Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 52


__ADS_3

Tenyata!


Sore itu dari upuk barat terlihat senja yang menguning keemasan, memberikan warna emas bagi benda-benda yang tersinari. burung-burung berkicau saling mengejar satu sama lain, tonggeret atau grapung dengan lantang menunjukkan suaranya, saling bersahut kencang dengan teman temannya.


Anak-anak bermain di halaman rumah, ada yang galah, ada yang main kucing-kucingan, ada juga yang main petak umpet, Ada juga yang mengobrol seperti layaknya orang dewasa. disaksikan oleh para keluarga yang sedang beristirahat, selepas seharian bekerja di kebun atau di ladang. menambah suasana Asri di perkampungan sukadarma. namun berbeda dengan Ujang yang masih terlihat sangat kesal, karena baru saja dia mengeluarkan uang sebanyak 100 juta, untuk membayar pekerjaan yang tidak beres, pekerjaan yang dikerjakan oleh Sobri yang disuruh untuk melukai Fathan.


"Kurang ajar banget! barusan Akang dipalak si Sobri," dengus Ujang yang terlihat memperkuat kepalan tangannya, kemudian kepalan itu ditinjukkan ke tangan yang satunya lagi, giginya yang mengerat, matanya yang memerah namun terlihat nampak kosong. Mungkin masih memikirkan uang 100 juta yang baru saja melayang begitu saja.


"Lagian Akang nggak nurut sama saya, coba kalau akang nurut, mungkin kejadiannya tidak seperti ini," jawab Pardi seolah menyalahkan kakak iparnya.


"Kamu Jangan menyalahkan Akang Par, karena ini semua gara-gara kamu yang menimpali."


"Sejak kapan saya berani membantah perintah Akang, cuma baru kemarin ketika Akang mau melukai Fathan. saya baru membantah, Namun sayang bantahan saya akang tolak mentah-mentah," jawab Pardi karena semenjak Ujang menyampaikan niatnya ingin melukai Fathan, dia beberapa kali menolak. dia ingin bermain lebih halus agar tidak menimbulkan kecurigaan, apalagi sampai korban jiwa seperti yang terjadi pada kamal, Pardi sangat tidak setuju.


"Yah! maafkan Akang Pardi, Akang tidak mendengarkan nasehatmu."


"Makanya kang Kalau diberi saran itu terima, biar tidak rugi seperti ini. 100 juta itu uang Kang, Bukan daun," jawab Pardi seolah mengolok-olok kakak iparnya.


"Terus sekarang Apa yang harus akang lakukan, karena Akang sudah mengeluarkan banyak modal untuk menghancurkan pertanian keranjang sayur, akang tidak mau pengorbanan itu menjadi sia-sia, apalagi harus sampai berhenti di sini," Adu Ujang seolah tidak Jera dengan apa yang baru saja menimpanya.


"Sabar kang! melawan Fathan tidak bisa gegabah, karena kalau gegabah Maka hasilnya akan sama seperti yang dialami oleh kita sekarang. kita harus berpikir lebih jernih, lebih tenang. agar kita bisa menangkap ikan Tanpa memperkeruh airnya."


"Akang harus sampai kapan bersabar, Nanti keburu surat tanah para warga di tebus,"


"Beri waktu saya seminggu untuk berpikir, sekarang Izinkan saya pulang terlebih dahulu," ujar Pardi sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Mau kemana Pardi, Kan Akang belum selesai berbicara," tahan Ujang


"Maaf Kang, saya ingin cepat-cepat pulang ke rumah. lagian kan di sini sudah nggak ada kerjaan, dan bukan musimnya bekerja. Nanti kalau saya sudah mendapatkan ide terbaik, saya akan menemui Akang kembali," jawab Pardi memberikan keterangan.


"Oh begitu ya, benar sih! ya sudah sana pulang, jangan lama-lama mikirnya! nanti Akang ngambil tindakan kayak kemarin."


"Akang harus sabar!"


"Iya Par! Kalau kamu bisa memberikan solusi terbaik, maka akang akan kasih 5 juta," ujar Ujang tanpa dipikir terlebih dahulu, Padahal baru saja dia mengeluarkan 100 juta untuk menjalankan niatnya, namun apa yang didapat? hanya kerugian dan Fathan masih bisa bertani seperti biasa.


Mendengar tawaran dari Ujang, Pardi yang sudah bersiap-siap untuk pulang, dia pun mendudukkan tubuhnya kembali. seolah tertarik dengan apa yang disampaikan oleh kakak iparnya.


"Serius Kang?" Pardi memastikan.


"Apa Akang terlihat sedang bercanda?"


"Baik kalau seperti itu, nanti dua hari atau 3 hari lagi saya akan menemui Akang kembali, tapi ingat dengan janji Akang."


"Asal solusimu bagus, Akang tidak akan merasa rugi untuk membayar otakmu."


"Serius?" ujar Pardi sambil mengulurkan tangan seperti hendak mengawali kerjasama.

__ADS_1


"Yah! tapi idenya harus yang berlian, dan tidak membahayakan seperti kemarin, ketika kita melakukan kerjasama dengan si Sobri, si kurang ajar itu!"


"Baik....! baik......! Oke siap! Ya sudah, saya pamit dulu," ujar Pardi sambil mengangkat tubuhnya kembali, tanpa menunggu jawaban Ujang, dia pun keluar dari rumah terbesar di sukadarma, dengan bergegas dia pun pulang ke rumahnya. Yang tak jauh dari depan rumah Ujang.


Sesampainya di rumah, dengan cepat dia pun membersihkan badan terlebih dahulu, meski hari itu tidak bekerja, namun rasanya tidak enak kalau seharian tidak mandi.


"Mau ke mana Kang, kok rapi amat?" tanya istrinya Pardi yang melihat suaminya, sudah bersiap-siap dengan berdandan rapi seperti hendak pergi jauh.


"Ada urusan sedikit Sanah, doakan Akang agar mendapat hasil terbaik, dan hasil yang sangat banyak," jawab Pardi sambil menyisir rambut yang terlihat sudah panjang.


"Urusan apa, tumben-tumbenan Akang serapih ini?" tanya Hasanah menyampaikan insting wanitanya, yang menangkap kejanggalan ketika suaminya berpakaian rapi seperti itu.


"Ada deh! kamu nggak perlu tahu, nanti kamu menikmati hasilnya aja!" jawab Pardi sambil tetap tersenyum senyum, seolah hendak menemukan kebahagiaan.


"Jangan-jangan, Akang mau cari yang muda?"


"Hush! Kalau ngomong itu dijaga, nanti jadi doa. lagian punya istri kamu saja belum habis, walaupun Akang pakai setiap malam," jawab Pardi sambil mencubit dagu istrinya dengan manja, pembawaan hati yang senang, sehingga dia bisa senakal itu.


"Iiiiiiiih, apaan sih kang! Ya iyalah nggak habis, emangnya Sanah makanan yang setiap malam akang grogoti. sanah  kan orang bukan makanan, jadi nggak akan habis habis. Lagian punya Akang yang dimakan Punya Sanah," jawab Hasanah sambil menepis tangan Pardi.


"Pinter! Oh iya, si Malik ke mana?" tanya Pardi yang dari tadi dia tidak melihat anaknya.


"Biasa lagi main sama anak tetangga, kenapa?"


"Nggak apa-apa, nanya aja."


"Halah orang pelit seperti itu, Jangan diharapkan. dia baik ketika ada angin surga. Ya sudah, jangan banyak ngobrol dulu akang mau bekerja," jawab Pardi sambil mengulurkan tangan yang disambut oleh istrinya. kemudian Hasanah mendekatkan punggung tangan itu ke dekat bibirnya.


Akhirnya Pardi mengecek kembali dandanannya di cermin. setelah dirasa rapi, dia pun keluar dari rumah Bilangnya mau bekerja.


"nanti pulang Mau dibawain apa?" tanya Pardi setelah mengkik starter motor bebek yang Sudah usang.


"Tumben tumbenan baik amat, menawarkan seperti itu?"


"Yey! ditawarin salah, gak ditawarin dibanding-bandingkan dengan suami orang lain. Dasar perempuan!"dengus Pardi karena mungkin memang kebiasaan para istri seperti itu. mereka meminta oleh-oleh tapi kalau ditawarin seolah tidak percaya. mungkin juga ini kesalahan Pardi, yang tidak pernah membawa buah tangan apa-apa ketika dia pulang ke rumah.


"Kayaknya martabak telor yang ada di dekat kantor Desa enak tuh Kang,"


"Kata siapa?:


"Kata orang orang lah, kan kita belum pernah beli."


"Mahal Sanah! empat biji harganya Rp30.000, mending kamu beli telur di warung. Rp30.000 udah dapat sekilo," jawab Pardi yang sangat mengesalkan, Awalnya dia menawarkan tapi ujung-ujungnya menolak permintaan Hasanah.


"Tau ah! Tadi nawarin. Ya sudah, sana buruan pergi Nanti keburu magrib." usir Hasanah sambil masuk ke dalam, mengobrol dengan suami seperti itu tidak ada gunanya.


Melihat Hasanah yang masuk ke dalam rumah dengan menekuk wajah, Pardi hanya mengulum senyum kemudian dia mulai menarik tuas gas, sehingga motor yang ditumpanginya melesat meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


Pardi terus mengendarai motor, hingga akhirnya dia sampai di gapura Kampung. dia terus keluar dengan mengendarai motor, namun ketika ada gang kecil yang di atasnya terlihat ada gapura dengan tulisan, "selamat datang di kampung sukaramah." Pardi masuk ke gang itu, dia terus mengendarai motor hingga akhirnya tiba di salah satu rumah. terlihat Sobri yang tersenyum menyambutnya.


Pardi tidak turun dari motor, karena Sobri yang sejak dari tadi menunggu dia menghampirinya. kemudian pria berkulit hitam itu memindai area sekitar, takut ada orang yang lewat atau yang mengetahui pertemuan itu. namun setelah diperhatikan ternyata tempat itu sangat sepi, karena biasanya ketika mendekati waktu maghrib orang-orang sudah bersiap-siap untuk pergi ke masjid. Setelah memastikan bahwa tempat itu sangat aman, Sobri pun mengeluarkan amplop berwarna coklat, dengan menyembunyikan gerakan. Pardi yang sudah tahu itu, dengan cepat mengambil Amplop yang diserahkan, lalu menyimpannya dengan rapi.


"Gak mampir dulu kang Pardi?" tanya Sobri sambil mengulum senyum, perbawaan hati yang bahagia, membuat bibirnya terus melebar memamerkan gigi yang sudah tidak ada.


"Lain kali aja Bri, Terima kasih ya."


"Siap, sama-sama! nanti lain kali kita atur rencana lagi untuk memeras si Ujang."


"Sudah cukup bri, mungkin uang 75 juta, cukup buat kamu hidup bersama teman kamu beberapa bulan ke depan. kalau keseringan, Nanti lama-lama kita ketahuan. kenapa kemarin saya memberikan saran meminta uang ke Ujang 100 juta, agar kehidupan kita bisa layak dan damai. Dan agar kita tidak berurusan lagi dengan orang yang bernama Ujang, karena dia sangat licik dan sangat pintar." Jawab Pardi memberikan pengertian.


"Siap lah! mungkin saya nanti akan membuat usaha kecil-kecilan, agar uang itu bisa bermanfaat!" jawab Sobri sambil tetap celingukan, takut pembicaraan itu ada yang mendengar.


Setelah mendapat apa yang menjadi haknya, Pardi pun kembali meng-kick starter motornya. sehingga motor bebek yang sudah berkarat itu menyala. setelah berpamitan motor itu meninggalkan rumah Sobri Kembali keluar gapura.


Setelah meninggalkan kampung sukaramah, Pardi mengendarai motor menuju ke arah desa, di mana tukang jualan martabak telor berjualan di sana. sebelum sampai, dia berhenti di tempat yang terlihat sepi, kemudian mengambil Amplop yang diberikan oleh Sobri, dengan menghiasi wajahnya yang dipenuhi oleh senyum.


Setelah amplop itu dikeluarkan, dia mulai mengintip kedalam amplop itu, terlihat ada dua gepok sama setengah uang berwarna merah. Pardi sudah bisa menebak bahwa uang itu tidak akan kurang dari 25 juta, Karena dia tahu kalau Sobri bukan orang yang suka menghianati janjinya.


Didekatkannya amplop itu ke dekat hidung, untuk menikmati wangi uang berjumlah 25 juta. Setelah Pardi mencium uang itu, terlihat dia memejamkan mata. seolah hidungnya sangat menikmati wangi uang itu.


"Makanya jangan pelit sama bawahan Kang! Akhirnya saya nekat berbuat seperti ini," gumam Pardi dalam hati, sambil memasukkan kembali amplop itu ke dalam jaketnya. namun tak lupa dia mengambil beberapa uang lembaran itu untuk membeli martabak telur, dan dia berniat menyerahkan sebagian uang itu terhadap istrinya.


Sesampainya di tukang martabak, Pardi memesan dua porsi martabak telur yang berukuran jumbo, Bahkan bukan martabak telur saja yang dia pesan, Pardi menambahkan pesanannya dengan martabak kacang dan martabak keju. menurutnya 150.000 dari 25 juta itu bukan apa-apa. sesekali dia ingin membahagiakan istri dan anaknya, yang tidak pernah memakan makanan yang mahal seperti itu. paling banter dia membelikan bakso yang suka lewat ke depan rumahnya, itupun dia mau membelikan Karena harganya murah hanya Rp7.000 semangkuk.


Setelah pesanan dibuat, Pardi pun membayar martabak itu, kemudian dia pun pergi meninggalkan penjual martabak dengan membawa hati yang sangat senang. karena baru saja mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari memeras kakak iparnya.


Keadaan yang mulai gelap, sehingga dari arah sawah terdengar suara kodok yang saling bersahutan dengan kodok yang lainnya, mungkin sedang memberitahu rekan-rekannya, bahwa waktunya keluar sudah tiba. serangga-serangga yang suka bersuara di malam hari, Mulai menunjukkan eksistensi sebagai hewan malam, suaranya yang kencang membuat suasana perkampungan Begitu Terasa.


Di jalan desa yang aspalnya sudah terkelupas, kalau siang hari akan nampak jelas bahwa jalan itu seperti sungai kekeringan. terlihat ada motor yang sedang melaju dengan kecepatan sedang, menghindari batu-batu besar yang berserakan di jalan.


Motor itu terus melaju menyusuri Jalan Desa, sehingga masuklah ke kampung sukadarma. motor yang dikendarai oleh Pardi terus melaju hingga akhirnya Terhenti Di depan salah satu rumah, yang berhadapan dengan rumah yang paling besar di kampung itu.


Sebelum turun dari motor, dia menatap sebentar ke arah rumah kakak iparnya, yang terlihat terang benderang oleh cahaya lampu penerangan. namun tak terlihat ada orang di depan, karena rumah sebesar itu hanya diisi oleh dua orang saja.


"Sudah pulang Kang?" tanya Hasanah yang keluar dengan memakai mukena, Mungkin dia baru selesai melaksanakan salat magrib.


"Sudah! kan kamu lihat Akang sudah di sini."


"Itu apa kang di bagasi motor?" Tanya Hasanah tak memperdulikan jawaban suaminya yang sangat menyebalkan. matanya tertuju ke arah kantong kresek berisi dus yang dikaitkan di rak depan motor suaminya.


"Apal saja kamu!" jawab Pardi sambil melepaskan kaitan kantong oleh-olehnya, kemudian dia menyerahkan kantong plastik itu ke arah Hasanah yang tersenyum-senyum.


"Apa ini Kang?"


"Cium aja, itu apa!" seru Pardi yang mendorong motor untuk dimasukkan ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2