
Matahari sudah mulai turun dari ubun-ubun, Mungkin sebentar lagi waktu Ashar akan berkumandang. suara Gerapung atau tonggeret terdengar dari semua penjuru tempat yang berada di tepian jalan, di Sahutj dengan kicau burung yang terdengar begitu merdu, menambah suasana indahnya alam perkampungan.
Berbeda kala itu, terlihat wajah-wajah penuh kekesalan, wajah-wajah penuh amarah yang menatap ke arah orang yang sudah mengakui kesalahannya. Ujang sudah bersaksi bahwa semua keributan yang ditimbulkan di kantor keranjang sayur ataupun di keluarga Fathan, bahkan keributan di kampung sukadarma, itu adalah ulahnya.
"Kurang ajar banget kamu jang...! mending kamu nggak usah hidup, kalau hanya untuk meresahkan orang lain," protes Seorang warga yang terlihat mengencingkan gigi, mengepalkan tangan. mungkin kalau tidak ada yang menahan, dia sudah menerkam bulat-bulat tubuh Ujang.
"Yah...! jangan dibawa ke pihak yang berwajib, mending kita kubur saja hidup-hidup di sini....kita harus berjanji harus menjaga agar rahasia ini menjadi rahasia perusahaan," saran orang yang ngelantur, terlihat dari sudut bibirnya terukir senyum yang jahat.
"Ide bagus....! tapi sebelum dikubur kita pukulin dulu sampai babak belur, biar meringankan tugas malaikat. baru kita masukkan ke liang lahat," Timpal yang lain sehingga membuat suasana di bawah pohon mahoni besar itu terdengar riuh dengan perdebatan-perdebatan keinginan para anggota keranjang sayur yang ingin menghakimi Ujang.
"Sudah....! sudah, sudah...! jangan diteruskan...! kita di sini memiliki orang tua yang harus dimintai pendapatnya, karena walau bagaimanapun Kang Ujang adalah warga Kampung sukadarma, adalah warga Pak RT. Bagaimana menurut Pak RT?"
"Saya tidak membenarkan kesalahan Kang Ujang, karena dengan perbuatannya hampir kehilangan beberapa nyawa, bahkan hampir saja kehilangan beberapa mata pencaharian. kalau melihat dari situ kesalahan Kang Ujang memang tidak layak untuk dimaafkan, tapi sebaiknya sebagai warga kampung yang baik, kita harus hidup rukun damai dan tentram."
"Jadi Pak RT, membela kang Ujang dong?" tanya salah Seorang warga.
"Bukan membela, tapi saya berbicara sebagai RT kampung sukadarma saya tidak membela siapapun, tapi saya memberikan solusi yang terbaik."
"Terus apa yang harus kita lakukan?" tanya Fathan.
"Kita tanyakan saja dulu sama Kang Ujang, bagaimana kesanggupannya?"
__ADS_1
"Silakan Pak RT...!"
"Kang Ujang....!" Panggil Pak RT dengan suara pelan namun terdengar tegas.
"Saya Pak RT," jawab ujang tanpa memberani mengangkat pandangan.
"Saya sebagai ketua RT, Saya tidak akan membela orang yang salah. namun saya akan memberi kesempatan bagi Kang Ujang untuk mendapat hukuman yang lebih ringan, sekarang apa yang akan kang Ujang lakukan?" tanya Pak RT mulai mengintrogasi.
"Saya sangat menyesal dengan apa yang pernah saya lakukan. Saya mohon maaf kepada semua warga kampung sukadarma, khususnya pada keluarga Kang Farhan yang sudah diganggu ketenangan hidupnya. Saya berjanji saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Serius tuh Kang Ujang?" tanya Pak RT.
"Saya sangat serius pak, kalau saya berani melakukan hal itu lagi. silakan bahwa saya ke kantor polisi, Laporkan saya...! proses saya secara hukum. Saya benar-benar menyesal..!" jawab Ujang.
"Nah seperti itu kang Fathan, kang Ujang sudah meminta maaf, sekarang tinggal kitanya apa mau memaafkan atau tidak?"
"Kalau menurut pak ustad bagaimana?" Tanya Fathan tidak langsung menjawab pertanyaan dari Pak RT.
"Sebagai sesama muslim jangan sampai menyebarkan tali permusuhan, sebarkanlah tali silaturahmi tali kebaikan. Saya sama seperti Pak RT tidak membela Kang Ujang, namun alangkah baiknya kita memberi kesempatan untuk orang yang mau bertaubat tapi itu hanya saran saja, diterima atau tidaknya itu tergantung keputusan bersama," ujar pak ustad meski Dia sangat kesal dengan Kang Ujang karena dulu Zahra sempat pingsan, sempat mengalami trauma. gara-gara serangan warga Kampung sukaramah. namun ketika di forum seperti itu, dia harus menunjukkan kapasitasnya sebagai pemuka agama, karena dia harus bisa mendamaikan kedua belah pihak yang sedang berkonflik.
"Bagaimana kalau menurut para warga?" tanya Fathan sekarang melemparkan ke arah warga yang sejak dari mendengas-dengus merasa tidak setuju dengan apa yang diungkapkan oleh kedua ketua Kampung mereka.
__ADS_1
"Bakar hidup-hidup...!"
"Jangan kalau dibakar kasihan...! Lagian kita mau mencari kayu bakarnya di mana? mendingan kita kubur langsung aja."
"Lah Bukannya itu sama saja, kalau mau mengubur harus memakai cangkul, kita tidak boleh main hakim sendiri?"
"Kalau tidak boleh bermain hakim sendiri, Berarti boleh dong kalau main hakim bersama." Timpal yang lain sehingga membuat suasana itu semakin ricuh, membuat Ujang semakin menciut, takut masyarakat tidak kuat mengontrol emosi.
"Kalau menurut kamu bagaimana Tan?" tanya Kamal sambil menempelkan telunjuk di bibirnya.
"Sama seperti apa yang disampaikan oleh kedua ketua kita, Pak ustadz dan Pak RT. Saya tidak membenarkan Apa yang dilakukan oleh Kang Ujang, apalagi sayalah orang yang paling dirugikan dari perbuatannya. namun yang perlu kita ingat bahwa Kang Ujang sangat baik. bahwa Kang Ujang adalah dewa penolong warga kampung sukadarma, sebelum kedatangan saya mungkin Kang Ujang berubah gara-gara saya datang ke kampung, jadi dalam masalah ini saya juga ikut bersalah."
"Maksudnya bagaimana sih, jangan berbelit dan jangan sampai kamu mengikuti kedua orang yang mengambil tindakan yang salah seperti Pak RT dan pak ustad," tanya salah Seorang warga.
"Pertama, Kang Ujang berubah menjadi jahat menjadi pendendam dan pembenci setelah saya datang, berarti kalau saya tidak datang ke kampung sukadarma, Kang Ujang akan tetap menjadi baik yang kedua, kita adalah anggota keranjang sayur yang tidak boleh melupakan kebaikan seseorang hanya dengan kesalahan kecil. ingat ketika kita ada kesusahan kita akan pergi ke Kang Ujang, kita bisa membawa surat tanah kita lalu disimpan dan kita mendapat pertolongan meski harus ada bunga. namun Coba kalian bayangkan kalau bukan Kang Ujang, kita mau meminjam uang ke siapa lagi. mau meminjam ke bank kita tidak akan mudah, karena harus melalui beberapa survei. mau minjam uang ke saudara ataupun tetangga mereka juga sama sama tidak memiliki uang. hanya Kang Ujang lah yang menjadi tujuan kita coba kita ingat kembali, contoh ketika Idan mau menyelesaikan kuliah. Mang Kamal Membawa surat tanah untuk digadaikan sehingga idan bisa menyelesaikan kuliah, dan bekerja di perusahaan software engineer, keuntungannya sudah kita rasakan berkat adanya eidan di kelompok keranjang sayur kita bisa membuat aplikasi Smart farming untuk mengontrol pertanian, kita bisa menjual sayuran melalui keranjang sayur Home Shopping. ini semua ada campur tangan Kang Ujang yang sudah kita rasakan manfaatnya. Ketika ada orang-orang yang Sakit yang membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit, Kang ujanglah yang akan menolong. jadi saya sendiri saya tidak merasa Dendam Dan saya tidak memiliki dendam sama siapapun, karena ketika hidup berkelompok, bertetangga pasti akan ada pertentangan. yang terpenting kita tetap bisa rukun, menjaga keutuhan dan berbaikan lagi!"
Mendengar penjelasan ketua mereka semua orang pun terdiam, membenarkan apa yang diutarakan oleh Fathan. karena memang benar semua warga Kampung sukadarma pernah ditolong oleh Ujang, meski hanya bentuk pinjaman berbunga. Tapi itu sudah sangat membantu karena tidak ada orang lain yang mau membantu kesusahannya, selain Kang Ujang.
Sedangkan orang yang dibicarakan mendengar pembelaan dari musuhnya seperti itu, membela dirinya tanpa sedikitpun terlihat rasa benci dan ingin membalas dendam, padahal Fathan sudah berada di atas angin hati. Ujang yang Sekeras Batu mulai sedikit terketuk hingga air mata yang tidak pernah mengalir puluhan tahun, sekarang terlihat membasahi pipinya sehingga dengan tak sadar dia pun bangkit. kemudian dia pun menjatuhkan tubuh di hadapan Fathan, namun dengan cepat Fathan pun mengangkat tubuh Ujang agar tidak melakukan hal yang Di Luar Batas.
"Maafkan saya...! maafkan saya....! saya sangat jahat terhadap kamu.....!" ujar Ujang sambil menangis senggukan di pelukan sang petani, tangannya yang terikat sehingga hanya Fathan yang memeluknya.
__ADS_1
"Sudah Kang Ujang, jangan bersedih seperti itu. kita sebagai laki-laki harus punya harga diri" ujar Farhan sambil menepuk pundak Ujang.
Namun orang yang ditepuk pundaknya terdengar semakin memperkencang suara tangisnya, layaknya seorang perempuan yang sedang meratapi nasib diri. membuat orang-orang yang berada di tempat itu terdiam seketika. karena setelah dipikir-pikir walaupun kejahatan Ujang tidak terhitung, namun begitu juga kebaikannya. sehingga Sudah berapa anak yang bisa menyelesaikan sekolah dengan bantuan Ujang, sudah berapa orang yang sakit yang tertolong dengan pinjaman Ujang. karena hampir seluruh warga Kampung sukadarma memiliki hutang sama Ujang. hanya Farhan saja yang terlepas dari jeratan peminjaman itu.