajatan di rumah saudaranya.
Hari itu juga, diantarkan oleh doa orang tua dan bibinya. mereka bertiga berangkat ke kota untuk menemui Seno. Sesampainya di kota, Seno yang sudah membuat janji dengan cepat mengajak Fathan untuk menemui orang yang akan membeli hasil panen mereka.
Ketika pengepul sayuran di pasar melihat mentimun yang dibawa Fathan kualitasnya sangat bagus. tanpa ada pertanyaan lagi dia pun membayar semua sayuran yang dibawa oleh Fathan. dan pengepul itu menyuruh Fathan agar membawa barang-barang hasil pertanian mereka lagi. ketika mereka mau menjualnya.
Asep dan kamal mereka sangat bahagia, karena hasil perjuangan mereka tidak sia-sia. setelah melakukan pembayaran Mereka pun mengucapkan terima kasih kepada Seno, yang telah membantunya mulai dari awal sampai akhir. setelah mengucapkan terima kasih, Fathan dan kedua asistennya berpamitan untuk mengambil kembali hasil pertaniannya.
Hari-hari berikutnya mereka disibukan dengan panen, mengirim barang, dapat uang. panen lagi, mengirim barang lagi. dapat uang lagi. begitulah pertanian sayuran karena sayuran akan terus bisa dipanen dalam kurun waktu seminggu sekali, sampai masa tumbuhnya habis.
Fathan yang sangat selektif, dengan memilih hasil pertanian terbaiknya. sehingga ia tidak mengecewakan pelanggannya, pengepul pasar pun merasa bersyukur, karena barang yang dikirim oleh Fathan tidak pernah ada yang jelek, dan orang-orang yang berbelanja lebih memilih hasil pertanian yang dikelola oleh Fathan.
Panen sayuran belum selesai, mereka sudah disibukkan dengan panen padi yang begitu tumpah ruah. biasanya Kamal dapat dari sawahnya hanya 1 ton setengah sampai 2 ton. ketika diurus oleh ahlinya, panen kamal pun menjadi 5,5 ton. sehingga kamal sangat merasa beruntung sekali karena dia mendapat 1,7 ton, tanpa harus mengeluarkan modal sepeserpun. sedangkan padi para warga umumnya, mereka gagal panen lagi. sehingga mereka mulai beranggapan bahwa Fathan memang benar-benar sangat ahli dalam bidang pertanian. apalagi ketika melihat kamal yang sangat beruntung mendapat padi 1,7 ton tanpa mengeluarkan modal dan tenaga lebih. sehingga warga itu mulai berbondong-bondong mendatangi Fathan, untuk memintanya mengurus sawah mereka masing-masing.
Siang itu, seperti biasa Fathan kalau tidak mengirim hasil pertanian ke kota. mereka akan duduk sambil ngopi-ngopi di saung yang mereka buat.
"Bagaimana nih Tan, para warga sudah beberapa kali menemui Mamang. Untuk meminta agar kamu mengurus sawah dan tanah mereka?" tanya Kamal mengawali pembicaraan.
"Justru itu! saya sedang memikirkan Bagaimana caranya, agar mereka mau bertani bukan mengandalkan kita."
"Ya gampang, tan! kamu tinggal Berikan pengarahan saja, nanti kalau mereka tidak mau, kita tidak usah mengurus atau membantunya."
"Ya udah! nanti kamu sampaikan sama warga, kamu beri pengertian secara detail. Mamang yakin mereka pasti akan mengerti. Oh iya, Kapan rencananya mau mengumpulkan warga?"
"Bagaimana kalau malam Minggu, kita mengadakan syukuran sambil membahas rencana kita."
"Ide bagus tuh! boleh nanti Mamang atur." Jawab Kamal menawarkan diri.
"Baik kalau seperti itu, nanti malam Minggu kita akan mengadakan rapat warga, sekaligus mengadakan syukuran."
Tiga hari berlalu, akhirnya waktu yang sudah ditentukan pun tiba. para warga berbondong-bondong untuk mengikuti acara syukuran yang diadakan oleh Fathan.
Setelah warga berkumpul, Pak ustad pun mulai memimpin doa. mulai dari bacaan Tahmid, tasbih serta membaca Alquran. sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh sang pencipta, karena hasil panen Fathan tahun ini sangat memuaskan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ujar Fathan setelah mereka beramah tamah dengan makan bersama.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" jawab para warga yang menghadiri.
"Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran saudara saudari yang berkenan hadir dalam acara saya. maksud saya mengumpulkan semua warga kampung sukadarma, selain dari mengucap syukur atas nikmat dan karunia yang Allah berikan. saya juga ingin membahas tentang rencana saya dalam mengembangkan pertanian kampung kita. Saya ingin mencarikan solusi agar taraf kehidupan Kampung kita lebih Baik dan warga kampung kita tidak harus pergi ke luar kota ketika kita mencari nafkah. saya sudah menerima beberapa permintaan untuk saya mengurus tanah para warga, namun Kemarin saya belum mengiyakan, Karena tujuan saya bertani bukan untuk saya sendiri. saya ingin semua warga kampung ikut terlibat di dalamnya. bukan saya sendiri, bukan Mang Kamal atau asep, tapi semuanya."
__ADS_1
"Maaf Jang Fathan! kayaknya cita-cita kamu ketinggian, jangan gara-gara berhasil panen baru sekali, kamu sudah berani mengajak para warga untuk berjudi." sanggah seseorang di tengah-tengah penyampaian.
"Mohon maaf, sebelumnya. bukannya saya sombong, tapi seperti para warga ketahui, bahwa saya sudah membuktikan. saya bisa bertani dengan keadaan tanah yang menurutnya tanah kita ini tidak subur. namun saya bisa membuktikan bahwa semua tanah bisa ditanami, dengan pengelolaan yang baik dan perencanaan yang matang, maka hasil panen akan melimpah." jawab Fathan sambil tersenyum.
"Jangan didebat dulu kang Ujang! biarkan Fathan menyampaikan tujuannya. yang menurut saya semua warga Kampung kita harus mulai menerima kemajuan zaman
mungkin saatnya sekarang kita, membiarkan para generasi muda memimpin kita." ujar Pak RT memperingkatkan warga agar mendengarkan apa yang hendak disampaikan oleh Fathan
"Orang baru saja sudah belagu!" Gerutu Ujang sambil berbisik sama orang yang berada di sampingnya. namun orang itu menempelkan telunjuk di bibir, memberi tanda Kang Ujang harus berhenti mengoceh.
"Lanjutkan Tan!" seru pak ustad.
"Kalau para warga mau ikut dengan kelompok usaha bersama, yang saya akan dirikan. maka saya akan memberikan jaminan pengontrolan, perawatan dan penjualan. kita akan bekerja bersama-sama demi tercapainya tujuan kelompok usaha kita, yaitu memajukan kampung sukadarma."
"Sudahlah kalau kamu mau mendoktrin warga kampung dengan bualan kamu sendiri. Saya mohon pamit undur diri." Ujang kembali menyanggah.
"Kenapa kang, kok berbicara seperti itu, saya tidak membual, saya sudah membuktikan sendiri bahwa kita bisa bertani. Seperti kampung-kampung yang sudah menerapkan sistem pertanian duluan."
"Warga Kampung kita sudah berpuluh-puluh tahun ,bahkan dari kakek moyang kita sendiri, mereka terus bertani. Tapi tidak ada tuh, orang yang sukses dari hasil pertanian. mendingan sekarang kita bertani seperti biasa saja, seperti keyakinan kita." pinta Ujang.
"Ya sudah, kalau seperti itu. saya tidak akan memaksa namun saya hanya mengajak orang yang mau gabung saja."
"Para warga sekalian! Jangan mau dibodoh-bodohi oleh anak kemarin sore. karena baru saja dia berhasil sekali, dia ingin menggurui kita. dengan embel-embel kelompok usaha bersama. kita tidak tahu tujuannya seperti apa, mungkin dia akan memanfaatkan tanah kita buat keuntungannya sendiri. Apalagi saya dengar bahwa dia memiliki semua mesin yang canggih itu dapat dari hutang. jadi saya ingatkan kepada para warga, jangan sampai mau didoktrin oleh orang ini. karena kita hanya dijadikan sapi perah untuk melunasi mesin-mesinnya." ucap Ujang sebelum pergi dia mulai menebarkan kebencian, terhadap orang yang mau memajukan kampung sukadarma.
Warga yang mendengar penjelasan dari Ujang, dengan cepat Mereka pun saling berbisik sama yang lainnya. sehingga menimbulkan keraguan ketika hendak bergabung dengan Fathan. hingga akhirnya mereka pun memutuskan pergi untuk meninggalkan acara rapat tersebut. hanya menyisakan beberapa orang yang sudah merasa yakin, bahwa Fathan bukan orang yang seperti disangkakan oleh Ujang.
"Tinggal 20 orang yang bertahan Tan. bagaimana?" tanya Kamal.
"Maaf masih mau bergabung dengan kelompok usaha bersama yang saya akan dirikan?" tanya Fathan, sebelum melanjutkan kembali pembahasannya.
"Mau!" jawab orang-orang dengan serempak.
"Alhamdulillah! saya tidak perlu orang banyak, namun tidak komitmen. saya perlu orang dengan komitmen yang tinggi, karena pertanian seperti yang kita tahu, membutuhkan perawatan ekstra dan perjuangan yang sangat keras."
"Terus selanjutnya Bagaimana Tan?" tanya pak RT yang masih duduk di tempatnya.
"Nantinya kita akan urus pertanian kita bersama-sama, dan hasilnya kita bagi rata dengan semua anggota kelompok."
"Maksudnya bagaimana, Tan?"
__ADS_1