
Sambutan
Kira-kira pukul 01.00, akhirnya mobil SUV putih milik Kirana sudah sampai di komplek perumahan mewah yang berada di Menteng, mobil itu terus menyusuri Gang hingga terhenti di salah satu rumah termewah yang berada di komplek itu, rumah berlantai dua dengan desain minimalis.
Fathan pun keluar dari mobil kemudian dia menghampiri satpam yang berjaga, dia tidak menekan klakson karena dia sangat mengerti dengan sopan santun, tidak baik membunyikan benda-benda berisik, apalagi di keadaan malam seperti sekarang.
"Assalamualaikum, Selamat malam Pak!" ujar Fathan sambil manggut memberi hormat.
Namun tidak ada jawaban, karena orang yang disapa oleh Fathan sedang duduk sambil sandaran di sebuah kursi, kepalanya mendongak ke atas, mulutnya sedikit terbuka dan dengkuran kasar terdengar sampai keluar pintu gerbang.
"Assalamualaikum....!" ujar Fathan untuk yang kedua kalinya, namun penjaga rumah Wira tak bergeming, hingga Fathan harus mengulang beberapa kali. akhirnya penjaga itu terbangun kemudian dengan sigap menatap tajam ke arah Fathan yang berdiri di luar pintu gerbang.
"Siapa....? mau apa?" Tanya satpam itu dengan tegas tangannya secepat kilat mengambil pentungan yang tadi tergeletak di bawah kakinya.
"Maaf mengganggu, saya Fathan!" kenal sang petani sambil tetap mengulum senyum.
"Fathan siapa?" Tanya satpam yang mengerutkan dahi, karena dia hanya baru sekali bertemu dengan Fathan, ketika sang petani itu mengungkapkan perasaannya terhadap Kirana.
"Saya Fathan, teman Bu Kirana," jelas Fathan yang menggaruk kepala yang tidak terasa gatal, karena dia bingung menjelaskannya Seperti apa. mau meminta bantuan kekasihnya, dia tidak tega karena Kirana sedang tertidur dengan lelap.
"Bu Kirana sudah lama meninggalkan rumah, sudahampir setahun lebih, kamu jangan mengada-ngada!"
"Maaf pak, kalau bapak nggak percaya Bapak bisa lihat, orangnya ada di mobil! dan lihat ini juga mobil Bu Kirana." jelas Fathan yang mulai kesal.
"Coba mana saya lihat!" pinta satpam itu tanpa mengendorkan kewaspadaan, dia pun keluar dari gerbang kemudian melihat ke dalam mobil. setelah memperhatikan agak lama dia pun kembali menatap ke arah Fathan.
"Ini Pak Fathan, pacarnya Bu Kirana?" Tanya satpam itu memastikan.
"Betul..! tolong buka pintunya!" ujar Fathan.
Setelah merasa yakin satpam itu pun membuka pintu gerbang, setelah pintunya terbuka Fathan kembali masuk ke dalam mobil, lalu memasukkan mobilnyanya ke carport Rumah Wira karna.
__ADS_1
Setelah mobilnya terparkir dengan sempurna, FathanĀ mematikan mesin mobil, lalu menatap ke arah gadis yang terlelap di sampingnya. dia terdiam sambil terus memindai wajah Kirana yang terlihat sangat cantik meski sedang tidur.
Dari arah teras terlihat ada cahaya lampu yang keluar dari dalam karena pintu rumah itu terbuka. Winda yang mengetahui anaknya mau pulang, sejak dari tadi dia tidak bisa tidur dengan terlelap, sehingga hampir setengah jam sekali dia mengecek keadaan di luar rumah.
Ketika Mendengar suara pintu gerbang dibuka, Winda dengan cepat keluar dari rumah. setelah melihat ada mobil anaknya terparkir, dengan cepat dia berlari menuju ke arah mobil itu. rasa kangen yang sudah memenuhi dada, tercampur dengan rasa haru sehingga sambil berlari sambil Memanggil nama anaknya.
Fathan yang melihat calon mertuanya menghampiri, dia pun dengan segera keluar lalu mengulurkan tangan untuk mengajaknya bersalaman, namun Winda menolak uluran itu dan menjauh seperti sangat marah.
"Maaf jaga jarak...! kita masih ada di situasi yang sangat genting," tahan Winda menjelaskan agar prasangka Fathan tidak kemana-mana.
"Maafkan saya bu! kalau saya mengganggu."
"Nggak apa-apa, dimana anak saya?" tanya Winda air matanya tak berlindung menahan kebahagiaan.
"Di mobil Bu! sedang tidur," jawab Patan yang menundukkan pandangan.
Winda pun berlari menuju ke arah mobil, kemudian dia membuka pintunya. Sebenarnya dia ingin segera memeluk Kirana. namun situasi pandemi covid yang masih mengganas, Dia mengurungkan niat, dia hanya menatap anaknya yang sedang tertidur pulas, dari luar mobil.
Fathan mengangguk, kemudian dia masuk kembali ke dalam mobil. dengan perlahan Fathan pun membangunkan Kirana, membuat mata gadis itu perlahan terbuka, kemudian matanya yang indah memindai area sekitar.
"Sudah sampai ya?" tanya Kirana.
"Sudah...! Ibu juga sudah menunggu, Namun kita tidak bisa langsung menemui mereka. Soalnya kita harus didesinfektan terlebih dahulu, Jakarta pertumbuhan kasus kopidnya sedang mengganas."
"Seperti itu?" jawab Kirana sambil menatap ke arah luar Di mana ibunya sedang mengobrol dengan satpam rumah, Kirana keluar dari mobil lalu menghadap ke arah sang ibu.
"Maafkan Ibu bukan tidak mau memelukmu, namun kita harus menjaga jarak, sebelum kalian melakukan rapid test. nanti mobil Kalian juga akan disinfektan," jelas Winda yang menatap nanar ke anaknya.
"Iya Bu, Aku kangen sama Ibu...!" jawab Kirana yang menatap nanar ke arah ibunya, namun dia tidak bisa memeluk orang yang selama ini dia kangenin.
"Sabar ya nak...!" ujar Winda yang sebenarnya sama ingin memeluk anaknya.
__ADS_1
Satpam yang tadi disuruh oleh Winda, sekarang terlihat sudah kembali dengan membawa semprotan air penyiram tanaman. setelah menjelaskan dia pun menjalankan tugasnya menyemprot Fathan dan Kirana, meski itu sangat berlebihan, namun mereka tidak bisa menolak. karena kondisinya memang sangat genting. berbeda dengan di kampung sukadarma, yang dengan kejadian seperti ini, mereka lebih takut tidak makan daripada mati terserang penyakit virus.
Setelah semuanya di semprot disinfektan, mereka berdua pun disuruh mengganti baju terlebih dahulu dengan baju yang sudah disiapkan oleh Winda, di kamar mandi yang berada di luar rumah.
Wira karna yang mendapati istrinya tidak ada di samping, dia pun bangkit lalu menuju ke arah luar, terlihat istrinya sedang sibuk menyambut kedatangan anaknya.
Pria tua itu pun menghampiri, tanpa berbasah basi dia memeluk anaknya dengan dijatuhi butiran air mata. meski Winda beberapa kali mengingatkan, kalau suaminya harus berhati-hati, takut-takut Kirana membawa virus.
"Kamu nggak pilek kan, kamu nggak sakit kan?" tanya Wira yang menatap anaknya.
"Bapak...! Kirana sangat baik, bahkan baik sekali...! Maafkan Kirana kalau selama ini merepotkan bapak," ujar Gadis itu dengan tersendu, tak kuat menahan kesedihan dan kebahagiaan yang memenuhi dada.
Melihat anak dan bapak yang sudah berpelukan, Winda yang sebenarnya dari tadi ingin melakukan hal yang sama. dia pun berlari kemudian memeluk anaknya, hingga akhirnya suara tangis kebahagiaan pun pecah di halaman rumah.
Mereka berdua menggandeng Kirana masuk ke dalam rumah, meninggalkan Fathan yang masih menatap nanar, karena ikut terbawa situasi yang penuh haru. namun untuk mengikuti dia tidak berani, kalau tidak diajak hingga akhirnya dia menghampiri satpam yang sedang mendesinfektan mobil Kirana.
"Perlu bantuan Bang?" tanya Fathan.
"Nggak usah, mending Pak Fathan masuk ke dalam, ini sudah malam nanti masuk angin, apa lagi barusan habis disemprot."
"Fathan....! Ayo masuk," terdengar suara-suara laki-laki yang memanggil, dia baru sadar bahwa anaknya pulang tidak sendirian, sehingga dia pun Kembali keluar rumah.
Dengan menundukkan pandangan, Fathan menghampiri Wira lalu mengajaknya bersalaman. "Maafkan saya pak, telah merepotkan Bapak!" hanya kata itu yang terucap ketika dia mencium punggung tangan calon mertuanya.
"Nggak merepotkan kok, cuma Bikin kesal saja! karena kamu sudah menculik anak saya," jawab Wira yang mengulum senyum.
"Sekali lagi saya mohon maaf Pak!"
"Ayo ngobrolnya di dalam, katanya kalian belum makan dari tadi berangkat." ajak Wira sambil menggandeng Fathan masuk ke dalam rumah langsung menuju dapur, terlihat banyak makanan yang sudah terhidang di meja.
"Sebelum kalian istirahat, kalian isi perut dulu!" ujar Winda sambil memberikan piring kepada calon menantunya.
__ADS_1
Akhirnya keluarga Wira karena pun terlarut dalam kebahagiaan, karena anaknya yang sudah setahun meninggalkan rumah, sekarang sudah datang diantarkan oleh pria pujaannya.