
Kapam melamar kirana
"Iya kalau melihat Fathan, kadang saya suka merasa sedih dan merasa kasihan, sampai sekarang dia belum sempat memikirkan kebahagiaan yang sudah di depan mata. Bu Kirana yang sudah hampir setahun menunggu, tak kunjung Ia lamar, karena terfokus memikirkan kita," ujar Kamal mengungkapkan kekhawatirannya.
"Benar kasihan juga sama bu Kirana yang sampai saat ini digantung tanpa kepastian, sering kita dengar kalau Fathan menjanjikan bulan depan, bulan depan, namun sampai saat ini Fathan belum juga mewujudkannya, apa jangan-jangan Fathan nggak suka sama Kirana?" Timpal salah seorang anggota.
"Nggak mungkin nggak suka, saya bisa melihat sorot mata sang petani itu ketika melihat Bu Kirana. Dia sangat menyayangi gadis ibukota itu namun dia tidak punya waktu untuk memikirkannya, karena Fathan terlalu sibuk memikirkan kita, dan kadang orang-orang pintar seperti Fathan, tidak bisa ditebak Jalan pikirannya seperti apa," Timpal Kamal menyahuti.
"Tapi kalau Kang Fathan Jadi nikah sama Bu Kirana, Saya adalah orang pertama yang akan merayakannya, bahkan saya siap menyumbangkan semua gaji saya selama satu bulan, yang terpenting kebahagiaan pemimpin kita yang paling utama," ujar Asep ikut nimbrung.
"Kamu enak bisa berbicara seperti itu, karena kamu belum memiliki tanggungan. Kalau kami tidak bisa, karena kami sudah memiliki anak dan istri yang harus dinafkahi, Kalau gaji 1 bulan kamu serahkan sama Fathan nanti kami makan apa?"
"Iya saya juga tahu, Lagian saya kan nggak mengajak bapak-bapak untuk ikut, saya hanya mengungkapan kebahagiaan seorang bawahan ketika atasannya berbahagia.
Akhirnya gudang pun kembali riuh dengan obrolan obrolan ringan, sambil diselingi candaan candaan. namun meski seperti itu, rasa khawatir rasa takut, tidak bisa terelakkan karena mereka sudah mengetahui, bagaimana sengsaranya kalau ada daerah yang dikenakan pembatasan sosial berskala besar.
Hari-hari berikutnya kesulitan pun mulai terasa, gudang penyimpanan hasil panen sudah penuh, dan hasilnya mulai membusuk diakibatkan tidak bisa dikirim ke pasar, apalagi Supermarket sudah menutup tempat usahanya. walaupun bisa mengirim, itupun hanya berjumlah kecil tidak bisa menampung seluruh hasil pertanian keranjang sayur.
Kamal dan Idan yang mengetahui kenyataan yang sedang menimpa kelompok taninya, dia menemui Fathan yang sedang duduk di bangku panjang yang berada di samping keranjang sayur. Sang petani itu terlihat murung tidak bersemangat seperti biasanya.
"Ganggu nggak Tan?" tanya Kamal yang menatap penuh kesedihan, setelah melihat orang yang selalu ia banggakan termenung tak bergeming, karena semenjak diberlakukan psbb Fathan lebih sering berdiam seorang diri.
"Eh, mang Kamal, nggak kok Mang, Silakan duduk!" jawab Fathan sambil menggeserkan tempat duduknya memberi ruang kepada anak dan bapak yang baru datang.
"Mau ngopi?" tanya Idan.
"Boleh....!" jawab Fathan yang merasa penat.
__ADS_1
"Bapak juga ya Dan!"
"Bapak Nggak usah ngopi-ngopi, soalnya kan menurut keterangan dokte, bapak tidak boleh ngopi dulu, sebelum Bapak sembuh dan beraktivitas seperti biasa!"
"Ya sekarang udah setahun, kan dulu bapak dirawat tahun 2019, sekarang sudah 2020," jawab Kamal sambil mengulum senyum berharap permintaannya dikabulkan oleh Idan.
"Ya sudah, tunggu...!" jawab Idan sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke dapur untuk membuatkan kopi.
DiSamping kantor keranjang sayur pun kembali Hening, hanya suara burung-burung berkicau dari arah kebun yang sedang mencari makan, burung-burung itu terlihat sangat berbahagia berbeda dengan seluruh anggota keranjang sayur yang sedang merasakan sedih. karena sudah beberapa hari ini hasil pertanian mereka menumpuk di gudang, tanpa tahu harus dijual ke mana.
Kamal dan Fathan mereka berdiam mengantar lamunan masing-masing, membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan menimpa kehidupannya, kalau mereka tidak cepat menemukan solusi masalah pandemi.
"Lah, kok pada ngelamun. tumben amat! biasanya Bapak dan kamu sering ngobrol," ujar Idan yang baru keluar dari arah dapur sambil membawa nampan berisi tiga gelas kopi.
"Mau ngobrol apa, aku bingung dan!" jawab Fathan yang menghela nafas.
"Masalah yang kita hadapi adalah, masalah yang sangat berat, karena bukan kita saja, bukan warga kampung sukadarma doang yang mengalami musibah ini, seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia merasakan hal yang sama. jadi ini adalah masalah yang sangat rumit. jangankan kita, orang-orang yang memiliki kecerdasan yang di atas rata rata pun tidak bisa mencari solusi, agar bisa keluar dari masalah ini," jawab Fathan mengungkapkan kegelisahannya.
"Iya benar...! jangankan kita yang masih negara berkembang, negara-negara yang sudah maju seperti Perancis, Amerika bahkan negara asal terjadinya covid, mereka sangat keteteran menghadapi pandemi yang sangat mematikan," timpal Kamal membenarkan.
"Benar Mang, walaupun pasar di Sukabumi tidak tutup total, namun mereka membatasi penerimaan jumlah barang, karena para pedagang di pasar pun tidak mau rugi soalnya menurunnya daya beli. Bagaimana tidak menurun sedangkan orang-orang yang bekerja harus tinggal di rumah, ditambah pekerjaan tidak semua bisa diselesaikan di rumah, seperti tukang bangunan, tukang konstruksi dan pekerja-pekerja lapangan lainnya, ini sangat mengganggu stabilitas ekonomi."
"Iya Benar karena yang memutarkan roda perekonomian para pedagang adalah para pekerja, Sedangkan para pekerjanya di rumahkan, bahkan pabrik pun sudah mulai tutup," Timpal Kamal yang membenarkan kembali ucapan sang petani itu.
"Terus apa kamu punya solusi untuk masalah kita?" tanya Idan sambil menatap ke arah sepupunya.
"Bingung dan! Sebenarnya ada rencana tapi bagaimana caranya?" jawab Fathan yang terlihat kembali menghela nafas, seolah sedang melepaskan beban berat yang membelenggu.
__ADS_1
"Solusi apa yang kamu punya, terus kendala apa yang kamu hadapi?"
"Saya Berencana untuk mulai mencoba menjajakan hasil pertanian kita ke warga kampung yang berada di wilayah Sukabumi, karena kalau di perkampungan pembatasan sosial tidak seketat di kota, tapi yang menjadi kendala, warga desa dan warga Kampung tidak terlalu suka mengkonsumsi sayuran, ditambah biasanya mereka punya pertanian sendiri."
"Kalau jualannya jangan ke kampung, kita jualan ke kota saja kebetulan kita memiliki banyak mobil pick up untuk menjajakan hasil pertanian," saran Idan.
"Mau jualan bagaimana, kita melewati perbatasan Kabupaten dan Kota saja harus memiliki surat izin keluar masuk, kita hanya diperbolehkan mengirim sayuran ke pasar, itu pun hanya 10% dari hasil pertanian kita. sedangkan kalau kita jualan di kota itu melanggar aturan pembatasan sosial, karena pasti kita akan berkerumun, pasti kita akan bersentuhan," jawab Fathan yang mengungkapkan masalahnya.
"Benar juga ya...!" terdengar tarikan nafas pelan yang dikeluarkan oleh Idan dan Kamal, karena mereka sedang mengalami masalah yang sangat berat. benar apa yang dikatakan sang petani, jangankan mereka yang hanya pengusaha kecil, orang-orang jenius yang ada di dunia saja tidak bisa mencarikan solusi.
"Ya sudah, kita sabar saja, sambil terus berdoa agar pandemi ini segera berakhir. Oh iya Tan, Mamang mau tanya masalah pribadi kamu?: ujar Kamal mengalihkan pembicaraan setelah pemikiran mereka terbentur tidak bisa menemukan solusi dari masalah yang dihadapi.
"Masalah pribadi yang mana Mang?" tanya Fathan sambil menatap ke arah pamannya.
"Kamu emang nggak kasihan sama Bu Kirana yang sudah hampir setahun lebih dia tidak pernah pulang ke rumah orang tuanya, bahkan ketika hari-hari perayaan Islam dia masih tetap tinggal di sini, Demi menunggu kamu," tanya Kamal yang semakin lama dia semakin merasa kasihan sama Kirana, wanita Ibukota yang sangat perhatian sama Fatha, Bahkan dia rela meninggalkan keluarganya Demi Cinta sang petani itu. Kamal ingin tahu, ingin meyakinkan sejauh mana perasaan Fathan sama Kirana.
"Nggak tahu Mang..! Setiap kali saya mau menemui orang tuanya, saya selalu mendapat kendala," jawab Fathan.
"Mumpung sekarang pertanian sedang tidak terlalu sibuk, karena kita tidak bisa menjual hasil pertanian, mending kamu antarkan Kirana pulang, Kalau kamu tidak suka Jangan membuat orang Menunggu, Kalau kamu sayang sama dia, cepat minta sama orang tuanya, masalah menikah kapan itu bisa dibicarakan lagi," saran Kamal.
"Tapi kalau saya mengantarkannya, saya khawatir dengan pertanian keranjang sayur."
"Masalah pertanian biarkan Mamang dan Idan akan mengurus, karena walau kita tidak Sepandai kamu tapi kita memiliki tanggung jawab yang besar."
"Ya mang....!nanti saya pikirkan lagi," ujar Fathan seperti biasa.
"Jangan nanti-nanti, secepatnya kamu harus ajak Bu Kirana pulang, kasihan kalau dia harus menunggu lagi!"
__ADS_1
"Baik Mang!" jawab Fathan sambil menundukkan kepala.