
Rencana
Setelah mendapat izin dari pamannya. Fathan dan Kirana pun pergi meninggalkan Rumah Sakit Kota Sukabumi, untuk kembali ke kampung sukadarma. di perjalanan tidak ada pembicaraan yang berarti. Fathan, dia terfokus memikirkan penyelesaian masalahnya. sedangkan Kirana yang mengetahui pemikiran kekasihnya sedang terfokus, dia tidak berani mengganggu.
Sejam berlalu, akhirnya mereka sampai di kampung sukadarma, kampung yang terlihat sedikit sepi, karena kejadian kemarin masih menyisakan Trauma di warga kampung sukadarma. namun setelah Fathan meminta untuk berkumpul, Mereka pun dengan Sigap mayatroni kediaman rumah Kamal, tanpa ada satu orang pun yang terlewat. Bahkan bukan anggota kelompok keranjang sayur saja yang datang, dari pihak anggota pun ada yang menghadiri pertemuan itu. Karena Fathan memintanya.
Waktu sudah mulai menunjukkan siang hari, karena matahari di sebelah timur mulai naik, menyinari Buana Panca Tengah. memberikan kehangatan bagi para warga yang sedang duduk di halaman rumah kamal.
"Mohon maaf mengganggu waktu istirahat bapak-bapak, dan ibu-ibu sekalian. Saya mengumpulkan semuanya di sini, untuk membahas kejadian kemarin yang menimpa Kampung kita tercinta, kampung sukadarma," ujar Fathan mengawali acara rapat itu.
"Terus bagaimana Jang?" tanya Pak RT.
"Saya ingin mengobrol dengan para warga semuanya, terutama kelompok keranjang sayur. sebaiknya kita harus melakukan apa? karena kalau dibiarkan usaha kita akan terganggu. usaha yang sudah kita Rintis dari kecil. Dan yang perlu Bapak ketahui bahwa saya sudah menandatangani kontrak bersama salah satu penyuplai sayuran supermarket. Jadi kalau masalah ini dibiarkan begitu saja, saya takut usaha kita yang sudah membuahkan hasil, terserang oleh hama pengganggu."
"Kalau menurut saya kejadian kemarin itu adalah kejadian terburuk yang pernah kita alami. karena sejak dari dulu Kampung kita tidak pernah diserang warga sebanyak itu. dan sampai sekarang kita belum mengetahui motif warga Kampung sukaramah menyerang kita," Jawab Pak Ustad menyampaikan pendapat.
"Benar pak ustad. ini adalah kejadian yang memalukan, di mana kita sudah seusia ini harus bertarung memperebutkan pepesan kosong. Saya harap para warga sekarang berpikir secara dewasa, agar tidak menimbulkan kekisruhan yang lain."
"Saya tidak setuju Pak RT. masa ada warga kita yang terluka seperti itu, kita harus diam saja? Harusnya Pak RT sebagai ketua Kampung, memberikan saran dan bagaimana cara membalas rasa sakit yang diderita oleh tetangga kita." ujar salah seorang membantah pendapat Pak RT dan pak ustad, karena begitulah manusia berbeda kepala maka akan berbeda pula yang dipikirkan.
"Mohon maaf Kang Ujang, memang kita harus memiliki rasa simpati terhadap warga kita yang sedang kena musibah. namun kalau kita membalas kekerasan dengan kekerasan, sama saja kita mendidik generasi-generasi anak kita, untuk terus menyalakan api permusuhan. Coba bayangkan kalau kejadian yang menimpa kanh Kamal menimpa keluarga Kang Ujang, Bagaimana rasa sedihnya ketika ada keluarga yang menjadi korban dari keegoisan kita."
"Saya akan membalas! kalau kejadian yang dialami oleh Mang Kamal terjadi ke keluarga saya. saya tidak akan memaafkan orang yang telah melukai keluarga saya sampai tetes darah penghabisan." jawab orang yang bernama Ujang dengan menggebu-gebu bak orator perjuangan.
"Kalau kita sudah membalas warga kampung sukaramah terus keluarganya tidak terima, maka mereka akan menuntut pembalasan dari Kang Ujang. Sehingga Kang Ujang pun terluka. Terus keluarga Kang Ujang tidak terima, keluarga Kang Ujang akan menuntut balas lagi ke keluarga orang yang mencelakai. Dan kejadian itu akan terus terulang sampai warga kampung sukadarma atau Kampung sukaramah Habis tak tersisa. kita sekarang sudah tua, Sekarang waktunya kita mendidik generasi-generasi muda kita, agar menjauhi permusuhan, agar kejadian yang seperti kemarin tidak terulang kembali ketika anak cucu kita menjadi dewasa. dulu orang-orang tua kita yang salah, yang terus memupuk rasa permusuhan itu hingga kejadiannya seperti sekarang, Mang Kamal yang menjadi korban. Sekarang saatnyalah kita yang sudah menjadi orang tua, harus menjadi contoh yang baik bagi generasi generasi muda warga kampung sukadarma.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Pak RT seperti itu, Ujang hanya terdiam dan mengeratkan gigi. karena dia tidak setuju dengan apa yang disampaikan oleh ketua kampungnya, namun untuk menolak dia tidak memiliki keberanian, karena sebagian besar dari para warga tidak mau memperpanjang masalah. Bahakan sebagian warga, Mereka sudah menatap tajam ke arah Ujang.
"Mohon maaf saya ikut berbicara." Sela Fathan di tengah-tengah perdebatan sengit itu.
"Silakan Tan! mau berbicara apa?" ujar Pak RT mempersilahkan.
"Tadi pagi Sebelum saya pulang, saya sempat mengobrol dengan Mang Kamal, untuk membahas luka yang di deritanya. Apakah dia mau membalas dendam atau membiarkan begitu saja. namun ternyata beliau berpesan agar para warga Kampung sukadarma tidak melakukan serangan balasan. biarkan yang terjadi sama dirinya, itu adalah kejadian yang terakhir. Paman saya berharap kejadian itu tidak terulang kepada warga yang lain," ujar Fathan menyampaikan pembicaraan tadi pagi bersama Kamal.
"Memang benar apa yang disampaikan oleh Pamanmu tan! kita sudah terlalu lama memelihara permusuhan dengan warga kampung sukaramah. Sudah saatnya sekarang kita mengakhiri permusuhan itu. agar ke depannya, anak cucu kita bisa hidup dengan damai dan nyaman, tanpa rasa takut mendapat serangan atau kehilangan keluarganya," jawab Pak RT membenarkan.
"Terus sekarang kita mau bagaimana?" Tanya Fathan sambil menatap ke arah para warga.
Damai! damai!
jawab para warga serempak.
"Kang Ujang! Akang jangan memperkeruh suasana, kalau Akang mau terus memperpanjang permusuhan. silahkan! namun tolong tinggalkan kampung sukadarma yang ingin hidup dengan damai." sanggah Pak RT dengan membulatkan mata, karena Ujang terus mengompori warga yang lain.
"Kok begitu Pak RT! Bapak harusnya memiliki rasa simpati terhadap Kamal. ingat Pak RT Kamal itu warga kita, warga yang harus kita bela, yang harus kita balaskan rasa sakitnya."
"Maaf Kang Ujang saya ikut menjawab, Mang Kamal tidak ingin memperpanjang masalah ini. Dan tolong Akang Jangan mempengaruhi para warga, karena keadaannya masih sangat panas. kalau ada api sedikit pun saja maka akan cepat terbakar," Jawab Fathan sambil merapatkan tangan menunjukkan gestur permohonan maaf.
"Kalian semua payah!" dengus Ujang yang terlihat kesal.
"Kang Ujang yang payah! kalau Akang tidak mau berdamai maka kebetulan di sini ada anggota dari pihak Kepolisian. saya akan meminta beliau untuk membawa Kang Ujang, karena Kang Ujang sudah menghasut warga yang tidak tidak. saya malu memiliki warga seperti kang Ujang, warga yang tidak bisa diajak berbicara, dan tidak mau menerima dengan pendapat orang lain." ancam pak RT yang sudah kehabisan akal, untuk memberikan pengertian sama orang kaya itu.
__ADS_1
Mendengar ancaman Pak RT, Ujang pun kembali terdiam sambil mendengus kesal. dia menyampaikan kekesalan dengan orang yang duduk di sampingnya, namun orang itu hanya Acuh, cuek tak mau mendengarkan apa yang disampaikan oleh tetangganya itu, tetangga yang memiliki rasa dendam.
"Biar adil! Bagaimana kalau kita voting saja. Siapa yang mau meneruskan permusuhan dan siapa yang mau berdamai. agar kita bisa mencatat lalu menyerahkan ke warga kampung sukaramah, bahwa orang-orang yang tidak setuju untuk berdamai itu adalah musuh kampung mereka. Dan kita akan meminta warga kampung sukaramah tidak mengganggu warga yang tidak mau memperpanjang permusuhan," ujar Fathan memberi saran.
"Setuju! Dan Kalau ada warga yang mau melanjutkan permusuhan silakan! namun Jangan sampai mengganggu ketentraman para warga yang mau berdamai. kalau sampai mengganggu ketentraman warga yang baik. maka saya sendiri yang akan melaporkan orang itu, untuk ditahan di penjara, agar dia jera! agar dia bisa berpikir. dan ketika ada yang terluka .orang yang mau hidupnya dengan penuh kedamaian, tidak harus menolong warga itu. Biarkan saja sampai mati di tempat." tambah Pak RT memberikan ultimatum yang sangat keras, membuat warga yang berkumpul merasa ngeri dengan ancaman ketua Kampung mereka.
"Ya sudah kita tentukan sekarang Pak RT!" saran Fathan.
"Baik! silakan kalau ada yang mau melanjutkan permusuhan, silakan tinggalkan acara musyawarah ini!" seru Pak RT dengan tegas, dia membagi tatap ke seluruh warga yang berada di situ, mencari-cari Siapa orang yang berdiri dan pergi meninggalkan halaman rumah Kamal.
Namun lama menunggu, tidak ada satu orang pun yang Beranjak Pergi. menandakan mereka bersepakat ingin berdamai dengan warga Kampung sukaramah, Mereka ingin mengakhiri permusuhan itu secara sah.
"Nggak ada yang mau pergi?" tanya Pak RT seolah menantang.
Tak Ada Jawaban yang diberikan oleh warga, mereka hanya terdiam sambil saling menatap. Ada pula yang menundukkan kepala, namun untuk pergi dari tempat itu, tidak ada warga yang berani.
"Baik! kalau seperti ini, berarti kita semua setuju untuk berdamai dengan warga Kampung sukaramah. ingat kalau sudah melakukan perdamaian, kita jangan memulai kembali. Kalau sampai ada yang memulai permusuhan itu. Saya orang yang pertama yang akan membawa warga itu untuk diserahkan ke pihak yang berwajib. Saya tidak akan segan, Saya tidak akan menatap Siapa orang yang memulai permusuhan, semuanya Saya akan gondol menuju penjara." ancam Pak RT dengan nada tegas
Halaman rumah kamal kembali terdiam, mereka seolah kehabisan pembicaraan. mungkin mereka sedang terbang bersama lamunannya masing-masing.
"Setuju kita berdamai?" lanjut Pak RT bertanya kembali.
Setuju!
jawab warga sukadarma dengan serempak.
__ADS_1
"Nah, kalau setuju! saya mohon kepada bapak Polisi untuk memfasilitasi perdamaian antara Kampung sukadarma sama kampung sukaramah!" ujar Pak RT sambil menatap ke arah orang yang berpakaian seragam , yang dari tadi hanya terdiam menyimak, tanpa memberikan komentar apapun mungkin karena belum diminta.