Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks. 22


__ADS_3

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ujar Fathan mengawali pekerjaan pagi itu.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" jawab ibu-ibu yang hendak kuli tandur di tempat Fathan, mereka kompak menjawab salam.


"Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih atas kesediaan ibu-ibu yang membantu saya. namun sebelum melaksanakan pekerjaan, Saya akan memberitahu dulu tentang cara menanam padi yang baik yang sesuai dengan anjuran ilmu pertanian. Maaf bukan saya menggurui, tapi saya hanya berbagi ilmu yang dimiliki oleh saya. jadi kita menanam padi harus sesuai dengan garis yang dibuat oleh garokan. dan padi yang ditanam jangan banyak-banyak, minimal 3 maksimalnya 4 tangkai benih." ujar Fathan mulai memberi pengarahan.


"Halah kalau yang ditanam segitu, Nanti nggak akan ada yang jadi. ibu-ibu jangan dengarkan perkataan orang yang sok ngerti pertanian. padahal nggak, sama sekali!"Timpal Sri, Ibu Fathan menyanggah.


"Maaf bu! kali ini saya ingin berbicara, kalau Ibu tidak mau mengikuti saran yang saya berikan. Mending ibu nggak usah membantu Fathan!" Jawab Fathan dengan tegas, membuat Sri merasa malu karena diperlakukan oleh anaknya seperti itu.


"Sekali lagi saya mohon maaf! bagi ibu-ibu yang tidak mau mengikuti Saran saya. Mending ibu-ibu nggak usah membantu, karena itu hanya sia-sia. jadi Tolong, pengertiannya!" ucap Fathan sambil merapatkan kedua Tangannya dihadapan wajah. Meminta ibu-ibu agar mengikuti saran yang ia berikan.


"Siap! Kita akan mengikuti semua yang kamu perintahkan, lagian kamu nyuruh kita dibayar, bukan gratis." Jawab Sri sambil mendelik ke arah kakaknya. dia tidak suka ketika keponakan kesayangannya diperlakukan seperti itu, meski oleh ibunya sendiri.


"Terima kasih atas kesediaannya," ujar Fathan, terlihat raut bahagia terlukis di wajahnya.


"Terus sekarang, apalagi Tan?" Sari balik bertanya.


"Sekarang kita makan dulu, baru kita mulai bekerja. sekalian berdoa! semoga padi kita semuanya, tampa terkecuali. tahun ini, mendapatkan hasil panen yang begitu melimpah." jawab Fathan


"Amin!" Jawab ibu-ibu dengan kompak. Hanya Sri lah Yang masih mendengus kesal.


Akhirnya Sari yang ke bagian tugas untuk memasak buat makan pagi. dengan cepat dia pun mengeluarkan makanan yang ia bawa dari rumah. kemudian mengajak para ibu-ibu lainnya untuk makan terlebih dahulu, sesuai yang diperintahkan oleh Fathan.


Selesai makan, mereka pun mulai menanam padi. namun Fathan kembali memberitahu ibunya. Karena Sri tidak mengikuti apa yang telah Ia ajarkan.


"Kamu itu masih anak kecil! kamu Mana mungkin Ngerti tentang tanah kita yang tidak subur. Jadi kalau menanam padi hanya 3 biji, nanti kalau padi mati bagaimana?" sanggah Sri yang tidak suka diingatkan.


"Maaf Bu! sekali lagi Fathan mohon maaf! saya bukan menggurui, tapi Saya ingin mempraktekkan ilmu yang saya pelajari." ujar Fathan meminta pengertian terhadap wanita yang telah melahirkannya.


"Alah! sok tahu." ujar Sri sambil terus menanam padi. semaunya dia, sekeinginan Dia. membuat Fathan merasa geram, namun dia tidak marah. dia kembali mengambil padi yang sudah ditanam oleh ibunya, kemudian membenarkan sesuai dengan ilmu yang ia pelajari.


"Ngapain kamu cabutin lagi!" bentak Sri sambil melihat Fathan yang berada di belakangnya.


Yang dibentak tidak menjawab, Dia terus mencabut kembali padi-padi yang baru Sri tanam.


"Udahlah Kak! kita itu sudah tua, mungkin benar apa yang dibicarakan oleh Fathan. kita sudah terlalu kuno dalam cara bertani. Sekarang biarkan anak muda yang memimpin pertanian kita. agar hasilnya melimpah!" Timpal Sari yang berada di samping Sri, membuat adik kakak itu saling bertatapan.

__ADS_1


"Halah! kamu Baru numpang hidup aja, sudah belagu! kalau nggak ada anak saya, kamu sekarang hidup susah." jawab Sri tak kalah tegas.


"Udah Bu! udah kita ke sini mau kerja." ujar Kamal menengahi.


"Kesel Kang! Padahal kalau saya punya anak seperti Fathan, saya akan sangat bersyukur sekali. karena walau bagaimanapun dia selalu mementingkan keluarganya. Kamu nggak sadar apa Sri? Fathan selalu ngasih uang bulanan tiap minggu sama kamu! apa itu kurang?" tanya Sari sambil menatap kesal ke arah kakaknya.


"Saya tidak mau dikasih uang haram! uang hasil nyolong dari perusahaan."


"Maaf Ibu! Sudh! malu sama orang. mending ibu pulang saja!" ujar Fathan yang tak kuat melihat perdebatan antara adik dan kakak itu.


Mendapat pengusiran dari anaknya, membuat mata Sri berembun. tanpa berbicara lagi dia pergi meninggalkan sawah, membuat Fathan hanya menggeleng-geleng kepala, tak mengerti dengan wanita yang sedang dihadapi sekarang.


"Udah Tan! Ayo kerja lagi! nanti kalau kamu diusir dari rumah! kamu tinggal di rumah Bibi aja, kamar di rumah bibi banyak ini kok! kamu jangan khawatir!" ujar Sari yang merasa kasihan melihat keadaan Fathan yang terus di pojokan oleh ibunya.


Mendapat tawaran seperti itu, dia hanya tersenyum. kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda. dia mulai mencabut kembali tanaman padi yang ditanam oleh ibunya. Kemudian dibenarkan kembali sesuai dengan anjuran ilmu pertanian.


Pukul 12.00, fathan memberi tahu bahwa waktu kerja Sudah selesai. karena biasanya para warga kampung sukadarma akan bekerja di sawah sampai Azan zuhur berkumandang. hanya Fathan lah yang suka bekerja sampai asar.


Setelah diberitahu oleh Fathan, para ibu-ibu yang membantu pun mengucapkan Alhamdulillah. walaupun pekerjaan itu tidak selesai, namun melihat hasil kerja mereka yang sudah mencapai 60%, membuat mereka agak sedikit lega.


"Besok beres kali ya, ibu-ibu?" tanya Fathan.


"Ada, Bi! tapi masih dalam tahap pengembangan, hasilnya belum begitu memadai, seperti alat-alat yang sudah saya punya."


"Oh jadi begitu, Ya sudah ibu-ibu Ayo kita pulang." ajak Sari sambil merapikan bawaan yang tadi pagi ia bawa.


Ibu-ibu yang sudah merasa kelelahan, Mereka pun bangkit dari tempat duduknya .namun sebelum pergi Fathan membayar upah kerja mereka, Sesuai upah yang ada di kampung sukadarma.


Setelah melihat ibu-ibu pulang, Fathan dan kedua rekan kerjanya pun ikut pulang. Namun sebelum beranjak Fathan memberi arahan, agar setelah melaksanakan salat zuhur. mereka kembali untuk mengecek kebun.


*****


Sesampainya di rumah, terlihat Farhan yang sudah menunggu kehadiran anaknya, dengan muka masam dan mata merah.


"Kamu itu jadi anak kurang ajar banget! Dibiarkan makin melunjak! Kamu tega! sampai berani mengusir orang tua! Kamu sebenarnya anak terbuat dari apa sih?" bentak Farhan setelah melihat kedatangan anaknya, membuat para warga yang sudah pulang dari sawah, mereka datang menghampiri.


"Maaf Pak! kalau saya salah, lagian saya tidak meminta ibu untuk membantu saya." jawab Fathan yang mulai mendekati.

__ADS_1


"Kamu dibilangin malah ngelawan! bukannya intropeksi diri. kamu itu salah, masa Hanya gara-gara ibu tidak mau menuruti perintah kamu, kamu sampai tega memperlakukan ibumu di hadapan orang lain. harusnya Kamulah yang menghormati ibumu, menghargai keluargamu, bukan malah merendahkannya!" cerocos Farhan yang tak kuat membendung emosi yang sejak dari tadi ia tahan.


Merasa tidak berguna berdebat dengan orang tuanya, Fathan pun tak menjawab. dia hanya menundukkan kepala mau masuk ke dalam rumahnya.


Melihat anaknya seperti itu, membuat emosi Farhan semakin memuncak. Fathan yang mau masuk ke dalam rumah, dengan cepat dia hentikan, kemudian dia menghantamkan beberapa kali pukulan ketubuh Fathan.


"Ya Allah, Kang! sadar! sadar! itu anakmu Kang!" ujar Kamal yang mendengar keributan dari arah rumah kakak iparnya, dengan cepat dia pun menahan tubuh Farhan, agar tidak terus memukuli anaknya.


"Diam kamu Kamal! terus aja belain anak sial4n ini! mentang-mentang kamu sering dikasih uang sama dia. Asal lu tahu, bapaknya itu gua, bukan lu!" ujar Farhan sambil mengibas-ngibaskan tangannya, yang sedang dipegang oleh kamal.


"Hahaha! hahaha! dasar licik Siapa yang dikasih uang sama anakmu, gua kerja Kang! nggak kayak Akang! yang hanya minta, minta dan minta! ingat Anak akang itu bukan mesin penghasil uang, bukannya mendukung malah terus menyakiti hatinya." ujar Kamal sambil tersenyum sinis membuat emosi Farhan semakin meluap. Dengan cepat dia melepaskan pegangan tangan adik iparnya, kemudian mendorong tubuh adiknya ke belakang.


Blak!


Melihat tubuh lawannya ambruk, Farhan bukannya berhenti. dia mengejar tubuh yang sudah jatuh itu, untuk menghajarnya kembali.


"Sudah Pak! sudah! bapak boleh memukul saya sepuasnya. tapi jangan sakiti orang lain, nanti urusannya bisa semakin luas. kalau Bapak memukul Saya tidak akan ada orang yang tersakiti kecuali saya sendiri. Tapi kalau bapak mukul Mang kamal, ingat ada bi Sari sama Idan yang akan menuntut bapak!" tahan Fathan membuat Farhan membalikkan tubuh menatap arah anaknya.


Bugh! Bugh! Bugh!


"Sudah Bapak! sudah!" teriak soal suara seorang anak gadis remaja, sambil berlari menuju kearah Bapaknya yang sedang menyiksa kakaknya.


Dengan cepat Sarah melindungi tubuh Fathan dengan memeluk tubuh kakaknya. yang terlihat dari sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah kental.


"Kalau bapak mau memukul Fathan! pukul sarah juga. karena selama ini Sarah sering tidak menurut sama bapak." Ujar Sarah sambil berlinang air mata.


"Pukul Farah juga pak! biar bapak puas sekalian." tambah anak keduanya, yang mendapat keberanian setelah melihat adiknya melindungi kakaknya.


"Bunuh aja semuanya Kang! biar Akang puas." ujar Kamal yang masih terduduk.


"Udah Akang! Jangan menambah keruh suasana." ujar Sari sambil menggenggam tangan suaminya untuk segera pergi meninggalkan rumah Fatan.


"Assalamualaikum!" dari arah Gang terlihat ada dua orang yang menghampiri, karena mendapat laporan bahwa ada keributan di rumah Farhan.


"Waalaikumsalam!" jawab orang yang menyaksikan serempak.


"Maaf, ini ada apa kang Farhan? kedengarannya kok ribut-ribut." tanya pak RT yang baru datang.

__ADS_1


"Ini anak saya! dia tidak tahu berterima kasih, dia malah mengusir ibunya!"


"Mengusir ibunya Bagaimana, Kang Farhan?" tanya Pak RT tidak cepat mengambil keputusan.


__ADS_2