
Mendengar penjelasan Fathan, Idan pun terdiam seketika. seolah Sedang berpikir dan mencerna apa yang disampaikan oleh sepupunya itu, namun setelah lama terdiam Akhirnya dia pun berbicara.
"Kalau petani di Kabupaten Sukabumi lumayan sangat banyak, tapi untuk mendapatkan kualitas hasil pertanian yang sesuai ekspektasi kita itu sangat sulit," jawab Idan yang terlihat enggan, karena semua orang tahu bahwa para petani yang berada di dekat Kampung mereka, hanya petani biasa saja, yang hanya petani secara tradisional.
"Kita tidak boleh melemahkan orang lain, dan kita juga tidak boleh menyerah sebelum berusaha, sekarang kamu masih ada pekerjaan apa, tidak?"
"Untuk beberapa hari terakhir, untuk pekerjaan software Engineer kami nganggur karena kamu tidak pernah memberikan instruksi, atau gagasan yang harus kami kerjakan."
"Nah, kebetulan....! nggak apa-apa kan Kalau bekerja tidak sesuai dengan bidang kamu kuasai."
"Nggak apa-apa, yang penting saya bekerja dan saya tidak makan gaji buta," jawab Idan yang terlihat gagah dan pemberani.
"kalau kamu mau, Tolong panggil semua tetap staf kamu yang berada di software engineer. kita harus bekerja, bergerak sebisa kita, semampu kita dan kita tidak boleh menyerah begitu saja." seru Fathan memberikan arahan.
Idan pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia keluar dari ruangan Fathan. tak lama dia pun kembali sambil diikuti oleh beberapa anak muda yang berada di bawah naungannya. setelah berkumpul Mereka pun saling bertanya kenapa mereka dikumpulkan seperti itu.
"Kita sekarang sedang mengalami masalah, kita tidak bisa menyuplai sayuran ke supermarket, karena kurangnya hasil pertanian kita. ini semua diakibatkan gara-gara ada sebagian kelompok yang keluar dan tidak mau menjual hasil pertaniannya sama kita. sebelum kita menemukan jalan atau cara agar hasil dari pertanian keranjang sayur bisa memenuhi kembali permintaan supermarket, kita akan melakukan terobosan terobosan agar pertanian keranjang sayur tetap berdiri," ujar sang petani mulai membuka permasalahan.
"Caranya bagaimana?" tanya salah seorang anggota.
"Saya dan Idan barusan sudah berbicara bahwa kita berdua akan pergi ke kampung yang terdekat dengan sukadarma. kita akan mencari petani petani yang menanam sayuran sesuai dengan yang kita butuhkan, untuk melengkapi kekurangan hasil pertanian keranjang sayur." jelas Fathan.
"Terus apa yang harus kami lakukan."
"Beberapa hari terakhir, saya sudah melakukan pengecekan. bahwa di kecamatan Nyalindung tidak ada petani kecuali di kampung kita kampung sukadarma, untuk itu tolong kalian bagi tugas, kita datangi kecamatan-kecamatan yang dekat dengan Kecamatan Nyalindung untuk mencari petani-petani yang menanam tanaman sesuai yang kita butuhkan."
"Oh begitu, Jadi kami harus blusukan ke daerah-daerah, ke pelosok-pelosok mencari para petani begitu." Tanya salah seorang anggota memastikan.
"Benar, namun untuk menghemat waktu, kita harus berpencar agar kita bisa menghemat waktu, karena waktu yang sangat sempit, setiap hari kita harus mengirim sayuran ke supermarket."
"Ya sudah kapan kita akan mulai blusukan?" tantang salah seorang anggota.
"Untuk memulai, hari ini juga kita bisa mulai namun sebelum berangkat kita harus tahu dulu spesifikasi tanaman seperti apa dan sayuran seperti apa yang kita butuhkan, Jangan sampai kita membuang modal, tapi hasilnya mengecewakan."
__ADS_1
"Iya benar juga!"
"Nah, untuk spesifikasi sayuran yang kita butuhkan, kita butuh sayur sawi hijau, sawi putih, tomat, cabe, kol, wortel dan yang lain-lainnya. untuk spesifikasinya maka saya sudah menulis di berkas ini, tolong kalian pelajari dan pahami agar kita tidak salah beli dan salah langkah!" jelas Fathan sambil memberikan Map berisi nota nota kesepakatan dengan pihak Bagaskara.
Idan pun mengambil berkas pemberian Fathan, kemudian dengan seksama dan teliti dia mulai mempelajari. setelah selesai dia pun memberikan kepada rekan-rekan kerjanya, agar semuanya bisa paham dan bisa membantu Fathan.
"Sambil memahami sambil berjalan saja. kalau semuanya sudah bisa mengerti dan memahami apa yang tertera dalam berkas itu, kita akan mulai mengatur Ke mana kita harus mencari para petani."
"Benar...! Kecamatan Nyalindung di sebelah timur ada Kecamatan Purabaya, sebelah barat ada Bojong lopang, Utara Gunung Kemuning dan Selatan adalah Kecamatan takokak yang masuk ke Kabupaten Cianjur," jelas Idan.
"Ya sudah, silakan kalian tentukan Kecamatan Mana yang mau kalian datangi! nanti saya sisanya," ujar Fathan memberikan kelonggaran.
"Mending kalau Menurut saya, kita Panggil Asep dan salah satu anggota yang lain. agar kita mencari para petani dua orang dua orang. Ketika nanti ada sesuatu bisa saling membantu, saling menghubungi." jawab Idan memberi saran.
"Benar apa yang kamu bicarakan, ya sudah kalian Atur saja! saya ikut!"
Akhirnya Fathan dan Idan dibantu dengan para pekerja, para anggota lainnya. mereka mengatur strategi, mengatur rencana agar pencarian mereka tidak sia-sia. mereka membagi tempat penjuru dengan dua orang dua orang, sehingga akhirnya adzan dzuhur pun berkumandang dari tengah-tengah kampung sehingga acara musyawarah itu pun berhenti, karena mereka akan istirahat terlebih dahulu.
Asep dan Fathan mereka berdua terus melaju di atas dua roda, menyusuri jalan besar yang di samping kanan kirinya ditumbuhi oleh rumput Ilalang dan pohon-pohon jengjeng yang tubuh subur. karena hanya kampung sukadarma lah yang sudah merubah perbukitan-perbukitan warga, disulap menjadi pertanian yang hijau Ranau, namun walau seperti itu tetap ada kendala.
"Kamu tahu jalannya Sep?" tanya Fathan memecah heningnya suasana.
"Apa kang?" tanya Asep sambil mendekatkan telinga ke arah Fathan, hembusan angin yang menerpa membuat suara tidak terdengar jelas ketika berada di atas motor.
"Kamu tahu jalan ke Cianjur?"
"Tahu Kang...! tahu...!" jawab Asep dengan berteriak.
"Ini bukan jalannya? soalnya saya sudah lama tidak pernah main ke daerah sana."
"Benar ini jalannya! nanti ada pertigaan Akang belok kiri, karena kalau yang belok kanan itu sudah masuk ke Kecamatan Purabaya, Tembusnya ke Kecamatan Curug Kembar."
"Masih jauh?"
__ADS_1
"Kurang tahu kang, Kalau di sini kan nggak ada km-annya?"
"Ya sudah kamu nanti beritahu kalau sudah seharusnya belok!"
"Siap Kang!" jawab Asep.
Motor itu terus melaju dengan kecepatan sedang, karena jalan yang mereka lalui mulai berbatu. bukan tidak beraspal, namun aspalnya saja yang sudah terkelupas, sehingga menyisakan lobang-lobang dan bebatuan bebatuan besar yang terhampar hampir di seluruh jalan.
Lama di perjalanan, akhirnya mereka tiba di pertigaan yang tadi diceritakan oleh Asep, dengan cepat sopir keranjang sayur itu memberitahu bahwa Fathan Sudah saatnya untuk berbelok
Motor Fathan pun berbelok ke sebelah kiri, kemudian mereka terus menyusuri Jalan semakin lama semakin tak karuan, karena bukan aspalnya yang tercopot, melainkan jalannya masih berbatu besar, sehingga motor besar itu tidak bisa memacu kecepatan dengan maksimal.
Lama berpacu dengan jalan yang begitu menakutkan, karena lebih mirip Sungai kekeringan daripada disebut Jalan. akhirnya mereka pun tiba di kecamatan takokak Mereka pun berhenti di salah satu warung, untuk mengisi perut, sambil bertanya-tanya Siapa tahu saja di daerah situ ada para warga yang bertani.
"Kopi Bu!" Pinta Asep setelah mereka duduk di bangku panjang yang sudah disediakan.
"Diseduh apa gimana?" tanya si bibi warung.
"Seduh saja Bi!"
"Kopi apa?"
"Saya kopi abjad!" Pinta Fathan.
"Kalau saya moccacino," Timpal Asep menyahuti
Akhirnya Si Bibi warung pun mengambil kopi yang tergantung di warungnya, kemudian dia mulai menuangkan ke dalam gelas lalu diseduh dengan air yang berada di dalam termos, setelah diaduk kopi pun disuguhkan.
Fathan dan Asep mereka mulai meneguk kopi yang sudah dihidangkan, Namun sayang ketika mereka Teguk kopi itu kurang pana, maklum waktu sudah hampir sore, mungkin si warung menyeduh airnya tadi pagi..
"Airnya kurang panas!" bisik Asep sambil menatap Fathan.
"Nggak apa-apa, yang terpenting kita bisa bertanya-tanya, karena biasanya kalau di kampung, warung lah yang akan menjadi penyebar berita hangat, mengalahkan para Wartawan wartawan yang berada di majalah ataupun koran."
__ADS_1