
Rencana Kirana
Setelah bubur kacang itu habis dimakan, Kirana mulai merapikan semua barang-barangnya dimasukkan ke dalam koper. kemudian dia menyimpannya di pojok kamar.
Setelah semuanya rapi, dia pun keluar dari kamar lalu merapikan bekas makannya ke dapur. kemudian Dia berjalan menuju ke arah luar rumah, di teras dia bertemu dengan Sari dan Kamal yang sedang menikmati waktu senja.
"Mau ke mana Bu?" tanya Kamal yang menatap penuh rasa heran.
"Mau menemui Asep mang, Apa dia sudah pulang?"
"Kayaknya sudah, soalnya Idan juga sudah pulang, Dia sedang mandi!' jawab Kamal.
"Ya sudah saya mau ke rumah Asep dulu Mang."
"Mau apa?" tanya Kamal yang merasa penasaran.
"Urusan kantor, sedikit!" jawab Kirana berbohong.
Setelah meminta izin, Kirana pun berjalan menuju ke rumah Asep yang tak jauh dari rumah Kamal, hanya terhalang beberapa rumah saja.
Sesampainya di rumah yang tidak begitu besar, Kirana pun mengucapkan salam, hingga keluarlah seorang laki-laki tua bernama sabroni bapaknya Asep.
"Eh ada Neng Kirana, mau apa neng?" tanya laki-laki tua itu sambil menatap heran ke arah tamunya, karena Kirana Baru kali ini mendatangi rumahnya.
"Asepnya ada Pak?" tanya Kirana.
"Ada, kebetulan baru pulang, sekarang sedang mandi," jawab sobani.
"Boleh Saya menunggunya?" tanya Kirana sambil duduk di bangku panjang yang berada di depan rumah sabroni.
"Boleh tapi jangan di luar, Ayo masuk ke dalam..!" ajak Bapak Asep mempersilahkan.
"Di sini aja Pak! sambil menikmati senja yang begitu indah," jawab Kirana manggut memberikan hormat kepada orang tua.
"Ya sudah, kalau Maunya Neng Kirana seperti itu, sebentar saya kasih tahu Asep terlebih dahulu." Jawab sabroni sambil masuk kembali ke dalam, kemudian dia menemui anaknya yang sedang mandi untuk memberi tahu bahwa Kirana sedang mencarinya.
Sore itu memang benar terlihat sangat indah, karena Lembayung senja yang menguning memberikan warna keemasan kepada benda-benda yang tersinari oleh sinarnya. Gerapung atau tonggeret suaranya terdengar merdu dari arah kebun. di Sahuti suara kicau burung yang terdengar dari pohon nangka yang berada di depan rumah Asep. mata Kirana terus memindai seluruh halaman rumah yang ditumbuhi oleh tanaman-tanaman yang terlihat sangat subur, karena semenjak Asep bergabung dengan pertanian keranjang sayur, dia lebih suka memanfaatkan waktu luangnya untuk bertani di depan rumah.
"Kenapa nggak di dalam bu?" tanya Asep yang sudah rapi, rambutya terlihat basah karena dia baru selesai mandi.
__ADS_1
"Di sini saja Sep! soalnya saya sangat suka melihat tanaman-tanaman seperti ini, apalagi kalau disinari oleh Sinar Lembayung senja," jawab Kirana.
Asep Pun keluar dari rumah, kemudian dia duduk di bangku panjang tidak jauh dari Kirana, kemudian dia pun bertanya kembali.
"Ada apa Bu?" tanya Asep yang terlihat penasaran, karena tidak biasanya Kirana mendatangi rumahnya, Kirana lebih cuek terhadap laki-laki lain.
"Nggak ada apa-apa, saya mau minta tolong sama kamu."
"Tolong apa, Bu?" tanya Asep.
"Oh iya, atasan kamu sudah pulang apa belum?" Tanya Kirana.
"Belum Bu, Kang Fathan dua hari terakhir ini, dia lebih memilih tidur di kantor keranjang sayur daripada di rumahnya. menurut pengakuannya, dia lebih senang tinggal di keranjang sayur, daripada menginap di rumah sendirian. Karena dia bisa terus berpikir mencari cara agar bisa cepat keluar dari tekanan wabah pandemi."
"Oh iya dia tidak bertanya kenapa saya nggak masuk ke kantor?" tanya Kirana yang semakin penasaran.
"Nggak bu, bahkan hari ini kita tidak ngobrol, karena dia lebih sering terdiam di ruang kantor," jawab Asep dengan Sejujurnya.
Mendengar penuturan Asep, hati Kirana pun mulai terasa teriris kembali, karena orang yang selama ini ia kagumi, yang selama ini ia harapkan, Tak sedikitpun ada kepedulian dengannya. jangankan menjenguk menanyakan kabar pun tidak ia lakukan, sehingga Kirana semakin yakin dengan keputusannya yang hendak meninggalkan kampung sukadarma.
"Maaf ada apa ya Bu, kok nanyain Kang Fathan?" tanya Asep setelah tidak mendapat jawaban dari Kirana.
"Nggak apa-apa, saya cuma pengen tau aja keadaannya. karena sama seperti dengan kamu, sama saya juga sekarang jarang mengobrol. Oh iya, kira-kira kamu capek nggak?" tanya Kirana mulai membahas tujuannya.
"Kalau kamu nggak capek, Tolong bantu saya!"
"Bantu apa?" tanya Asep yang menatap heran.
"Tolong antarkan saya ke Jakarta, karena saya tidak berani kalau membawa mobil sendirian. apalagi semenjak tinggal di kampung sukadarma saya jarang menggunakan mobil, kalaupun harus menggunakan mobil Fathan lebih mendominasi mengemudi," jelas Kirana menyampaikan maksudnya.
"Ibu mau pulang?" tanya Asep memastikan.
"Iya Sep..! Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa, cukup kita berdua aja yang tahu."
"Terus bagaimana dengan Kang Fathan?"
"Ya begitu saja Sep! dianya juga sudah tidak peduli, Masa saya harus peduli sama orang yang tidak peduli dengan saya."
"Kang Fathan bukan orang seperti itu Bu, mungkin sekarang dia sedang banyak pikiran, jadi dia tidak mau membebani ibu dengan bebannya, sehingga dia lebih memilih menjauh."
__ADS_1
"Harusnya bukan seperti itu, seharusnya dia lebih sering mengajak saya berbicara, untuk mencari jalan keluar dari masalah yang sedang ia hadapi, agar kita bisa sama-sama solusi yang tepat. Ya sudah daripada ngobrol ngelantur kemana-mana, mau apa nggak?" tanya Kirana dengan tegas.
"Baik bu," jawab Asep ragu-ragu.
"Ingat pesan saya! jangan bilang sama siapa-siapa kalau kita mau ke Jakarta."
"Tapi Bu!"
"Nggak ada tapi-tapian, kalau kamu kasihan sama saya maka ikuti kemauan saya."
"Baik bu, saya akan menjaga rahasia, Kapan kita mau berangkat?"
"Nanti saja sehabis magrib, soalnya tanggung kalau magrib di jalan." jawab Kirana.
"Baik Bu kalau begitu saya mau minta izin dulu sama bapak, nanti setelah maghrib saya ke rumah Mang Kamal, boleh kan kalau saya meminta izin sama orang tua."
"Ya sudah gak Apa-apa, asal orang tuamu bisa dipercaya. Ya sudah saya tunggu jangan sampai telat!"
"Siap bu!"
"Kalau begitu saya pamit dulu. Tapi, sebelumnya terima kasih sudah mau membantu saya," ujar Kirana sambil bangkit dari tempat duduknya, setelah dia berpamitan Kirana pun pergi kembali ke rumah Kamal.
Suara anak-anak yang sedang bersholawatan di masjid terdengar begitu merdu, membuat hati Kirana sedikit goyah, karena dia sudah sangat nyaman tinggal di kampung sukadarma. rasanya sangat sedih kalau harus berpisah dengan suasana Asri perkampungan. hingga tak lama setelah itu suara bedug magrib terdengar dipukul, disusul dengan suara Adzan yang begitu merdu.
Setelah melaksanakan salat magrib, Asep yang sudah berjanji dengan Kirana dia pun bergegas pulang untuk bersiap-siap mengantarkan atasannya, yang hendak pulang ke kota halamannya.
Setelah semuanya dirasa rapi, dia pun berpamitan dan meminta doa kepada kedua orang tuanya, lalu keluar dari rumah menuju ke rumah Kamal.
Di perjalanan untuk mengantar Kirana, Asep bertemu dengan Kamal yang baru pulang dari masjid, melihat Asep yang sudah rapi kamal pun menatap penuh curiga.
"Mau ngapel ke mana kamu, sudah rapih seperti ini?" tanya Kamal dengan mengulum senyum.
"Anu Mang.....! anu....! anu....! Eh, anuu!" jawab Asep yang tergagap karena dia tidak biasa berbohong.
"Mau ke mana kamu, kok mencurigakan seperti ini?" tanya Kamal yang membiaskan senyumnya.
"Mau ke rumah Mamang," jawab Asep ragu-ragu.
"Ngapain ke rumah saya, pakai pakaian serapih ini?" Tanya Kamal.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan dari Kamal, Asep pun celingukkan menatap ke arah rumah yang terlihat sepi, karena penghuninya sedang khusyuk melakukan salat magrib.
Setelah dirasa aman Asep menarik tangan Kamal, untuk bersembunyi. membuat laki-laki itu semakin merasa penasaran dengan Asep yang terlihat sangat kaku.