
Menentukan
"Sebentar....! jangan dimasukkan dulu, kalau kamu bersedia melakukan perintah Akang, Kamu baru boleh memiliki uang itu." Tahan Ujang sambil menggenggam tangan adik iparnya.
"Perintah apalagi Kang?" tanya Pardi yang terlihat mendengus kesal.
"Sesuai rencana kamu. besok kamu temui Dadun untuk menghasutnya, agar dia mau keluar dari keranjang sayur. karena memang benar Dadun lah orang yang paling banyak memiliki tanah yang dikelola oleh pertanian mata keranjang itu."
"Keranjang sayur Kang!"
"Ya itulah, pokoknya Bagaimana kamu siap mengatur waktu agar Dadun mau berbicara sama kita."
"Begini aja Kang, besok sore-sore sehabis dia pulang kerja, kita ajak dia main, lalu ketika di perjalanan akang mulai tuh! masukin hasutan hasutan Akang, agar dia mau keluar dari keranjang sayur. Kelompok usaha yang dikelola oleh Fathan."
"Caranya?"
"Gampang, akang Tinggal iming-imingi kalau dia bertani sendiri dia bisa hidup layak, karena hasil pertanian sendiri, tidak harus diatur oleh keranjang sayur. mereka hanya dapat capek, namun tidak dapat untung. Pokoknya Akang atur aja lah, saya yakin Akang lebih pintar kalau untuk mempengaruhi orang," Puji Pardi yang terlihat enggan berlama-lama mengobrol dengan ujian.
Mendengar penuturan adik iparnya, Ujang pun terdiam seketika, namun tak lama kedua sudut bibirnya mulai terangkat, sambil manggut-manggut seolah dia paham dengan apa yang diucapkan oleh saudara iparnya itu.
****
Keesokan paginya. di rumah Farhan terlihat Masih rame, karena Farhan mengundang keluarga Karto untuk sarapan bersama di rumahnya, sebelum calon besannya itu pulang kembali ke kota.
Selesai sarapan, mereka semua duduk di ruang tamu, sambil mengobrol-ngobrol ringan. terlihat Ardi dan Farah sekarang duduk berdampingan, seperti kedua magnet yang berbeda kutub tidak mau dipisahkan.
"Maaf bukan saya sok tahu, atau tergesa-gesa atau memaksa. Sehubung kedua Anak kita sudah saling mencinta, maka kita sebagai orang tua, harus cepat meresmikannya. Baik resmi secara hukum, sah secara agama, agar tidak ada fitnah, dan tidak ada dosa bagi kita semua," ujar Farhan yang terlihat diplomatik pagi itu.
__ADS_1
"Benar....! benar sekali Pak besan, Kita sebagai orang tua harus secepatnya meresmikan hubungan mereka, agar kita tenang dan terhindar dari omongan-omongan miring orang lain," balas Karto. sedangkan orang yang dibicarakan mereka tidak berbicara, hanya matanya yang saling menatap, kemudian bibir mereka dihiasi dengan senyum, Seperti orang yang kurang sesendok.
"Syukur kalau kita sepemikiran. Nah, untuk itu, Kapan hari baiknya, untuk melangsungkan pernikahan anak kita?"
"Kalau itu, Kita tanyakan langsung saja sama Farah dan Ardi," saran Karto.
"Bagaimana Pak dokter?" tanya Farhan sambil menatap ke arah dokter muda itu.
Ditanya seperti itu, Ardi terperanjat kaget. karena dia sedang asik menikmati wajah Farah yang begitu cantik, sehingga telinganya tidak menangkap Apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya.
"Maaf, Bagaimana Apanya ya pak?" tanya Ardi sambil mengurutkan dahi, membuat ibu nendah yang duduk di sampingnya, mencubit paha anak itu, Mungkin dia merasa kesal karena anaknya tidak menyimak.
"Kapan kalian mau melangsungkan pernikahan?" tanya Farhan sambil mengulum senyum, karena merasa bahagia ketika anaknya diperlakukan seperti itu.
"Kalau hari baiknya dari tadi malam kita sudah mengobrol."
"Tenang pak! kita nggak ngobrol di mana-mana tapi kita ngobrol lewat telepon."
"Kirain Bapak, kalian mojok, tampa sepengetahuan bapak."
"Nggak Pak, tadi malam kita mengobrol lewat telepon, bahwa kita sepakat untuk melangsungkan pernikahan dalam jangka waktu 6 bulan ke depan. biar kita saling mengenal terlebih dahulu, dan sekarang kan ada pembelajaran pra nikah yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama. jadi selain saling mengenal, kita juga akan mengikuti bimbingan itu, karena menurut keterangan akan segera diresmikan sebagai aturan pranikah."
"Enam bulan lagi, bagaimana pak Karto?" Tanya Farhan sambil menatap ke arah calon besannya.
"Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung apa yang diinginkan oleh anak kita. selama itu baik, selama itu tidak bertentangan dengan aturan agama ataupun negara, maka kita harus mendukungnya." Jawab karto yang terlihat berwibawa.
"Oh begitu, benar juga. berarti kita akan melakukan pernikahan putra-putri kita enam bulan lagi. namun hari baik dan tanggalnya kapan?"
__ADS_1
"Untuk masalah itu, kayaknya Pak Ustad Ahmad yang lebih tau," jawab Pak Karto sambil menatap ke arah Ustadz Ahmad yang terlihat dari tadi memperhatikan musyawarah itu.
"Bagaimana nih pak ustad?" susul Farhan.
"Menurut keterangan yang saya dapat dari kitab Qurrotul Uyun, bahwa semua hari itu baik. namun memang ada beberapa pendapat bahwa para ulama menjelaskan ada hari-hari yang baik, untuk melangsungkan pernikahan. tapi ingat tujuannya bukan untuk meramal masa depan, tapi ini adalah salah satu bentuk usaha terbaik, untuk mendapat hasil yang terbaik, sebagai doa atau harapan kepada sang pencipta. karena yang tadi saya bilang pada dasarnya, semua hari itu sama baiknya."
"Terus, kira-kira kapan baiknya melangsung kan acara pernikahan anak kami?"
"Sebenarnya banyak pendapat ketika mau menikah. ada yang bilang hari Rabu itu sangat baik, ada juga yang bilang hari Jumat lah yang terbaik, ada juga yang bilang hari Minggu lah yang terbaik. para ulama menjelaskan bahwa bukan harinya yang terpenting, tapi sahnya pernikahan yang terpenting. Karena itu adalah yang wajib, masalah hari apa itu terserah kesepakatan kedua belah pihak," jawab Pak Ustad menjelaskan panjang lebar.
"Terus menurut pak ustad sebaiknya hari apa?"
"Menurut Sebagian ulama, hari Minggu lah hari yang tepat. karena hari Minggu adalah hari pertama, bahkan ada yang bilang hari pembangunan. karena wallahualam, semua alam semesta ini diciptakan di mulai dari hari Minggu. jadi kita berdoa dengan hari Minggu ini, semoga saja menjadi doa dari awal kebaikan kedua mempelai. Tapi Ingat yang tadi saya bilang bahwa semua hari itu sama baiknya."
"Ya sudah kalau seperti itu, kita tentukan harinya, hari minggu. tapi tanggalnya, tanggal berapa?"
"Tanggal berapa Pak besan?" tanya Farhan sambil menatap ke arah Karto.
"Ada kalender?" tanya Pak Karto.
Fathan yang sejak dari tadi memperhatikan, dia pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia masuk ke kamar. Tak lama Ia pun kembali sambil membawa kalender tahun 2019, kemudian diserahkan ke arah orang-orang yang sedang membicarakan tanggal pernikahan.
"Sekarang kita berada di bulan November, jadi kalau 6 bulan lagi, berarti bulan Mei atau April," jelas Karto sambil menunjuk tanggal yang ada di kalender.
"Ya sudah mau tanggal berapa?"
"Sebentar....! sebentar! Tapi menurut perkiraan saya, Bulan april, Mei itu masih termasuk bulan Ramadan, sebenarnya bulan yang terbaik untuk menikah adalah bulan Ramadan, namun kalau bagi kita, itu terlalu mazarat. karena mengadakan pernikahan itu, akan membutuhkan tenaga dan biasanya orang yang menikah ingin dihadiri oleh orang lain," tahan pak ustad mengingatkan.
__ADS_1