Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 43


__ADS_3

Sari menyusul


"Nanti setelah ada keputusan dari dokter, mereka kita suruh pulang saja, kasihan kalau harus menunggu mang Kamal. Lagian kalau mau nunggu, mereka mau tidur dimana. di sini nggak ada tempat tidur. Biarkan kita berdua saja yang jaga. sekalian saya juga mau menyuruh Asep untuk mengambil kartu BPJS milik bapakmu."


"Kalau kartu BPJS, tadi Farah sudah meminta tolong sama Kak Kirana."


"Emang mau ke sini?"


"Mau. katanya kasihan Bibi Sari yang dari tadi menangis terus, mungkin kalau berada di sini, Bibi bisa sedikit tenang."


"syukurlah kalau begitu!" jawab Fathan. kemudian di depan ruang Icu itu terlihat sepi, mengantar Lamunan masing-masing. menerka-nerka kejadian apa yang akan terjadi kepada paman dan Bapak Mereka. terlihat dari sudut mata idan terus mengalirkan cairan bening, karena hanya dengan cairan itu dia bisa mengungkapkan kesedihannya.


Fathan terus mondar-mandir, sesekali melihat ke dalam ruang ICU yang tertutup. meski sudah tahu dia tidak akan bisa melihat sesuatu di dalam, namun rasa panik yang memenuhi jiwanya membuatnya melakukan hal seperti itu.


Dari arah depan, terlihat ada beberapa orang yang berjalan menghampiri ke arah mereka. itu adalah warga-warga kampung sukadarma yang mengantar Kamal. mereka sudah kembali setelah melaksanakan salat ashar.


"Kalian salat dulu! Biarkan kami yang menunggu." ujar salah seorang yang paling tua. menurutnya sesusah apapun cobaan yang sedang mereka hadapi, kita tidak boleh melupakan sang pencipta.


"Iya Kak! kalian berdua salat dulu, biarkan Farah yang menunggu di sini," tambah adiknya.


"Emang kamu nggak salat Farah." tanya Fathan sambil memindai adiknya


"Lagi nggak Kak!"


"Ya sudah, tolong titip Mang Kamal dan Tolong bantu kebutuhannya, Kakak nggak lama kok."


"Iya Kak!"


"Ayo Dan kita salat dulu!" ajak Fathan sambil melirik ke arah sepupunya yang terlihat enggan meninggalkan tempat itu. namun setelah beberapa kali Fathan ajak, akhirnya Idan pun mau mengikuti sepupunya menuju ke mushola terdekat.


Selesai melaksanakan salat, Kedua saudara itu bergegas kembali ke ruang ICU, dan ternyata belum ada laporan apapun di sana. akhirnya mereka pun duduk kembali di kursi yang tersedia di koridor.


Ceklek!


Lama menunggu akhirnya pintu ruang ICU pun terbuka, keluarlah orang yang memakai baju putih, berkalungkan stetoskop di lehernya. "keluarga Pak Kamal?" Panggil dokter yang baru keluar.


Mendengar nama pamannya disebut, Fathan dan Idan dengan segera bangkit, lalu menghampiri ke arah orang yang berdiri di ambang pintu.


"Bagaimana keadaan Paman saya?"

__ADS_1


"Kondisinya masih kritis! karena banyak darah yang keluar. soalnya luka tusuk yang diderita oleh pasien sangat dalam. namun bapak-bapak nggak usah khawatir, karena kami sudah memberikan penanganan yang tepat, sebentar lagi pasien akan ke ruang inap, untuk mendapatkan perawatan selanjutnya," jelas dokter itu panjang lebar.


"Terima kasih banyak dok! terima kasih!" hanya kata itu yang keluar dari dua anak muda yang menghampiri.


Akhirnya dokter itu pun kembali masuk ke dalam ruangan ICU, namun tak lama pria berbaju putih itu keluar kembali, kemudian meninggalkan ruangan ICU. Mungkin hendak memeriksa pasien-pasien lainnya.


Fathan dan Idan saling menatap dengan perasaan masing-masing, perasaan yang belum tenang karena kondisi Kamal belum bisa dipastikan.


Mereka terus terdiam berdiri di dekat pintu ruang ICU, tanpa ada pembicaraan yang keluar dari mulut pemuda-pemuda itu, mereka terlalut dalam khayalannya masing-masing.


Hingga akhirnya, pintu ruang ICU pun terbuka kembali. terlihat Kamal yang terbaring di ranjang transfer sedang didorong untuk dipindahkan ke ruang inap. matanya masih terpejam seperti orang yang sedang tertidur. Bajunya sudah diganti menggunakan baju OKA, baju yang berwarna hijau sedikit kebiruan.


Ranjang transfer terus didorong menuju salah satu ruang inap, yang ada di rumah sakit itu. Terlihat di ruangan itu sudah ada beberapa pasien yang berbaring sedang menunggu kesembuhannya. Para keluarga yang menunggu hanya melirik sebentar, ketika ada teman sekamar yang baru datang. Tapi ada juga yang ingin tahu tentang penyakit apa yang diderita oleh kamal, sehingga mereka bertanya sama para warga kampung sukadarma. setelah sampai diruangan Kamal pun dipindahkan ke ranjang yang tersedia di ruang inap itu. Selesai menempatkan Kamal, para perawat pun meminta izin untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


Melihat keadaan Pamannya sudah tertolong, dan menunjukkan perkembangan kesembuhan. Fathan pun menghampiri Asep, yang masih menunggu di koridor rumah sakit, bersama para warga Kampung sukadarma lainnya.


"Ada apa Kang?" tanya Asep sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia menatap atasannya seolah menantang perintah yang hendak Fathan berikan.


"Sekarang tolong kamu kembali ke kampung sukadarma. Bawa semua warga yang tadi mengantar. agar mereka bisa beristirahat dengan tenang, sebab kalau di sini mereka mau beristirahat di mana. Kamu juga tahu sendiri kan, kalau ruangannya sangat sempit," ujar Fathan memberikan arahan.


"Baik kang! terus bagaimana keadaan Mang Kamal?"


"Doakan saja! agar Mang kamal cepat sembuh, tidak terjadi sesuatu yang berat yang menimpanya. Biarkan saya dan Idan yang mengurus Mang Kamal di sini! kamu sekarang sebagai wakil Saya, harus bisa menghandle pertanian kita. Sayang kalau hasil pertanian terbengkalai, nanti bisa-bisa busuk dan tidak segar lagi. kalau keadaan Mang Kamal membaik, Besok saya akan menyempatkan pulang terlebih dahulu."


"Kamu temui Pak RT dan pak ustad, minta tolong sama mereka. agar pertanian harus tetap jalan, jangan sampai usaha yang sudah kita bangun terbengkalai."


"Terus apa lagi?" Tantang Asep.


"Untuk sekarang cukup itu aja dulu! nanti kalau ada tambahan, Saya akan menghubungi kamu. Sekalian tolong ajak Farah pulang, agar dia juga bisa membantu mengurus pertanian pertanian kita."


"Maaf kang, Kalau yang ini saya nggak berani, akang sendiri aja yang meminta sama Farah!"


"Ya sudah, nanti saya akan sampaikan. satu lagi! sebelum pulang Kalian cari tempat makan terlebih dahulu, kasihan mungkin dari tadi siang para warga belum makan," Pinta Fathan yang selalu perhatian sama anggota kelompok keranjang sayur, dengan segera dia pun mengeluarkan uang lalu menyerahkan sama Asep.


Setelah menyampaikan tugas dia pun kembali ke dalam untuk menemui Farah. sekaligus menyampaikan kalau adiknya itu harus membantu kelangsungan pertanian keranjang sayur bersama Asep. awalnya Farah menolak, namun setelah diberi pengertian, akhirnya adiknya pun mengerti, dan bersedia pulang ke kampung sukadarma.


Para warga kampung sukadarma, setelah melihat kondisi kamal dan mendoakan yang terbaik untuk tetangga, sekaligus rekan kerja. Mereka pun berpamitan sama Fathan dan Idan, untuk kembali ke kampung halamannya, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Fathan.


Seperginya warga kampung sukadarma dari rumah sakit. terlihat mobil SUV milik Kirana Masuk ke halaman parkir, dengan cepat Gadis itu mengambil handphone untuk menghubungi calon adik iparnya, karena kalau menghubungi Fathan dia sudah berprasangka buruk duluan.

__ADS_1


"Halo Far!" Sapa Kirana setelah teleponnya terhubung.


"Iya Kak, Kenapa?"


"Mang Kamal dirawat di ruang apa" tanya Kirana.


"Di ruang Melati Nomor 7C. Telepon Kak Fathan saja kak! soalnya Farah sudah berjalan menuju arah pulang."


"Iya terima kasih! Tapi kalau nelpon keKakakmu rasanya dia tidak akan mengangkat."


"Iya sih Kak susah! padahal Buat apa punya HP, kalau nggak digunakan," jawab farah yang sudah tahu betul dengan sifat kakaknya.


"Iya!" Jawab Kirana yang terdengar menghela nafas pelan.


"Coba Kakak telepon lagi! siapa tahu sekarang Diangkat Kak. mungkin tadi ketika Kakak nelpon, dia lagi nggak bisa mengambil handphonenya." jawab Farah membesarkan hati calon kakak iparnya.


"Terima kasih ya Far! kamu hati-hati di jalan."


Akhirnya telepon itu terputus, Kirana pun menarik nafas mengumpulkan kesabaran karena dia hendak menelepon Fathan. namun baru saja dia mau menekan tombol Panggil, Fathan sudah menghubunginya.


"Siapa?" tanya Sri yang duduk di samping Kirana.


"Fathan Bu!"


"Ya sudah angkat!"


"Ini mau Bu," jawab Kirana sambil menggeser tombol berwarna hijau ke arah atas, dia tidak langsung mengangkat telepon itu, mungkin Kirana Terkesima karena Fathan melakukan hal yang tidak disangka olehnya.


"Kamu sudah sampai di mana? kata Farah kamu menyusul ke rumah sakit." tanya Fathan yang merasa khawatir karena menurut keterangan adiknya, Kirana datang ke rumah sakit tidak sendirian, Kirana datang menyusulnya dengan ibu serta adiknya.


"Aku di parkiran Tan! Kamu ke sini dong."


"Ya sudah, tunggu!"


Tap! tap!  tap!


Telepon itu terputus, sebelum Kirana menjawabnya lagi. membuat gadis kota itu hanya menarik nafas pelan, untuk meredakan emosi yang ada di dadanya. Meski udah dipersiapkan dari tadi namun kekecewaan itu tetap hinggap.


"Bagaimana?" tanya Sri seolah tidak sabar.

__ADS_1


"Bentar lagi Fathan mau menjemput kita di sini. Kita tunggu aja biar kita nggak harus susah-susah mencari ruangan Mang Kamal."


Akhirnya mereka berempat pun keluar dari mobil, agar ketika Fathan mencarinya. sang petani itu akan mudah menemukan mereka.


__ADS_2