
Fathan Harus Tau
Asep terlihat mau berlari mengejar Dadun, yang sudah jauh meninggalkannya. namun Kamal dengan cepat menghentikan. "Asep mau ke mana!" bentak kamar.
"Mau menghajar si Dadun Mang!"
"Kalau kamu berani mengejar Kang Dadun, maka kamu nggak usah kenal saya lagi!"
Mendengar ancaman Kamal, Asep pun menghentikan langkah kemudian dia berbalik menuju ke hadapan kamal. "Maafkan saya Mang! Saya kesal dengan omongan orang yang sombong seperti Kang Dadun."
"Tapi, gara-gara kamu yang tidak bisa mengontrol emosi, urusannya akan semakin runyam."
"Runyam bagaimana Mang?"
"Mereka pasti akan mengkambing hitamkan kamu, untuk mencari pembenaran dengan apa yang mereka hendak lakukan."
"Maafkan saya Mang! Saya tidak bisa mengontrol emosi." ujar Asep sambil menundukkan pandangan, karena emosinya mulai mereda, dan dia pun mulai terpikir Kalau benar Dadun melaporkannya ke pihak yang berwajib, maka dia akan sangat menyesal, karena orang tuanya sudah bergantung hidup kepadanya.
"Terus sekarang bagaimana Kang Kamal?" tanya salah Seorang warga.
"Kita ikuti mereka menemui Fathan!" Jawab Kamal memberi komando, dengan cepat dia pun bergegas mengikuti Dadun yang sudah tak terlihat.
Akhirnya para anggota keranjang sayur pun mulai meninggalkan Saung dadun, yang terlihat di dalamnya nasi liwet masih tersaji. namun meski begitu ada beberapa ibu-ibu yang menunggu, istri dari para anak buah Dadun.
Kamal diikuti oleh para warga, mereka terus berjalan. namun mereka terkejut karena terlihat rombongan Dadun sudah kembali menuju ke arah Saung. sehingga mereka berpapasan, namun tak ada yang berbicara hanya saling membuang wajah seolah tidak Sudi melihat wajah masing-masing.
Setelah mereka terpisah agak jauh, terlihat Asep mempercepat langkah mendekati Kamal. "Kenapa mereka pulang lagi, apa sudah bertemu dengan Kang Fathan?"
"Nggak tahu Sep! nanti kita tanyakan saja! setelah kita sampai di kantor," jawab Kamal yang terlihat semakin mempercepat langkahnya, ingin segera sampai ke kantor keranjang sayur.
Setelah sampai di kantor, terlihat Idan yang duduk di tangga Saung besar, berbentuk rumah, yang dijadikan kantor keranjang sayur. ketika melihat rombongan orang tuanya mendekat, Idan pun bangkit kemudian menghampiri. "ini sebenarnya ada apa Pak?" tanya Idan yang terlihat penasaran.
"Sudah ayo masuk ke teras, agar kita bisa ngobrol dengan tenang." jawab Kamal sambil terus berjalan kemudian masuk ke teras yang biasa dijadikan tempat berkumpul, tempat makan bersama.
Akhirnya para warga pun duduk menyandar ke dinding kantor, sambil mengipasi dadanya yang terasa gerah. "ini sebenarnya ada apa?" tanya Idan yang belum mengerti.
__ADS_1
"Fathan ke mana?" tanya Kamal tak memperdulikan pertanyaan anaknya.
"Dia sudah pulang pak, katanya mau ngambil berkas atau apalah gitu," jawab Idan menjelaskan keadaan sang petani itu.
"Berarti tadi Kang Dadun tidak bertemu dengan Fathan?"
"Nggak, emang Sebenarnya ada apa sih," ujar Idan kekeh bertanya.
"Terus Kang Dadun, tadi ngapain aja?" tanya Kamal yang belum menjawab pertanyaan anaknya.
"Tadi saya ketika sedang kerja, saya kaget karena mendengar banyak orang yang sedang mengobrol, Soalnya hari ini bukan hari kita makan bersama. namun tak lama setelah itu, terdengar suara Kang Dadun yang memanggil Fathan dengan begitu kencang. sehingga saya keluar untuk menemui dan menceritakan bahwa Fathan sudah pulang. namun ketika saya bertanya kepentingannya, Mereka pun tak memperdulikan, mereka malah pergi meninggalkan Saung."
"Oh, begitu! Tolong panggilkan teman-teman yang bekerja di kantor, agar semuanya bisa tahu!" Seru Kamal sambil melirik ke arah Asep.
Orang yang dilirik pun seolah mengerti, kemudian dia bangkit masuk ke dalam SaungĀ tak lama dia kembali diikuti oleh beberapa anak muda yang bekerja di kantor keranjang sayur. raut wajah mereka dipenuhi rasa heran, karena tidak biasanya mereka berkumpul seperti itu, apalagi ini bukan Fathan yang menginstruksikan, melainkan Kamal yang sama-sama bekerja.
Setelah semua orang berkumpul, Kamal pun terlihat menarik nafas dalam seperti hendak mengumpulkan kekuatan untuk menyampaikan permasalahan yang sedang dihadapi oleh kelompok tani. setelah menarik nafas beberapa kali, dia mulai bercerita bahwa Dadun ingin memisahkan diri dari kelompok. membuat semua orang paham kenapa tadi Dadun ingin bertemu dengan Fathan, mereka beranggapan bahwa Dadun ingin menyampaikan tujuannya yang ingin keluar dari keranjang sayur.
"Aduh....! ini kalau dibiarkan bisa gawat! Padahal kalau Kang Dadun sadar, dia hanya menyerahkan pengurusan tanah yang awalnya tidak menghasilkan apapun, Hanya tanah yang ditumbuhi rumput ilalang. berbeda dengan saya, yang memberikan semua uang hasil pesangon ketika berhenti dari pekerjaan. berbeda dengan Bu Kirana yang memberikan 100 juta. berbeda dengan Fathan yang memberikan seluruh harta, seluruh pemikiran, bahkan dia berani menggandaikan hidupnya Demi kemajuan kelompok pertanian keranjang sayur!' tanggap Idan setelah mendengar cerita bapaknya.
"Kita harus memberi tahu Fathan, karena pemikiran kita sangat terbatas, berbeda dengan Fathan yang suka memiliki ide-ide Cemerlang, untuk menyelesaikan semua masalah yang menimpa kelompok tani kita." Jawab yang lain.
"Tapi kalau memberitahu Fathan, Apa itu tidak menambah beban pikirannya, soalnya masalah seperti ini saja, kita tidak bisa menyelesaikan."
"Harus bagaimana lagi, emang kang sandi punya ide, punya cara, untuk menyelesaikan masalah ini?" tanya warga yang lain sambil menatap ke arah orang yang bernama sandi.
Mendapat pertanyaan seperti itu, sandi hanya mengulum senyum sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal. karena dia pun tidak memiliki solusi, namun dia tidak tega kalau harus terus merepotkan Fathan.
Suasana pun mulai terdengar riuh menyampaikan pendapat masing-masing, membuat Kamal menepuk tangan, memberi kode agar para warga terdiam sesaat.
"Benar apa yang bapak-bapak sampaikan, kita tidak mempunyai solusi untuk memecahkan masalah yang sedang kita hadapi. mau, tidak mau, kita harus tetap memberi tahu Fathan, agar dia bisa secepatnya menanggulangi masalah yang menimpa kelompok yang ia dirikan." ujar Kamal mengambil keputusan.
"Terus siapa yang mau memberitahunya?" tanya Idan.
"Biarkan bapak saja yang memberitahu, agar dia tetap tenang, sehingga bisa mendapatkan solusi untuk mengatasi masalah yang kita hadapi. Dan kalian para anggota lainnya kalian tetap fokus bekerja, jangan sampai meninggalkan kewajiban masing-masing!"
__ADS_1
Setelah mendapatkan keputusan, akhirnya para warga pun mulai membubarkan diri kembali ke rumah untuk beristirahat. karena kalau kembali melanjutkan pekerjaan, waktunya akan sangat tanggung, karena sebentar lagi Azan dzuhur akan berkumandang.
Para petani yang lain yang tadi tidak ikut Kamal ketika menemui Dadun. mereka mulai berdatangan saling bertanya kepada para petani yang lain. menanyakan apa yang terjadi sebenarnya, karena tadi melihat para anggota yang berbondong-bondong mendatangi kantor keranjang sayur. orang-orang yang ditanya pun mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya, membuat mereka Paham dengan apa yang sedang terjadi.
Begitu juga dengan Pak RT dan pak ustad yang baru datang mereka sedang duduk bersama Kamal, membahas Dadun yang hendak keluar dari keranjang sayur. setelah Kamal menceritakan detail kejadian dan rencana yang akan diambil, Pak RT pun hanya mengangguk dan mendoakan yang terbaik buat kelangsungan pertanian keranjang sayur.
Setelah semuanya dirasa jelas, akhirnya pak RT, pak ustad dan Kamal pun berjalan pulang menuju ke rumah masing-masing. di perjalanan mereka terus membahas tentang Dadun yang hendak keluar.
Setelah melaksanakan salat zuhur berjamaah, Kamal pun mengajak Fathan untuk makan siang di rumahnya, dengan alasan bibinya sudah masak banyak.
Fathan yang sudah terbiasa makan di rumah Kamal, dia pun tidak menolak. Fathan Sebelum pulang ke rumah, dia mampir terlebih dahulu ke rumah Kamal.
Selesai makan siang, Kamal ditemani Idan mengajak Fathan duduk di ruang tamu, awalnya Fathan menolak karena ingin cepat-cepat kembali bekerja.
"Memangnya ada apa sih mang, kayaknya serius banget?" tanya Fathan yang terlihat penasaran.
"Benar Tan! Ada hal yang sangat serius, yang mungkin akan membutuhkan pemikiran ekstra."
"Hal apa itu mang?" tanya sang petani sambil mengerutkan dahi.
Kamal pun mulai bercerita tentang apa yang menimpa keranjang sayur, tentang Dadun yang hendak keluar dari anggota kelompok. semua yang ia ketahui, semua yang ia dengar, Kamal Ceritakan sama Fathan tidak ada satupun yang terlewat. namun sang petani itu tetap terlihat santai, seolah menganggap hal itu adalah hal yang tidak serius. Padahal dia sedang menyembunyikan kekhawatiran yang begitu luar biasa.
"Terus kita harus bagaimana sekarang Tan?" tanya Kamal setelah mengakhiri ceritanya.
"Sudah Mamang jangan terlalu banyak pikiran! Mamang fokus saja dengan pertanian Mamang, ini adalah tugas Fathan sebagai ketua kelompok!' jawab Fathan yang tetap mengulum senyum, kemudian dia pun bangkit dari tempat duduknya, untuk pulang mengganti baju sebelum berangkat ke kantor keranjang sayur.
Melihat keponakannya yang terlihat santai, membuat kamal sedikit lega, karena Awalnya dia takut apa yang ia sampaikan membebani pikiran Fathan.
Sedangkan orang yang dikhawatirkan, Setelah dia mengganti baju dengan baju kerja. dia pun dengan segera keluar dari rumah, menaiki motor besar yang ia bawa dari Jakarta, hasil bekerja di perusahaan properti milik Ayah Kirana.
"Mau ke mana? Kok tumben naik motor?" tanya Kirana yang baru keluar dari rumah Fathan.
"Ada urusan ke rumah Kang Dadun," jawab Fathan.
"Mau apa, Ikut dong...!" pinta Kirana yang terlihat mengiba, karena kalau naik motor, dia bisa memeluk tubuh yang selalu ia dambakan.
__ADS_1