
KERANJANG SAYUR
"Jadi begini Pak RT, dan para warga semuanya. maaf menggurui." ujar Fathan sambil manggut dibarengi senyum memberi penghormatan kepada semua warga yang masih tinggal di situ.
"Lanjutkan!" jawab Pak RT mempersilahkan.
"Setiap anggota kelompok usaha bersama, pasti akan menyerahkan pengurusan tanah untuk dijadikan lahan pertanian. tanah yang diserahkan kepengurusannya, maka tanah itu menjadi hak milik kelompok. Namun bukan hak milik sepenuhnya, tapi hak guna tanah untuk dimanfaatkan."
"Terus?"
"Setelah kepengurusan tanah menjadi hak kelompok, maka kewajiban anggota kelompoknya, adalah mengurus, merawat, menjual hasil. Nah! dari keuntungan penjualannya maka akan dibagi rata!" jawab Fathan melanjutkan pembahasan.
"Cara pembagiann hasilnya, bagaimana?"
"Cara pembagian hasilnya, sangat mudah! kita bertani membutuhkan modal. untuk tahap awal, maka kita akan membagi hasil setelah modal kita kembali."
"Waduh lama dong, kita dapat hasil kalau seperti itu?:
"Nggak! nggak akan lama. contoh modal kita 500 juta, Taruhlah! penghasilan sebulan 100 juta, maka setelah waktu 5 bulan, kita sudah mendapatkan hasil dari pertanian kita. 100 juta dibagi, kalau yang gabung 20 orang. maka di bulan ke-6 setiap orang yang tergabung ke dalam kelompok. mendapatkan hasil 5 juta perbulan, itu alternatif pertama. alternatif kedua, saya akan memberikan gaji sesuai UMR Kabupaten Sukabumi. sisanya baru dipakai membayar modal, namun ini membutuhkan waktu sangat lama sampai kita bisa mendapat hasil 5 juta per bulan." Fathan menjelaskan sangat rinci, membuat para warga yang hendak ikut saling menatap dan bertanya.
"Emang UMR Kabupaten berapa?" Tanya pak RT.
"2,5 juta, Pak!"
"Kayaknya dengan penghasilan uang segitu, taraf kehidupan kita akan naik. biasanya pengeluaran keluarga kampung kita hanya 30 sampai Rp30.000 per hari." jawab Pak RT membuat para warga manggut-manggut, membenarkan apa yang disampaikan oleh ketua Kampung mereka.
"Kira-kira kita bisa berpenghasilan 5 juta per bulan, kalau menggunakan alternatif kedua, itu kapan?"
"Gampang! berarti kalau penghasilan kita 100 juta per bulan. dikurangi 50 juta untuk gaji para anggota 2,5 juta. maka sisanya 50 juta. tinggal 500 dibagi 50. berarti bulan ke-11 baru kita bisa merasakan penghasilan sebesar itu."
"Wah! kayaknya alternatif kedua sangat menggiurkan, kita tidak harus menunggu waktu 5 bulan untuk mendapatkan hasil."
"Itu terserah kesepakatan anggota kelompok, saya sebagai penyedia. Saya hanya menampung dan melaksanakan apa yang menjadi keinginan para anggotanya."
"Tapi kalau penghasilan nya dibagi rata, apa orang yang memiliki tanah luas seperti saya, bisa mendapat lebih. Nanti saya bisa rugi dong, kalau pendapatan saya sama dengan pendapatan Badru, yang hanya memiliki tanah 700 meter."
__ADS_1
Mendapat pertanyaan seperti itu Fathan pun hanya tersenyum. "Maaf sebelumnya, kita mendirikan kelompok usaha ini. tujuannya untuk memajukan Kampung, bukan memajukan perorangan! jadi semua anggota harus ikut maju, tanpa melihat investasi tanah. karena kita akan mengurusnya bersama-sama!" jawab Fathan memberi pengertian.
"Apa tidak bisa kalau tanah saya diurus saya sendiri, dengan bantuan Fathan. nanti hasil panennya saya jual ke Fathan." tanya Pak RT.
"Bisa aja, silakan! tapi modal sendiri, cara bertani sendiri. paling Saya hanya membantu sebisa saya, semampu saya."
"Berarti nggak bisa ya, kalau seperti itu?"
"Nggak bisa, Pak! soalnya kalau menanam sendiri-sendiri nanti tanaman kita akan sama, karena kita akan memilih pengurusan tanaman yang mudah diurus. ketika tanaman kita sama, maka harga akan turun. karena banyaknya barang yang harus dijual. berbeda kalau kita mengurus tanah bersama-sama, Selain Kita bisa menguasai semua ilmu pertanian, tentang tata cara menanam sayuran. Kita juga bisa mengontrol produksi, Agar tidak meluap!" Jelas Fathan membuat Pak RT menggut-manggut mengerti dengan apa yang disampaikan oleh anak muda itu.
"Bagaimana para warga, Apakah sudah paham dengan apa yang disampaikan oleh Fathan, kalau saya sudah mulai mengerti." Tanya Pak RT sambil membagi tatapan ke arah para warganya.
"Paham-paham!" jawab warga dengan serempak.
"Ya sudah! kalau semuanya paham, kita akan mulai dari menentukan Bagaimana cara pembagian hasil kita, kira-kira mau pembagian hasil yang seperti apa, mau yang pertama atau yang kedua?" tanya Fathan.
"Yang kedua?" jawab mereka serempak.
"Oh iya, Tan! kira-kira Apa nama kelompok usaha bersama kita? harus memiliki nama dong, biar enak menyebutnya." ujar Pak RT memberikan saran.
"Sampai lupa saya memberi nama. kelompok usaha tani kita adalah. "keranjang sayur"
"Karena saya ingin kelompok usaha bersama milik kita ini. menjadi penampung inspirasi, penampung aspirasi, penampung hasil pertanian kita, penampung peringan kehidupan kita. layaknya keranjang pada umumnya, yang bisa memudahkan semua pekerjaan kita." Jelas Fathan menerangkan filosofinya.
"Bagus! bagus!" puji pak ustad.
"Namun setiap kelompok harus ada struktur organisasi. agar kelompok itu terorganisir, karena menurut Pak Ustad, kebaikan yang tak terorganisir akan terkalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Bukan begitu pak ustad ?" Tanya Fathan sambil menatap ke arah pak ustad, yang ditatap pun mengangguk seolah membenarkan apa yang disampaikan oleh Fathan. "Kita butuh ketua, wakil ketua, sekretaris bendahara. dan seksi-seksi lainnya!"
Akhirnya malam itu para anggota kelompok usaha bersama keranjang sayur. menentukan siapa yang akan menjadi ketua mereka. Warga pun bersepakat memilih Fathanlah yang akan menjadi ketua KUB. keranjang sayur, sedangkan bendaharanya adalah Farah, wakil ketuanya adalah Kamal. namun yang belum terisi adalah sekretaris."
"Bagaimana kalau Zahra anaknya pak ustad, yang menjadi sekretaris!" usul Pak RT.
"Silakan! boleh, soalnya pendidikan pondok pesantren anak saya sudah selesai. Kasihan dia kalau diam terus di rumah." jawab Pak Ustad.
"Coba Tolong panggil teh Zahra!" Seru Pak RT sama anak kecil yang ikut bergabung.
__ADS_1
Dengan cepat anak kecil itu berlari, menuju ke arah rumah Pak Ustad. tak lama menunggu anak itu sudah kembali sambil diikuti oleh Zahra.
Pak ustad pun mulai menjelaskan tentang apa yang hendak mereka lakukan. akhirnya setelah mendapat penjelasan, Zahra pun setuju dengan keputusan para warga yang menjadikannya sebagai sekretaris.
Setelah susunan organisasi terbentuk, Fathan pun memberikan arahan kepada para warga, untuk segera menyerahkan kepengurusan tanah, kepada keranjang sayur agar tanah itu bisa segera diproses.
Akhirnya rapat malam itu ditutup doa oleh pak ustad, para warga yang tergabung dalam kelompok usaha bersama, mereka pulang dengan membawa Harapan Baru, untuk merubah kehidupan mereka, agar semakin membaik.
Keesokan paginya, para warga pun mulai menandatangani surat perjanjian ke pemindahan pengurusan tanah. yang dibuat oleh kelompok usaha bersama, setelah penyerahan pengurusan tanah. Mereka pun mulai membangun kerajaan usaha mereka diketuai oleh Fathan.
Kita tunda cerita Fathan yang sedang mengembangkan pertanian di kampungnya, kita akan menceritakan seminggu sebelumnya di tempat yang berbeda, namun masih satu cerita.
Kita akan menceritakan cerita yang sudah lama kita tidak bahas, kita akan kembali ke gemerlapnya kota Jakarta.
Di kantor properti yang berada di jalan TB Simatupang, terlihat ada seorang gadis yang sedang memainkan bolpen, mencorat-coret kertas dengan menahan dagunya memakai tangan. Seperti orang yang sedang menunjukkan kebingungan.
Karena semenjak tahu kekasihnya ingin bertani, keluarganya pun menolak. karena kedua orang tuanya, Mereka ingin memiliki menantu yang bisa meneruskan perusahaan mereka, bukan memilih untuk bertani. sehingga kebahagiaan yang sudah ada di depan mata, lenyap seketika, Menghilang bagai asap yang diterpa oleh angin.
Bahkan Fathan setelah mendapat penolakan dari kedua orang tuanya, dia benar-benar pergi dari Jakarta, tanpa memberikan kabar kembali. beberapa kali Kirana, bahkan hampir setiap hari menghubungi pria itu, namun sama sekali pria itu tidak pernah mengangkatnya. kalaupun mengangkat hanya berbasa-basi sebentar, lalu telepon itu diputus. membuat Kirana semakin uring-uringan dan hidupnya merasa Hampa.
Siang itu setelah waktu istirahat tiba, wanita cantik itu pun menghentikan corat-coret nya. Dengan menarik nafas pelan Dia pun mulai bangkit dari tempat duduknya meninggalkan singgasana yang terasa tak mengasyikkan. Dia keluar menuju kantin, untuk mengisi perutnya yang sama sekali tidak berselera. Sesampainya di kantin terlihat beberapa karyawan yang sedang makan sambil mengobrol.
"Hebat ya, Pak Fathan! kirain saya dia hanya bercanda ingin bertani, tapi melihat keberhasilannya sekarang. saya sangat kagum, karena saya sempat mengenal orang terbaik dan secerdas beliau." terdengar suara karyawan yang menyebut nama orang yang sedang ia pikirkan.
Dengan cepat Kirana pun ikut bergabung dengan mereka, membuat para karyawan terdiam seketika, merasa senggan dengan status anak atasannya.
"Kalian lagi ngomongin apa sih? kayaknya serius banget." tanya Kirana.
"Ini Bu! Pak Fathan, membuat channel YouTube tentang pertanian. hebat ya sekarang, dia sudah menjadi sang petani sukses." Puji Andi sambil menunjukkan handphonenya.
Kirana pun melirik sebentar, namun dia terfokus dengan nama akun channel yang ditunjukkan. "Buat apa kamu menunjukkan itu sama saya, Lagian saya sudah tidak mengenal orang sombong itu!" jawab Kirana menunjukkan raut wajah kesal, membuat Andi menarik kembali handphonenya.
"Maaf Bu! Maaf saya hanya merasa bangga, memiliki sahabat yang berintegritas seperti Pak Fathan."
Mendengar penuturan Andi, Kirana pun bangkit lalu mendekati waiter. kemudian Dia menyuruh makanannya dibungkus, karena menurut pengakuannya, selera makannya hilang seketika.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan kantor, dengan cepat dia pun mengunci pintun, lalu membuka makanan yang baru ia beli. sambil makan, Kirana mengambil handphone dari dalam tas. kemudian dia membuka aplikasi penayang video lalu menulis di kotak pencarian dengan tulisan "keranjang sayur"
"Semakin hitam kamu, semakin manis. seperti kecap yang selalu membuat rasa gurih dalam setiap masakan." gumam Kirana, matanya terus terfokus melihat orang yang ada dalam video, sedang menjelaskan pertanian yang ia garap.