Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks. 21


__ADS_3

PERUSUH


"Sabar Sep! sabar!" ujar Fathan menenangkan.


"Yah Sep! Sabar, kita juga lagi memikirkan cara bagaimana menguburkannya agar tidak ketahuan orang." tambah Kamal sambil memegang tubuh asep.


"Kalau begini, Mang Sobri tidak bisa dibiarkan. Mang sobri mau tidak mau harus dijebloskan ke jeruji besi. karena yang diancam mang Sobri Ternyata bukan saya doang." jelas Fathan sambil menatap ke arah orang yang menimbulkan masalah.


"Bukan saya tan! Maafkan saya! maafkan saya! saya kehilangan kontrol dengan emosi saya!"


"Mang Kamal tolong ambil motor. kita akan antarkan sekarang juga pria ini ke kantor Kecamatan. biar diurus sebagaimana mestinya. Sesuai dengan apa yang ia perbuat."


Mendengar ancaman Fathan seperti itu, sobri pun dengan cepat menjatuhkan tubuhnya, sambil menangis meminta ampun. namun Kamal tidak menghiraukan Dia melepaskan genggaman tangan Asep, kemudian berjalan menuju ke arah jalan besar.


"Tolong maafkan, maafkan saya!"


"Baik saya akan Maafkan! dari tadi juga saya sudah memaafkan! tapi kenapa mamang berbuat tega seperti itu. Sampai-sampai nekat mau menghabisi nyawa saya."


"Tua bangka ini! marah gara-gara lahan bajakannya kita ambil, Kang!" jelas Asep yang Dari tadi menatap benci ke arah sobri.


"Maksudnya gimana Sep?"


"Tua bangka ini, dia punya kerbau yang biasa dipakai membajak sawah. sekarang dia marah karena merasa gara-gara ada mesin traktor, lapak bajakannya diambil oleh kita."


"Ya Allah! hanya gara-gara itu?" Tanya Fathan sambil menatap Sobri yang masih mengiba.


"Maafkan saya Tan! saya khilaf!"


"Kalau hanya masalah itu, mang sobri bisa bicara baik-baik. saya sama Mang Kamal sedikitpun tidak ingin membajak sawah orang lain. kalau Mamang keberatan Mamang bisa bicarakan dengan saya. nggak harus pakai emosi seperti ini! asal Mamang tahu, saya membiarkan mesin saya dipekerjakan, karena Saya kasihan dengan para warga yang menunggu antrian kerbau yang kerjanya sangat lambat. dan tidak bisa kerja sampai sore. kerbau hanya bisa bekerja sampai dzuhur."


"Maafkan saya! jangan Bawa saya ke kantor kecamatan. tolong kasihan anak istri saya, siapa yang akan menafkahi mereka?" Hanya kata itu dan itu yang keluar dari mulut Sobri.


"Sep kamu tidak terluka, atau orang tua kamu ada yang luka?" tanya Fathan sambil mengalihkan pandangan ke arah asep.


"Alhamdulillah nggak Kang! cuma bapak aja yang jatuh, tapi tidak apa-apa. Mungkin trauma yang tidak bisa dilupakan, Karena ingin dibunuh oleh tua bangka ini."


"Terus orang ini, mau kamu apakan?"


"Laporkan aja, Kang! tuman." Gerutu Asep sambil mengeratkan gigi.


"Maafkan Mamang! Mamang Mengaku salah! tolong jangan Laporkan saya sep!"

__ADS_1


"Saya sudah Maafkan Mang! namun untuk memberikan Efek Jera, maaf saya akan tetap mengurus ini ke jalur hukum. Padahal kalau memang bicara baik-baik saya sedikitpun Tidak tertarik membajak sawah orang. Saya ingin fokus mengurus sawah dan Kebun saya sendiri." Jelas Fathan


Terdengar dari arah kejauhan ada suara beberapa motor yang mendekat ke kebun, membuat Sobri semakin ketakutan. tak lama setelah itu datanglah Pak RT, pak ustad dan sesepuh lainnya.


"Ini ada apa Mang Sobri? Kok mang Sobri diikat seperti ini?" tanya Pak RT sambil ikut Duduk di bawah pohon jambu, ikut bersama mereka.


"Saya khilaf Pak RT, saya mohon maaf!"


"Jangan dimaafkan Pak RT! buktinya sudah jelas, kebetulan Fathan merekamnya." jawab Kamal.


"Coba mana? saya lihat rekamannya!" Pinta Pak RT.


Fathan pun bangkit lalu mengambil handphonenya yang iya simpan di pojok kebun. kemudian dia memberikan handphone itu ke Pak RT, untuk menunjukkan video yang baru saja terjadi. Di dalam video itu terlihat dengan jelas di dalam video itu ketika Sobri hendak membelah kepala Fathan.


"Waduh berat mang Sobri, kalau ini sampai ke pihak yang berwajib  bisa-bisa Mang Sobri mendekam di penjara selama 9 tahun." jelas Pak RT sambil mengembalikan handphone milik Fathan. Pak ustad dan sesepuh lain pun meminjam handphone untuk melihat kejadian sebenarnya.


"Maafkan saya! tolong saya! jangan sampai saya masuk ke dalam penjara, kasihan anak istri saya, nanti siapa yang akan menafkahi?"


"Makanya kalau berbuat itu dipikir terlebih dahulu akibatnya akan seperti apa. untung Fathan bisa menghindar, kalau nggak, mungkin sekarang dia sudah tinggal nama." jelas Pak Ustad.


"Kalau begini ceritanya, Maaf Mang Sobri, saya tidak bisa membantu!" Tegas pak RT.


"Ya sudah! ayo bawa ke Kecamatan, Biar dia tahu rasa." ujar Kamal yang dari tadi sudah merasa gemas.


"Nggak tahu, tapi melihat dia yang sangat menyesal, mungkin benar dia tidak akan mengulangi perbuatannya. tapi itu terserah Fathan saja, Bapak tidak akan membela orang yang salah."


"Mang sobri Maafkan saya! kalau saya mengganggu usaha Mamang! namun yang perlu Mamang ketahui, saya sedikitpun Tidak ada niat untuk mengganggu usaha Mamang. Saya hanya ingin membantu warga yang sedang kesusahan. untuk kali ini saya akan memaafkan Mamang. namun kedepannya kalau ada kejadian yang tidak mengenakkan terulang kembali. saya tidak akan segan-segan untuk membawa mamang ke pihak yang berwajib." tegas Fathan yang merasa kasihan, karena dia datang ke kampung bukan untuk mencari masalah, dia hanya ingin memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh para warga.


"Mau dilepaskan aja tan?" tanya kamal yang sedikit tidak setuju.


"Ya Mang! buat apa memperpanjang permusuhan, tidak ada gunanya. dan untuk sekarang kita nggak usah lagi membajak sawah warga, kita fokus ke pertanian kita." ujar Fathan memutuskan.


"Terus bagaimana dengan sawah saya tan? Sawah saya juga kan belum dibajak?" tanya Pak RT.


"Maaf Pak RT, saya bukan menolak, namun kalau kejadiannya seperti ini.  tidak baik untuk dilanjutkan." jelas Fathan meminta maaf


"Nanti saya ketinggalan menanam padi dong, tan. kalau nggak dibajak." ujar pak RT yang terdengar kecewa.


"Nanti Pak RT, bisa menyuruh Mang sobri untuk membajak sawah Pak RT!" Jawab fathan sambil membuka ikatan Sobri, yang ada di tangan dan kakinya. sekarang sobri hanya terdiam tanpa melakukan tindakan kekerasan. setelah ikatannya terbuka, dia memeluk kaki Fathan untuk meminta maaf. namun dengan segera Fathan menjauh karena itu tidak layak untuk dilakukan.


"Mamang nggak usah seperti itu." tolaknya

__ADS_1


"Tenang mang Sobri,  fathan sudah memaafkan. Tapi jangan sampai kejadian buruk ini terjadi lagi kalau sampai Kejadian ini terjadi kembali, maka saya sendiri yang akan membawa Mamang ke kantor pihak yang berwajib." Ancam Pak RT.


"Terima kasih banyak Pak! Maafkan saya telah membuat kegaduhan." ucap Sobri sambil menatap nanar ke arah PRT


"Sudah sekarang mamang pulang! Ingat jangan ulangi kembali perbuatan buruk itu."


"Sekali lagi saya mohon maaf kepada semuanya, saya pamit!" ucap Sobri sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia berjalan menuju arah jalan pulang.


Setelah Sobri pulang akhirnya para ketua Kampung sukadarma pun ikut berpamitan. karena sebentar lagi Azan dzuhur berkumandang. tinggalah mereka bertiga yang duduk di bawah pohon jambu Yang Tak Berbuah.


"Maafkan saya, sep! sampai-sampai membawa kamu ke masalah yang seperti ini." Pinta Fathan


"Nggak apa-apa, kang! Namanya juga pengalaman. jujur tadi saya sangat ketakutan, namun kalau diulang kembali kejadian itu sangat lucu." ujar Asep sambil tersenyum.


"Ya sudah sekali lagi saya minta maaf, nanti setelah salat dzuhur kita ambil mesin traktor dusah. kita fokus aja menanam sayuran!"


"Baik Kang!"


Akhirnya mereka pun bangkit dari tempat duduk Mereka, kemudian pulang ke rumah masing-masing. sehabis melaksanakan salat dhuhur Mereka pun kembali ke sawah untuk mengambil mesin traktornya.


****


Hari-hari berikutnya, mereka terfokus mengurus kebun dan sawah. Meski banyak warga yang meminta Asep untuk membajak sawahnya, namun dengan tegas Fathan menolak. dia tidak mau membuat kerusuhan lagi.


Dua minggu berlalu, akhirnya sayuran yang Fathan tanam. mulai memperlihatkan perkembangan, tanaman itu mulai tumbuh dengan sangat subur. pengelolaan yang baik, perawatan yang tepat sehingga tidak ada sedikitpun celah dari tanaman itu. membuat mereka bertiga bisa tersenyum lega, karena walau belum memperlihatkan hasil. namun melihat perkembangannya yang sangat bagus, mereka sudah sangat bahagia dengan hasil kinerja mereka.


Sore itu sehabis bekerja, Fathan seperti biasa dia berkumpul di rumah bibinya.


"Kapan mulai tandur Tan?" tanya Sari yang sudah gemas karena Fathan belum menanam padi di sawah.


"Mungkin besok bi! Oh iya, kalau bisa Bibi bantu untuk menanamnya! karena kalau laki-laki belum terbiasa." jelas Fathan meminta pertolongan sama bibinya.


"Berapa orang Tan?"


"Terserah Bibi aja! yang penting pekerjaannya selesai."


"Ya sudah nanti Bibi cari orang yang mau tandur."


"Terima kasih Bi!" ujar Fathan.


Keesokan paginya, terlihat beberapa perempuan dari warga kampung sukadarma, mereka berjalan menuju ke sawah Farhan dan Kamal. namun yang membuat terlihat aneh, di rombongan itu ada Sri ibunya Fathan. Yang ikut hendak membantu anaknya.

__ADS_1


Fathan yang awalnya tidak tahu bahwa ibunya akan ikut membantu. membuat Dia terlihat bahagia, mungkin itulah jalan yang akan membuat hubungan mereka kembali ke seperti semula.


__ADS_2