
Serangan Kampung Sukaramah
Sore itu, di kampung sukadarma terlihat sangat mencekam. karena berbagai teriakan dan eregan kesakitan memenuhi setiap sudut kampung. entah apa yang terjadi, sehingga warga kampung sukaramah menyerang Kampung petani itu. terlihat di jalan menuju kebun, ada dua orang yang saling bertatapan seolah lagi membaca kekuatan masing-masing. Sebenarnya di jalan itu ada tiga orang, namun yang satunya sudah terkapar tak sadarkan diri, setelah Ulu hatinya dihantam oleh lutut Fathan.
"Ban9sat! Siapa kamu!" bentak Fathan sambil memasang kuda-kuda, Siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. matanya yang seperti elang menatap ke arah orang yang masih berdiri terheran-heran. karena dia baru melihat orang segesit itu, bahkan temannya sudah menjadi korban kegesitannya.
"Hahaha! ngapain lu nanya-nanya nama. tapi tidak apa-apa! sebelum lu mampus, lu harus tahu siapa orang yang akan mencabut nyawa lu. Perkenalkan nama gua Sobri, gua adalah jago kampung sukaramah."
"Maksud lu ngapain datang ke sini." Fathan bertanya kembali
"Jangan banyak Bacot ban9sat! nih makan kaki gua." ujar pria itu, dengan cepat dia melayangkan tendangan menuju ke arah perut. namun Fathan dengan cepat mundur beberapa langkah sambil hendak menarik kaki yang masih melayang. namun pria yang bernama Sobri itu, dengan cepat menarik kembali kakinya, sehingga tangkapan Fathan terlepas.
"Hahaha! beg0!" ujar Sobri yang terlihat tertawa seolah mengejek lawannya.
Diejek seperti itu Fathan tidak gentar sedikitpun, dia menatap musuhnya seolah mencari celah dari arah mana dia harus menyerang. "Ayo maju lagi Sial4n!" tantang Fathan.
Ditantang seperti itu, Sobri pun mengeratkan gigi, matanya yang merah, badannya yang berisi membuatnya terlihat semakin seram. tanpa berbicara lagi dia berlari menerjang ke arah Fathan sambil melayangkan satu tinju menuju ke arah wajah. namun dengan cepat Fathan Pun Menakis serangan Sobri. namun Sobri tidak kalah lihai, melihat serangannya di takis oleh lawan, dengan cepat dia pun Mengayunkan satu tinjuan yang lain, ingin segera merobohkan musuhnya. namun Fathan pun bukan anak kemarin sore, yang mudah untuk dilumpuhkan. dia terus menangkis serangan-serangan Sobri, mempertahankan keselamatan hidupnya. hingga terdengar benturan-benturan tulang yang beradu, membuat Siapa saja yang mendengarnya akan merasa ngilu.
Mereka terus saling menyerang, saling tinju, saling tangkis, saling lemparkan, saling tindih. entah apa yang mereka perebutkan, karena belum ada kejelasan. namun keduanya sangat kuat, sangat pandai dalam bertarung. hingga suatu saat ketika Fathan agak lengah, tinju Sobri masuk tepat mengenai pipi, membuat Fathan mundur beberapa langkah ke belakang. tak terasa dari bibir petani itu mengalir Darah segar.
"Mampus kau ban9sat!" ujar Sobri sambil mengangkat sudut bibir mengejek musuhnya, dia merasa bahagia karena sudah bisa memukul musuhnya.
Namun Fathan hanya tersenyum sambil menyeka darah dengan ibu jari, kemudian meludah membuang sisa-sisa Darah yang masih ada di mulutnya. Setelah meludah Fathan melepaskan kancing kemeja yang iya kenakan. terlihatlah bentuk tubuh Patan yang sangat kekar, lengan yang besar sampai ke arah tangan, meski masih ditutupi oleh kaos tangan pendek.
__ADS_1
"Kayaknya lu minta serius!" ujar Fathan sambil melemparkan baju kemejanya ke atas tanah.
"Jangan banyak Bacot! maju kalau lu punya nyali." ujar Sobri sambil melambai-lambaikan jari, menantang Fathan untuk menyerangnya.
Fathan pun berlari dengan kencang menyerang Sobri secara membabi buta. Fathan menyerang musuhnya dari berbagai arah, serangan tangan kanan tangan kiri, tendangan kaki kanan kaki kiri terus dilayangkan, untuk merobohkan musuhnya. bahkan kepalanya pun ikut andil menyerang kepala Sobri. mendapat serangan seperti itu, Sobri yang awalnya menganggap remeh, dia mulai merasa getir karena tenaga dan kekuatan yang dimiliki oleh Fathan berada di atasnya. ditambah serangan-serangan yang terarah, membuat hatinya sedikit agak bergetar, kalau tidak malu dengan perkataannya, dia ingin cepat menghentikan pertarungan lalu melarikan diri.
Lama bertahan akhirnya Sobri yang sudah kewalahan, sehingga beberapa kali pukulan tendangan Fathan masuk ke tubuhnya. meski dia masih bisa membalas, namun sekarang serangannya sangat lemah. karena fisiknya yang bukan seorang atlet, sehingga dia tidak bisa mengontrol tubuhnya agar terus kuat bertarung.
Bugh! bugh! buk!
Pukulan Fathan mengenai dada Sobri beberapa kali, membuat tubuh warga kampung sukaramah itu terhuyung ke belakang. Fathan yang melihat musuhnya belum jatuh dia pun membalikkan tubuh sambil meloncat menendang wajah Sobri, sehingga tubuh itu terjungkal.
Burgh! Brak!
Tubuh Sobri ambruk di tanah, terlihat cairan merah memenuhi mulut. ketika dia meludah untuk membuang darah, ada benda Putih yang ikut jatuh. mungkin tendangan yang dilayangkan oleh Fathan sangat keras, sehingga ada beberapa gigi sobri yang rontok.
Cuih!
Ujar Sobri membuang ludah yang berwarna merah, matanya yang sudah berkunang-kunang namun amarah yang sudah memenuhi relung jiwanya, membuat dia tidak bisa mengontrol diri tidak mau mengakui kekalahan. Apalagi kalau mengingat giginya yang sudah rontok. dengan perlahan dia pun bangkit kembali lalu menatap ke arah Fathan.
"Jelaskan kenapa lu bikin onar di kampung gua?" tanya Fathan yang terus menatap ke arah Sobri.
"Lu nggak perlu tahu alasannya! Lu harus menerima balasan karena gigi gua yang sudah jatuh." jawab Sobri sambil berlari hendak menyerang Fathan. namun tenaga yang sudah habis dan konsentrasi yang sudah hilang, membuat serangan-serangan sobri hanya memakan angin. sehingga dengan mudah Fathan bisa memasukkan serangan-serangannya, membuat tubuh Sobri terjatuh kembali.
__ADS_1
Namun Sobri seperti orang yang tak Patah Arang, nafsunya yang masih membara memenuhi jiwa, ingin membalas Apa yang dilakukan oleh Fathan. dia pun bangkit kembali, namun dia pun terjatuh lagi terkena serangan musuhnya. Bangkit lagi jatuh lagi, bangkit lagi jatuh lagi. kejadian itu terus berulang sehingga suatu saat ketika Fathan menendang dadanya. Sobri pun tak kuat untuk bangkit, meski dia beberapa kali mencoba. dadanya terasa sakit, nafasnya terasa sesak, sehingga Sobri hanya terdiam di atas tanah sambil menikmati rasa sakit setelah kalah dari pertarungan.
Sore hari itu di kampung sukadarma. biasanya para warga kampung sukadarma menikmati waktu senja dengan bercengkrama bersama keluarganya, namun sore itu ada yang berbeda. karena warga Kampung sukaramah menyerang Kampung mereka, terlihat di jalan menuju ke arah kebun ada seorang laki-laki yang sedang bertolak pinggang menatap dua orang yang sudah terkulai lemas di atas tanah.
"Ayo bangun lagi ban9sat!" Bentak Fathan sambil terus menatap ke arah Sobri dan temannya.
Namun yang ditantang hanya bisa mengatur nafas, agar nafas yang keluar tidak dibarengi dengan rasa sakit. Sekarang Sobri jangankan untuk melawan, untuk berbicara rasanya sudah tidak bisa.
Toloooooooong! tolooooong! tolong!
Terdengar dari arah kebun ada suara wanita yang meminta tolong. membuat Fathan terperanjat menatap ke arah datangnya suara. Namun sayang teriakan yang meminta tolong hanya terdengar suaranya, karena posisi kebun yang ditumbuhi dengan berbagai macam sayuran. Sehingga mata Fathan tidak bisa menangkap orang yang meminta tolong.
Perasaan takut, perasaan khawatir, perasaan yang tak bisa dijelaskan. membuat Fathan berlari menuju ke arah datangnya suara, terlihat dari arah kebun ada beberapa orang yang sedang bertarung saling menyelamatkan dirinya masing-masing. namun yang membuat Fathan masih merasa heran kenapa warga Kampung sukaramah menyerang kembali kampungnya. pertanyaan itu terus memenuhi pikiran Fathan, sehingga dia sampai kepada wanita yang terus berteriak meminta tolong.
Terlihat wanita itu sedang dikejar-kejar oleh salah Seorang warga kampung sukaramah, membuat amarah Fathan yang awalnya memuncak semakin memuncak. mungkin kalau bisa digambarkan amarah Fathan sudah meledak bak bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima.
"Ban9sat! teriak Fathan sambil berlari menuju ke arah wanita yang sudah terpojok ke arah sesar kebun. tanpa bertanya lagi dia pun melayangkan tendangan ke arah pria yang sedikit lagi menangkap wanita yang terus berteriak dengan histeris.
Bug! bug!
Tendangan itu tepat mengenai lengan warga Kampung sukarama, sehingga membuat orang itu terjatuh ke tanah. tanpa memberi ampun Fathan pun menendang, Memukul orang itu,.sehingga terlihat lemas tak berdaya.
Melihat orang hendak melukainya sudah terkapar, membuat keberanian wanita yang berteriak kembali bangkit. dengan cepat dia memetik buah pepaya dari pohonnya. tanpa bertanya dan meminta izin, wanita itu melemparkan pepaya ke arah pria itu. membuat Fathan terperanjat kaget karena kejadian itu sangat cepat.
__ADS_1
Krejet! krejet!
Tubuh pria itu bergerak-gerak seperti orang ayan seperti orang yang hendak melepaskan nyawa. melihat kejadian seperti itu, Fathan pun merasa bersalah, dia hendak menolong orang itu. namun terdengar teriakan-teriakan permintaan tolong dari arah lain, membuat Fathan mengurungkan niatnya.