
Diracuni
"Kenapa diam?" tanya Dadun setelah melihat kedua tamunya tak bergeming.
"Saya masih bingung, Akang sebenarnya mau apa?" tanya Nanang.
"Jadi begini Kang Nanang, kita harus mengurus tanah kita sendiri."
"Untuk apa?"
"Agar untungnya bisa di ambil sendiri, tidak diambil oleh kelompok, kalau diambil oleh kelompok kita rugi sangat banyak."
"Ruginya di mana?, kita kan bekerja Kang, kita dapat gaji,"
"Mau sampai kapan, kita bekerja di tempat orang lain. sedangkan itu adalah tanah kita, tanah warisan dari orang tua kita. harusnya kita mengurus tanah itu sendiri, coba kang Nanang dan Kang Parmin bayangkan, dari tanah yang akang akang serahkan pengurusannya kepada keranjang sayur. sudah menghasilkan Berapa banyak uang. Kalau tidak salah, saya melihat kemarin, ketika panen wortel dari tanah Kang Parmin saja, itu hampir 30 juta. bayangkan kalau uang itu dimiliki oleh kita sendiri, tidak di serahkan sama si Fathan." jelas Dadun panjang lebar.
Mendengar penjelasan orang yang ada di hadapannya. kedua laki-laki itu saling menatap, saling bertanya dalam hati. mungkin sekarang mereka Paham kemana arah pembicaraan Dadun.
"Iya benar Kang, Memang kemarin dari tanah yang saya serahkan garapannya ke keranjang sayur. itu menghasilkan 30 juta lebih, sedangkan setahun ketika ditanami wortel bisa 3 kali panen," ujar Parmin menjelaskan.
"Nah, nah, nah, sudah mengerti kan ke mana arah pembicaraan saya. coba kalikan 30 juta kali 3 kali panen, 90 juta Kang. kita setahun dapat 90 juta, bukan 36 juta lagi." sambut Dadun yang terlihat bersemangat karena pembicaraannya sudah mulai masuk.
"Iya tanah saya yang ditanami kentang juga, kemarin mendapat penghasilan hampir 50 jutaan, tapi saya hanya mendapat 3 juta. selebihnya dipakai yang lain," Timpal Nanang menyahutinya.
"Nah, sekarang kalian berdua paham kan, dengan apa yang saya maksud. dari tanah yang kita serahkan, kita mendapat hasil yang begitu luar biasa. namun apa feedback dari keranjang sayur buat kita, hanya gaji...., itu pun sama dengan orang yang memiliki tanah sedikit." Ujar Dadun yang terlihat semakin bersemangat.
Sebelum melanjutkan pembicaraan, terlihat misro yang datang menghampiri. sambil membawa 2 bungkus rok0k sesuai dengan yang diminta oleh Dadun. "Misro jajan ini pak..!" ujar anak kecil itu sambil menunjukkan Chiki yang ada di tangannya.
"Ya sudah, kopinya kasih sama Ibu, Tolong bilang seduhkan...!" pinta Dadun sambil memasukkan uang kembalian ke kantong baju kampretnya.
"Terus apa yang harus kita lakukan?" tanya Nanang sambil membuka bungkusan rok0k yang diberikan oleh Dadun. begitupun dengan Parmin dia pun melakukan hal yang sama, membuka bungkusan rok0k kemudian membakarnya dengan korek, lalu menghisapnya sampai mulutnya penuh dengan asap.
"Kita harus beritahu warga-warga yang lain, agar mereka tidak terlalu mendewa-dewakan si Fathan, agar mereka sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu salah."
"Kalau orang lain tidak mau keluar dari keranjang sayur, terus kita bagaimana?" Tanya Nanang pesimis.
"Biarkan saja kalau mereka tidak mau keluar, nanti kalau setelah melihat hasil yang kita dapat. perlahan mereka akan sadar," jawab Dadun memberi arahan.
__ADS_1
"Oh iya. Akang dari mana, kok bisa sampai punya pemikiran seperti ini, punya pemikiran yang sangat luar biasa?" tanya Nanang yang terlihat penuh kekaguman.
"Kang Ujang....! ini semua Kang Ujang yang memberitahu. ternyata Kang Ujang memang orangnya sangat baik, sampai mempunyai pikiran sejauh ini. itu adalah bentuk kepedulian yang harus kita apresiasi, Bahkan dia berencana, kalau kita membutuhkan biaya untuk bertani. maka beliau siap membiayai dengan bunga yang sangat ringan, hanya 20% dari jumlah yang kita pinjam."
"Besar amat Kang bunganya," tanggap Nanang.
"Besar dari mana, Kalau dibanding dengan bank, mereka meminta 30 sampai 50%. Kang Ujang hanya meminta 20%, itupun dalam jangka waktu setahun. kalau tidak mampu membayar pokoknya, maka kita cukup membayar bunganya. itu lebih mending daripada kita menjadi budak keranjang sayur, yang hanya kebagian beberapa persen. coba Akang bayangkan dalam jangka waktu 3 bulan kita hanya mendapat 9 juta, sedangkan pertanian keranjang sayur mendapat 20 juta," ujar Dadun yang terlihat bersemangat menerangkan.
Dari arah dalam terlihat indah, istri Dadun membawa nampan berisi kopi yang terlihat masih mengepul, mungkin baru diseduh.
"Kopinya Kang Parmin, Kang Nanang," tawar Indah sambil meletakkan piring kecil berisi gelas di hadapan kedua tamunya.
"Terima kasih banyak Bi, padahal jangan repot-repot," ujar Nanang berbasa-basi.
"Gak Repot kok, lagian cuma kopi. Oh iya, lagi ngobrolin apa nih, kok kayaknya serius banget!" tanya indah.
"Sudah sana perempuan di dalam saja, jangan ikut campur urusan laki-laki. kita lagi membahas bisnis yang akan membuat kamu tersenyum," usir Dadun, karena dia mengerti bahwa perempuan akan sangat rewel, ketika diberitahu hal yang sangat rahasia.
Mendapat perkataan seperti itu, indah hanya mendengus kesal. Namun istri Dadun tidak keterusan, dia pun masuk kembali ke dalam rumah. Tak memperdulikan lagi para lelaki itu yang sedang ngobrol dengan serius.
"Kopinya diminum Kang...!" tawar Dadun sambil mengambil gelasnya, kemudian dia mendekatkan Gelas itu ke bibirnya.
Sedotan Dadun yang terlihat sangat menikmati kopi yang ada di dalam gelas, diikuti oleh kedua tamunya yang melakukan hal yang sama, menyeruput kopi itu dengan perlahan, karena masih terasa panas.
"Berarti kalau kita meminjam uang 20 juta, kita hanya memberi Kang Ujang 4 jutaan, begitu Bukan Kang Dadun?" tanya Parmin mulai kembali ke pokok permasalahan.
"Benar Kang Parmin, kita hanya memberi Kang Ujang 4 juta dalam setahun. bayangkan kalau penghasilan kita sampai 90 juta setahun, uang 4 juta tidak ada apa-apanya. kalau pun kita mau membayar dengan pokoknya, kita masih punya uang sisa 65 juta lagi. Itupun kalau kita pinjam uang 20 juta," jelas Dadun Semakin menjadi.
"Benar kalau kita mengikuti saran Kang Dadun, kita akan mendapat untung yang sangat banyak," ujar Nanang membenarkan.
"Kalau kita mau keluar dari kelompok keranjang sayur, apa yang harus kita lakukan, agar tidak membuat gaduh," tanya Parmin.
"Kita kumpulkan orang-orang yang memiliki tanah yang sangat luas, kita kasih tahu, bahwa mereka sudah ditipu oleh kelompok tani keranjang sayur," jawab Dadun menyampaikan sarannya.
"Kalau begitu, kita Jangan tunda waktu. kita harus secepatnya memberitahu, agar secepatnya juga kita kita bisa terbebas dari ikatan kelompok tani itu, dan secepatnya pula kita bisa mengurus tanah kita sendiri," Timpal Nanang.
"Ya sudah, kalau seperti itu. nanti sehabis melaksanakan salat Isya, kita temui Pak RT untuk memberitahu masalah ini." saran Parmin.
__ADS_1
Akhirnya ketiga orang itu terus berlanjut membahas rencana-rencana ke depan, agar mereka bisa keluar dari keranjang sayur. tanpa dimusuhi oleh warga-warga yang lain, mereka mencari cara agar kesalahan ada di pihak pengurus, bukan dari pihak mereka.
Dari arah Masjid, terdengar suara adzan isya yang berkumandang. membuat ketiga laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya, kemudian menuju ke masjid untuk melaksanakan salat berjamaah.
Malam itu terlihat sangat gelap, karena tak ada satu bintang yang menampakan diri. para warga Kampung sukadarma seusai melaksanakan salat berjamaah, Mereka terlihat tergesa-gesa kembali masuk ke rumahnya masing-masing. mungkin takut kehujanan, berbeda dengan tiga orang laki-laki yang bergegas menuju ke rumah ketua kampung sukadarma.
"Assalamualaikum...., Pak RT." ujar Dadun setelah berdiri di depan pintu rumah.
"Kok nggak ada orang?" tanya Parmin yang terlihat khawatir.
"Salamnya Kurang kenceng kali," Timpal Nanang.
"Assalamualaikum Pak RT. ! pak RT ada di rumah?" ulang Dadun dengan menaikkan intonasi suara.
Lama mengucapkan salam, hingga akhirnya terlihat ada seorang anak kecil yang membukakan pintu, dengan wajah kesal karena mungkin merasa terganggu.
"Bapaknya ada Jang?" tanya Dadun sambil mengulum senyum.
"Ada....! lagi makan," jawab anak kecil itu dengan Ketus.
"Tolong panggilkan! Ada Mang Dadun gitu."
Anak kecil itu tidak menjawab, namun dia menutup pintu kembali dengan sedikit agak kencang. membuat ketiga laki-laki itu tersentak kaget, namun mereka bisa memaklumi mungkin itu masih anak-anak.
Tak lama pintu itu pun terbuka kembali, muncullah orang yang dicari, sambil meregangkan tangan, yang terlihat dipenuhi dengan minyak. "eh ada Kang Dadun, Maaf Kang Saya lagi makan." ujar Pak RT sambil mengulum senyum.
"Ya sudah, lanjut aja dulu makannya Pak..! maaf mengganggu, Soalnya ada kepentingan yang harus saya sampaikan."
"Iya maaf...! tadi nggak kedengeran, soalnya saya lagi di dapur. mendingan akang-akang ikut makan kedapur," ajak Pak RT.
"Nggak Pak RT, kita habis ngopi di rumah Kang Dadun." Timpal Parmin menolak ajakan ketua kampung sukadarma.
"Ya kan itu ngopi, bukan makan. ayo makan! kebetulan istri saya masak sayur banyak,"
"Lanjut saja Pak RT...! jangan terganggu, kita menunggu di sini."
"Nunggu Di dalam aja, jangan di luar. Kalau di luar dingin, apalagi cuacanya kayaknya mau turun hujan," tolak Pak RT sambil membuka pintu dengan lebar.
__ADS_1
Ketiga laki-laki itu pun masuk ke rumah Pak RT, kemudian mereka duduk di kursi sofa yang ada di ruang tamu. "Ayo mendingan makan dulu..!" ajak Pak RT seolah tidak bosan, karena memang begitulah kebiasaan orang kampung.