Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 110


__ADS_3

Sama seperti keluarga Kirana, keluarga Farhan pun mereka bersama-sama menonton keberhasilan anaknya yang ditayangkan secara eksklusif di televisi. karena tadi Sarah yang sedang melihat berita, Awalnya dia sangat kaget ketika nama kampungnya disebut oleh pembawa berita, namun setelah melihat tayangan yang berada di televisi, dia pun sangat yakin bahwa itu adalah kampungnya, sehingga dia memberi tahu kedua orang tuanya.


Akhirnya mereka bertiga pun menonton bersama, menyaksikan keberhasilan Fathan yang masih bisa berjualan meski dalam kondisi pandemi. butiran bening membasahi kedua pipi orang tua Fathan, karena mereka merasa terharu melihat perjuangan anaknya meski sering diterpa cobaan-cobaan yang hendak menghancurkan pertanian keranjang sayur, namun Fathan seperti karang yang tak pernah tergoyahkan oleh deburan ombak yang menghantam, dia kokoh mempertahankan keinginannya mewujudkan kampung sukadarma yang gemah ripah loh jinawi.


"Itu beneran anak kita kan Pak yang masuk TV?" tanya Sri seolah tidak percaya, dia menyusut cairan bening dengan ujung bajunya.


"Kayaknya Iya karena beberapa kali wartawan memanggil dia dengan sebutan anak kita," jawab Farhan yang memalingkan muka menyembunyikan cairan bening yang mengalir di pipinya.


"Hebat ya anak kita, kalau melihat seperti ini, apa kita yang salah?" tanya Sri dengan suara parau


"Iya kita yang salah Bu, Pak! harusnya kita mendukung Kak Fathan berjuang, kita ini adalah keluarga aslinya, saudara sedarah, apa kita nggak malu melihatĀ  mang Kamal, Bibi Sari, dan Bu Kirana yang terlihat begitu totalitas membantu Kak Fathan. harusnya Kitalah yang berada di samping Kak Fathan, memberikan tepuk tangan atas keberhasilannya," ujar Sarah yang pikirannya sudah mulai dewasa, karena Sekarang dia sudah sekolah menengah atas.


"Iya, kita harus kembali ke kampung sukadarma, kita harus meminta maaf sama Fathan, kita tidak usah malu untuk mengakui kesalahan!" ujar Farhan memberi keputusan.


Akhirnya keluarga Farhan pun terlarut dalam kebahagiaan, ketika melihat kesuksesan anaknya yang dipertontonkan ke seluruh jutaan pasang mata. berbeda dengan Ujang orang yang selalu mengompori untuk menghancurkan pertanian yang berada di kampungnya, dia melakukan itu Bukan Tanpa Alasan, Ujang berbuat seperti itu, karena semenjak para warga bergabung dengan kelompok keranjang sayur, orang-orang yang meminjam uangnya sedikit berkurang, bahkan sampai habis tak tersisa, beruntung Dadun mau keluar dari kelompok, sehingga dia mulai mendapat klien baru. Dan dengan adanya pertanian Fathan cita-citanya untuk merubah nama kampung sukadarma, menjadi sukaujang akan sulit terealisasi.


Namun ketika Ujang mendengar bahwa Dadun sudah kembali bergabung dengan kelompok keranjang sayur, dia pun terlihat marah-marah, semua benda yang ada di hadapannya dia tendang dan dia lempar, membuat Pardi adik iparnya dengan Sigap menghampiri.


"Kenapa Akang kok marah-marah?" tanya Pardi.


"Kurang ajar amat si Dadun, si Parmin, mereka berkhianat sama Akang, mereka sudah bergabung kembali dengan kelompok keranjang sayur!" jawab Ujang sambil mengepalkan tangan, kemudian ditinjukan ke tangan yang satunya lagi.


"Realistis lah kang! daripada hasil pertanian mereka terbengkalai Tidak bisa dijual, mending mereka ikut kembali dengan keranjang sayur yang penjualan hasil pertaniannya sangat lancar," jawab Pardi yang memiliki pikiran selangkah lebih maju daripada Ujang, yang kekurangan Pardi hanyalah uang, karena dia tidak bisa memanage keuangannya, sehingga warisan yang lumayan diberikan oleh almarhum Pak Darma, Habis tak tersisa.


"Kamu bukannya ngasih solusi, malah membela mereka...!" ujar Ujang sambil membulatkan mata, menatap tajam ke arah adik iparnya.


"Mau bagaimana lagi Kang, kita sudah kalah telak sama fathan, Kita sudah sering menghancurkan pertaniannya, namun seringkali juga dia bisa bangkit, bisa mencari solusi. sehingga pengeluaran Akang terlihat sia-sia. ingat Kang...! Sudah berapa puluh juta, bahkan mungkin ratus juta biaya yang akang keluarkan hanya untuk menghancurkan pertanian keranjang sayur, namun Apa hasilnya...? hanya kegagalan dan kegagalan, mungkin sekarang Sudah saatnya kita berlapang dada, menerima kekalahan kita...!" saran Fardi mengingatkan kakak iparnya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang...! asal nguap saja kalau berbicara. enak aja Akang yang sudah banyak pengalaman harus mengalah begitu saja kepada anak ingusan, mau ditaruh di mana harga diri Akang....!" sanggah Ujang Tidak setuju


"Sudahlah kang....! Kalau Akang begini terus, saya capek mengikuti kemauan Akang. sekarang mungkin sudah saatnya saya keluar dan ikut bergabung dengan kelompok keranjang sayur, Kebetulan saya juga masih punya tanah sedikit untuk diinvestasikan," ujar Fardi.


Mendengar keinginan adik iparnya, Ujang pun yang awalnya terlihat marah-marah dengan cepat merubah wajah menjadi wajah malaikat, karena kalau bukan kepada Pardi, mau kepada siapa lagi dia mengadu. hanya Pardilah yang mengerti keinginannya. walaupun Ujang memiliki istri, tapi istrinya sering tidak sejalan dengan pemikirannya, apalagi Darmi yang tidak terlalu antusias dengan urusan yang sedang suaminya hadapi, dia lebih terfokus melihat handphone bermain game sambil rebahan.


"Jangan begitulah Par...! jangan cepat marah, nanti cepat tua loh...!" tahan ujang.


"Sudahlah Kang...! Ayo kita bergabung bersama mereka, kita sama-sama membangun kampung sukadarma, kampung yang sangat kita cintai!" ajak Pardi.


"Akang Masih penasaran par! Akang mau menjalankan satu rencana lagi, kalau tidak berhasil akang akan mengaku kalah."


"Rencana apalagi Kang?" tanya Pardi sambil menatap penuh penasaran ke arah kakak iparnya.


"Akang mau melenyapkan si bocah ingusan itu, dengan tangan Akang sendiri!"


"Kalau kamu tidak setuju, maka keluargamu lah yang akan pertama akang hancurkan..!" ancam Ujang yang terlihat membulatkan mata menatap tajam ke arah adik iparnya, membuat jantung Pardi terasa berdegup kencang, melihat sorot mata yang begitu menyeramkan.


"Bagaimana kamu setuju apa enggak?" tanya Ujang setelah tidak mendapat jawaban.


"Maaf Kang Saya hanya sebagai pesuruh, saya tidak berani menentukan apapun. saya akan membantu Akang sebisa saya, tapi tolong jangan ganggu keluarga saya!"


"Nah begitu baru kamu adalah anak buah Setia Akang, kalau rencana Akang berhasil, Kamu sendiri yang akan menikmati keuntungannya, orang-orang akan meminjam kembali uang ke akang dan kamu akan terus bekerja di sini, nanti akang taikan gajimu dua kali lipat," jelas Ujang yang terlihat menyunggingkan senyum kemenangan.


"Rencana apa yang akan akang lakukan?" tanya Pardi yang memberanikan diri.


"Sudah kamu nggak usah tahu, yang terpenting ketika akang membutuhkan, kamu harus siap!"

__ADS_1


Mendengar jawaban kakak iparnya, membuat jantung Pardi terasa berdegup dengan kencang, karena dia sudah melihat sisi lain dari kakak iparnya, seperti sedang kerasukan roh halus atau roh jahat.


Pardi sekarang dia tidak bisa menolak, dia hanya mengIya-Iyakan Apa yang dibicarakan oleh kakak iparnya, sambil mencari cara agar Ujang tidak meneruskan niatnya. Sedang asik membahas rencana-rencana jahatnya, terlihat dari arah dalam keluar Darmi.


"Mau ke mana Neng, tumben tumbenan pakai keluar segala?" Tanya Ujang sambil menatap Aneh ke arah istrinya.


"Mau beli garam ke warung, Soalnya kita sudah tidak punya garam buat masak," jawab Darmi.


"Tumben gak nyuruh Si Pardi?" tanya Ujang yang Tak sedikitpun melepaskan keheranannya.


"Kenapa bertanyanya seperti itu? Darmi heran deh sama Akang...! keluar salah, diam di rumah juga salah, terus Darmi harus ngapain?" Ketus Darmi menunjukkan sikap perempuannya yang tidak mau kalah.


"Sudah sana pergi, mau beli garam aja harus berantem segala..!" jawab Ujang yang tak kalah Ketus. "dasar nggak berguna...!" gumam Ujang membuat Darmi yang sudah beberapa langkah hendak pergi, kembali sambil membulatkan mata, kemudian meletakkan tangannya di pinggang.


"Siapa yang tidak berguna, Darmi apa kamu Ujang yang tidak berguna. setiap hari kerjaannya ngurusin orang saja, menghasut orang saja, Darmi malu punya suami kaya Akang....!" bentak istri Ujang dengan menatap tajam ke arah suaminya.


"Nggak...! akang nggak ngomong gitu, sudah sana Sayang kalau mau ke warung Nanti keburu sore," ujar Ujang yang terlihat ketakutan.


"Ingat ya Ujang...! kamu bisa meminjamkan uang, menjadi lintah darat, itu gara-gara bapak. kamu hanya penjual cilok, yang diselamatkan,"


"Sudah sana buruan pergi...!" ujar Ujang yang terlihat tidak mau memperpanjang perdebatan.


Dengan mendelik, Darmi pun membalikkan tubuh kemudian dia melanjutkan perjalanannya, untuk keluar dari singgasana yang begitu megah.


Setelah berada di luar gerbang, dia pun berjalan menyusuri Jalan Besar, membuat para warga yang berpapasan dengannya mereka saling bertanya, kenapa Ratu Kampung sukadarma terlihat keluar seperti itu, karena biasanya Darmi hanya terdiam di kamar sambil menonton film drama kesukaannya.


Dengan menundukkan pandangan Darmi terus berjalan, ketika ada pertigaan dia pun berbelok menuju ke kantor keranjang sayur, ternyata dia bukan mau pergi ke warung, melainkan berkunjung ke kantor para petani.

__ADS_1


__ADS_2