
Sobri Mendatangi Rumah Ujang
Akhirnya setelah acara perjanjian itu selesai. para warga Kampung pun kembali ke kampung masing-masing, dengan membawa pengharapan mereka bisa hidup dengan tenang, nyaman dan aman. tidak ada tawuran antar kampung, seperti kejadian yang dialami dua hari yang lalu.
Semenjak perdamaian itu, warga Kampung sukadarma pun kembali hidup dengan tenang. mereka bisa fokus mengurus pertanian keranjang sayur yang sebentar lagi akan menaiki Puncak kesuksesan. karena dua minggu lagi, hasil pertanian mereka akan dijajakan di supermarket supermarket wilayah Sukabumi.
Warga Kampung sukadarma dan sukaramah mereka sering saling berkunjung. bahkan Fathan menawarkan mereka untuk bergabung dengan kelompok usaha yang ia dirikan. agar hubungan kedua kampung itu semakin terjalin rasa persaudaraannya. Warga kampung sukaramah ada yang menyambut antusias, ada juga yang biasa-biasa saja. namun mereka tetap bertujuan sama, ingin hidup dengan tenang tanpa memiliki musuh besar dalam hidup.
Seminggu berlalu, dari kejadian pendatanganan perdamaian. terlihat di rumah yang paling besar di kampung sukadarma. Ujang bersama Pardi sedang duduk di teras, sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rok0k yang asapnya mengepul memenuhi depan rumah Ujang.
Di halaman rumah Ujang sekarang tidak terlihat ada padi yang sedang dijemur, karena belum ada warga yang menyetorkan pembayaran bunga dari hutang-hutang yang dipinjam dari Ujang.
Namun kenyamanan itu terganggu, setelah ada orang yang menyapa mereka dari arah pintu gerbang. Namun Ujang hanya melirik sebentar tanpa menghiraukan, membuat orang itu merasa kesal. Tamu itu memukul-mukul pintu gerbang dengan sangat keras. karena orang itu memukul gerbang dengan batu, sehingga menimbulkan suara yang sangat nyaring, membuat mata Kamal terbelalak marah menatap ke arah orang itu.
"Ngapain sih Bod0h itu datang ke sini?" tanya Ujang sambil menatap ke arah Pardi.
"Siapa yang bod0h Kang?"
"Si Sobri! Masa dikasih tugas seperti itu aja, dia engggak becus melaksanakannya." gerutu Ujang sambil menatap ke arah orang yang sedang memukul-mukul pintu sambil memanggil-manggil namanya.
"Ujang....! Ujang.....! buka pintunya atau saya dobrak." teriak Sobri sambil mengulum senyum aneh, Tak sedikitpun menunjukkan rasa hormat seperti kebanyakan para warga kampung sukadarma.
"Pardi Sana usir orang gil4 itu! ngapain orang tidak berguna masuk ke rumah saya," pinta Ujang menyuruh adik iparnya.
"Kenapa nggak Akang aja yang mengusir?" jawab Pardi membantah.
"Pardi.....!" bentak Ujang sambil membulatkan mata, membuat Pardi terlihat meringis merasa segan melihat kakak iparnya marah seperti itu.
Dengan Malas Pardi pun bangkit dari kursi tempat duduknya, kemudian berjalan perlahan menuju arah orang yang sedang mengedor-gedor pintu gerbang.
"Ada apa Bri?" tanya Pardi tanpa membuka pintu.
"Buka pintunya! Saya mau ngobrol sama si Ujang itu," pinta Sobri yang sudah berhenti memukul-mukul pintu gerbang.
"Mau apa? Kang Ujang nggak mau diganggu." Jawab Pardi dengan menaikkan intonasi suaranya agar apa yang disampaikan terdengar oleh Ujang.
"Bilang sama si Ujang! kalau dia tidak mau bertemu dengan saya. maka jangan salahkan saya, membocorkan rahasianya. biar kita sama-sama mendekam di penjara," ancam Sobri sambil tetap mengulum senyum, menunjukkan giginya yang tak terlihat karena tendangan Fathan ketika mereka bertarung seminggu yang lalu.
__ADS_1
Namun meski giginya sudah hilang, Sobri tidak memiliki dendam apapun, karena itu adalah murni kesalahan dirinya, yang terpengaruh oleh orang lain.
Pardi ketika mendengar ancaman Sobri, wajahnya pun terlihat pucat pasi, seperti ketakutan. dengan bergegas dia menghampiri Ujang yang masih terduduk menatap ke arahnya.
"Kenapa kamu nggak usir makhluk sial4n itu, malah dibiarkan begitu saja?" Tanya Ujang seolah tidak suka.
"Dia mengancam Kang!"
"Mengancam apa?" tanya Ujang sambil membulatkan mata.
"Sobri mengancam akan melaporkan kita, tentang masalah yang menimpa kedua kampung kemarin."
Mendengar keterangan dari Pardi, Ujang pun terperanjat kaget. dengan cepat dia berjalan menghampiri ke arah Sobri, matanya yang memerah sempurna menatap lekat ke arah orang yang masih berdiri, dengan tersenyum memamerkan barisan gigi yang sebagian menghilang.
"Eh bod0h! ngapain lu ke sini lagi. Bukannya urusan kita sudah selesai?" bentak Ujang ketika berada di hadapan Sobri.
"Jangan keras-keras ngobrolnya Jang! nanti kalau ketahuan warga kampung sukadarma, kamu akan malu." jawab Sobri yang terlihat masih santai.
"Lu mau ngapain?" Ujang kembali bertanya.
"Ajak masuk terlebih dahulu! biar kita bisa mengobrol dengan nyaman, kalau bisa sediakan kopi hitam agar kita bisa membicarakan bisnis dengan tenang. Bukan begitu penyambutan tamu yang baik dan benar?" Jawab Sobri Tak sedikitpun terlihat Gentar.
"Bisnis yang kita jalin beberapa minggu yang lalu jang, Sejak kapan kamu pikun dengan janjimu?"
"Mending sekarang kamu pergi! Sebelum saya laporkan sama Pak RT." Ujang mulai menebar ancaman.
"Laporkan saja! biar saya juga bisa berbicara menyampaikan kejelekan kamu Jang!"
"Kejelekan apa?"
"Sudah, mending kamu buka pintunya, biar kita bisa mengobrol. Emang gak takut obrolan kita terdengar oleh orang lain, oleh warga kampung sukadarma." jawab Sobri masih tetap mengulum senyum tak ada sedikitpun ketakutan di wajahnya.
Mendengar Apa yang disampaikan oleh Sobri, dengan berat hati Ujang pun membuka pintu gerbang, kemudian masuklah Sobri lalu berjalan menuju ke arah teras tanpa memperdulikan Ujang yang terlihat memasang wajah masam.
Dengan santainya Sobri pun duduk di kursi yang tadi Ujang tinggalkan, kemudian dia mengangkat kaki, lalu mengambil rok0k yang tersimpan di meja. tanpa ada rasa malu dan rasa takut, dia mulai membakar rokok itu menikmati setiap hisapannya.
Ujang hanya menatap penuh amarah, tanpa bisa berbuat apa-apa. karena ini adalah kesalahannya berurusan dengan orang seperti Sobri. "Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Ujang yang sudah duduk kembali di kursi yang satunya lagi.
__ADS_1
"Saya mau menagih janji kamu jang! janji yang sudah kita sepakati."
"Nagih janji seperti apa, sudah jelas-jelas kamu itu beg0 tidak bisa diandalkan. disuruh menusuk Fathan malah menusuk kamal." jawab Ujang tampak sadar dia mengakui kesalahannya.
"Jangan bilang saya beg0, saya sangat cerdas!karena kalau saya berniat jahat sama kamu, saya sudah dari awal melaporkan kelicikan kamu ke pihak yang berwajib. namun saya masih berbaik hati, menemui kamu dengan cara baik-baik." jawab Sobri sambil menghempaskan asap yang ada di mulutnya, kemudian dengan santainya dia mengeluarkan handphone lalu memutar video.
Dalam video itu terliat ujang bersama sobri sedang berbicara serius tentang rencana melenyapkan Fathan, atau memberikan luka agar pertaniannya terganggu. sehingga para warga yang hendak menembus surat tanahnya tidak akan tercapai, karena pertanian mereka bangkrut ketika Fathan sudah tidak ada.
"Saya sudah copy dan saya sudah simpan copyannya, kalau kamu berbuat jahat sama saya, maka teman teman saya tidak akan senggan untuk menyerahkan video ini ke pihak yang berwajib. kalaupun tidak diproses secara hukum, kamu akan mendapat hukuman dari warga kampung sukadarma, kamu tidak akan dianggap lagi, kamu akan dikucilkan Jang!" Ancam Sobri seperti mafia yang sedang bernegosiasi dengan orang rendah.
"Jangan Bri! jangan...., jangan nekat. kalau kamu melaporkan saya, maka kamu juga akan ikut masuk penjara."
"Nggak apa-apa! saya lebih senang tinggal di penjara, daripada hidup di luar penuh dengan kesusahan. karena bagi saya di dalam ataupun di luar penjara, itu sama saja. Sama-sama tidak enak," Jawab Sobri dengan enteng seolah menyepelekan kengerian jeruji besi itu.
"Tolong Jangan nekat! kamu mau apa, mau uang sisa pembayaran kemarin, bentar saya ambilkan!" ujar Ujang yang terlihat ketakutan, karena ada bukti kuat di mana Dirinya lah yang menyebabkan keributan seminggu yang lalu bisa terjadi.
Dengan cepat Ujang pun hendak bangkit dari tempat duduknya, namun dengan cepat pula Sobri menahan tangan Ujang. "Santai aja Jang! jangan buru-buru, kita ngobrol-ngobrol dulu sebentar. Kebetulan Hari ini saya tidak sibuk sehingga kita bisa berbicara panjang lebar dengan kamu." Ujar Sobri meski umurnya jauh di bawah Ujang namun dia tidak menunjukkan rasa hormat sedikitpun.
"Mau Ngobrol Apa, kamu mau uang kan, saya akan kasih, namun jangan ganggu kehidupan saya lagi!"
"Kalem....! kalem...! Santai jang! Masalah uang itu sangat gampang, yang terpenting kita berbicara dulu." ujar Sobri masih tetap mengulum senyum penuh kemenangan, karena orang yang ada di hadapannya, sudah ada di dalam genggamannya.
"Kemarin tinggal 5 juta lagi kan Bri? saya kasih 10 juta, asal jangan ganggu kehidupan saya lagi, anggap saja kita tidak pernah kenal dan tidak pernah ketemu."
"Hehehe, Saya mau lebih!" jawab Sobri sambil merubah raut wajahnya yang semula terlihat tersenyum, sekarang menatap tajam ke arah Ujang.
"Lebih Bagaimana Bri, kamu aja kan nggak bisa melaksanakan tugas dari saya."
"Lihat ada dua gigi saya yang Rontok, lihat Aden yang dibawa ke kantor polisi karena menusuk Kamal. lihat Akri dan Ramlan mereka masih terbaring di rumah, karena mendapat siksaan dari warga kampung sukadarma. itu semua gara-gara kita mengikuti niat jahat kamu. maka dari itu, saya meminta kamu membayar lebih, walaupun kita tidak bisa melaksanakan tugas, tapi kita sudah menjalankan tugas itu dengan sangat totalitas, kamu harus bertanggung jawab ketika ada kelompok kami yang terluka."
"Itu gara-gara kesalahan kalian yang beg0, yang bod0h, yang tidak bisa bekerja dengan baik. bukannya melumpuhkan musuh, malah kalian yang lumpuh." ujar Ujang tampak sedikitpun menunjukkan rasa simpati, membuat Sobri mengeratkan gigi yang hanya tinggal beberapa.
"Kalau kamu nggak mau membayar lebih, selamat bertemu di penjara!" jawab Sobri sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Tunggu....!" dengan cepat Ujang menahan Sobri, lintah darat itu terlihat semakin ketakutan, karena dia melihat Sobri bukan orang yang hanya memberikan ancaman belaka, namun dia akan melakukan apa yang menurutnya benar.
"Saya lebihkan, menjadi 20 juta," lanjut Ujang menaikkan tawaran.
__ADS_1
"Gigi saya nggak akan tumbuh lagi Jang! Aden belum tentu cepat keluar dari penjara, mana cukup uang segitu untuk menafkahi keluarganya yang ditinggalkan."
"Itu sudah lebih dari yang saya janjikan, kalau apa yang menimpa dengan teman-teman kamu, itu adalah resiko dari pekerjaan yang kamu ambil."