Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
Ks. 34


__ADS_3

Gagasan Baru


Setelah membeli rok0k, Pardi pun kembali ke rumah Ujang, yang terlihat masih menunggu adik iparnya itu.


"Sudah membeli rokoknya?" tanya Ujang sambil menatap ke arah Pardi yang baru datang.


"Sudah Kang! Emang Akang mau ngobrol apa?" tanya Pardi sambil duduk di kursi yang tadi, kemudian dia menyimpan rokok yang baru dibeli di atas meja.


"Boleh rok0knya?" tanya Ujang sambil menatap ke arah Pardi membuat adik iparnya itu mengumpat dalam hati. "Padahal uangnya sangat banyak, rokok aja nebeng sama pegawai." gumam Pardi yang tak sesuai dengan apa yang diucapkan. "boleh kang! boleh! Lagian kan uangnya, uang Akang." jawab mulut Pardi.


Ujang melepaskan 1 Batang rok0k dari bungkusannya, kemudian dia meminjam korek untuk membakarnya. setelah rok0k itu menyala, dia pun mulai menghisap lalu menghembuskan asapnya ke atas.


"Jadi begini Par! kalau si Fathan terus dibiarkan berkeliaran. akang takut dia akan menghancurkan bisnis Akang, yang sudah dibangun sejak lama." jelas Ujang mulai mengungkapkan kekhawatirannya.


"Terus Akang maunya seperti apa?" tanya Pardi yang tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh kakak iparnya.


"Bagaimanapun caranya, usaha pertanian si Fathan harus hancur. agar tidak semakin meluas mengganggu integritas perusahaan Akang."


"Caranya?"


"Makanya saya ngundang kamu! sebagai adik ipar saya untuk membantu berpikir, agar usaha anak ingusan itu hancur."


Dipinta pendapat seperti itu Pardi pun mengerutkan dahi menirukan orang yang sedang berpikir, seolah lagi mencari cara untuk membantu keresahan kakak iparnya. "ya sudah, kita harus merencanakannya dengan matang, agar hasilnya bisa memuaskan." jelas Pardi memberi keputusan.


"Jangan lama-lama berpikirnya! nanti Fathan semakin merusak."


"Tenang kang! tenang! masalahnya kita bukan menghadapi anaknya Kang Farhan doang, namun kita menghadapi seluruh warga yang ikut tergabung dalam kelompoknya. jadi kita tidak bisa menyimpulkan dengan tergesa-gesa."


"Ya sudah akang percaya sama kamu. Oh iya, Akang nitip uang jajan buat si Malik." ujar Ujang sambil mengulurkan satu lembar uang berwarna merah.

__ADS_1


"Nggak usah repot-repot kang! Tapi Terima kasih banyak." jawab Pardi sambil cepat menarik uang pemberian itu, karena semenjak dia memiliki anak, baru kali ini Ujang Mau berbagi uang dengan keponakannya.


Akhirnya Pardi dan Ujang pun terus berlanjut membahas Bagaimana cara menghancurkan usaha yang dibangun oleh fathan. Pardi yang awalnya tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh kakak iparnya, namun setelah beberapa kali Ujang menyuapnya dengan uang, dia pun mulai ikut terhanyut mengikuti permainan Ujang.


Sedangkan orang yang mau mereka jahatin, dia masih sibuk bergelut dengan pertanian. hari itu ada 30 anggota yang mendaftar ikut masuk ke kelompok usaha keranjang sayur. sehingga sekarang yang awalnya kelompok itu berjumlah 20 orang, sekarang sudah mencapai setengah dari warga Kampung, ikut tergabung di dalam kelompok usaha keranjang sayur.


Di waktu yang sama. Fathan yang sedang beristirahat di rumah Kamal, karena kantor keranjang sayur selain Saung yang berada di kebun milik orang tuanya, rumah Kamal pun suka dijadikan kantor kedua. agar ketika ada sesuatu bisa mudah membicarakannya. terlihat dari arah jauh ada lima orang yang datang mendekati rumah Kamal.


"Idaaaaaaan!" teriak Sari setelah mengetahui salah satu dari orang-orang yang menghampiri itu adalah anaknya.


"Ibuuuuuuu! maaf kalau Idan pulang tidak mengasih kabar terlebih dahulu." jawab Idan sambil memeluk tubuh ibunya, kemudian dia menyelami orang-orang yang ada di situ.


"Waduh! tumben-tumbenan orang kota mau main ke kampung." Ujar Fathan ketika saudara sepupu itu menyalaminya.


"Aku tertarik dengan usaha mu brother! aku akan melakukan riset, Apakah usaha itu akan mampu menjamin hidupku ke depan." jawab Idan sambil memeluk Fathan, melepas Kerinduan Setelah lama tidak bertemu.


"Kamu resign dan?" tanya kamal yang mendengar obrolan itu.


"Mending kamu berhenti saja bekerja! kita bersama-sama mengembangkan Kampung kita, agar lebih maju." saran Kamal membuat Idan tersenyum karena tidak ada penolakan.


"Nggak bisa memutuskan Pak! sayang kuliah saya kalau hanya untuk bertani. Lagian software engineer tidak dibutuhkan di pertanian." ujar Idan memberitahu.


"Kata siapa tidak berguna?" tanya Fathan yang menyela.


"Emang kenyataannya seperti itu Tan?"


"Saya yakin! semua ilmu akan bermanfaat, ketika orang itu mau memanfaatkannya. nanti saya akan carikan posisi yang pas untuk kamu. kalau kamu benar mau ikut bersama membangun kampung kita." jelas Fathan menyanggah pendapat sepupunya.


"Sudah! sudah! jangan berdebat. mendingan Ayo istirahat dulu. ajak teman-temanmu masuk!" pisah Sari agar Saudara itu tidak meneruskan perdebatan.

__ADS_1


"Nggak ah, Bi! Saya mau pulang dulu, kangen sama orang tua." jawab teman-teman Idan yang tadi pulang bersama-sama.


"Ya sudah kalian pulang dulu! nanti malam, kita kumpul ngobrol sesuai dengan apa yang kita rencanakan!" jelas Idan membiarkan para teman-temannya untuk pulang terlebih dahulu.


Akhirnya keluarga Kamal pun bersukacita menyambut kedatangan anaknya, dengan mengobrol sambil memakan hasil pertanian. karena Begitulah kalau bertani selain Kita bisa mendapat keuntungan, kita juga bisa mengkonsumsi hasil dari pertanian.


Malam hari, Idan bersama rekan-rekan kerjanya berkumpul di rumah Kamal, untuk membahas rencana mereka yang sudah susun, setelah melihat kemajuan usaha Fathan melalui kanal YouTube keranjang sayur.


"Apa tawaran di kanal YouTube kamu, untuk mengajak warga Kampung sukadarma agar pulang dari perantauan. itu masih berlaku?" tanya Idan mengawali pembicaraan mewakili seluruh teman-temannya.


"Masih, Selama video itu masih ditayangkan, berarti tawaran itu masih berlaku." jawab Fathan sambil tersenyum bahagia karena apa yang selama ini ia lakukan, Sudah membuahkan hasil. para warga dan para perantau mulai tertarik dengan usaha yang sedang ia jalankan.


"Emang kamu berencana menghapus video itu dan membatasi kuota untuk bergabung dalam kelompok usaha keranjang sayur?"


"Nggak ada niat! Tujuan saya membangun pertanian ini agar semua orang yang berada di kampung sukadarma. bahkan di kampung-kampung tetangga. kalau bisa, mereka ikut bergabung ke dalam kelompok usaha keranjang sayur. agar tidak ada orang lagi yang harus mencari nafkah sampai meninggalkan keluarga. Terus kenapa kamu bertanya seperti itu?" jawab Fathan mengembalikan pertanyaan.


"Kalau masih berlaku. kami berlima berencana resign dari tempat kerja kami, namun yang masih kami khawatirkan apa tanggung jawabmu, Kalau kami resign?" tanya Idan sambil menatap ke arah sepupunya.


"Sekarang kalian digaji berapa oleh perusahaan kalian?" ujar Fathan memberikan pertanyaan, seolah menantang.


"Sesuai UMR Jakarta, Rp4.100.000"


"Kalau kalian berniat bergabung dengan usaha saya, maka saya akan gaji kalian sesuai dengan yang kamu dapatkan dari perusahaan. Tapi tolong kasih saya masukkan agar usaha saya semakin maju, karena perusahaan ini adalah perusahaan bersama. maka semuanya harus bergerak." jelas Fathan memberikan tantangan, karena dia yakin teman-temannya itu bukan orang yang sembarangan.


"Baik! besok kita akan melakukan riset dan menentukan apa yang kurang dan apa yang harus diperbaiki. Tapi Ingat Janjimu Kalau kami berhasil ,kamu jangan lupa dengan janjimu, yang akan membayar kami sesuai UMR Kota Jakarta."


"Saya bisa memberikan lebih, kalau kalian bisa memberikan lebih kepada Kelempok" tantang Fathan yang terlihat berani Tak sedikitpun ada keraguan ketika membahas pertanian.


Akhirnya malam itu Diteruskan dengan obrolan-obrolan seperti biasa layaknya para sahabat sedang berkumpul. mulai dari candaan-candaan ringan, sampai candaan-candaan yang serius. mereka terus menghabiskan waktu sampai lewat larut malam, hingga akhirnya mereka semua tertidur di rumah Kamal.

__ADS_1


Keesokan paginya, Idan yang sudah Berencana untuk melakukan riset bersama teman-temannya pergi ke kebun yang digarap oleh para warga. Fathan pun mulai menjelaskan apa saja yang ada di pertaniannya dan menjelaskan tanah mana yang masih belum digarap.


Selesai melakukan pengecekan tempat. mereka berlima pun berkumpul untuk berdiskusi di kantor keranjang sayur, yang ada di kebun. Fathan membiarkan para remaja itu untuk mengeluarkan semua kemampuannya, Fathan tidak mengganggu mereka, dia malah memutuskan untuk membantu para warga mengurus tanaman.


__ADS_2