
Perdebatan
"Oh iya, ya....! Hampir saya lupa," ujar Karto membenarkan apa yang disampaikan oleh Pak Ustadz Ahmad.
"Berarti biar lebih leluasa, kita adakan acara resepsi pernikahan itu bulan juninya saja," Timpal Farhan.
"Kalau ingin leluasa, ambil tanggal 31 Mei, karena tanggal satu bulan Juni itu adalah hari libur, tanggal merah. bertepatan dengan hari Pancasila," ujar Fathan memberi masukkan, kakak yang sejak dari tadi hanya memperhatikan.
"Nah, itu saran yang bagus, jadi setelah bulan puasa, bulan yang terbaik buat nikah itu adalah bulan Syawal," jelas Pak Ustadz Ahmad.
"Sekarang harinya sudah pasti, tanggalnya sudah pasti. terus acaranya mau seperti apa?" tanya Farhan sambil menatap ke arah Karto.
"Pernikahannya di sini, namun untuk resepsinya nanti di kota. Soalnya kalau di sini, teman-teman Saya, kerabat kerabat serta saudara saya juga pasti tidak akan datang. karena dari kota ke sini lumayan cukup jauh," jawab Karto memberi keputusan.
"Kenapa nggak sekalian di sini saja, karena Farah juga anak saya, dan saya orang tuanya, saya juga ingin mengundang kerabat kerabat, tetangga dan sahabat-sahabat untuk ikut berbahagia dengan pernikahan anak kami," jawab Farhan yang tidak setuju.
"Lebih baik di kota, karena ini adalah pernikahan putra kami satu-satunya. kami ingin mengundang seluruh keluarga besar kami, agar bisa hadir. berbeda dengan Pak Farhan yang memiliki tiga anak. pak Farhan bisa mengadakan acara resepsi nanti di anak-anak yang lainnya ketika mereka menikah," jawab karto yang terlihat egois.
Akhirnya musyawarah yang terlihat santai dan berjalan begitu khidmat, mulai terlihat perbedaan paham. yang satu ingin mengadakan resepsi di kampungnya, yang satu juga Sama ini mengadakan resepsi di rumahnya.
"Sudah....! sudah! jangan diteruskan, Bagaimana kalau acara resepsinya dua kalisaja, di sini sekali, Di rumah pak Karto sekali," pisah Pak Ustad mengambil Jalan Tengah.
"Kalau seperti itu, kita membutuhkan banyak biaya pak ustad."
"Ya, kalau nggak mau mengeluarkan biaya banyak, karena mengadakan dua kali acara resepsi, maka salah satu dari para Bapak harus ada yang mengalah."
__ADS_1
Mendengar penjelasan seperti itu, Farhan pun terdiam sama seperti Karto yang terdiam. namun setelah berpikir agak lama, mereka tetap tidak mau ada yang mengalah, mereka tetap kekeh dengan pendiriannya masing-masing yang ingin mengadakan resepsi di rumahnya.
"Mohon maaf, kalau saya mengadakan resepsi di sini, Apakah keluarga Bapak, akan membantu biaya saya?" tanya Farhan sambil menatap karto.
Mendapat pertanyaan dari Farhan, Karto terlihat menghela nafas. kemudian dia menatap ke arah istrinya, terlihat mereka saling berbisik seperti sedang berdiskusi.
"Bagaimana Ardi?" tanya Karto sambil menatap ke arah anaknya, yang dari tadi senyam-senyum seolah tanpa memiliki beban.
"Ngikut aja Pak! kalau saya di sini atau di kota itu sama aja yang terpenting saya menikah dengan Farah," jawab pria tampan, gagah dan pemberani itu.
Mendapat jawaban anaknya seperti itu, Karto hanya mendengus kesal, karena bukan solusi yang diberikan. anaknya terlihat ingin menang sendiri. Setelah itu dia menatap ke arah Farhan. "kalau bapak mau mengadakan resepsi di sini, saya akan Sumbang 20 juta, Karena bukan apa-apa, saya juga harus mengadakan acara resepsi di kota, yang biayanya Tidak kecil.
"20 juta cukup buat apa, uang segitu paling sudah habis buat dekor rumah saya." Jawab Farhan yang tidak setuju.
"Nggak usah ada dekor-dekoran Pak, cukup rias pengantin buat acara akad aja, kalau resepsinya kan, di kota." jawab Karto, yang terlihat masih kekeh dengan pendiriannya.
"Sudahlah Pak, Bu. Jangan berdebat terus, nanti kalau saya ada uang, Pak Farhan akan saya bantu untuk mengadakan resepsi di sini," pisah Ardi yang ketenangannya mulai terganggu.
"Nah begitu, kan enak." jawab Farhan.
"Tapi Ardi...! kita juga kan membutuhka biaya banyak. kamu harus tahu bahwa sewa gedung itu paling murah 15 juta, belum dekorasinya yang sampai 30 juta, belum catering kalau kita membuat 1000 porsi kali Rp30.000 udah 30 juta, belum lagi Yang lain-lainnya," sanggah nendah yang tidak suka anaknya membantu keluarga Farhan."
"Sudahlah...! kalau kalian pelit, Biarkan saya urus, untuk resepsi pernikahan di sini, biar saya urus sendiri. kalian pikirkan ego kalian saja." ujar Farhan yang terlihat amarahnya sudah di ubun-ubun, hingga dia tidak dipikir dengan matang, sehingga keluar pembicaraan seperti itu.
"Nah begitu dong, kalau Pak Farhan ingin acara mewah, ya buat sendiri jangan ngerepotkan calon suami. ingat anak saya mau menikahi putri Bapak, bukan untuk diperas, tapi untuk dibahagiakan."
__ADS_1
Fathan dan Kirana yang sejak dari tadi terdiam memperhatikan, mereka hanya saling menatap sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal. karena tidak mengerti dengan pemikiran-pemikiran orang tua seperti itu. Menurut Kirana, Kalaupun dia harus menikah dengan Fathan tanpa resepsi sedikitpun, dia akan siap. Namun sayang ajakan yang ditunggu belum dilontarkan juga.
Perdebatan itu terus berlanjut, hingga akhirnya keluarga Pak Karto berpamitan, mereka berjanji akan melakukan diskusi dulu dengan keluarga yang lain, untuk memutuskan bagaimana sebaiknya acara resepsi itu. dengan senang hati Farhan pun mengizinkan, karena dia pun akan melakukan yang sama, berdiskusi dengan para ketua kampung sukadarma, dan keluarga-keluarga yang lain.
Kira-kira pukul 10.00, mobil yang tadi malam mendatangi Kampung sukadarma, akhirnya pergi meninggalkan kampung itu, dengan membawa hati yang sangat senang, karena anaknya sebentar lagi akan menikah. namun ada perasaan kesal, karena belum bisa memutuskan Seperti apa acara pernikahan anak mereka.
Sepulangnya keluarga Karto, Farhan pun meminta semua keluarganya untuk berkumpul, berdiskusi dengan apa yang harus mereka lakukan.
"Bagaimana kalau kenyataannya seperti ini, emang kamu belum pernah berbicara sama Pak dokter itu. tentang acara acara resepsinya Seperti apa?" tanya Farhan sambil menatap tajam ke arah Farah seolah menyalahkan.
"Lah Bapak....., kok seperti itu. jangankan untuk berbicara panjang lebar tentang resepsi, bertemu saja saya hanya bisa menunduk malu, baru tadi malam kita mengobrol panjang lebar, setelah mendapat restu dari bapak. Itupun hanya lewat telepon," jawab Farah yang terlihat sudah kembali ke mode aslinya. Berbeda dengan tadi malam dan tadi pagi yang hanya bisa tertunduk sambil senyum-senyum.
"Ya kenapa, kamu nggak tanya dulu, kenapa kamu nggak minta dokter Ardi, untuk bersedia mengadakan resepsi di rumah kita."
"Malu Pak!" jawab parah singkat.
"Kalau sudah seperti ini bagaimana Fathan, kamu jangan diam saja, kamu sebagai kakak harusnya bertanggung jawab. bantu Bapakmu mikir....!" ujar Farhan sambil menatap tajam ke arah sang petani yang tidak tahu apa-apa. yang sejak dari tadi hanya tdiam memperhatikan.
"Menurut saya ikuti saja saran Ustadz Ahmad, kita mengadakan acara resepsi di sini, tanpa harus meminta bantuan keluarga Pak Karto."
"Membuat acara resepsi pernikahan itu mahal Tan, apalagi harga-harga sudah pada naik."
"Sudah...! Bapak jangan banyak pikiran, Biarkan saja saya yang mencari uangnya," jawab Fathan dengan gagah dan berani
"Uang dari mana kamu, perasaan kamu hanya dapat dari gaji bertanimu, itu hanya 5 jutaan."
__ADS_1
"Iya, nanti Fathan pikirkan, bagaimana cara mendapat uangnya. sekarang bapak tenang-tenang lah dulu," jawab Fathan dengan santainya, pola pembicaraannya seolah tidak dipikir terlebih dahulu.
"Alah sombongmu minta ampun...., Bagaimana ini Bu....?" tanya Farhan seolah meminta bantuan sama istrinya.