
Kembali
"Insya Allah....! setelah semuanya selesai, saya akan membantu bapak di kantor. karena pertanian keranjang sayur sudah memiliki orang-orang yang tepat, orang-orang yang terpilih dari berbagai terpaan cobaan. jadi kedepannya Saya tidak khawatir kalau meninggalkan mereka."
"Bapak yakin kamu sudah memiliki rencana yang matang. buktinya kamu bisa mendirikan pertanian yang begitu luar biasa dengan tanganmu sendiri. kamu mampu meyakinkan para warga agar mengurus tanahnya, daripada harus merantau ke kota lain untuk mencari kehidupan, saya akan menunggu kamu di sini, meminang anak saya!" tantang Wira.
"Terima kasih banyak Pak..! terima kasih kalau begitu saya mau bersiap-siap untuk pulang kembali ke kampung sukadarma."
"Siapa yang mau pulang?" Tanya Winda yang baru memasuki dapur.
"Nih Fathan...! mau pulang Bu," jelas Wira.
"Kenapa..., nggak betah ya tinggal di sini?"
"Bukan begitu bu, tapi saya ada urusan yang harus segera diselesaikan. karena kalau tidak segera ditanggapi dengan cepat, maka sayuran akan banyak yang terbuang karena busuk."
"Kamu ikut....?" tanya Winda sambil menatap Kirana.
"Kayaknya Bu Kirana tidak harus ikut Bu, biarkan beliau istirahat disini." jawab Fathan mendahului.
"Baguslah kalau begitu, tapi kalau bisa kamu antigen terlebih dahulu, agar di perjalanan bisa nyaman...!" jelas Winda.
"Baik bu...!"
Akhirnya mereka berempat pun mengobrol panjang lebar. kira-kira pukul 10.00 Fathan pun diantar ke klinik untuk melakukan antigen, tak lama menunggu akhirnya hasilnya pun keluar. Fathan negatif covid, hingga akhirnya dia bisa pulang ke kampung sukadarma dengan nyaman.
Setelah melaksanakan salat zuhur, Fathan sudah bersiap-siap mengemasi barangnya untuk pulang ke kampung sukadarma. Wira dan Winda mereka terus memperhatikan calon menantunya.
"Mau naik apa pulangnya?" tanya Wira.
"Paling saya ke Kampung Rambutan Pak!"
"Bawa mobil saya aja, sudah lama tidak terpakai...!" tawar Wira
__ADS_1
"Terima kasih banyak Pak atas tawarannya, namun saya lebih nyaman naik bis, kebetulan tadi saya melihat di berita meski dalam psbb tapi bis masih bisa beroperasi, namun penumpangnya saja yang dibatasi."
"Ya sudah kalau begitu!"
"Kirana ke mana ya Bu?" Tanya Fathan sambil celingukan mencari kekasihnya.
"Mungkin sedang salat, Sebentar lagi mungkin turun..!" jelas Winda.
Akhirnya mereka pun mengobrol sambil menunggu Kirana turun dari lantai atas, lama menunggu akhirnya Kirana pun turun.
"Tolong pesankan ojek online Bu...!" pinta Fathan setelah melihat kedatangan Kirana.
"Jangan naik ojek online, kan nggak bisa mengangkut penumpang."
"Iya ya...! sudah taksi aja Bu!"
Jari jemari gadis itu menari di atas layar handphonenya, memesan mobil Untuk mengantarkan Fathan ke Terminal.
"Sudah...! sebentar lagi juga sampai," jawab Kirana.
Lama menunggu akhirnya mobil yang dipesan pun tiba, Fathan pun berpamitan kemudian dia mencium kedua punggung tangan calon mertuanya. namun ketika mau berpamitan dengan Kirana, hatinya sedikit bergetar karena melihat gadis itu tak seriang tadi.
"Maafkan saya Rana...! Saya berjanji Secepatnya akan kembali ke sini, dengan membawa orang tua saya."
"Janji...! nggak bohong?" tanya Kirana sambil mengangkat pandangan, mata nanarnya menatap ke arah orang yang berbicara. Mata cantik itu terlihat berenang dengan cairan kesedihan karena harus berpisah dengan Fathan.
"Nggak...!" jawab Fathan sambil memegang kedua pundak Kirana, menandakan bahwa dia sangat serius dengan ucapannya.
Setelah berpamitan akhirnya Fathan pun keluar dari pintu gerbang, kemudian masuk ke dalam mobil taksi, setelah mengkonfirmasi tujuan penumpangnya, mobil itu pun mulai melaju meninggalkan perumahan elit yang berada di Menteng.
Fathan yang duduk di belakang, matanya terus memindai jalanan yang terlihat nampak sepi seperti kota mati, yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya. biasanya ketika waktu istirahat tiba, banyak karyawan-karyawan yang memutuskan untuk makan di luar, sehingga menambah kepadatan kota Jakarta. namun berbeda dengan sekarang yang terlihat hanyalah mobil-mobil ambulans yang terlalu Lalang, membuat suasana kota itu terasa semakin mengerikan.
"Sudah lama seperti ini pak?" tanya Fathan yang duduk di belakang mulai berbicara, mungkin untuk mengusir rasa jenuh di perjalanan.
__ADS_1
"Sudah hampir 2 bulan mau ke 3 bulan, di Jakarta mengadakan Lockdown seperti ini. Namun tidak memberikan dampak yang signifikan, karena kasus covid terus menanjak, ditambah para pekerja yang di rumah kan. meski mereka mendapat gaji namun gajinya tidak dibayar seutuhnya. Dan yang paling terdampak dari adanya pandemi ini adalah kami sebagai para sopir. karena kami menjual jasa penunjang mobilitas Warga Jakarta, sekarang para pekerjanya di rumahkan, ditambah orang-orang lebih memilih tinggal berdiam diri di rumah, hingga akhirnya sewa pun sepi.." jelas sopir taksi mengungkapkan pengalamannya
"Semoga saja pandemi ini cepat berakhir dan kita bisa beraktivitas seperti biasa!"
Tin! Tin! Tin.
Sedang asyik mengobrol, terdengar suara klakson mobil yang beberapa kali dibunyikan. membuat Fathan melirik ke arah belakang. setelah diperhatikan ternyata mobil itu adalah mobil SUV putih yang terlihat mengikuti.
"Siapa itu pak?" tanya sopir taksi
"Tolong menepi dulu sebentar Pak!'
Sen kiri pun menyala, kemudian mobil taksi itu menyamping di tepi sebelah kiri. dengan cepat mobil SUV putih menyalip kemudian parkir di depan mobil taksi
Dari depan terlihat Kirana turun, membuat Fathan pun mengerutkan dahi, lalu dia pun keluar dari mobil taksinya. Gadis itu terus berlari lalu memeluk Fathan, dengan begitu erat seperti seseorang yang takut kehilangan.
"Kenapa Ibu menangis?" tanya Fathan sambil mengusap lembut rambut hitam panjang milik Kirana.
Gadis itu daripada menjawab, Dia malah memperkeras suara tangisnya. membuat Fathan agak sedikit gelagapan tak tahu harus berbuat apa, dengan perlahan sang petani pun menuntun Kirana agar menepi ke dekat trotoar.
"Kenapa?"
"Aku ikut....!" jawab Kirana yang tersendu.
"Ikut ke mana? kemarin kan kita baru pulang menemui ibumu. masa sekarang kamu sudah mau meninggalkan Mereka lagi?" tolak Fathan yang terlihat tidak setuju.
Kirana tidak menjawab Dia pun menghampiri sopir, kemudian dia mengeluarkan uang lalu diberikan kepada sopir yang mengantarkan Fathan. "Biarkan saya yang mengantar Pak! Bapak Cukup sampai di sini saja!" ujar Kirana membuat Supir itu hanya melongok menatap ke arah Kirana.
"Ini nggak kebesaran Bu?"
"Sudah ambil saja Pak...! besok-besok Bapak bisa istirahat, tidak usah narik dulu..." jawab Kirana sambil membalikkan tubuh kemudian menarik tangan Fathan untuk menuju ke mobilnya.
"Ini ada apa Rana?" tanya Fathan setelah melihat Kirana duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
"Sudah kamu jangan banyak tanya..! kamu butuh orang kan untuk mengurus channel YouTube kamu, soalnya Sarah sudah pergi. Dan kamu masih butuh manajemen keuangan di keranjang sayur."