
Kesedihan Kirana
Dua hari berlalu, Fathan pun sudah menunjukkan perubahan, keadaannya sudah membaik, Bahkan dia sudah tinggal di rumahnya sendirian sedangkan Kirana menetap di rumah Kamal.
Sepulihnya dari penyakit yang dia Derita, Fathan tidak sedikitpun menunjukkan rasa simpati terhadap Kirana yang selalu membantunya. dia malah lebih sibuk memikirkan Bagaimana caranya agar pertanian yang ia kelola kembali berjaya, seperti beberapa minggu yang lalu. apalagi kalau melihat kenyataan yang sangat menyedihkan, sayuran yang dipanen yang tidak bisa dikirim ke pasar busuk begitu saja. sehingga dia semakin melupakan Janji Manis terhadap seorang gadis.
Hari-hari pun berlalu, Kirana hampir sudah seminggu tinggal di rumah Kamal, dia belum pernah menyapa Fathan, Begitupun sebaliknya, karena jangankan tidak di Sapa, disapa pun Fathan seolah tidak peduli dengan diri Kirana.
Sore itu, Kirana yang tidak masuk ke kantor keranjang sayur, karena selain tidak ada pekerjaan, hari itu entah mengapa rasanya sangat malas untuk bekerja, mungkin perbawaan hati yang belum mendapat kepastian.
Truk! truk! truk!
Pintu kamar Kirana pun ada yang mengetuk dari luar, membuat gadis itu membangunkan tubuh dari tempat tidurnya, kemudian membuka pintu kamar.
"Neng Kirana sakit?" tanya Sari sambil memindai tubuh Kirana mungkin dia sedang mendiagnosis gadis itu.
"Nggak bi, namun Kirana sedang malas aja, Kirana ingin istirahat."
"Oh kirain sakit...! ini Bibi buatkan bubur kacang ijo, dimakan ya!" ujar Sari sambil memberikan nampan berisi mangkok.
"Ya Allah bibi nggak usah ngerepotin, pakai harus diantar segala. Kirana bisa ngambil sendiri di dapur," jawab Kirana yang merasa tidak enak, matanya menatap nanar ke arah Sari. Entah mengapa kala itu dia mengingat ibunya yang selalu perhatian terhadapnya.
"Gak Repot kok neng, Lagian dari dapur ke sini kan dekat. Terus kalau bubur kacang ijo dimakan sudah dingin, tidak enak. ya sudah dimakan jangan banyak pikiran," ujar Sari yang terlihat mengulum senyum.
"Terima kasih Bi..! Terima kasih banyak! Kirana masuk kamar dulu, ujar Kirana."
"Ya sudah kalau Neng Butuh sesuatu atau Neng butuh bantuan bilang sama Bibi!"
"Baik Bi!"
Akhirnya Kirana pun masuk kembali ke dalam kamar, kemudian dia menutup pintu dengan rapat, bubur kacang yang berada di tangannya dia letakkan di atas nakas, kemudian dia pun menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas kasur.
Matanya memindai plafon, pikirannya terbang ke mana-mana. setahun lebih perjuangan Mengejar Cinta Fathan, namun itu tidak membuahkan hasil. hanya kekecewaan yang ia dapat, sehingga membuat hati Kirana merasa bersalah kepada orang tuanya, dia sangat menyesal tidak mengikuti saran orang yang benar-benar menyayanginya, malah dia lebih memilih mengejar cinta yang tak pasti.
__ADS_1
"Ibu...! bapak...! Maafkan Kirana! gumam hati gadis itu sambil menghela napas pelan, membuang rasa bersalah yang ada didalam dada. matanya yang sudah mengembun dipenuhi dengan cairan kesedihan, ketika dia berkedip butiran itu jatuh membasahi pelipisnya. Warnanya yang bening mengkilat bak mutiara yang terisinari sinar lampu.
"Kalau aku kembali ke Jakarta, apa Bapak dan Ibu masih mau menerimaku?" pikir Kirana yang merasa bersalah, karena perjuangan yang selalu dibayangkan akan membuahkan hasil sekarang merasa sia-sia. Dia takut kalau orang tuanya menyalahkan.
Gadis itu terus menatap langit-langit kamar, meratapi penyesalan yang sudah berlalu, namun untuk kembali dia merasa malu, karena dia tidak mau Mendengarkan nasehat orang tuanya.
Tring! tring! tring!
Sedang terlarut dalam kesedihan, tiba-tiba handphone Kirana yang berada di sampingnya berbunyi, dengan malas Gadis itu mengambil handphonenya, kemudian dia melihat Siapa yang menelepon.
"Ibu...!" Umpat gadis Jakarta itu, setelah melihat nama di layar handphonenya, dengan cepat dia pun menggeser tombol hijau ke atas.
Kesedihan Kirana, mungkin terkontak dengan ibunya. sehingga Winda pun menelepon anaknya yang sudah lama tidak pulang kerumah.
"Halo!" Sapa Kirana dengan suara sedikit bergetar, setelah teleponnya terhubung.
"Iya halo...! bagaimana keadaanmu nak?" tanya Winda.
"Kirana baik-baik saja Bu," jawab Kirana menyembunyikan kesedihannya. Mendapat telepon dari Winda membuat Kirana merasa bahagia sekaligus merasa sedih mengingat kesalahan yang ia lakukan.
"Nggak, nggak apa-apa bu, Kirana kangen sama Ibu!"
"Kalau kamu kangen, Pulanglah...! nanti kamu bisa kembali ke kampung sukadarma, Kalau kamu masih mau mengejar cinta Fathan." jawab Winda yang selalu bijak
"Kirana malu Bu! Kirana malu...! Maafkan Kirana..!" ujar Gadis itu yang tak kuat membendung kesedihannya ,sehingga suara senggukannya pun terdengar oleh ibunya.
"Kamu kenapa nangis, kamu sedih? kenapa Fathan masih tidak meresponmu bukan?" tanya Winda dengan hati-hati.
Kirana tidak menjawab, Dia hanya memperkeras suara tangis. namun dengan cepat dia menutup mulutnya dengan bantal, takut suara tangisnya terdengar oleh keluarga Kamal.
"Sudah kamu jangan menangis...! dari dulu juga Ibu sudah bilang, kalau Cinta itu harus diperjuangkan oleh keduanya, bukan kamu sendiri, Ibu sangat mengerti perasaanmu. Pulanglah Tenangkan dirimu!"
Kirana tidak menjawab dia terus menangis meratapi kesalahannya, meratapi penyesalan yang tidak mengikuti nasehat orang tua. Winda dengan sabar menunggu anaknya berhenti menangis.
__ADS_1
"Ibu....!" Panggil Kirana dengan suara paraunya.
"Yah, kenapa? Sudah jangan nangis! ini adalah hasil dari apa yang kita tanam, jadi kamu harus kuat tidak boleh cengeng seperti itu!"
"Boleh nggak..?" Tanya Kirana ragu-ragu.
"Boleh apa? kamu butuh bantuan apa dari ibu, kamu ngomong aja jangan ragu-ragu!"
"Kirana Malu Bu...! karena Kirana tidak menurut dengan nasihat Ibu, maafkan anakmu yang keras kepala ini."
"Sudah enggak usah malu-malu, sudah biasa ini kan?" jawab Winda yang terdengar tersenyum menghibur hati anaknya.
"Ibuuu!"
"Iya, iya boleh apa?"
"Boleh nggak kalau Kirana pulang dan ikut kembali tinggal bersama ibu," ujar Kirana yang ragu-ragu.
"Ya Allah kamu tuh nak, kamu kaya sama siapa aja. pintu rumah ibu akan selalu terbuka buat anaknya, Apalagi kamu anak satu-satunya. kamu yang sabar...! kamu yang kuat. Kapan kamu mau pulang?" tanya Winda yang sudah kembali ke mode serius.
"Kalau boleh Nanti malam saya pulang Bu," jawab Kirana.
"Besok saja kamu pulangnya, biar ibu suruh Pak Andi untuk menjemputmu."
"Gak usah Bu, Kirana juga bisa nyetir sendiri."
"Nggak boleh...! kamu nggak boleh menyetir sendiri, apalagi kondisimu kurang baik."
"Kalau ibu mengizinkan untuk tinggal di rumah. Kirana akan meminta warga Kampung, Untuk mengantarkan Kirani ke Jakarta.
"Yah itu lebih baik, daripada kamu bawa mobil sendiri. tapi kamu harus tetap hati-hati di jalan. ya sudah, Ibu tunggu jangan tunda-tunda lagi kepulanganmu...!" seru Winda walaupun hatinya sangat sedih namun sedikit banyak dia tahu sikap Fathan yang sangat baik, sehingga dia tidak membenci laki-laki yang menyakiti hati anaknya.
Setelah mengobrol beberapa saat, akhirnya telepon pun terputus. kemudian Kirana menyimpan kembali handphonenya di atas kasur, matanya menatap ke atas nampan yang berisi mangkok bubur kacang.
__ADS_1
Sebenarnya Dia enggan memakan makanan itu, namun melihat kebaikan Sari yang begitu luar biasa, sehingga dia tidak enak kalau menolak. dengan perlahan dia pun mulai menyantap bubur kacang yang berada di dalam mangkuk.