Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks. 91


__ADS_3

Kendala


"Beres kalau itu, kamu nggak usah khawatir Akang akan selalu bertanggung jawab menafkahimu, selayak mungkin!" jawab Farhan menyanggupi permintaan istrinya.


"Ya sudah kalau begitu, Buruan Akang hubungi Kang Ujang!"


"Iya Akang mau, soalnya Akang takut uangnya keburu terpakai. coba sini mana teleponmu! ada nomor Kang Ujang kan?"


"Ada..! Bentar Sri ambil dulu" jawab Sri sambil bangkit kemudian dia mengambil handphone yang ada di rak TV. setelah mengambil handphone dia pun masuk kembali ke dalam kamar, lalu menyerahkan barang yang diambil sama suaminya.


"Teleponin dulu..!" Tolak Farhan.


"Sebentar...!" jawab Sri sambil mencari nomor kontak Ujang, setelah ketemu dia pun memanggil nomor itu.


"Halo ini Kang Farhan kan?" tanya Ujang memastikan Setelah telepon itu terhubung.


Mendengar teleponnya sudah terhubung, dengan cepat Sri memberikan handphonenya ke Farhan.


"Udah tersambung?" tanya Farhan sambil berbisik.


"Udah...! Akang tinggal ngomong!" jawab Sri yang berbisik pula.


"Halo Kang Ujang!" Sapa Farhan.


"Iya ini Kang Farhan bukan?" Jawab Ujang memastikan kembali.


"Benar saya Farhan kang, saya mau membicarakan yang tadi, yang kita bicarakan Kang!"


"Masalah tanah?"


"Iya Masalah itu kang!"


"Bagaimana kang Farhan sudah mendapat persetujuan dari istri?"


"Alhamdulillah sudah Kang, kapan saya bisa membawa surat tanah saya ke Kang Ujang?"


"Kalau Kang Farhan sudah mendapat persetujuan, besok saya bersama notaris saya akan menemui akan di rumah, Biar ngobrolnya bisa enak!"


"Oh begitu, kira-kira jam berapa?"


"Paling jam 10.00-an Kang, soalnya harus menjemput notaris saya dulu di kecamatan. kalau Akang sudah membulatkan tekad, saya akan langsung menghubungi notaris saya agar besok tidak pergi ke mana-mana."


"Baik Kang saya tunggu kabar baiknya!"


"Ya Kang Farhan, terima kasih!"

__ADS_1


Tap! tap! tap!


Akhirnya telepon pun terputus, kemudian Farhan menatap ke arah istrinya yang sejak dari tadi menatapnya.


"Bagaimana?" tanya Sri.


"Beres.....! besok Kang Ujang akan datang ke sini sama notaris sambil membawa uangnya," jawab Farhan dengan sumringah.


"Alhamdulillah kalau seperti itu."


Akhirnya setelah mendapat keputusan Farhan dan Sri pun keluar dari kamar, kemudian dia makan bersama keluarganya, tanpa membahas niat mereka yang akan Menjual sawah.


Keesokan paginya, Fathan yang sudah berada di kantor keranjang sayur, dia sudah bersiap-siap untuk berkeliling menjual hasil pertanian. namun Entah mengapa pagi itu dia merasa kurang enak badan, kepalanya terasa pusing, hatinya terasa berdebar, seperti hendak menemukan sesuatu yang akan mengganggunya.


"Sep..! Asep..!" Panggil Fathan.


"Yah Ada apa Kang?" tanya Asep yang baru selesai menutup pintu mobil.


"Hari ini saya nggak ikut jualan, nggak tahu badan saya kurang enak!"


"Masuk angin kali Kang! Coba minta tolong kerikin, sama orang lain," jawab Asep menyimpulkan.


"Ya, tapi saya nggak biasa dikerik, mungkin nanti saya akan meminum paracetamol. bagaimana nggak papa kan, saya nggak ikut berjualan?"


"Ada apa nih kayaknya serius amat?" ujar Idan yang baru datang menghampiri.


"Oh begitu, ya sudah nggak apa-apa. lagian kan dari kemarin juga kita nggak maksa untuk ikut," jawab Idan.


"Terima kasih ya, Sep! dan!'


"Iya sama-sama, Ya sudah sana Akang istirahat saja, Soalnya saya mau berangkat, takut kesiangan, takut keburu para petani pergi ke kebunnya."


Dengan sedikit gontai Fathan pun berjalan ke teras keranjang sayur, teras yang biasa dijadikan tempat mengobrol atau makan bersama para anggota. Entah mengapa hari itu tubuhnya terasa lemas tak berdaya, sehingga dia pun merebahkan tubuh di atas lantai.


Sedangkan di rumahnya. Farhan yang sudah mempunyai janji dengan Kang Ujang, Dia terlihat khawatir karena orang yang ditunggu pun belum datang, padahal waktu Sebentar lagi pukul 10.00.


"Bagaimana, Kang Ujangnya apa sudah datang?" tanya Sri yang menghampiri dari dalam rumah.


"Nggak tahu, belum datang...! padahal janjinya jam 10.00,"


"Apa Sri perlu telepon?"


"Nggak usah lah, malu! nanti juga akang yakin, pasti Kang Ujang datang."


"Ya sudah kalau begitu," jawab Sri yang menyandarkan tubuhnya ke kursi, kemudian mereka berdua pun menatap ke arah jalan gang, sambil berharap orang yang ditunggu datang.

__ADS_1


Kira-kira pukul 10.15, terdengar suara mobil Jeep yang parkir di pinggir jalan membuat suami istri itu terperanjat, lalu bangkit menghampiri untuk melihat Siapa yang datang.


"Aduh maaf Kang Farhan lama, soalnya tadi notaris saya ada kepentingan sedikit yang tidak bisa ditinggalkan." ujar Ujang yang merasa tidak enak karena tidak datang tepat waktu.


"Nggak apa-apa kang, lagian saya juga nggak kemana-mana. yuk ngobrolnya di rumah saja biar tenang!" ajak Farhan sambil berjalan Kembali menuju ke rumahnya.


Mereka berlima pun berjalan menyusuri Gang, namun walaupun rumah Farhan berada di dalam gang, tapi jarak dari jalan besar sampai ke rumah tidak terlalu jauh, hanya terhalang oleh dua rumah, satu rumah tetangga dan satu lagi adik iparnya, sari.


Setelah sampai Farhan pun mengajak mereka untuk mengobrol di dalam, dia takut atau dia merasa malu kalau ada orang yang melihat, atau mungkin juga dia ingin lebih privasi ketika mengobrol dengan Ujang.


Setelah mereka duduk, jamuan pun datang dibawa oleh Sri, air putih bersama makanan-makanan hasil dari pertanian.


"Nggak usah repot-repot Ceu!" tolak Ujang.


"Gak Repot kok kang! cuma air putih doang. namun maaf kalau jamuannya kurang memuaskan."


"Aduh nggak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup. Oh iya kita langsung ke inti permasalahannya saja, soalnya notaris saya masih ada kepentingan yang lain." Ujar Ujang mempersingkat waktu.


"Iya Kang..! saya ngikut. bagaimana?"


"Silakan Ibu Rara!" Ujang mempersilahkan notarisnya untuk berbicara.


"Begini Pak Farhan dan ibu siapa?" Tanya Rara sambil menatap ke arah Sri.


"Sri!" Jawab Sri memperkenalkan diri.


"Ibu Sri, ketika melakukan jual beli sebidang tanah, maka harus ada tanda tangan ahli waris, karena walau bagaimanapun ahli waris memiliki hak atas tanah yang Bapak miliki."


"Kok seperti itu, kan tanahnya tanah saya?"


"Mohon maaf Pak Farhan, Emang Aturannya sudah seperti itu, agar kedepannya tidak ada gugatan dari keturunan bapak." Jawab Rara menjelaskan.


"Oh begitu...! Jadi saya harus meminta izin sama anak-anak saya?" Tanya Farhan yang terlihat kecewa.


"Benar pak...! saya sudah siapkan berkas yang harus ditandatangani oleh para ahli waris. bukan apa-apa, ini untuk kenyamanan kita bersama," jelas Rara sebagai Notaris Ujang.


"Yah maaf Kang Farhan, soalnya tadi malam saya sedang kalut, jadi saya lupa hal penting ini." Tambah Ujang.


"Iya nggak apa-apa, coba mana berkas yang harus ditandatangani oleh anak saya?" ujar Farhan meminta berkasnya.


Rara pun dengan sigap mengeluarkan secarcik kertas yang harus ditandatangani oleh turunan Farhan dan Sri. kemudian kedua orang itu membaca dan meneliti apa yang tertuang di dalamnya, setelah selesai dibaca Mereka pun terlihat manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang ada di dalam surat itu.


"Cuma ini saja Bu?" tanya Farhan.


"Iya Cuma itu, nanti setelah semuanya berkas selesai disiapkan, maka acara jual beli pun bisa terealisasi."

__ADS_1


"Ya sudah nanti saya akan minta tanda tangan anak saya terlebih dahulu, tapi apa uang Kang Ujang nggak akan terpakai?" tanya Farhan sambil menatap ke arah Ujang.


"Saya sudah siapkan uangnya Kang, kalau nggak percaya saya sudah membawa, karena saya kira tadi urusannya tidak serumit ini. sekali lagi saya mohon maaf, saya bukan mengada-ngada, tapi beginilah aturannya!" jawab Ujang kemudian dia pun menunjukkan uang yang ada di dalam tasnya, terlihat beberapa gepok uang membuat jakun suami istri itu naik turun.


__ADS_2