Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 101


__ADS_3

Mengatarnya


Suara adzan isya menggema di kampung sukadarma, memenuhi setiap penjuru sudut kampung. laki-laki yang tadi sehabis melaksanakan salat magrib pulang ke rumahnya, Mereka pun terlihat berlari menuju ke arah mushola. namun ketika melihat ada gerombolan orang yang memenuhi halaman rumah Kamal, tujuan mereka pun teralihkan. kemudian mereka saling bertanya, saling menjelaskan, sehingga Mereka tertarik untuk menonton kelanjutan drama yang terjadi di halaman rumah Kamal.


"Terima kasih Dan!" ujar Fathan sambil mengambil tas yang diberikan oleh sepupunya, kemudian disimpan di kursi samping.


"Iya kamu hati-hati di jalan!"


"Insya Allah saya akan hati-hati, Tolong pindahkan motor saya!" Pinta Fathan.


"Baik!" jawab Idan kemudian dia menghampiri motor Fathan yang terparkir di depan mobil, kemudian menyampingkannya agar mobil Kirana bisa lewat.


"Mang, Bi...! tolong nitip rumah dan nitip pertanian," pinta Fathan sama Kamal dan Sari.


"Iya kamu hati-hati di jalan! Salam buat orang tua Bu Kirana," jawab Sari.


"Sana buruan berangkat, Nanti keburu malam!" seru kamal.


Akhirnya Fathan pun mulai menginjak kopling, memasukkan persneling kemudian dengan perlahan dia mulai menginjak pedal gas, hingga mobil SUV putih itu melaju meninggalkan halaman rumah Kamal, disambut dengan tepuk tangan orang-orang yang menonton, mereka merasa bahagia ketika Fathan sudah berubah.


Mobil yang dikendarai oleh Fathan, terus melaju menyusuri jalan yang berlobang, sehingga perjalanannya pun agak sedikit tersendat. di dalam mobil tak ada suara orang yang mengobrol, hanya terdengar suara daru mesin mobil dari kap depan.


Kirana hanya terdiam, meski hatinya sedang merasakan kebahagiaan, Bagaimana diperjuangkan oleh pria pujaannya. matanya sesekali melirik kesepion Tengah, untuk melihat wajah Fathan yang sesekali tersinari oleh cahaya lampu jalan, atau cahaya lampu kendaraan yang berlawanan arah.


"Daripada Ibu ngintip-ngintip seperti itu, mending ibu duduknya pindah ke depan. Biar Ibu bisa memandangi wajah saya seutuhnya!" ujar Fathan yang sebenarnya dia pun sering memperhatikan spion Tengah, membuat wajah Kirana memerah seperti tomat. padahal mereka sering bertemu, namun ketika berduaan sambil mengobrol seperti sekarang, rasanya Kirana Bisa menghitung dengan jari


Gadis itu tetap terdiam, seolah dia marah sama sang petani yang mengemudikan mobilnya. Padahal dia ingin mencoba sejauh mana Fathan berusaha membujuknya, agar dia merasakan Bagaimana diperjuangkan.

__ADS_1


Mobil itu terus melaju hingga akhirnya tiba di pertigaan jalan, yang biasa dipakai menunggu ketika orang-orang mudik. Fathan pun menepikan mobil, membuat Kirana mengerutkan dahi, Tidak mengerti maksud Fathan.


"Ayo pindah ke depan!" ajak Fathan sambil menoleh ke arah belakang.


"Apaan sih kamu, sudah jalankan lagi mobilnya. lagian ngapain pakai ngantar saya segala!" Ketus Kirana.


"Ayo pindah...! kita akan melewati tempat angker dan berhantu, kalau ada orang yang duduk di belakang sendirian nanti hantu itu akan menemanimu pulang sampai rumah." ujar Fathan dengan raut wajah serius.


"Halah....! Aku bukan anak kecil yang bisa kamu takut-takutin seperti itu."


"Ya sudah kalau nggak percaya, soalnya dulu di pohon besar yang ada di belokan Jalan depan itu, ada orang yang menggantung diri. sehingga arwahnya gentayangan dan suka ikut sama mobil  apalagi di dalam mobil itu hanya sendirian, kalau berdua pun hantu itu tetap ikut menemani." jelas Fathan membuat bulu kunduk Kirana berdiri, namun dia terlalu gengsi kalau harus mudah memaafkan kesalahan sang petani itu.


"Pindah nggak?" lanjut Fathan bertanya kembali setelah tidak mendapat jawaban.


"Enggak! Aku tahu kamu cuma modus."


"Sudah jangan membual, buruan jalankan lagi mobilnya!" seru Kirana.


"Emang ibu berani sendirian, menurut orang yang sudah melihat, hantu itu sangat seram, bahkan lidahnya saja terjulur sampai ke perut, ditambah wajahnya yang rusak di makan semut, bau amisnya sangat menyengat."


"Berani lah! Kayaknya tidak ada yang lebih seram daripada sikapmu!" Ketus Kirana sambil memalingkan pandangan, menatap ke arah luar jendela yang tak terlihat apapun karena gelap.


"Ya sudah hati-hati ya!" jawab Fathan kemudian Ia pun terfokus kembali menatal arah jalan, lalu menginjak pedal gas kembali untuk melanjutkan perjalanan


Fathan yang biasanya terlihat cuek, sekarang dia lebih aktif mengajak Kirana berbicara, walaupun hanya di sahuti sedikit-sedikit, namun sang petani itu tetap gigih memperjuangkan cintanya.


"Tuh, Bu! di depan ada pohon besar. Nah, di situ tempat wanita yang menggantung diri," jelas Fathan ketika hendak melewati pohon beringin besar, yang daunnya menutupi hampir seluruh jalan. membuat Kirana semakin merinding, meski dia tahu Fathan hanya berbohong, tapi kalau dibayangkan dia pun ketakutan juga.

__ADS_1


"Sudahlah...! saya bukan anak kecil yang bisa ditakut-takuti seperti itu." jawab Kirana menyembunyikan ketakutannya. meski di dalam mobil dia ditemani Fathan, namun Keadaan jalan yang begitu gelap membuatnya semakin merinding, karena jalan perkampungan tidak dilengkapi dengan lampu Jalan. hanya mengandalkan lampu-lampu yang berada di teras rumah, namun tidak semua jalan melewati perkampungan, sesekali jalan yang mereka lalui melewati hutan, seperti yang sedang mereka lewati sekarang.


"Katanya tubuhnya menggelayun menghalangi jalan. sehingga banyak kendaraan yang putar arah, orang-orang kalau mau lewat ke Sini, mereka akan Menunggu Pagi!" lanjut Fathan sambil mengulum senyum.


"Udahlah jangan diteruskan...!" Bentak Kirana sambil memasang kembali earphone-nya, kemudian dia memutar musik dengan begitu kencang, agar perkataan Fathan tidak terdengar. membuat petani itu mengulum senyum merasa bahagia karena usahanya membuahkan hasil.


Mobil putih itu terus melaju menuju ke arah Kota Sukabumi, hingga akhirnya mobil itu terhenti di salah satu pengisian bahan bakar. setelah mengisi bahan bakar Fathan pun menepikan Mobilnya di rest area pom bensin.


"Mau ke toilet dulu nggak, sekalian saya mau ganti baju. masa mau menemui calon mertua bajunya seperti ini?" ujar Fathan setelah melihat Kirana tidak menggunakan airphone.


"Nggak!" jawab Kirana singkat dan Ketus.


"Ya sudah kalau begitu, saya izin dulu untuk mengganti pakaian," ujar Fathan sambil mengambil tas yang ada di sampingnya kemudian dia pun keluar dari mobil. tak lupa membawa kuncinya mungkin dia takut Kirana pulang sendirian.


Wanita itu yang sejak dari tadi dipenuhi ketakutan, sebenarnya dia ingin pergi ke toilet. namun egonya yang begitu tinggi sehingga dia menahannya. ketika melihat Fathan pergi, dia pun keluar menyusul Fathan pergi ke toilet. Namun sayang toilet laki-laki dan perempuan terpisah, sehingga sekembalinya Fathan setelah mengganti baju, sang petani itu terperangah kaget, ketika melihat Kirana sudah tidak ada di tempat duduknya.


Sang petani itu meraba-raba kantong celananya untuk mencari handphone, agar dia bisa mengetahui Kirana pergi ke mana. namun Sayang handphonenya tertinggal di kantor keranjang sayur, karena ketika tadi dia diberitahu bahwa oleh kamal bahwa Kirana mau pergi meninggalkan dirinya, dia tidak sempat memikirkan hal yang begitu. pikirannya terfokus untuk secepatnya sampai dan bertemu dengan Kirana.


"Ke mana dia, Kok menghilang?" ujar Fathan sambil celingukkan mencari keberadaan Kirana, dia pun menghampiri satpam untuk bertanya.


"Melihat wanita yang memakai baju putih dan rok di bawah lutut, rambutnya panjang, kulitnya putih bersih."


"Oh itu, tadi keluar dari mobil Pak. namun saya tidak terfokus memperhatikannya, jadi saya tidak mengetahui ke mana perginya. Coba saja bapak telepon!" Saran satpam pom bensin.


"Saya tidak membawa handphone Pak!"


"Ya sudah cari di sekitar toilet  karena biasanya perempuan seperti itu."

__ADS_1


"Terima kasih Pak!" jawab Fathan sambil berjalan menuju ke arah toilet perempuan, ketika ia sampai, Kirana pun baru keluar dari kamar mandi, dengan cepat Fathan pun menghampiri lalu memeluknya dengan begitu erat, membuat mata Gadis itu melotot dengan sempurna.


__ADS_2