Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks 34


__ADS_3

Janji


Sebulan berlalu, akhirnya kampung sukadarma yang awalnya dikelilingi oleh kebun ilalang, sekarang sudah berubah bentuk menjadi kebun yang sangat hijau ranau. kebun-kebun yang dipenuhi dengan berbagai jenis tanaman dan pepohonan. mulai dari pohon pisang, pohon pepaya, pohon jambu dan masih banyak yang lainnya. membuat siapa saja akan betah tinggal di kampung sesubur itu.


Sore itu setelah para anggota pulang ke rumah, Hanya menyisakan Fathan dan Kirana, yang masih tinggal di saung, yang sudah beralih fungsi sebagai Kantor Sekretariat keranjang sayur.


"Tan!" Panggil Kirana dengan suara lembutnya, membuat siapa aja yang mendengar akan terus terngiang-ngiang.


"Iya!" Jawab Fathan seperti biasa dengan muka datarnya. dia acuh terfokus dengan kertas-kertas yang ada di tangannya.


"Boleh bertanya?" tanya Kirana malu-malu.


"Mau tanya apa?"


"Bisa nggak kalau lagi ngobrol, jangan bekerja dulu!" pinta Kirana memohon.


Fathan mengangguk, kemudian menutup berkasnya. Lalu menghadap menatap wanita cantik yang sedang duduk di hadapannya, namun ada yang berdesir aneh di tubuh mereka, sehingga tatapan itu tidak terlalu lama beradu.


"Mau tanya apa Bu?"


"Apa perasaanmu masih sama, seperti dulu. Seperti yang kamu pernah ucapkan di hadapan orang tuaku."


"Kenapa Ibu bertanya seperti itu?" Fathan balik bertanya.


"Kenapa nggak jawab, apa sudah berubah ya?"


"Sama sekali belum Bu! saya masih Fathan yang dulu. Fathan yang selalu senang ketika ibu mengejar saya, memuji saya, mencintai saya, dengan tulus. begitu juga saya sangat sayang sama ibu!"


"Terus kenapa kamu belum meresmikan saya?"


"Mohon maaf sebelumnya Bu, bukan saya tidak mau. tapi seperti yang Ibu ketahui, sekarang posisinya lagi kurang pas. saya janji setelah panen, Saya akan mencoba untuk mendatangi Kedua keluarga ibu. Untuk meminta Restu mereka kembali.


"Serius?" tanya Kirana dengan mata berkaca-kaca.


"Saya tidak pandai berbohong!"


"Bukannya sering!" Sanggah Kirana sambil mendelikkan mata.


"Untuk yang ini, saya tidak berani."


"Janji!" ujar Kirana sambil mengangkat kelingking meminta perjanjian. dengan cepat Fathan pun menautkan jari kelingkingnya ke jari Kirana, membuat desiran aneh pun mulai hinggap kembali.


Perlahan kedua wajah mereka mendekat. sampai deru napas menyapu wajah masing-masing. semakin lama semakin mendekat, membuat Kirana memejamkan mata bersiap menerima apa yang akan dilakukan oleh Pujaan hatinya.


"Ehem! ehem! ehem!"


Dehem Kamal membuat mereka dengan cepat melepaskan jari yang bertautan, sambil membuang muka merasa malu karena ketahuan.

__ADS_1


"Aduh lagi ngobrol serius ya! maaf Mamang mau menyimpan peralatan ke dalam gudang." ujar Kamal yang masih berdiri di luar pintu saung.


"Nggak Kok mang, nggak, kita nggak serius." ujar Fathan salah tingkah.


"Boleh Mamang masuk?" tanya kamal ragu-ragu.


"Boleh Mang!"


Setelah mendapatkan izin kamal pun masuk, membuat kedua Insan itu Semakin menjadi salah tingkah, Entah mengapa bisa seperti itu.


"Ayo pulang! Jangan lama-lama di sini, nanti ada hantu." ajak Kamal yang tidak mau keponakannya melakukan hal-hal yang Di Luar Batas.


"Ayo pulang!" ajak Fathan sambil mengulurkan tangan mengajak Kirana bangkit.


Akhirnya mereka bertiga pun pulang bersama mengendarai mobil pick up yang dibawa oleh Fathan. di perjalanan tidak ada obrolan, tiba-tiba Fathan menjadi kaku dengan pamannya. berbeda dengan kirana yang sedang berbunga-bunga, karena dia sudah mendapat kepastian dari pria yang selalu ia kagumi.


Dua minggu berlalu, akhirnya para anggota keranjang sayur pun mulai disibukkan dengan memanen hasil pertanian mereka. karena ada beberapa sayuran yang hanya membutuhkan waktu 40 hari sampai waktu panen. seperti sawi putih, sawi hijau dan pakcoy. Asep dan Pak Haji Rohman yang mobilnya disewa oleh kelompok keranjang sayur, mereka disibukkan dengan mengirim barang ke pasar.


Fathan terus mengupload video-video tentang pertanian ke akun channel YouTubenya, apalagi sekarang folowernya sudah bertambah banyak, karena ada Kirana sebagai pemikatnya.


Para anggota sangat berbahagia sekali, karena hasil panen tahun ini sangat tumpah ruah. mereka bisa menghasilkan panen padi yang luar biasa. membuat mereka semakin merasa Makmur ketika kehidupan mereka mengikuti Fathan. sehingga tak Ayal lagi warga-warga yang awalnya ragu untuk bergabung, mereka mulai mendaftar menjadi anggota kelompok. Fathan yang merasa bahagia, tidak sedikitpun menolak keanggotaan para warga.


Namun ketika ada orang yang setuju, pasti akan ada orang yang menentang. sore itu di kediaman Ujang, terlihat kamal yang dudum di teras, sedangkan Ujang seperti biasa dia akan duduk di kursi singgasananya.


"Kenapa Mal mau pinjam uang lagi?" Tanya Ujang mengawali pembicaraan.


"Emang punya duit?" tanya ujang dengan nada sinis.


Dengan Cepat Kamal pun mengeluarkan amplop coklat lalu menyerahkan kepada Ujang.


"Apa ini mal?" tanya Ujang tak serta merta menerima amplop itu.


"Uang untuk bayar hutang!"


"Semuanya?" tanya Ujang seolah tidak percaya.


"Ya semuanya 50 juta!"


Dengan membulatkan mata ujang pun mulai mengeluarkan isi amplop coklat itu, kemudian dengan teliti dia mulai menghitungnya. benar saja uang itu berjumlah 50 juta. setelah mengetahui bahwa uang itu sesuai dengan hutang yang Kamal miliki, dengan cepat Ia pun memasukkan kembali ke dalam amplop.


"Bagaimana?" Tanya kamal seolah tidak sabar.


"Pas Mal!"


"Terus mana surat tanah saya?"


"Kamu nggak mau nambah lagi hutangnya Mal? nggak apa-apa kalau kamu pinjam 100 juta. saya akan memberikan bunga yang ringan, hanya setengah ton per tahun." Ujang memberikan alternatif.

__ADS_1


"Enggak kang! Saya hanya butuh tanah saya, saya tidak butuh uang."


"Kamu jangan belagu mal! nanti kalau si Fathan itu bangkrut, kamu saya akan blacklist dari daftar orang yang akan meminjam uang. Emang kamu nggak takut nanti saya nggak nolong kamu?"


"Enggak Kang! cukup waktu dulu saya tergiur oleh bujug rayu Akang. untuk sekarang dan kedepannya, Saya tidak akan terjatuh ke lubang yang sama! maaf nih Mana surat tanah saya." Pinta Kamal yang udah tidak sabar ingin cepat pergi dari tempat itu.


Dengan lemas Ujang bangkit dari kursinya, kemudian masuk ke rumahnya. tak lama setelah itu dia pun keluar sambil membawa map berwarna biru muda.


"Nih surat tanah kamu! tenang aja masih aman di saya! kamu nggak usah khawatir. jadi saya menawarkan untuk yang terakhir kali, kamu mau nggak pinjam uang 100 juta dengan bunga yang sangat ringan?"


"Nggak kang! sekali nggak, saya tetap nggak!"


"Ya sudah, baru kehidupanmu naik sedikit, Sombongnya udah gak ketulungan. Dasar orang miskin!" ujar Ujang sambil melemparkan map yang dibawanya.


Kamal yang sudah tahu dengan sikap tetangganya itu, dengan segera dia memungut surat tanah yang berserakan dilantai. setelah selesai dikumpulkan, tanpa berpamitan dia pun keluar meninggalkan rumah ujang. Dengan membawa surat tanah yang sudah lama digadaikan.


"Pardi! Pardiiiiiii!" teriak Ujang sama Pardi yang sedang merapikan padi, pembayaran bunga dari pinjaman warga.


"Yah, Ada apa Kang? nggak usah berteriak-teriak, kan saya ada di situ!" Ketus Pardi sambil menuju ke arah samping.


"Iya maaf! maaf! gitu aja marah, duduk di!" seru Ujang.


Pardi pun dengan malas, dia mendudukan tubuhnya di tempat Kamal tadi duduk. "Kenapa duduk di bawah, duduk di atas aja! kita kan saudara." seru Ujang membuat Pardi mengurutkan dahi, tidak mengerti dengan apa tujuannya.


Pardipun tetap duduk di tempat kamal, namun dengan segera Ujang menarik lengannya, agar duduk di kursi sama rata dengannya.


"Kita ini saudara, kita tidak harus membeda-bedakan Kasta!" jelas Ujang membuat Pardi semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi kepada kakak iparnya. yang biasanya sombongnya kelewatan.


"Ada apa ini Kang! jujur saya lagi kerja, nanti kesorean." ujar Pardi tanpa mau berbasa-basi.


"Begini Par! akhir-akhir ini akang merasa kesal, karena cita-cita akan terhambat, ada gangguan?" curhat Ujang dengan nada lembut.


"Cita-cita yang mana, cita-cita yang merubah Nama Kampung sukadarma jadi sukaujang?"


"Yah salah satunya itu, namun cita-cita terbesar saya bukan itu. saya ingin mengembalikan seluruh harta mertua saya, bapak kamu. yang sudah memberikan tanahnya kepada para warga. namun kayaknya cita-cita itu akan sulit terwujud, karena beberapa hari ini, sudah ada beberapa orang yang menebus tanah yang mereka gadaikan. Tadinya Akang ingin tanah itu sepenuhnya menjadi hak milik Akang. rencana ini sudah akanf susun serapih mungkin, Akang berencana suatu saat akan memaksa para peminjam hutang, untuk menyerahkan mutlak tanahnya. tapi sekarang gara-gara Si Fathan. kayaknya cita-cita Akang akan sulit terwujud." curhat Ujang.


"Oh begitu, Terus bagaimana sekarang?" Tanya Pardi seolah nggak bertanya.


"Kamu nggak ngerok0k Pardi?" tanya Ujang.


"Nggak Kang, Kan belum gajian!"


Ujang pun mengeluarkan uang pembayaran dari Kamal. dengan cepat dia mengambil beberapa lembar uang itu lalu menyerahkannya kepada Pardi.


"Untuk ap,  gaji saya?"


"Bukan, bukan! Itu buat kamu. saya kan sudah lama nggak ngasih bonus kamu. sekarang kamu beli rok0k nanti temenin saya ngobrol lagi!" seru Ujang sifatnya yang berubah 180 derajat, membuat Pardi mengerutkan dahi. namun dia tidak terlalu memikirkan hal itu, dengan cepat dia pergi ke warung terdekat.

__ADS_1


__ADS_2