Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 51


__ADS_3

Memeras Ujang


"Kayaknya kita lebih cocok mengobrol di penjara, daripada di sini."  jawab Sobri sambil menghempaskan pegangan tangan Ujang, kemudian dia melangkahkan kaki hendak pergi meninggalkan teras rumah itu. namun Ujang yang terlihat sudah ketakutan karena kalau Beneran itu terjadi, maka cita-citanya khayalan-hayalannya akan musnah seketika.


"30 juta Bri!" Ujang kembali menaikkan tawarannya.


Namun Sobri tak menggubris tawaran itu, dia terus berjalan di halaman rumah Ujang. melihat itu dengan cepat Ujang pun berlari.


"Mau berapa?" Tanya Ujang yang terlihat sudah sangat ketakutan.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Sobri pun tersenyum kembali menunjukkan Sisi terseramnya, seperti psikopat yang sudah menemukan mangsa. Dia membalikkan tubuh kembali lalu berjalan mendekat ke arah teras rumah Ujang, kemudian dia duduk kembali di kursi yang tadi sempat ia tinggalkan.


Melihat kelakuan Sobri seperti itu, seperti orang yang tidak memiliki etika. Ujang hanya mengeratkan gigi namun dia tidak berani berbuat banyak, karena Ujang merasa takut dengan ancaman yang dikeluarkan oleh Sobri. dengan kesal dia pun duduk kembali di kursinya, ingin mengetahui kelanjutan nya seperti apa.


"Mau dibayar berapa?" Tanya Ujang sambil menatap ke arah pria yang mengambil rokoknya kembali.


"100 juta!" jawab Sobri dengan Santainya dia menghisap rok0k yang baru dia bakar, lalu menghempaskan asapnya ke arah langit-langit, asap itu menghilang ditiup oleh angin sore.


"Gil4 kamu bri! gil4 banget! kamu mau memaras saya. kalau seperti itu. kita buktikan saja Siapa yang salah, karena dalam video itu tidak ada pembicaraan saya yang menyuruh kamu untuk menghabisi Fathan,"


Sobri hanya tersenyum, kemudian dia mengeluarkan handphone yang ada di dalam jaketnya. lalu menunjukkan bahwa telepon itu sedang berada di dalam panggilan. "semuanya sudah kita rekam, karena Gua yakin lu orangnya sangat licik. maka kami bukan anak kecil, yang bod0h seperti yang dituduhkan oleh kamu. kami sangat cerdik, kami sudah merekam semua pembicaraan kita barusan. Dan yang perlu kamu tahu, kami bukan warga kampung sukadarma, yang mudah kau bohongi, yang mudah kau tipu, dengan iming-iming peminjaman hutang." ujar Sobri sambil memasukkan kembali telepon itu ke dalam jaketnya, membuat Ujang semakin mengeratkan gigi, namun sekarang dia tak berani melawan, karena orang yang ada di hadapannya bukan orang yang sembarangan.


"Kurang ajar! kamu licik."


"Menghadapi orang licik, harus cerdik!"


"Kalau kamu mau, saya akan kasih 50 juta."


"Kalau hanya segitu mendingan kamu simpan untuk modal persidangan nanti, dan untuk menafkahi istrimu selama kamu tinggalkan."


"Tolonglah Bri! jangan main ancam-ancam, kita kan saudara, Please jangan 100 juta!" Pinta Ujang mengiba.


"Kalau Gigi saya bisa menyatu kembali, teman saya yang dirawat bisa sembuh, teman saya yang ada di penjara bisa keluar, mungkin saya hanya akan meminta pembayaran dari kamu seperti yang awal kita janjikan."


"Pardi kenapa kamu diam aja, bantu mikir!"

__ADS_1


"Maaf kang Kalau menurut saya, mendingan Akang ikuti semua yang diminta oleh Sobri, dan Akang minta perjanjiannya Seperti apa, ketika Akang mengasih Sobri 100 juta. Lagian saya yakin uang segitu tidak ada apa-apanya dibanding dengan kebebasan akang, yang masih banyak cita-cita yang belum terwujud."


"Seratus juta itu uang Pardi! bukan daun." Jawab Ujang yang menatap kesal ke arah adik iparnya.


"Saya cuma memberikan saran kang. Diterima atau tidaknya, itu terserah akang. kalau akang sudah siap mendekam di penjara, maka akang nggak perlu repot-repot mengeluarkan uang sebanyak itu," jawab Pardi yang terlihat santai.


"Kalau aku kasih 100 juta, Kamu mau apa?" Tanya Ujang sambil menatap kembali ke arah Sobri yang masih terdiam menyimak perdebatan antar saudara ipar itu.


"Sesuai permintaan Kang Ujang, Aku tidak akan mengganggu kehidupan Kang Ujang, aku akan menganggap kita tidak pernah bertemu, tidak pernah membuat kerjasama."


"Apa Orang seperti kamu bisa dipercaya?"


"Buktinya Ketika saya menyanggupi untuk melukai Fathan, saya lakukan! itu adalah bukti keseriusan saya. Yang tidak pernah main-main dengan apa yang saya ucapkan."


Mendengar jawaban Sobri seperti itu, Ujang pun terdiam sesaat, mungkin dia sedang menimbang baik dan buruknya. Setelah lama terdiam akhirnya dia menemukan keputusan, dia akan memberikan uang sesuai dengan permintaan Sobri. meski hatinya tidak rela, namun ketika dia masuk penjara maka itu sangat menakutkan.


Sobri melihat yang Ujang terdiam, dia dengan santainya meminum kopi tuan rumah yang masih tersisa setengah gelas. Dia menyeruput kopi itu dengan suara seperti sedang sangat menikmati. Sobri tidak mengganggu Ujang yang sedang berpikir seolah dia memberikan keleluasaan Ujang untuk mengambil keputusan terbaik, Namun dia yakin Ujang akan menuruti apa yang dia minta. Karena dia sudah tahu betul rencana-rencana Ujang untuk menguasai Kampung sukadarma. Bahkan dia juga tahu kalau Ujang sudah mengganti tulisan di gapura kampung, dengan nama kampung sukaujang.


Ruangan teras itu terasa sepi, hanya asap asap yang keluar dari mulut Sobri yang berlalu Lalang tertiup oleh angin. dari arah depan sesekali terdengar suara motor yang melewati rumah.


"Oke! Oke! saya akan memberikan uang itu, namun kamu harus bisa menepati janji, kamu tidak akan mengganggu hidup saya lagi dan tolong Hapus semua video yang berhubungan dengan saya. dan rekaman pembicaraan kita barusan, sekarang juga kamu harus hapus!"


Melihat keseriusan Sobri, akhirnya Ujang dengan berat hati dan merasa lemas. dia pun bangkit masuk ke rumah meninggalkan Pardi dan Sobri yang masih terdiam. namun ketika Ujang masuk ke dalam rumah, dari sudut bibir Mereka pun mengembang senyum penuh kemenangan.


Pardi yang sejak dari tadi terdiam, dia pun mengambil rok0k yang ada di atas meja. tanpa ada pikiran atau merasa tertekan dengan kejadian itu. dia mulai menyalakan korek api lalu membakar rok0k yang sudah ada di tangannya. dia mulai menghisap rokok itu lalu membuang asapnya ke atas. mereka berdua tidak ada yang mengobrol, hanya suara isapan isapan yang keluar dari mulut masing-masing.


Sedangkan orang yang ditunggu Mereka. setelah Ujang masuk ke rumah, dengan cepat dia menuju ke kamar kemudian membuka lemari di mana brankas uangnya berada.


"Ada apa Kang?" tanya Darmi yang sedang tengkurap di atas ranjang, sambil menonton video yang ada di handphonenya.


"Nggak ada apa-apa!"


"Gak Ada apa-apa, Bagaimana? kok Akang membuka brankas"


"Kamu jangan banyak nanya, kamu Nikmati saja video-video itu." jawab Ujang sambil mendengus kesal, karena dia menganggap istrinya sangat tidak berguna. selain tidak bisa memberikan keturunan, pekerjaan Darmi setelah melaksanakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, dia hanya berbaring sambil menonton video-video yang ada di dalam handphonenya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau nggak mau cerita!" jawab Darmi yang terlihat cuek matanya kembali menatap ke arah layar handphone, tanpa memperdulikan lagi suaminya yang sedang menghitung uang.


Ujang pun terus mengeluarkan beberapa gepok uang, kemudian memasukkannya ke amplop coklat.


"Kok, banyak amat Kang uangnya?" tanya Darmi yang terlihat penasaran, karena sudut matanya menangkap Apa yang dilakukan oleh Ujang.


"Biasa ada yang minjem uang 100 juta."


"Siapa?"


"Sobri!" jawab Ujang berbohong.


"Sobri siapa, perasaan di kampung kita nggak ada yang namanya Sobri."


"Kampung sukaramah,"


"Kalau dari warga Kampung luar, akang nggak harus meminjamkan uang sebesar seperti itu, nanti mandat lagi. Lagian kita tidak punya kewajiban untuk menolong warga Kampung lain, kita hanya memberikan pinjaman ke warga kampung sukadarma, tujuan kita hanya untuk menolong, mengikuti tapak lacak Bapak Dharma."


"Kalau mandet, kan kita tinggal jual saja tanahnya, sudah kamu fokus aja dengan videonya." jawab Ujang sambil keluar dari dalam kamar , dengan membawa amplop coklat berisi uang  Darmi yang tidak terlalu mengurusi urusan keuangan. dia kembali menetap ke arah layar ponsel, seolah tidak ada dunia yang lebih asik daripada handphone yang digenggamnya.


Sesampainya di luar, Ujang pun dengan cepat menyerahkan amplop itu ke Sobri. dengan cepat warga kampung sukaramah itu membuka sedikit, lalu mengintip ke dalam. terlihat beberapa gepok uang yang sudah tersusun rapih di dalamnya. Tak puas melihat Sobri pun menghisap amplop itu dengan begitu dalam, seolah hidungnya ingin menikmati wangi uang 100 juta.


"Ini uang asli kan?" tanya Sobri seolah tidak percaya, karena baru kali ini Dia memegang uang sebanyak itu. mungkin kalaupun dia bekerja setiap hari, dia tidak akan mampu mengumpulkan uang 100 juta.


"Asli! kalau palsu kan lu pasti datang lagi ke rumah gua," jawab Ujang dengan ketus.


"Pintear! pintar! Terima kasih, saya senang bekerja sama dengan Pak Ujang, nanti lain kali kalau ada pekerjaan tolong hubungi saya."


"Jangan sesekali lagi mendatangi rumah saya. dan jangan sekali-kali lagi kamu memeras saya. ini yang pertama dan terakhir kamu melakukan itu."


"Tenang Pak Ujang! kita sangat profesional. lagian saya juga takut kalau masuk penjara, Tadi hanya menggebrak saja agar Pak Ujang Mau membayar. tapi kalau Pak Ujang tidak mau membayar, ya saya akan nekat, menceritakan semuanya agar kita sama-sama merasakan kepedihan. Biar adil karena kejadian kemarin itu adalah kesalahan Pak Ujang."


"Sudaah! Jangan banyak bacot! mendingan sekarang kamu pergi dari rumah saya, dan jangan menginjakkan kaki lagi disini!"


"Baik, sekali lagi saya ucapkan beribu-ribu terima kasih, atas bantuan yang Pak Ujang berikan. saya akan Hapus semua video tentang kita, takut video itu bocor. sehingga saya tidak bisa menikmati uang ini," jawab Sobri yang masih tetap mengulum senyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Warga kampung sukaramah itu menguluarkan tangan untuk mengajak Ujang berjabat, sebagai simbolis tentang berakhirnya kerjasama mereka. namun Ujang hanya mendengus kesal, karena dia merasa dipermainkan oleh bocah kemarin sore, tapi walau seperti itu dia tetap menerima jabatan tangan itu.


Setelah berjabat tangan, Sobri pun keluar dari teras rumah Ujang. terdengar siulan siulan kebahagiaan membuat hati Ujang sangat panas, merasa ditipu oleh anak kemarin sore. namun dia yang merasa bod0h tidak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2