Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 74


__ADS_3

Mengatur ulang


"Lanjut saja Pak RT, jangan terganggu....," ujar Dadun yang sudah duduk


"Ya sudah, kalau nggak mau diakui. tapi mohon maaf kalau Makannya agak lama," jawab pak RT yang terlihat menyerah.


"Gak apa-Apa pak, paling lama juga kalau makan, setengah jamaan."


Setelah mendapat jawaban dari tamunya, yang tidak mau diakui. Pak RT pun kembali masuk ke dapur hendak melanjutkan kembali makannya Yang Tertunda. dari arah luar terlihat sangat gelap, meski di depan rumah para warga dipasang lampu. sesekali terlihat gemerlap petir yang membuat suasana terlihat terang, namun itu tidak mengindahkan. dari arah samping rumah, terdengar suara jangkrik dan ciang-ciang yang terdengar sangat kencang, mungkin menandakan bahwa akan ada hujan besar. dari arah jauh terdengar suara kodok yang saling bersahutan, menambah suasana Getir malam itu.


Parmin terlihat mengeluarkan bungkusan rok0k, yang tadi diberikan oleh Ujang. kemudian dia mulai membakarnya. sama seperti Nanang dan dadun, Mereka pun mengikuti hal yang sama, menyalakan korek api untuk membakar rok0knya.


"Kayaknya akan ada hujan badai nih!" ujar Parmin memecah heningnya suasana.


"Semoga aja itu tidak terjadi. Sayang kalau hujan disertai angin, nanti padi kita Rebah," Timpal Dadun.


"Tapi nggak apa-apa kalau padinya Ayeuh juga, toh itu bukan milik kita." ujar Nanang yang sudah terpengaruhi oleh hasutan Dadun.


Sedang asik mengobrol, dari arah dalam terlihat anak yang membuka pintu tadi datang menghampiri. sambil membawa panci dan gelasnya, tanpa berbicara anak itu menyimpan barang bawaannya di atas meja. kemudian dia pun berlalu pergi masuk ke dalam rumah.


"Kalau penghasilan kita dalam setahun dapat 90 juta, kayaknya kalau mengambil mobil pick up, untuk mengirim hasil panen, akan sangat gampang." khayal Parmin.


"Buat apa mobil pick up, mending mobil keluarga. agar ketika kita mau ke Pelabuhan Ratu, atau main ke tempat yang lain, tidak harus ngecer naik bus." timbal Nanang menyahuti.


"Tapi kalau yang bagus. mobil pick up punya, mobil keluarga juga punya. agar semakin meminimalisir pengeluaran ketika kita hendak mengirim hasil panen dan mau jalan-jalan." sahut Dadun yang terlihat tidak mau kalah.


"Iya tapi kalau mobil keluarga, aku nggak mau mobil kayak kang Ujang, soalnya terlihat norak." Ujar Nanang.


"Eh jangan salah, itu mobil mahal loh...! harganya hampir 1 M lebih," jelas Dadun menyanggah.


"Masa sih...! mobil butut seperti itu harganya mahal?"


"Yah memang mahal, karena mungkin mesinnya bandel dan Nggak tahu lah. kita kan bukan ahli mekanik mesin permobilan. yang jelas kita nggak akan mampu membelinya."

__ADS_1


"Benar kalau orang kaya mah seperti itu. motor merah tahun 70-an nya aja, dulu pernah ditawar 50 juta. tapi tidak dikasih." ujar Parmin.


"Yah kita jangan terlalu muluk-muluk, ingin hidup seperti Kang Ujang. Minimal kita memiliki mobil yang bisa maju dan tidak rewel," sahut dadun.


"Aduh maaf....! membuat kalian menunggu lama," ujar Pak RT yang baru keluar dari dalam rumah, terlihat di tangannya ada bungkusan rokok dan satu mug teh.


"Nggak apa-apa Pak RT, padahal nggak usah terganggu. santai aja, kita kan nggak buru-buru." Timpal Dadun sambil bangkit kemudian dia mengulurkan tangan mengajak ketua kampung sukadarma itu bersalaman.


Sebelum melanjutkan pembicaraan, Pak RT pun duduk terlebih dahulu, lalu menyalakan korek api membakar rok0knya.


"Sebenarnya ini ada apa, kok akang-akang kayaknya terlihat serius banget, sampai cuaca semenakutkan ini datang menghampiri saya?" Tanya Pak RT sambil menghempaskan asap yang ada di mulutnya.


"Begini Pak RT, Kami bertiga datang ke sini ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting." Jawab Ujang sambil membenarkan posisi duduknya, seperti hendak berbicara dengan serius.


"Hal penting apa?"


"Kami bertiga sudah mengobrol, bahwa kami akan keluar dari anggota kelompok keranjang sayur," jelas Dadun.


"Karena Kami merasa dibodohi oleh Fathan, sang petani penipu itu."


"Sebentar....! sebentar....! Ini masalahnya seperti apa," tahan Pak RT memotong ucapan Dadun.


"Pak RT sadar nggak, kalau selama ini kita dibodohi oleh anak kemarin sore itu. kita sebagai pemilik tanah yang lumayan luas, kalau dibandingkan dengan para anggota lainnya. namun kita tidak memiliki keuntungan lebih, kita hanya diberi gaji sesuai dengan orang-orang yang memiliki sedikit tanah," ujar Dadun menyampaikan keresahannya.


"Bukannya kita sudah sepakat, bahwa ketika kita tergabung dalam kelompok usaha keranjang sayur. kita akan patuh mengikuti semua aturannya. dan kalau saya pikir Fathan tidak merugikan orang lain, dengan adanya sang petani itu, Kampung kita terlihat hidup. Kampung kita yang dulunya ditanami oleh ilalang, sekarang sudah berubah menjadi kampung yang hijau Ranau ditumbuhi oleh sayuran-sayuran. Kampung kita yang dulunya sangat sepi, hanya setahun sekali, ketika para perantau pulang baru terlihat ramai. Sekarang sudah hampir setiap hari, Kampung kita terlihat hidup. itu semua gara-gara Fathan yang mendedikasikan hidupnya demi memajukan Kampung kita, kampung sukadarma." sanggah pak RT yang tidak setuju dengan apa yang disampaikan oleh Dadun.


"Iya tapi itu kan dulu, sebelum kita mengerti cara mengolah tanah, agar menjadi subur. sekarang kita sudah mengerti dan sudah paham Bagaimana cara mengolah tanah agar bisa ditumbuhi dengan sayuran. untuk itu Kami bertiga tidak setuju dengan aturan yang dibuat oleh kelompok keranjang sayur, yang hanya menguntungkan dirinya sendiri." Balas Dadun.


"Benar Pak RT, Saya rasa Pak RT lah yang paling banyak memiliki tanah. tapi Apa keuntungan buat bapak, Pak RT hanya mendapat uang 3 juta. padahal kemarin saya lihat hasil dari tanah pak RT yang ditanamin pohon pisang, oleh kelompok keranjang sayur, tiap bulan menghasilkan 15 juta. kalau di total dari tanah Pak RT saja, dalam setahun kelompok keranjang sayur mendapat keuntungan 180 juta. lantas Apa keuntungan pak RT yang memiliki tanah, tidak ada kan...? hanya uang gaji yang sama dengan orang yang tidak memiliki tanah sebanyak kita."Timpal Nanang yang terlihat bersemangat.


"Iya Nggak apa-apa, lagian kan yang 150 jutanya bukan dimakan oleh Fathan, melainkan dibagikan kepada para warga yang kurang mampu, yang tergabung dalam kelompok keranjang sayur. kalau saya berpikir seperti ini akang-akang, saya tidak bisa bersedekah kepada para warga yang kurang mampu, namun dengan adanya pertanian keranjang sayur yang dipimpin oleh Fathan, sehingga semua taraf kehidupan semua warga kampung sukadarma samarata, tidak ada yang kekurangan dalam makanan, tidak ada orang lagi yang merantau, sehingga ketika ada keluarganya yang sakit mereka bisa sigap mengurusnya." jawab Pak RT mengemukakan pendapatnya.


"Berarti, Pak RT tidak setuju Kalau kami keluar?" tanya Dadun.

__ADS_1


"Dari awal, kelompok keranjang sayur tidak pernah memaksa siapapun untuk gabung, atau tidak. namun ketika ada orang yang mau berjuang bersama, maka keranjang sayur lah yang menjadi wadahnya, seperti keranjang yang mampu menampung semua sayuran."


"Jadi bagaimana?"


"Kalau akang-akang mau keluar dari kelompok keranjang sayur, sebaiknya Akang bicarakan dulu bersama sang petani itu. karena kalau ada perpecahan, maka ini akan berpengaruh kepada para petani yang lainnya. kita sudah tua maka ketika kita mau keluar, maka harus memiliki sopan santun layaknya figur."


Mendapat penjelasan dari pak RT yang tidak mendukung niat mereka. terlihat Ketiga orang itu saling menatap bingung, harus berkata apa lagi, untuk meyakinkan ketua Kampung mereka, agar mendukung niat keluar dari kelompok.


"Daripada berpikiran ke mana-mana, mendingan akang-akang sekarang pulang, beristirahat, mengumpulkan tenaga kembali buat bekerja Keesokan paginya. Maaf bukan saya mengusir, Karena sebenarnya saya sudah ngantuk, maklum dari pagi sampai sore. seperti yang para bapak-bapak ketahui, kita disibukan bekerja di sawah dan di kebun," ujar Pak RT setelah melihat ketiga tamunya tidak berkutik.


"Ya sudah kalau seperti itu, Maaf kalau kedatangan kami mengganggu..!" ujar Dadun yang terlihat menekuk muka, kemudian dia pun mengulurkan tangan untuk mengajak bersalaman. diikuti oleh Pardi dan Nanang.


Setelah berpamitan, mereka bertiga pergi meninggalkan rumah Pak RT, dengan membawa hati yang sangat kesal. karena tidak berhasil mempengaruhi ketua Kampung mereka. langit semakin gelap, sepertinya bintang malam itu tidak mau menampakkan diri, tidak mau melihat ketiga penghianat yang akan menghancurkan kelompok ranjang sayur, yang sudah Fathan dirikan.


Mereka terus berjalan menyusuri jalan besar, sehingga mereka sampai di pertigaan jalan, di mana mereka harus berpisah.


"Bagaiman nih kang?" Tanya Nanang sebelum berpisah.


"Susag kalau meyakinkan orang yang tidak mengerti, mending kita cari orang-orang yang mau dan yang memiliki pemikiran luas seperti Kang Nanang dan Kang Parmin Soalnya kalau berbicara dengan orang yang memiliki pemikiran kerdil seperti Pak RT, kita tidak akan nyambung" jawab Dadun.


"Siapa aja?"


"Kita harus mengatur strategi kembali, agar tidak membuat ricuh kelompok  nanti kalau sampai ketahuan sama si Fathan pasti dia akan dengan cepat memasukkan doktrin-doktrin kepada para petani yang tergabung di anggotanya. seperti yang kita ketahui bahwa lidahnya walaupun masih kecil, sangat tajam. sehingga kita yang sudah banyak pengalaman, bisa terpengaruh. jangankan kita, pak RT saja seperti itu." jelas Dadun.


"Bagaimana kalau besok kita temui Kang Ujang, biar kita bisa meminta pendapatnya."


"Ide bagus itu, Ya sudah. besok saya akan hubungi kalian lagi, setelah saya menyampaikan berita ini sama Kang Ujang."


Akhirnya Ketiga orang itu berpisah, Parmin dan Dadun terus melaju menyusuri jalan besar ,sedangkan Nanang dia berbelok menyusuri Gang kecil hingga nantinya akan tiba di rumah yang dekat sawah.


Jgeeeer...!


Terdengar suara petir yang menyambar, diikuti oleh suara angin yang menerbangkan dedaunan yang sudah kering. Dadun dan Parmin mereka mempercepat langkah , sehingga ketika hujan turun mereka sudah sampai ke rumah masing-masing. meski sempat terkena hujan, namun tidak membuatnya basah kuyup.

__ADS_1


__ADS_2