Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 45


__ADS_3

Balas Dendam


"Pantas saja tadi aku ketemu Sobri. aku sudah tidak ingat nama itu, karena kejadiannya sudah lama sekali. Dan ketika aku tadi ketemu orang itu, aku masih panik melihat kejadian yang begitu mengerikan. Sehingga aku tidak tahu kalau yang menyerangku  itu adalah musuh lama kita," ujar Fathan sambil menelan nafas, menyembunyikan Rasa Sesal. kenapa dulu dia sesembrono itu, kenapa Masa remajanya dihabiskan untuk mencari musuh. sehingga akibat dari kenakalan masa remajanya, menjadi Boomerang ketika sudah dewasa.


"Iya mungkin tadi orang yang mau menusuk kamu juga, dia memiliki dendam pribadi sama kita. Karena waktu itu bukan hanya Sobri yang kita lukai,ada beberapa orang yang terluka." jelas Idan.


"Apa kamu bilang? Fathan mau ditusuk." tanya Kirana yang sejak dari tadi terdiam menyimak, kemudian dia mengalihkan tatapannya itu ke arah Fathan.


"Iya! bapak saya terluka gara-gara menyelamatkan Fathan," Jelas idan.


"Ya ampun kamu nggak apa-apa Tan?" Ujar Kirana yang terlihat raut kekhawatiran di wajahnya. dengan cepat dia memegang pipi Fathan. terlihat meski sudah samar di arah pipi ada luka lebam. "sakit gak?" tanya Kirana sambil memegang-megang Pipi Fathan. membuat Idan membuang muka, tidak mau melihat Dua Sejoli yang sedang saling memberikan perhatian.


"Nggak! nggak sakit! sudah kamu apa-apaan sih Bu." jawab Fathan sambil memegang tangan Kirana, kemudian menghempaskannya dengan pelan.


"Kamu periksa Ya! siapa tahu aja ada luka dalam," saran Kirana.


"Enggak lah Bu! saya nggak apa-apa, luka segini bagi seorang laki-laki itu wajar."


"Tapi kamu nggak apa-apa kan?" tanya Kirana seolah tidak puas mendengar jawaban Fathan.


"Enggak Bu! Sudah saya ingin mengobrol terus dengan Idan. karena kalau dibiarkan, ini bisa mengganggu usaha kita. saya harus segera menyelesaikan masalah ini, agar tidak terlarut larut dan beritanya tidak menyebar luas. karena Kalau terdengar oleh pihak Pak Bagas, mungkin mereka akan menarik kerjasamanya."


"Kerja sama apa Tan?" tanya Idan sambil menatap penasaran ke arah sepupunya.


"Seperti yang kita sudah bicarakan beberapa hari yang lalu. bahwa hari ini aku dan Kirana menemui Pak Bagas, kepala cabang penyuplai sayuran untuk supermarket wilayah Sukabumi. dari pertemuan itu kita mendapatkan kontrak untuk menyuplai sayur-sayuran ke penyuplai itu, untuk disalurkan kembali ke supermarket supermarket yang tersebar di wilayah Sukabumi."


"Alhamdulillah, Selamat ya Tan!"


"Iya Alhamdulillah! namun baru saja kita mendapatkan kebahagiaan, dan saya belum menyampaikan kabar Bahagia itu ke semua anggota kelompok, rencananya setelah pulang saya akan langsung mengumpulkan semua anggota kelompok, untuk mengadakan syukuran. tapi kenyataannya berbeda jauh dari harapan, kita malah disuguhkan dengan kesedihan seperti ini," jawab Fathan sambil menghela nafas, kemudian dia membuang wajah menyembunyikan rasa kesedihan.

__ADS_1


"Terus sekarang ke depannya, kita harus berbuat apa?" tanya Idan ingin mengetahui sejauh mana pemikiran Saudara sepupunya.


"Kita harus secepatnya menyelesaikan masalah Kampung kita, dengan kampung sukaramah, agar kita bisa tenang menjalankan usaha. Kita harus mencari tahu apa kemauan mereka sebenarnya."


"Ya sudah kalau seperti itu, besok pagi-pagi kamu pulang. terus temui para sesepuh kampung sukadarma, untuk membicarakan semua ini. agar masalah yang kita hadapi cepat selesai "


"Tapi aku nggak tega meninggalkan Mang Kamal, dia seperti itu gara-gara menyelamatkanku."


"Kamu nggak usah memikirkan Bapak! karena masih ada anaknya yang siap membela. kamu sudah membantu sampai sekarang saja saya sudah mengucapkan banyak terima kasih. Sekarang kamu harus fokus dengan tujuan kamu, mengembangkan kampung sukadarma, kampung tercinta kita, Kampung kelahiran kita," jawab Idan memotivasi.


"Tapi!"


"Sudah! sudah! nggak ada tapi-tapi, karena kalau bukan kamu yang menyelesaikan masalah, Siapa lagi yang bisa diandalkan?"


"Apa kita sebaiknya membalas perlakuan mereka terhadap mang Kamal."


"Itu ide terburuk yang pernah kamu keluarkan, cukup bapak yang menjadi korban. Aku tidak mau ada korban-korban lainnya. biarkan kejadian masa lampau terkubur menjadi pelajaran bagi kita kedepannya. Saya yakin bapak akan setuju kalau kita mengadakan perdamaian dengan warga kampung sukaramah."


"Seperti itu lebih baik! aku doakan agar semua masalah warga Kampung sukadarma, terutama masalah kelompok keranjang sayur diberi kemudahan.


"Amin!"


Akhirnya mereka bertiga pun terlarut dalam pembahasan-pembahasan tentang masa lalu dan masa depan. membahas masa lalu sebagai pedoman atau guru untuk masa depan. membahas masa depan agar mempunyai tujuan hidup mereka Mau Dibawa Kemana.


ooooo000ooooo


Keesokan paginya setelah melaksanakan salat Subuh di masjid, Fathan menghampiri Kamal yang sudah terbangun, sekarang wajahnya sudah mulai terlihat segar. dan tadi sebelum adzan subuh berkumandang Kamal sudah bisa diajak berbicara. kemudian Fathan mengambil tangan yang sudah mulai menunjukkan keriput, lalu mencium punggungnya.


"Maafkan saya Mang! Maafkan saya! Mamang terluka seperti ini, gara-gara menyelamatkan saya," ujar Fathan dengan suara pelan, matanya terlihat mengembun merasa sedih melihat kondisi orang yang sangat dekat dengannya. Orang yang berani mengorbankan hidup demi dirinya.

__ADS_1


"Apaan sih Kamu Tan! ini sudah menjadi suratan takdir Mamang. kita tidak bisa mencegahnya? yang terpenting itu ketika kita diberikan musibah seperti ini, kita bisa bersabar dan berdoa agar ujian sedang kita hadapi, cepat diangkat digantikan dengan kebahagiaan."


"Sekali lagi maafkan Fathan!"


"Dari pada kamu minta maaf terus. mending doakan Mamang agar segera sembuh. Oh iya Bagaimana kemarin tentang pertemuanmu dengan orang yang akan membeli sayuran kita?" Tanya Kamal mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau berlarut membahas kesedihan.


"Alhamdulillah semuanya lancar Mang. kita sudah mendapat kontrak dengan perusahaan penyuplai sayuran supermarket. Dan mulai bulan depan kita sudah bisa mengirim hasil pertanian kita."


"Alhamdulillah!" ujar Kamal terlihat raut wajahnya dipenuhi dengan kebahagiaan, Tak sedikitpun menunjukkan rasa sakit yang sedang diderita. dia tidak mau membebani keponakannya yang sudah berjuang sejauh Itu, demi memajukan warga kampung sukadarma.


"Iya mang, Alhamdulillah. namun kejadian kemarin membuat saya masih kepikiran."


"Kepikiran bagaimana?"


"Apa saya harus membalas dendam, menyerang warga Kampung sukaramah, Demi membalaskan rasa sakit yang diderita oleh Mamang. atau saya menurunkan ego demi memajukan warga."


"Apa kamu bilang....! mau membalas dendam? Mau sampai kapan kita menyalakan api permusuhan dengan warga kampung sukaramah, mau sampai orang-orang yang kita sayangi terluka seperti Mamang?"


"Maaf mang! Fathan takut kalau Mamang merasa kecewa karena Fathan tidak melakukan apapun untuk membalas Rasa sakit yang diderita oleh Mamang."


"Justru Mamang akan kecewa, kalau kamu melakukan hal bodoh seperti itu. sekarang urus pertanian kita! jangan teralihkan oleh hal-hal yang tidak penting. Ingat visi misi kita ketika kita menggarap sawah. Kita berjanji akan memajukan warga kampung sukadarma, dengan menunjukkan hasil pertanian kita."


"Terus bagaimana dengan kondisi Mamang yang terluka, apa Mamang tidak ingin membalas Kejadian ini?" tanya Fathan ingin mendapat kepastian.


"Mamang sudah selamat, sudah bisa mengobrol seperti sekarang. kamu jangan sampai memperkeruh suasana. harusnya Sebagai seorang pemimpin itu bisa mendamaikan, mendinginkan suasana yang sedang panas. karena musibah yang menimpa Mamang itu semua sudah kehendakNya, tidak ada yang bisa menolak dan tidak ada yang bisa mencegah. sekarang kamu sebagai orang yang memiliki pengertian yang sangat luas, harus dengan segera menyelesaikan masalah ini. agar tidak ada korban yang berjatuhan lagi."


"Terima kasih kalau Mamang memiliki pendapat seperti itu, tadinya Fathan hanya takut Mamang berburuk sangka karena Fathan tidak melakukan pembalasan. Sekarang tolong izinkan saya untuk pulang, untuk menyelesaikan masalah yang sedang menimpa Perusahaan kita."


"Nggak! Mamang nggak seperti itu. silakan kamu selesaikan masalah terlebih dahulu, Mamang doakan agar kamu diberikan kemudahan dalam menjalani semua urusan demi majunya warga kampung sukadarma."

__ADS_1


Setelah berdiskusi agak alot, Fathan pun meminta izin sama Kamal untuk pulang terlebih dahulu. dia ingin cepat cepat menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi warga kampung sukadarma dan sukaramah. sekaligus dia ingin mengontrol pertanian agar usaha itu tidak terbengkalai, karena sesuai yang dia sampaikan, bahwa bulan depan mereka harus sudah mengirim hasil pertanian keranjang sayur ke penyuplai supermarket.


Kamal hanya tersenyum penuh kebahagiaan menatap keponakan yang pergi meninggalkan ruangan rumah sakit. karena dia merasa pengorbanan yang dia lakukan tidak sia-sia. orang yang diselamatkan adalah orang yang sangat berharga bagi kampung sukadarma.


__ADS_2