
Kedatangan Seno
Dari arah samping rumah terdengar suara jangkrik yang berbunyi, di Sauhuti oleh suara kodok yang terdengar jauh dari arah sawah. di salah satu rumah yang berdiri tepat di depan rumah termewah di kampung sukadarma. terlihat ada orang yang mendorong motor masuk ke rumahnya, mungkin orang itu takut kalau motornya digondol oleh maling, sehingga motor butut itu harus dimasukkan ke rumah.
"Wah! ternyata martabak telor. Akang Serius beli buat Sanah?" tanya istri Pardi dengan menatap nanar ke arah suaminya, yang sedang menurunkan standar agar motornya tidak terjatu.
"Bukan, buat si Malik!" jawab Pardi.
"Kirain buat Sanah," ujar istrinya yang terlihat menunjukkan raut wajah kecewa. Namun itu tidak lama dia tersenyum manja ke arah suaminya, Mungkin dia merasa senang akhirnya suaminya bisa seperti suami-suami orang lain yang selalu membawakan buah tangan ketika bepergian.
"Buat kamu lah, Neng! buat siapa lagi? Sudah jangan banyak tanya, mending tolong bikinkan Akang kopi biar kita menikmati ini bersama-sama," seru Pardi sambil duduk di atas kursi butut pemberian dari kakak iparnya.
Hasanah hanya mengangguk, kemudian dia pergi ke arah dapur untuk menyeduh kopi sesuai permintaan suaminya. Tak lama dia membuat kopi, karena air panasnya sudah tersedia di termos, sehingga ketika dia membuat kopi dia tinggal menuangkan air itu ke dalam gelas yang sudah diisi dengan kopi dan gula.
Setelah kopi itu selesai dibuat, Hasanah pun kembali ke ruang depan, dengan membawa secangkir kopi dan piring. terlihat suaminya dan Malik sedang bercanda, begitulah Pardi yang selalu menyayangi anak semata wayangnya itu.
"Ibu aku mau martabaknya," Pinta Malik sambil menunjuk ke arah plastik yang belum dibuka.
"Ya Tinggal ambil saja Sih! apa-apa harus ibu," ketus Hasanah.
"Kata bapak nggak boleh, karena itu punya ibu. Malik sebagai anak yang baik tidak boleh mendahului orang tua," jawab anaknya membuat mata Hasanah menatap nanar ke arah suaminya. dia tidak menyangka bahwa suaminya itu memiliki budi pekerti yang sangat baik, sehingga etika dan tata krama diajarkan sejak dini kepada anaknya.
"Kopinya Kang!" tawar Hasanah sambil menyimpan gelas yang terlihat hitam, kemudian dia membuka kantong plastik lalu mengambil kardus di dalamnya.
Mata Hasanah terbelalak, setelah mengetahui bahwa martabak telur itu ternyata dua porsi, ditambah dengan martabak manis yang berisi kacang dan keju.
"Banyak amat Kang?" tanya hasanah sambil memindahkan martabak ke atas piring, kemudian dia mengambil satu potong, lalu diberikan kepada Malik.
"Nggak apa-apa kali Neng! sesekali akang membahagiakan kalian boleh kan?" ujar Pardi sambil mengulum senyum, kemudian dia mengambil gelas berisi kopi lalu menyeruputnya dengan penuh kenikmatan.
"Boleh, tapi akang harus berhemat. ingat si Malik sebentar lagi masuk sekolah, kita akan membutuhkan biaya banyak."
"Sudah jangan banyak bicara, Ayo kita makan!" jawab Pardi sambil mengambil potongan martabak yang ada di piring.
"Mau lagi!" Pinta Malik yang sudah menghabiskan makanannya.
"Ambil sendiri! Kamu harus mulai belajar mandiri, nggak usah mengandalkan ibu terus," tolak Hasanah sambil menatap nanar ke arah Malik, karena mereka jarang membelikan makanan seperti itu, mungkin makanan ini baru pertama kali dinikmati oleh anaknya. Sehingga anaknya minta nambah.
Akhirnya keluarga kecil itu terlarut dalam obrolan obrolan ringan, sambil menikmati martabak yang dibeli Pardi. Malik yang awalnya sangat menikmati makanan itu, namun lama-kelamaan dia merasa mual, karena banyak Makanan masuk ke perutnya.
"Malik mual Bu!" ujar bocah itu mengadu sama ibunya.
"Ya sudah jangan makan lagi, nih minumnya!" ujar Hasanah sambil memberikan gelas berisi air minum.
__ADS_1
Malik pun mengangguk, kemudian dia mengambil gelas yang diberikan oleh ibunya. Lalu anak kecil itu meminum sampai habis, terdengar sendawa seperti bapaknya ketika selesai makan.
"Jorok kamu!" ujar Pardi sambil menatap ke arah anaknya.
"Bapak juga kalau habis makan suka gitu," jawab anaknya sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke kamarnya, tak lama kembali dengan membawa mainan, hingga akhirnya anak kecil itu terlarut dalam dunianya. Hingga akhirnya anak itu tak memperdulikan lagi kedua orang tuanya.
"Makanya kalau di hadapan anak itu berbuat dan berperilaku harus baik, karena akang adalah figur yang akan diikuti oleh darah daging Akang," ujar Hasanah seolah menyalahkan suaminya.
"Iya.....! iya.....! Akang nggak akan gitu lagi."
"Kang!" Panggil Hasanah yang terlihat mesra.
"Kenapa Neng?" jawab Pardi sambil mengulum senyum, Mungkin dia melihat lucu Ketika istrinya melakukan seperti itu, karena biasanya Hasanah memanggil dirinya dengan sebutan nama, tidak ada mesra-mesranya sama sekali.
"Akang lagi punya duit ya?"
"Nggak punya!"
"Kalau eggak punya, kenapa akang beli martabak. itu tidak mungkin terjadi kalau akang tidak punya uang lebih,"
"Halah! masalah uang kamu tahu aja, iya Akang punya."
"Berapa," selidik Hasanah yang semakin tertarik.
"Sedikit juga ada hitungannya kali Kang."
"Nih!" jawab Pardi sambil mengeluarkan uang lalu diserahkan sama istrinya.
"Berapa ini?" tanya Hasanah yang memegang uang pemberian dari Pardi.
"Ya kamu hitung aja! kamu bisa kan ngitung?"
Hasanah dengan tersenyum-senyum dia mulai menghitung uang yang ada di tangannya. ternyata setelah dihitung dengan yakin, karena Hasanah menghitung uang itu sampai dua kali. "Dua juta tiga ratus lima puluh ribu, Kang" ujar Hasanah sambil merapikan kembali uang itu.
"Harusnya Rp2.500.000, namun tadi akang belikan martabak sama rok0k,"
"Ih! kita kan lagi butuh uang Kang, kita harus Banyak nabung buat sekolahnya si Malik, Kenapa Akang boros?"
"Yey kamu kan yang minta martaba, Akang sih kan lebih memilih rok0k," jawab Pardi yang tetap mengulum senyum.
"Ya Sudah segini juga Alhamdulillah, Sanah akan tabung sebagian, sebagiannya akan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, tapi ngomong-ngomong Uang ini dari mana? Kan Kang Ujang belum waktunya memberikan gaji."
"Akang akan ceritakan dari mana uang ini berasal, tapi kamu jangan bilang-bilang sama siapapun, bahkan Ibu jarimu saja tidak boleh tahu. karena ini sangat rahasia."
__ADS_1
"Rahasia bagaimana?"
"Kang Ujang pernah meminjamkan uang ke orang lain, sudah lama hutang itu tidak dibayar, bahkan bunganya pun diabaikan. Dia menyuruh Akang untuk menagih uangnya, ketika akang berhasil menagih uang itu, dia akan memberikan sebesar 2,5 juta" jelas Pardi berbohong.
"Terus Rahasianya di mana?" tanya Hasanah menatap heran ke arah suaminya.
"Rahasianya, masalah hutang itu kamu tidak boleh membicarakan ke siapapun, karena Kang Ujang tidak mau kalau istrinya tahu dia pernah meminjamkan uang tanpa sepengetahuan istrinya, tanpa sepengetahuan Kak Darmi."
"Oh seperti itu. ya sudah, daripada nanti mereka ribut, mendingan aku Simpan saja uang ini, lumayan buat nambah nambah tabungan."
"Iya! Ya sudah sana simpan yang rapi! nanti ada tuyul." Seru Pardi.
Hasanah pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke kamar untuk menyimpan uang pemberian dari suaminya, dia tidak tahu bahwa suaminya mendapat uang lebih dari itu.
"Maafkan Akang Hasanah, Akang tidak memberikan uang ini semuanya, karena Akang takut kamu tidak bisa menjaga rahasia. Akang akan memberikan uang ini secara bertahap, agar kamu tidak curiga. dan rahasia Akang bersama Sobri tertutup rapi," gumam Pardi dalam hati, matanya terus menatap ke arah layar televisi. namun mulutnya tak berhenti menghisap asap yang keluar dari tembakau yang ada di tangannya.
*****
Keesokan paginya. seperti biasa Pardi menemui Ujang, walaupun tidak ada pekerjaan menjemur padi, namun Pardi tetap bekerja sesuai dengan arahan Ujang, karena tanah dan sawah yang Ujang miliki lumayan sangat luas. sehingga membutuhkan perawatan atau orang yang menjaga hartanya. maka Pardi lah yang mengurus semua harta Ujang itu.
"Bagaimana kamu sudah mendapat ide, untuk menjatuhkan Fathan?" tanya Ujang mengawali pembicaraan ketika mereka beristirahat. sambil menatap kebun sawi yang menghampar luas, kebun yang dimiliki oleh keranjang sayur, Karena mereka sedang bekerja di kebun Ujang.
"Belum kang, sabar apa! kita jangan terburu-buru, Akang sudah tahu kan kalau terburu-buru seperti kemarin, maka akang sendiri yang celaka."
"Ya Kapan kamu mau memberikan ide?:
"Besok kang, Kan saya janji 2 hari. Sekarang siapkan saja dulu uangnya," jawab Pardi yang terlihat tak mau kalah.
Mendengar penjelasan adik iparnya, Ujang hanya mendengus kesal. namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena kalau mengandalkan pemikirannya mengandalkan egonya. dia takut kejadian diperas oleh Sobri terulang lagi. namun walau seperti itu, Ujang sebenarnya tetap terus berpikir agar perusahaan pertanian yang diketuai oleh Fathan bisa dihancurkan.
Sedangkan orang yang mereka incar, Tengah disibukan dengan berbagai kegiatan-kegiatan agar pertanian mereka terus berkembang, sehingga menghasilkan hasil panen yang memuaskan dengan kualitas yang sangat unggul. apalagi bulan depan mereka harus mulai mengirimkan sayuran ke penyuplai supermarket.
Siang itu, Fathan yang dikunjungi oleh Seno bersama temannya. mereka sedang duduk bersama di saung kebun yang dijadikan kantor keranjang sayur.
"Jadi begini Tan! saya datang ke sini membawa teman saya yang biasa menjual alat-alat pertanian, sama seperti perusahaan saya yang di Jalan Ahmad Yani. namun yang berbeda alat pertanian yang dijual teman saya lebih variatif, lebih baru, lebih canggih," ujar Seno menjelaskan kedatangannya.
"Terus bagaimana Pak Seno?" tanya Fathan sambil menatap ke arah sahabatnya itu.
"Silakan Pak Surya!" jawab Seno sambil manggut menatap ke arah orang yang sedang duduk di sampingnya.
"Surya" ujar orang yang dikenalkan oleh Seno sambil menguluarkan tangan.
"Fathan!"
__ADS_1
"Begini Pak Fathan, Saya tertarik dengan cara penyampaian dan penjelasan Ketika pak Fathan menggunakan alat-alat pertanian di kanal YouTube keranjang sayur. seolah-olah Pak Fathan adalah orang yang sangat ahli dalam mereview kelemahan dan masukan-masukan buat perusahaan penyedia alat pertanian. Apa memang keahlian Pak Fathan di bidang permesinan seperti itu?" Tanya Surya sambil menatap ke arah orang yang duduk di hadapannya.