Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 57


__ADS_3

Aplikasi Smart Farming Bag 2


Halaman rumah Kamal riuh dengan orang-orang yang bertepuk tangan, melihat kecanggihan aplikasi yang dibuat oleh Idan. aplikasi yang bisa mengetahui tentang kesehatan sayuran, bukan sampai di situ aplikasi bernama keranjang sayur Smart farming, bisa menganalisa sayuran yang di scannya.


"Ah...., itu mungkin sudah diprogram buat tanaman itu doang, Coba tes ke tanaman yang lain!" tantang Seorang warga yang masih belum percaya dengan apa yang dia lihat.


"Iya benar juga Siapa tahu aja itu udah di konsep buat kedua tanaman itu, coba tes ke tanaman yang lain," tambah Seorang warga lainnya.


Kemudian salah Seorang warga pun bangkit dari tempat duduknya, lalu mendekati ke arah tanaman bunga yang ada di halaman rumah kamar. tanpa berpikir panjang orang itu mencabut tanaman sampai ke akar-akarnya, kemudian dia memotong satu tangkai bunga sepatu, lalu dibawa ke hadapan Idan.


"Kalau analisanya berbeda, dengan dua tanaman yang tadi. maka saya pastikan bahwa alat yang kamu buat itu sangat luar biasa!" tantang warga itu sambil menyimpan kedua tanaman yang baru saja diambil.


Mendapat tantangan seperti itu, Idan hanya mengulum senyum. merasa bahagia karena ketika ada yang protes, berarti mereka tertarik dengan aplikasi yang dia buat, Mungkin Cara penyampaiannya saja yang kurang tepat. kemudian dia mempersilahkan warga itu untuk duduk kembali, agar bisa mengetahui bersama, Bagaimana aplikasinya bekerja.


"Terima kasih atas tantangannya. benar kita harus membuktikan dengan tanaman yang lain, kita coba dengan tanaman yang baru dicabut. Yang satu masih berakar, yang satu dipatahkan dari tangkainya." Ucap Idan sambil mengangkat tanaman yang tadi dibawa, untuk memperlihatkan kepada para warga yang hadir pada acara launching aplikasi keranjang sayur Smart farming.


Idan mulai mengarahkan handphonenya ke arah tangkai bunga sepatu yang baru saja dipatahkan. setelah gambarnya diambil melalui kamera. kemudian Bakrie pun mulai men-scan tanaman itu. lalu muncullah keterangan bahwa bunga sepatu itu sudah mati, namun masih segar. karena mungkin masih baru dipatahkan. analisa penyelamatannya yaitu dengan memasukkan tangkai bunga sepatu ke dalam air, meski kehidupannya tidak akan lama, tapi itu cukup untuk memperlambat tangkai bunga sepatu layu. analisa kedua dengan menanam tangkai bunga sepatu itu di media tanam. karena bunga sepatu adalah tumbuhan yang bisa berkembang biak dengan cara di stek.


Prok! prok! prok! prok!


Tepuk tangan pun kembali terdengar, memenuhi halaman rumah kamal. mereka semakin percaya apa yang di buat oleh Idan adalah aplikasi yang bisa bermanfaat dan menunjang bagi pertanian mereka.


Tak Sampai di situ, Idan pun mulai mengarahkan handphonenya ke tanaman yang dicabut dari akarnya. seperti biasa aplikasi yang dibuat Idan mengambil foto tanaman itu, lalu men-scannya, sehingga keluarlah analisa analisa bahwa tanaman yang baru dicabut itu harus segera dipindahkan ke media tanam lain, karena kalau tidak maka kematian akan menjemputnya.


"Wow.......! hebat......! hebat! hebat!" ujar salah seorang anggota keranjang sayur ketika melihat kecanggihan aplikasi yang dibuat oleh Idan.


Tak puas sampai di situ, kebetulan di depan rumah Kamal ada bunga yang berada di pot, Mereka pun mengambil bunga itu lalu diserahkan kepada Idan, untuk mengecek kekurangan tanaman yang diserahkan.


Idan pun menurut, dia mulai menscan tanaman yang berada di dalam pot. namun aplikasi itu tetap sama mengeluarkan analisa analisa yang berbeda dengan analisa sebelumnya. sehingga mereka yakin bahwa aplikasi yang dibuat oleh Idan bukanlah aplikasi sembarangan.


Warga yang masih penasaran, Mereka pun mengambil apapun yang berbentuk tanaman, untuk dicek menggunakan aplikasi keranjang sayur Smart farming. setelah beberapa kali melakukan tes, namun hasilnya tetap sama. hasil yang memberikan kepuasan bagi semua anggota keranjang sayur, sehingga para anggota yang tadi penasaran sekarang sudah mulai percaya dengan kehebatan aplikasi yang dibuat oleh Idan.


"Ini baru satu aplikasi yang saya buat. yang satunya lagi buat pengontrol tanaman yang berada di green house, namun kalau untuk yang di Green House, aplikasi ini hanya untuk mengontrol kelembaban udara, mengontrol debit air, mengontrol nutrisi yang akan diberikan kepada tanaman." ujar Idan sambil menyuruh Bakri untuk mengalihkan layar ke aplikasi keranjang sayur lainya.


"Aplikasi Apa lagi itu dan?" tanya salah Seorang warga yang mulai antusias.


"Mending kamu praktekan langsung, biar kami mengerti. karena kalau diterangkan, rasanya otak kami yang sudah lama tidak digunakan akan berat mencerna," tambah salah Seorang warga yang lain.


"Bener Jang! mending ke penggunaannya saja." Timpal Pak RT menambahkan.


Mendapat antusias dari anggota keranjang sayur seperti itu, Idan pun kembali tersenyum. kemudian Dia menyuruh anggotanya untuk membawa paralon yang biasa digunakan sebagai media tanam hidroponik, ditambah alat pengukur suhu.


Idan mulai mengambil paralon berukuran satu meter itu, lalu disimpan di depan meja. kemudian dengan perlahan dia mulai mengisi paralon itu dengan air. ketika paralon terisi oleh air, di layar monitor terlihat ada laporan yang menunjukkan debit air yang berada di dalam paralon."


"Maksudnya apa ini dan?" tanya salah Seorang warga yang belum paham.


"Dengan adanya aplikasi ini, kita bisa mengetahui Debit air yang ada didalam paralon. karena tidak mungkin kita mengontrol air, dengan mencabut tanaman. dengan adanya aplikasi ini kita akan mengetahui banyaknya air tanpa harus repot-repot mencabut tanaman yang ada di atasnya. karena sudah ada laporan melalui smartphone kita. sehingga kita bisa memberikan suplai air buat tanaman hidroponik agar tidak melebihi kapasitas atau kurang. kita bisa mengatur debit air mengunakan aplikasi ini, sehingga bisa sesuai dengan air yang dibutuhkan oleh tanaman hidroponik."


Prok! prok! prok! prok!


Tepuk tangan pun kembali terdengar memenuhi halaman rumah Kamal, karena mereka melihat sesuatu yang luar biasa. Bahkan tak sampai di situ, Idan mulai mengangkat termometer pengukur suhu, kemudan dia mulai memanaskan alat itu menggunakan korek api, sehingga kelembabannya mulai naik. seiring naiknya alat pengukur suhu maka naik pula pemberitahuan yang ada di aplikasi keranjang sayur Smart farming.


Idan pun terus menjelaskan kelebihan-kelebihan aplikasi yang diciptakannya, para warga yang mulai antusias dan mulai yakin bahwa Idan adalah orang yang sangat ahli di bidangnya. mereka semakin semangat menyimak setiap kata yang disampaikan oleh Idan. sehingga tak terasa pukul 10.00 pun sudah berlalu, namun acara itu belum selesai.


"Bagaimana Apakah masih ada yang mau ditanyakan?" tanya Fathan sambil membagi tatap ke arah para anggotanya.

__ADS_1


"Kayaknya aplikasi yang dibuat oleh Idan ini, akan sangat berguna bagi pertanian kita. semoga kedepannya lebih dari ini, semoga Idan bisa menggunakan aplikasi ini untuk seluruh tanaman kita. agar ketika ada hama atau penyakit, kita bisa dengan cepat menanggulanginya," ujar salah seorang menyampaikan pendapatnya.


"Apa aplikasi ini bisa kita download?" tanya salah Seorang warga sambil menatap ke arah Idan.


"Kedepannya insya Allah bisa, namun untuk sekarang saya akan membagi aplikasi ini secara langsung, aplikasi keranjang sayur Smart farming akan dikirim ke handphone masing-masing, Karena saya belum memasukkan aplikasi yang saya buat ke internet," jelas Idan.


"Nah, itu tugas kamu dan! kamu harus bisa memasukkan aplikasi ini ke Play Store, agar para petani yang lain bisa mendownloadnya, supaya mereka juga bisa merasakan manfaat dari aplikasi yang kamu buat," tambah Fathan memberi tugas sama Idan.


"Nanti saya akan coba Tan, karena ini baru tahap pertama. saya masih menunggu masukan-masukan yang lainnya," jawab Idan yang tidak anti kritik. dia selalu terbuka ketika masukkan itu bisa meningkatkan kinerja aplikasinya.


"Satu lagi, kalau saya perhatikan antara aplikasi keranjang sayur Smart farming 1 dan Smart farming 2 itu sangat ribet, kalau ada dua aplikasi. ke depannya kamu harus bisa menyatukan kedua aplikasi itu, agar kita mudah menggunakannya," tambah Fathan


"Baik Tan! saya akan prioritaskan itu," sanggup Idan sambil mengangguk.


"Apa ada lagi yang mau ditambahkan?" tanya Fathan sambil menatap ke arah para anggotanya.


"Kami rasa sudah cukup, dan kami yang tidak mengerti dengan apa itu teknologi. Kami merasa puas dengan apa yang disampaikan oleh anaknya Kang Kamal. ke depannya Kalau bisa tolong ajarkan kami menggunakan aplikasi itu, agar kami para orang tua, bisa memanfaatkan teknologi yang ada. bisa mengontrol tanaman-tanaman kami," jawab Pak RT menimpali.


Akhirnya para warga pun mulai memberikan saran-saran untuk menyempurnakan aplikasi yang dibuat oleh Idan. hingga baru pukul 11.00, acara itu baru ditutup dengan doa, yang dipimpin oleh Pak Ustad, doa yang di dalamnya syukuran atas karunia nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Setelah acara launching aplikasi keranjang sayur Smart farming selesai, para warga pun mulai berpamitan untuk beristirahat terlebih dahulu, Menjemput Mimpi masing-masing. mempersiapkan tubuh yang sudah lelah bekerja seharian, agar tenaga yang mereka kuras hari tadi, bisa kembali datang setelah beristirahat.


****


Keesokan paginya, kira-kira pukul 11.00 .Farah yang menerima notifikasi email dari Rumah Sakit tempat dia melamar bekerja. dengan mata berbinar-binar, wajah berseri-seri, Farah menemui Fathan yang sedang beristirahat di teras keranjang sayur.


"Kak!" panggil Farah sambil duduk di samping kakaknya.


"Iya ada apa Neng!" tanya Fathan sambil menatap ke arah orang yang baru datang.


"Cita-cita apa?"


"Aku mau bekerja di Rumah Sakit sebagai perawat, sesuai dengan ilmu yang aku pelajari di bangku kuliah," ujar Farah menyampaikan keinginannya.


"Boleh, mau kerja di Rumah Sakit mana?"


"Di rumah sakit Sekarwangi Cibadak, Kak!"


"Ya sudah, kamu tinggal siapkan lamarannya. nanti kamu bisa bertanya sama Kak Kirana, Bagaimana cara membuat lamaran yang baik dan benar."


"Aku sudah mengirim lamaran Kak! dan alhamdulillah nanti hari Senin aku dipanggil untuk interview."


"Serius.....! Emang kapan kamu mengirim lamaran kerja? perasaan kamu sibuk terus mengurus keuangan keranjang sayur."


"Dari dulu kak! tapi Farah mengirimkan lamaran melalui email, tidak melalui surat lamaran. Farah mengirimkan lamaran ke beberapa rumah sakit yang berada di Sukabumi, namun Rumah Sakit Cibadak lah, yang memberikan respon memanggil Farah untuk wawancara.


"Alhamdulillah.....! Alhamdulillah....! kalau kamu keterima," gumam Fathan yang terlihat matanya mengembun, mungkin merasa terharu dengan apa yang dicapai oleh adiknya. Awalnya dia merasa takut kalau Farah tidak mau memanfaatkan ilmunya.


"Iya Kak, Alhamdulillah! boleh nggak kalau Farah mendatangi undangan interview itu?"


"Boleh dong neng! boleh banget....! Kakak mendengarnya saja sudah sangat bahagia.


"Tapi bagaimana dengan keuangan keranjang sayur, Kalau tidak ada Farah. Kalau Farah keterima bekerja di Rumah Sakit Sekar Wangi."


"Jangan pikirkan keranjang sayur, pikirkanlah dirimu sendiri. Ini adalah cita-citamu dari kecil, sekarang ketika ada kesempatan, maka kamu jangan sia-siakan!"

__ADS_1


"Terima kasih banyak Kak! terima kasih. Tapi Farah sangat sayang dengan pertanian yang sudah Kakak rintis dari nol, sehingga Farah merasa sedih kalau harus meninggalkannya,"


"Sudah , Jangan memikirkan keranjang sayur, kamu harus fokus dengan apa yang sudah kamu cita-citakan. kalau untuk mengurus keungan kelompok keranjang sayur, nanti kakak akan menyuruh kak Kirana untuk mengurusnya, sambil menunggu orang yang bisa menghandle urusan keuangan itu," jelas Fathan sambil mengulum senyum. satu sisi Dia merasakan bahagia ketika adiknya bisa bekerja di rumah sakit, karena menurutnya menjadi perawat di Rumah Sakit adalah pekerjaan yang sangat mulia, yang dibutuhkan oleh semua masyarakat. satu sisi dia juga ada kekhawatiran, kalau keuangan keranjang sayur, akan goyang ketika tidak dipegang oleh orang yang tepat.


"Terima kasih banyak Kak! terima kasih. tadinya Farah sudah takut kalau kakak menolak,"


"Enggak lah! kakak nggak mungkin mencampuri urusan adik-adik Kakak, meski kalian masih ada dalam tanggung jawab kakak. Selama yang dikerjakan oleh adik-adik Kakak benar, tidak menyalahi aturan, maka Kakak akan terus mendukung semuanya. Oh iya, kapan mau berangkat, perlu Kakak Antar?" tawar Fathan sambil tetap mengulum senyum, dia ingin memberikan yang terbaik buat adik-adiknya.


"Nanti hari Senin. kebetulan kan Asep suka pagi-pagi mengirim hasil pertanian kekota. nanti aku minta dia untuk Mengantar ke Cibadak. boleh kan kalau Asep aku ajak ke Cibadak."


"Boleh......! boleh.....! tapi kalau Neng mau, biar kakak aja yang antar."


"Nggak usah Kak, nanti keranjang sayur terbengkalai kalau ditinggalkan oleh semua orang, biarkan aku sama Asep aja yang pergi."


"Terus pulangnya kapan?"


"Tergantung situasinya Kak! kalau lama, aku biarkan Asep pulang terlebih dahulu, nanti ketika dia mengirim barang sore hari, aku minta dia untuk menjemput Farah kembali."


"Ya sudah kalau seperti itu, kamu hati-hati ya! tapi sudah bilang sama bapak atau ibu belum?:


"Belum Kak! Aku mau bilang sama kakak dulu, takut kakak nggak setuju. Karena kalau ibu sama bapak, Farah yakin mereka akan setuju."


"Sudah sana pulang! sampaikan berita baik ini kepada mereka."


"Iya Kak, terima kasih. Tapi nanti aja pulangnya Kalau waktu istirahat sudah tiba."


"Nggak apa-apa, kalau mau pulang, pulang aja!"


"Nggak ah Kak, tanggung! tadi ketika Farah mendapat email, Farah sedang menyelesaikan pekerjaan. Farah mau menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu," ujar parah sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia pun masuk ke ruangan kerjanya kembali.


Dari arah dalam terlihat Idan menghampiri Fathan, yang sedang duduk beristirahat.


"Sibuk nggak Tan?" tanya Idan Setelah dia duduk di samping Fathan.


"Enggak, kenapa emang dan?"


"Nggak apa-apa, kebetulan pekerjaanku sudah selesai, jadi ikut istirahat boleh kan."


"Bolehlah! tumben amat kamu formal."


"Sesekali harus dong! biar kelihatan kita bekerja di perusahaan besar," ujar Idan sambil mengulum senyum penuh bahagia.


"Bagus.....! bagus.....! kalau bisa ke depannya kita harus kayak penjual obat!"


"Penjual obat bagaimana?"


"Iya kita harus memakai jas dan dasi. Kita adalah distributor pertanian, kita jangan kalah dong dengan perusahaan-perusahaan yang mengatasnamakan herbal itu."


"Sudah ah, Kok jadi ngomongin orang," pungkas Idan sambil tetap mengulum senyum. Mungkin dia takut ada orang yang mendengar.


Dari arah dalam saung, terlihat Kirana menghampiri sambil membawa laptop kemudian dia duduk bersama kedua pria itu.


"Ada apa, Bu!" tanya Fathan sambil menatap gadis cantik yang sudah duduk di sampingnya.


"Aku sudah menyelesaikan desain mini resort-resort yang akan kita bangun, sebagai penunjang wisata pertanian kita," ujar Kirana sambil menunjukkan desain-desain yang ada di laptopnya.

__ADS_1


"Wow..... elegan banget! Walaupun kecil tapi sangat estetik." puji Idan setelah melihat hasil karya Kirana.


__ADS_2