Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks 58


__ADS_3

Farah Mau Kerja


Siang itu, di kampung sukadarma terlihat para petani sudah mulai berhenti bekerja, karena matahari panasnya mulai terasa terasa, sebentar lagi berada tepat di atas ubun-ubun. para petani mulai merapikan perkakas pertanian Mereka, kemudian berjalan mencari tempat yang teduh untuk bersembunyi dari terik matahari, sambil mengobrol dengan para petani lainnya menunggu waktu istirahat datang.


Sedangkan di saung kantor keranjang sayur, terlihat ada tiga remaja yang sedang menatap ke arah layar laptop, di mana desain hotel Mini Resort terpampang elegan di sana.


"Kira-kira persatu Mini Hotel biaya pembuatannya berapa?" Tanya Fathan sambil menatap ke arah Mini Resort yang sudah di desain oleh Kirana.


"Semuanya kalau sama furniture, itu sekitar 75 sampai 100 juta. ini rincian anggaran biayanya," jawab Kirana sambil mengalihkan layar laptop ke File RAB pembuatan Mini hotel.


Fathan dan Idan menatap ke arah layar laptop, memperhatikan dengan teliti, mungkin takut ada yang terlewat, setelah puas memperhatikan terlihat kedua pemuda itu menghela nafas.


"Kapan ini rencana mau dibuat?" tanya Idan memecah heningnya suasana.


"Mungkin kita bisa membuatnya bulan depan, sekarang kita anggarkan dulu biayanya, agar tidak terbentur dengan pengeluaran-pengeluaran lain," jelas Fathan memberi keputusan.


"Ini sudah nggak ada yang dirubah lagi?" tanya Kirana karena dia belum mendapat kritikan sama sekali.


"Kayaknya untuk sementara cukup seperti itu, nanti kalau ada ide lagi baru kita tambahkan," jawab Fathan.


"Emang masih ada yang kurang Tan?" tanya Idan sambil menatap ke arah sepupunya.


"Nggak ada yang kurang, ini sudah sangat luar biasa. namun siapa tahu saja ke depannya kita punya ide yang lebih bagus, Intinya kita jangan puas dengan apa yang sudah kita capai, kita harus terus berinovasi agar bisa bersaing," jawab Fathan menjelaskan.


"Padahal menurut saya ini sudah sangat luar biasa, berarti, kalau masih ada yang ditambahkan masih ada yang kurang?"


"Nggak gitu juga Dan, tapi kalau ada yang lebih bagus Kenapa kita nggak pakai. Oh iya satu lagi! adik saya, Farah. besok mau ke Cibadak dia mau interview kerja di rumah sakit," jelas Fathan mulai membahas kembali tentang rencana adiknya.


"Widih....! hebat, kapan dia melamar kerja di sana, terus kerjanya, kerja apa?" tanya Idan yang terlihat penasaran wajahnya menunjukkan kekaguman dan penuh kebahagiaan.


"Saya juga kurang tahu Dan, kapan Farah melamar kerja. namun menurut keterangannya. dia melamar melalui email, Kalau kerjaannya sih katanya jadi perawat sesuai dengan jurusan kuliahnya."


"mantap, Semoga aja dia keterima bekerja di sana."


"Amin," jawab mereka serempak.


"Oh iya Dan, Bu Kirana. saya mau minta tolong sama kalian."


"Minta tolong apa?" tanya Kirana matanya menatap lekat ke arah kekasihnya.


"Tolong bantu urus keuangan keranjang sayur, Soalnya kalau mengandalkan Zahra sendirian, kasihan...!"

__ADS_1


"Oh itu, gampang....! bisa diatur," jawab Idan sambil mengungkan ibu jari.


Akhirnya mereka bertiga pun terlarut kembali dalam obrolan Obrolan Seputar masalah yang menyangkut keranjang sayur, hingga terdengar bedug dzuhur yang dipukul dari masjid, menandakan waktu salat sudah tiba, barulah ketiga remaja itu menyudahi permusyawarahannya.


****


Malam hari di rumah Farhan, terlihat keluarga kecil itu sedang duduk sambil menonton TV. Sehabis makan malam mereka belum pada beranjak dari tempat duduk, mungkin sedang menurunkan nasi yang barus masuk keperutnya.


"Pak, Bu..!" panggil Farah ketika ada jeda iklan di televisi.


"Yah, kenapa?" tanya Farhan sambil menatap ke arah anak keduanya.


"Farah mau kerja?"


"Kerja di mana? syukur deh kalau kamu sudah mengerti. Kalau bekerja di pertanian tidak ada masa depannya. masa depan pertanian itu sangat suram, sesuram gelapnya malam," jawab Farhan sudut matanya melirik ke arah Fathan.


Farhan meski dia sudah mau menerima Fathan, namun dia tetap berkeinginan kalau anaknya mau kembali bekerja sebagai arsitektur. karena menurutnya pertanian itu tidak bisa menjanjikan, padahal pertanian yang dikelola oleh Fathan sedang berkembang dengan sangat pesat, namun itu tidak cukup meyakinkan buat orang tuanya, bahwa dengan bertani mereka bisa hidup dengan layak.


"Kata siapa Pak, pertanian itu suram? buktinya Saya sekarang sudah bisa membuat kontrak dengan penyuplai sayuran supermarket di Sukabumi," jawab Fathan yang tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya.


"Iya paling sebulan aja sudah diputus tuh kontrak, karena tidak mampu mengirimkan barang sesuai dengan pesanan. Yang harus kamu ketahui bertani itu sama saja dengan berjudi, berharap yang tak pasti," remeh Farhan.


"Pelankan suaramu! jangan bicara keras-keras sama orang tua. Dasar anak tidak tahu di untung, bapak mengkuliahkanmu tinggi-tinggi, bukan untuk menjadi petani." Farhan yang tidak mau kalah.


"Emang apa salahnya kalau saya bertani? lihat saya masih bisa memberikan uang bulanan sesuai dengan ketika waktu saya bekerja."


"Fathan....! Fathan....! Apa kamu masih belum mengerti bahwa bertani itu tidak semudah yang kamu bayangkan. memang sekarang kamu lagi berada di tingkat teratas, namun ingat pertanian itu tidak akan selalu mulus, pertanian itu akan selalu dihantui dengan gagal panen."


"Saya sudah belajar semuanya, Dan saya yakin dengan ilmu yang saya miliki. maka kegagalan itu bisa ditanggulangi, apalagi sekarang Idan sudah membuat aplikasi yang bisa mengontrol pertanian, sehingga kegagalan panen akan bisa diminimalisir," jawab Fathan yang tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh bapaknya.


"Bapak...! kakak.....! sudah kalian jangan berdebat terus, Farah mau ngomong sesuatu yang sangat penting, dibandingkan dengan perdebatan kalian. Lagian Apa kalian nggak bosen berdebat seperti ini terus?" pisah Farah yang menengahi perdebatan antara anak dan bapak.


"Yah, maaf neng...! kamu mau bekerja di mana?" tanya Farhan yang terlihat lembut sama anak perempuannya


"Farah besok mau interview di rumah sakit Sekar Wangi Cibadak, Farah mau minta izin sama Bapak, sama Ibu. boleh nggak kalau Farah bekerja?"


"Sangat boleh, Boleh banget...! karena bapak menyekolahkanmu tinggi-tinggi, agar kamu memiliki kehidupan yang layak, bukan menjadi petani yang penghasilannya tidak pasti."


"Sudah Bapak.....! sudah, Jangan memancing terus," ujar Sri yang terlihat khawatir dengan Kedua lelaki yang dicintainya, yang selalu berdebat mementingkan ego masing-masing. sedangkan Kirana dan Sarah, mereka hanya diam menyimak tanpa mengeluarkan pendapat sedikitpun.


"Bapak nggak mancing Bu..., memang kenyataannya seperti itu. bertani itu sangat suram, Coba sebutkan Siapa orang yang kaya dari pertanian, yang bisa sukses dari mengolah tanah? siapa, Nggak ada kan?"

__ADS_1


"Bapak....! Farah belum selesai ngomong."


"Iya Neng, iya, maaf...! Bapak cuma mau mengingatkan anak bapak yang keras kepala itu, anak yang sok tahu, namun tidak tahu diri."


"Sudahlah kalau begitu, Bapak nggak bisa diajak ngobrol serius," ujar parah sambil hendak bangkit dari tempat duduknya, dia mau meninggalkan ruang keluarga.


"Jangan cepat ngambek, nanti cepat tua. Oh ya, besok mau diantar sama bapak, apa bagaimana? Soalnya dari kampung sukadarma ke Cibadak itu sangat jauh," tahan Farhan sambil menggenggam tangan anaknya, sehingga membuat Farah duduk kembali.


"Kalau boleh, Besok saya mau ikut sama Asep. agar menghemat ongkos," jawab Farah menjelaskan sesuai dengan rencana yang sudah diutarakan sama kakaknya. bahwa dia mau berangkat ke Cibadak ikut dengan mobil Asep ketika mengantar sayuran ke pasar.


"Jangan! jangan! ikut Asep....! Nanti kamu ketiban sial kalau gabung sama para petani, Mending besok Bapak yang antar ke sana, agar nanti ketika Bapak mau main, bapak tidak susah mencari."


"Tapi Pak...! Farah mau berangkat sendiri,"


"Kamu jangan keras kepala seperti kakak kamu yang tak tahu diri. kamu tuh seorang perempuan harus nurut dengan apa yang sudah ditentukan oleh orang tua kamu." sanggah Farhan sambil melirik ke arah Fathan, yang sejak dari tadi terdiam, karena berdebat dengan orang tuanya dia pasti tidak akan menang.


"Farah berangkat sendiri aja Pak, nggak enak kalau ngerepotin bapak."


"Apa kamu bilang, nggak enak merepotkan? kalau seperti itu, kenapa kamu nggak bilang dari dulu, kenapa sekarang sudah mau bekerja, sudah mau punya penghasilan sendiri, kamu baru bilang merepotkan?" Tanya Farhan sambil menatap tajam ke arah anaknya.


Mendapat jawaban dari bapaknya seperti itu, Farah hanya menarik nafas dalam, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. karena memang benar berdebat dengan orang yang keras kepala seperti Farhan, itu hanya membuang-buang waktu.


"Ya sudah, besok mau berangkat jam berapa?" Tanya Farhan setelah anaknya tidak menjawab.


"Habis subuh aja pak! agar pas sampai ke sana kita tepat waktu."


"Ya sudah, sekarang sana kamu istirahat dulu, agar besok di perjalanan tidak ngantuk dan kamu bisa memiliki tenaga lebih untuk memulai harimu, yang akan dipenuhi dengan rintangan!" seru Farhan memberikan nasihat.


Akhirnya Farah berpamitan untuk masuk ke kamar, ingin mempersiapkan baju mana, yang hendak ia pakai ketika besok melakukan interview kerja.


Setelah kepergian Farah, ruang Tengah pun terlihat Hening kembali, seperti tidak ada kehidupan. hanya suara TV yang keluar dari arah depan.


"Tuh...! lihat adik kamu, Dia perempuan...! tapi dia mau bekerja," ujar Farhan seolah tidak puas dengan apa yang sudah dia sampaikan.


"Kan Fathan juga sedang bekerja, dan penghasilannya lebih dari ketika Fathan kerja menjadi arsitek. sekarang Fathan sudah memiliki banyak mesin, sekarang Fathan sudah bisa menggaji orang lain.


"Tapi kalau bekerja itu sangat keren, nggak seperti bertani yang kotor, dekil, bau keringat."


"Saya mau keluar dulu Pak...!" pamit Fathan sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia pun ngeloyor pergi ke arah luar menuju rumah Kamal. karena di rumah Pamannya lah dia akan mendapat ketenangan.


"Lihat tuh Bu...! anak kamu dikasih tahu malah main pergi aja."

__ADS_1


__ADS_2