
SEWA
Di saung kebun yang didirikan oleh Fathan, terlihat ada beberapa orang yang sedang berkumpul, seperti biasa mereka akan menikmati secangkir kopi, sambil ditemani makanan hasil dari pertanian.
"Kapan kita mulai menggarap kebun para anggota?" tanya seorang warga di tengah-tengah pembicaraan.
"Kita fokus dulu di sawah! kita selesaikan dulu pembajakannya, nanti setelah selesai di sawah, baru kita fokus ke kebun. Saya tidak ingin membuang ciri khas Kampung kita, yang bertani padi." Jawab Fathan memberikan pengarahan kepada anggotanya
"Kayaknya kita harus menambah lagi mesin traktornya kang! soalnya kalau mengandalkan satu traktor saja, itu tidak cukup, untuk menggarap sawah kita yang begitu luas." ujar Asep memberikan usul.
"Iya! bener Sep! saya juga lagi memikirkan itu, namun untuk sekarang saya ingin mengambil yang lebih besar, agar tidak tanggung dalam kerjanya. dan tidak membutuhkan waktu yang lama, dalam proses pengerjaannya." jawab Fathan sambil menghela nafas, seolah membuang Belenggu yang ada di dada.
"Kenapa nggak ngambil aja! lagian kan kalau mesin modalnya cuma sekali kang!"
"Iya, emang benar cuma sekali! namun kalau kita mengambil mesin seperti cultivator, itu tidak membuat pekerjaan kita menjadi ringan, itu sama aja! sama traktor yang membuat kerja kita lamban." Jawab Fathan. tanah yang begitu luas tidak memungkinkan untuk menggunakan alat kecil seperti traktor beroda dua.
"Emang mau ambil traktor yang seperti apa lagi kang!" tanya Asep menyelidiki.
"Saya ingin mengambil traktor beroda empat, yang seperti mobil!" Jelas Fathan.
"Berarti harganya seharga mobil dong!" simpul Seorang warga.
"Ya segituan lah, kang! kalau sama alat bajaknya. Saya lagi mencari informasi tentang orang yang menyewakan mesin itu, kalau beli untuk sekarang kayaknya kita belum mampu. Soalnya modal kita difokuskan untuk penanaman."
"Emang kira-kira harganya berapa?" tanya Pak RT yang sejak dari tadi ikut memperhatikan.
"Kira-kira 150 jutaan, Pak!"
"Waaahh! Mahal juga ya."
"Sesuai dengan kegunaannya Pak! Jadi kalau sama mesin cultivator dikerjakan 3 hari, dengan mesin itu bisa sehari aja kelar. terus hasil kerjanya Lebih memuaskan, karena tenaga yang dihasilkan lebih kuat." jelas Fathan.
"Kenapa nggak tanya Pak Seno aja, kang! siapa tahu aja dia punya solusi." Ujar Asep memberikan saran karena dia pernah bertemu Seno ketika awal-awal mengantarkan hasil pertanian mereka.
"Wah ide bagus tuh, Sep! saya sampai lupa." jawab Fathan sambil mengambil handphone yang tergeletak di hadapannya, dengan cepat dia pun menekan nomor Seno.
"Halo, Pak Fathan! gimana sehat?" tanya Seno Setelah telepon itu terhubung, dia selalu menyambut ramah setiap ada telepon dari Fathan.
"Alhamdulillah masih ada dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Pak Seno Gimana kabar bapak?" jawab Fathan balik bertanya.
"Berkah! berkah! ada apa nih pak Fathan?"
"Maaf mengganggu!"
__ADS_1
"Nggak apa-apa! Saya senang diganggu oleh Pak Fathan. karena kalau nggak dibicara bisnis, ya bisnis!" jawab Seno sambil mengulum senyum.
"Ah bisa aja! begini pak Seno, saya lagi membutuhkan traktor roda empat, karena kalau menggunakan cultivator rasanya kurang efektif, untuk lahan yang sangat luas."
"Mau beli apa sewa?" tanya Seno seolah tahu ke mana arah pembicaraan Fathan.
"Kalau bisa sewa sih, Tapi kalau nggak bisa ya mungkin harus beli, pak." jawab Fathan.
"Nggak, kalau mau sewa, kebetulan di Dinas Pertanian Kabupaten sekarang lagi menyediakan penyewaan alat pertanian. soalnya mungkin sayang, kalau alat-alat pertanian itu tidak terpakai."
"Emang bisa sewa?"
"Bisa! kebetulan dulu saya menghadiri pas penyerahan bantuan dari pusat. namun sampai sekarang belum pernah digunakan, karena minimnya informasi yang sampai ke masyarakat. Kemarin saya bertemu dengan kepala dinasnya, beliau menawarkan seperti itu."
"Menurut Pak Seno, saya lebih baik membeli atau menyewa?" Tanya Fathan meminta pendapat untuk meyakinkan apa yang akan menjadi pilihannya.
"Sama saja! namun ketika keuangan nya tidak balance mendingan sewa. Maaf bukannya meremehkan, tapi usaha kan nggak selalu maju terus. pasti ada fase-fase di mana kita harus turun, kalau kita membeli traktor kayaknya sangat sayang, Kalau nantinya traktor itu tidak terpakai. kecuali kalau pertanian kita sudah konsisten." jelas Seno yang selalu memberikan solusi dalam setiap masalah Fathan.
"Terus, apa nggak ada yang swasta?"
"Apanya?"
"Alat-alat beratnya, apa swasta nggak ada yang menyewakan?"
"Oh begitu! Jadi bagaimana mekanisme penyewaan alat pertanian ke dinas?"
"Pak Fathan Sekarang kan sudah memiliki kelompok usaha bersama. saya kemarin kebetulan nonton YouTube pak Fathan. nah, Bapak tinggal mengajukan proposal peminjaman, nanti saya akan bantu rekomendasi kepada kepala dinasnya." sanggup Seno memberikan keringanan.
"Aduh! Terima kasih banyak. jadi nggak enak nih merepotkan terus. tapi Harga sewanya berapa Pak?"
"Per satu hektar kalau traktor roda empat Rp500.000. excavator sehari 1 juta, untuk kedua alat berat ini belum termasuk operator dan solar. untuk penyewaan traktor roda dua, cultivator itu di angka 250.000. Per hektar. Coba saja buatkan proposal siapa tahu aja bisa gratis. soalnya sekarang dinas-dinas kepemerintahan itu, mereka sedang menunggu aspirasi-aspirasi dari masyarakat. mereka akan sangat senang ketika mereka bisa membantu." jelas Seno panjang lebar.
"Sekali lagi, Terima kasih banyak nih pak Seno! maaf ngerepotin terus. baik kalau seperti itu, saya akan buatkan segera proposalnya."
"Sama-sama! nanti kapan-kapan saya mau main ke kampung sukadarma."
"Jangan kapan-kapan! Sabtu Minggu kan libur. langsung datang saja ke sini, biar jadi brand Ambassador pertanian kami!"
"Siap! siap! secepatnya saya kondisikan."
Akhirnya telepon itu terputus, kemudian Fathan menatap ke arah para anggota keranjang sayur, yang sedang menyimak perbincangan mereka.
"Bagaimana teh Zahra Bisa membuat proposal?" Tanya Fathan sambil menatap wanita berkerudung hitam yang duduk di samping Farah.
__ADS_1
"Insya Allah, bisa Kak. tapi mohon bantuannya ya!"
"Bu Kirana, Kalau Ibu mau belajar bertani, saya punya posisi terbaik buat ibu!"
"Maksudnya?" tanya Kirana dengan polosnya.
"Tolong bantu teh Zahra! untuk membuatkan proposal. nanti ke depannya Tolong bantu juga buat mempromosikan tempat kita, agar menarik untuk dikunjungi." ujar Fathan seolah mendapatkan ide pekerjaan apa yang cocok untuk Kirana.
"Baik Pak"
Akhirnya mereka pun keluar dari dalam Saung, untuk mengontrol sayuran-sayuran mereka, Sesuai tugasnya masing-masing. dari arah jalan terdengar suara motor Kamal yang mendekati.
Setelah turun dari motor, dia menghampiri Fathan, kemudian Kamal mengajaknya masuk ke dalam Saung.
"Ada apa Mang, kok kayaknya serius banget?" tanya Fathan.
"Kang Ujang kurang ajar banget tan! Masa saya mau bayar hutang dia tidak mau menerima."
"Kenapa kok bisa?" Tanya Fathan sambil mengerutkan dahi, karena biasanya orang akan marah, ketika hutangnya tidak dibayar. Bukan sebaliknya seperti Kang Ujang yang marah ketika hutangnya dibayar.
"Unik banget emang, orang itu! sampai-sampai nama kampung sukadharma aja, mau diganti dengan Kampung sukaujang."
"Sudahlah! enggak usah ngobrolin orang, nggak baik! Ada apa?"
"Jadi begini Tan! kan Mamang punya uang 15 juta, Mau dikasih kang Ujang nggak diterima. dia mau dibayar full uangnya. Mamang bingung bagaimana cara menyimpan uang Mamang, Soalnya kalau disimpan di rumah suka nggak kerasa terpakai begitu aja. boleh nggak Mamang titip di kamu?"
"Buat apa? Emang Mamang nggak takut kalau uangnya Fathan pakai?"
"Pakai aja! lagian kan kamu gunakan bukan buat kamu sendiri, Pasti buat kepentingan orang banyak. Tenang aja, Mamang nggak akan ambil uang itu sebelum genap 50 juta." ujar Kamal menyampaikan maksud dan tujuannya.
"Tapi kalau dipakai kan uangnya muter mang! Nanti Mamang susah ngambilnya."
"Nggak apa-apa! Tan. Mamang percaya kok sama kamu, selama Mamang ikut sama kamu, Mamang Belum pernah dikecewakan."
"Ya sudah kalau percaya! Fathan mau, kebetulan kan kelompok usaha kita lagi butuh-butuhnya dengan modal."
"Terima kasih ya, Tan!" ujar Kamal sambil menyerahkan uang yang ada di dalam amplop coklat. kemudian Fathan menghitung uang itu dihadapan kamal, agar tidak ada kesalahpahaman kedepannya.
Hari-hari berikutnya. KUB. keranjang sayur, mereka terus disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan tentang pengurusan penanaman padi di sawah.
Seminggu berlalu akhirnya traktor roda empat yang disewa Fathan dari dinas pertanian datang, benar apa yang dikatakan Seno, Fathan mendapatkan harga setengahnya. karena Dinas Pertanian sangat menyambut baik niat Fathan dengan kelompok usaha keranjang sayurnya. dengan cepat traktor itu menyelesaikan pekerjaannya, hingga para petani bisa mulai menanam sayuran dengan cepat dan mereka semakin mempercayai bahwa Fathan sangat bisa diandalkan, untuk memajukan pertanian Kampung mereka.
Kirana yang tidak mendapatkan respon berlebih, dia selalu bersabar dan bersabar menunggu momen bahagia yang akan menyambutnya. meski sering makan hati karena melihat Fathan yang sedang mengobrol dengan Zahra. padahal yang mereka obrolkan hanyalah tentang pekerjaan keranjang sayur. Namun hal itu tidak membuatnya menjadi tenang.
__ADS_1
Setelah lahan pertanian tersedia. Fathan pun mulai menanam bibit-bibit sayuran di atasnya, mereka semua anggota selalu semangat karena menaruh harapan besar terhadap Fathan. Selain itu Fathan juga tidak berbohong, para anggota kelompok mendapat penghasilan sebesar 2,5 juta perbulan, sesuai hasil rapat. meski belum menghasilkan apa-apa, dari pertanian yang mereka garap.