
"Nggak boleh, kamu di rumah aja!" tolak Fathan dengan segera dia pun menarik tuas gas motornya, meninggalkan Kirana yang mendengus kesal.
"Kebiasaan kamu....! padahal aku cuma ingin berdua sama kamu," gumam hati Kirana sambil berjalan untuk berangkat pergi ke kantor keranjang sayur.
Sedangkan Fathan terus memacu motornya, menuju ke salah satu rumah warga yang berada di pojok kampung, tak lama dia pun sampai ke rumah Dadun, dengan segera dia memarkirkan motornya, lalu menghampiri rumah itu.
"Assalamualaikum..! assalamualaikum!" ujar Fathan setelah berada di ambang pintu.
beberapa kali mengucapkan salam, akhirnya terdengar suara langkah kaki yang menapaki pelupup papan, hingga akhirnya pintu rumah pun terbuka.
"Mau ngapain kamu ke sini?" tanya yang punya rumah dengan memasang wajah masam.
"Saya ingin ngobrol dengan Akang!"
"Mau ngobrol, apa Mau nipu?" ujar Dadun yang terlihat sinis.
"Saya mau ngobrol, apa benar Akang mau keluar dari kelompok keranjang sayur?" tanya Fathan membahas inti permasalahannya.
"Iya benar! Emang kenapa, kamu nggak setuju Saya keluar, karena kamu takut penghasilanmu menurun."
"Bukan begitu Kang, Kita kan sudah mengadakan perjanjian kerjasama dengan pengusaha supermarket untuk selalu mengirimkan hasil pertanian kita dengan jumlah tertentu, kalau akang keluar nanti bagaimana yang lain.
"Itu urusan kamu! Kenapa dulu kamu menerima tawaran dari supermarket, kalau kamu tidak menerima mungkin jika saya keluar Kamu tidak akan pusing."
"Saya mohon dengan sangat! Akang jangan keluar dan jangan mengajak warga yang lain, karena usaha yang sudah kita bangun akan hancur seketika."
__ADS_1
"Itu masalahmu! bukan masalah saya." Jawab Dadun cuek.
"Akang Jangan egois, Akang jangan mementingkan diri sendiri. kalau Akang keberatan dengan sistem gaji, dari awal saya sudah menawarkan untuk sistem bagi hasil, namun para warga lebih memilih sistem gaji, karena gaji tidak harus menunggu panen. kalau Akang mau sistem bagi hasil, Ayo kita bagi hasil, namun saya minta hasil pertaniannya tetap dikelola oleh keranjang sayur."
"Maaf Fathan! kami tidak bodoh, kami bukan anak kecil yang bisa kamu kibulin terus menerus. kami sudah capek bekerja banting tulang tapi tidak ada hasilnya. sekarang Biarkan saya mengurus tanah saya sendiri dan menjual hasilnya sendiri. Saya tidak akan meminta bagian dari penghasilan keranjang sayur yang sudah kamu habiskan untuk membangun Mini hotel di tanah kamu sendiri. Saya hanya minta tanaman yang berada di tanah Kami, Biarkan kami yang mengurus dan Biarkan kami yang menjualnya."
"Iya nggak apa-apa! Tapi kalau Akang mau menjual, juallah kepada kelompok keranjang sayur, nanti saya akan bayar sesuai dengan harga pasar."
"Halah...! omonganmu manis Tan! kami sudah tidak percaya, silakan sekarang tinggalkan rumah saya, Jangan buang waktu saya karena saya sedang sibuk!"
"Tolonglah kang jangan egois seperti ini! Tolong lihat para petani yang lain, jangan lihat saya, Karena kalau saya masih bisa bekerja, tapi orang lain bagaimana?"
"Dulu kamu pernah bilang, para warga kampung sukadarma ketika mau bertani maka kamu mampu menggaji semua orang sesuai UMR Kabupaten Sukabumi. maka jalankanlah sekarang, buktikan bahwa Ucapanmu tidak bohong. sudah saya banyak urusan, silakan tinggalkan rumah saya!"
"Assalamualaikum, Kang.....! kang....! kang Dadun...! Panggil Fathan sambil mengetuk-ngetuk pintu, namun tidak terbuka. sehingga membuat Fathan pun Beranjak Pergi Meninggalkan rumah penghianat itu.
Fathan terus mengendarai motornya Kembali menuju ke kantor keranjang sayur. Sesampainya di sana, dia meminta Idan untuk mengumpulkan seluruh anggota keranjang sayur, karena masalah yang dihadapi adalah masalah serius.
Tak lama para anggota pun mulai berdatangan, berkumpul di teras Saung kantor, sambil saling bertanya sama yang lain Kenapa mereka dikumpulkan.
"Ada apa ini Jang?" tanya Pak RT sambil menatap ke arah Fathan.
"Kang Dadun, dia sudah keluar dari kelompok kita. maksud dan tujuan saya mengumpulkan para Bapak di sini .Saya ingin mengetahui Tinggal berapa lagi anggota yang masih mau bergabung dengan saya, sekaligus kita akan menentukan langkah selanjutnya, karena menurut keterangan Mang Kamal, orang yang sudah dipengaruhi oleh Kang Dadun lumayan banyak. kita harus mengatur strategi ulang, agar kita bisa memenuhi semua kebutuhan order yang sudah saya tandatangani bersama penyuplai supermarket." Jawab Fathan panjang lebar.
"Emang beneran si Dadun itu mau keluar?" Tanya salah Seorang warga memastikan.
__ADS_1
"Benar Kang! Tadi saya sudah ke rumahnya, Saya sudah berbicara dengannya namun dia marah-marah, dia tidak mau diajak berbicara. Padahal saya sudah menawarkan sistem bagi hasil, kalaupun Tidak mau dengan sistem bagi hasil, saya tetap meminta hasil pertaniannya dijual ke keranjang sayur, saya akan membayar sesuai dengan harga yang berada di pasar. Namun sayang kang Dadun menolak mentah-mentah.
"Kurang ajar si Dadun...! nggak tahu diri, padahal dulu tanahnya tidak menghasilkan uang sama sekali, semenjak kedatangan kamu Dia mulai mendapatkan penghasilan, tapi sekarang sudah menghasilkan Dia malah mau berpisah." Ujar salah satu anggota dengan gemas.
"Sudah...! itu sudah menjadi resiko kita, karena semenjak Dari awal saya tidak ingin memberatkan siapapun untuk bergabung di kelompok. makanya saya tidak mengikat dengan kontrak yang lebih legal. tapi untuk itu, kita jangan Patah Arang, kita harus terus bergerak dan saya mohon maaf kalau selama saya jadi pemimpin, saya melakukan banyak kesalahan. Karena saya hanyalah manusia biasa, yang tidak lepas dari itu semua.
"Terus rencana ke depan bagaimana tan?" tanya kamal yang sejak dari tadi memperhatikan.
"Kita pastikan dulu siapa yang mau bergabung dengan kita, dan yang tidak mau bergabung dengan kita. karena kalau memperjuangkan orang yang tidak mau diperjuangkan, itu akan sangat sulit, akan sangat susah. jadi saya harap sekarang kalau ada anggota yang merasa keberatan dengan aturan kelompok pertanian yang sudah kita sepakati bersama, silakan angkat berbicara!" ujar Fathan sambil membagi tatap.
"Sebentar Jang! apa kita nggak sebaiknya berbicara secara pelan dengan kelompok Kang Dadun, agar mereka tidak keluar dari kelompok kita."
"Rasanya sangat sulit Pak RT, karena Kang dadun terlihat menolak untuk bergabung kembali dengan kita, karena dia menganggap bahwa saya adalah penipu, Padahal saya bekerja siang malam untuk memajukan Kampung kita, untuk memajukan kita semua, agar bisa hidup dengan layak, tanpa harus merantau ke kota lain."
"Ya sudah, nanti bapak coba ngobrol sama Kang Dadun, karena walau bagaimanapun Bapak adalah pengurus Kampung sukadarma, Bapak bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah yang ada di warganya." ujar Pak RT menawarkan diri.
"Terima kasih banyak Pak! Terima kasih atas bantuannya. namun walaupun seperti itu, kita harus bergerak dengan cepat mengatur formasi, agar kita tetap bisa menyuplai kebutuhan supermarket. silakan kalau ada yang mau keluar atau ingin bertani Mandiri, silakan keluar dari tempat keranjang sayur, sekarang....! tapi kalau masih ada orang yang mau Ayo kita berjuang bersama-sama. Buat orang yang mau keluar Jangan harap mendapat keuntungan dari apa yang sudah kita dapat, ini semua adalah aset keranjang sayur. Nanti saya akan bagikan dengan orang-orang yang terakhir yang masih mau bergabung dengan kelompok." ujar Fathan menantang.
Mendapat pertanyaan seperti itu para warga pun saling menatap, namun meski seperti itu, tidak ada orang yang berdiri atau keluar dari Saung kantor keranjang sayur. karena orang-orang yang berkumpul adalah orang-orang yang memiliki tanah yang sedikit, hanya beberapa orang yang memiliki tanah luas yang masih tergabung, salah satunya adalah Pak RT dan pak ustad.
"Kalau masih mau bertahan dengan saya, sistem Apa yang harus kita perbaiki, agar para anggota tidak merasa dirugikan, silakan...!" Tanya Fathan setelah tidak mendapat orang yang keluar dari kelompoknya
"Kalau menurut saya, sistemnya Jangan dirubah. walaupun kita mendapatkan gaji, tapi satu persatu surat tanah para anggota yang digadaikan di Kang Ujang, sudah hampir semuanya tertebus. mungkin hanya beberapa orang lagi Yang masih dalam antrian. ini sangat membantu kami, yang tidak pernah memiliki uang banyak, untuk membayar hutang. karena Kalau kami menabung sendiri, itu sangat tidak mungkin, kami tidak bisa menyimpan uang sebanyak itu." jawab Salah Seorang warga.
"Yah benar! kalau masalah gaji itu tidak jadi masalah bagi kami, untuk masalah keuntungan dari tanah yang digarap oleh anggota keranjang sayur, itu tidak jadi masalah. karena dulu Tanah kami adalah tanah yang subur ditumbuhi oleh rumput ilalang, sekarang sudah bisa menghasilkan setiap bulan 3 juta, tanpa harus bekerja keras, karena pertanian setelah tumbuh tidak terlalu membutuhkan tenaga ekstra, hanya pengontrolan saja, itu pun sudah ada tugasnya masing-masing." tambah salah Seorang warga membenarkan.
__ADS_1