
Doa orang tua
"Sudah tahu anaknya keras kepala, Bapaknya nggak mau ngalah," jawab Sri yang tidak setuju dengan perdebatan Farhan dan Fathan.
Kirana dan Sarah hanya terdiam sambil saling menatap. karena perdebatan antara anak dan bapak sudah menjadi tontonan biasa di dalam rumah yang mereka tinggali. anaknya Teguh pendirian, bapaknya terlalu egois tidak mau mengakui bahwa dengan bertani juga masih tetap bisa hidup dengan layak.
"Belain terus....! makanya anaknya jadi ngelunjak, karena selalu ada yang membela," ujar Farhan yang terlihat mendengus kesal.
Melihat suaminya uring-uringan, Sri hanya bangkit dari tempat duduknya. kemudian tanpa berbicara lagi dia menyusul Farah yang sudah masuk ke kamar. karena Sri masih penasaran dan belum mengetahui banyak tentang Farah yang mau bekerja di rumah sakit.
"Kita ke kamar dulu pak, soalnya masih ada pekerjaan," izin Sarah sambil mengajak calon kakak iparnya.
Akhirnya Farhan pun ditinggal sendirian. dengan raut wajah yang ditekuk, dia mulai mengambil rok0k yang ada di hadapannya, kemudian membakar rok0k itu lalu menghempaskan asapnya ke atas langit langit, Mungkin dia berharap semua kekesalan yang ada di dadanya ikut terbawa dengan asap asap yang berterbangan.
"Serius kamu mau kerja?" tanya Sri yang sudah sampai di kamar Farah.
"Iya bu..., tapi Farah bingung," adu anaknya yang terlihat sedang menyetrika baju yang hendak ia pakai ketika besok wawancara kerja.
"Bingung kenapa?"
"Bingung, kalau bapak yang mengantar Farah. karena jarak dari Kecamatan Nyalindung sama Kecamatan Cibadak itu sangat jauh Kalau ditempuh menggunakan motor. itu akan sangat membutuhkan tenaga, karena kita akan merasa pegal ketika harus duduk di motor selama itu." Jawab Farah yang sebenarnya sejak tadi merasa keberatan, ketika dia hendak diantar oleh bapaknya.
"Iya juga sih, kalau dipikir-pikir ada benarnya juga." jawab Sri sambil mendekat ke arah anaknya kemudian dia duduk di samping Farah.
"Tolong bilangin sama bapak, nggak usah ngantar Farah. biarkan Farah ke sana sama Asep, agar tidak terlalu capek."
"Emang kamu serius mau kerja di rumah sakit?"
"Seriuslah Bu...! itu kan cita-cita Farah sejak kecil."
"Berarti kalau kamu kerja di Cibadak, kamu tidak tinggal di sini?"
"Kayaknya Enggak Bu, paling nanti Farah nyari kosan di sana. Agar tidak capek pulang pergi dengan jarak tempuh yang sangat jauh. nggak apa-apa kan kalau Farah kerja?" tanya Gadis itu sambil menyimpan setrikaan.
"Nggak apa-apa! ibu akan selalu mendukung semua yang dicita-citakan oleh anak ibu," jawab Sri sambil mengulum senyum bangga.
"Terus kenapa ibu nggak mendukung Kak Fathan untuk bertani, padahal dengan bertani omsetnya sudah satu miliar per bulan?" tanya Farah seolah ingin mengetes hati ibunya.
"Iya walaupun sudah satu miliar, Tapi itu kan bukan uang kakak kamu, kak Fathan hanya dapat 5 juta. beda jauh kalau dibandingkan dia kerja sebagai arsitektur, apalagi sebelum kakak kamu Berhenti bekerja. dia mau dipindah tugaskan sebagai manajer, gajinya 100 juta lebih. uang itu pasti akan terus mengalir setiap bulan. nggak seperti bertani yang selalu akan dihantui gagal panen." jelas Sri sambil menatap lekat sama Farah yang mulai menyetrika kembali.
"Oh begitu...! tapi kan walau Kak Fathan hanya mendapat gaji 5 juta, tapi jataj uang bulanan buat Ibu tidak pernah berkurang?"
"Memang benar seperti itu, tapi kita sebagai orang tua. ibu dan Bapak selalu menginginkan yang terbaik buat anaknya, kita selalu menginginkan bahwa anak-anak kita tidak akan pernah hidup kesusahan, seperti hidup ibu dan bapak waktu dulu. makanya Bapak sangat kecewa ketika melihat kak Fathan yang sudah mendapat pekerjaan tetap, dengan gaji yang lumayan besar, malah ditinggalkan. orang lain mati-matian untuk mencapai posisi itu, namun Kakak kamu seperti orang yang bodoh, yang pergi meninggalkan tempat ternyaman, demi untuk mengadu nasib sebagai petani," jelas Sri panjang lebar.
__ADS_1
"Tapi kalau bisa Ibu jangan terlalu keras sama Kak Fathan karena Farah bisa seperti ini, itu semua berkat Kak Fathan, yang selalu mengirim uang untuk biaya kuliah Farah."
"Iya...! iya! Ibu sebenarnya tidak mau berdebat dengan kakakmu, tapi Ibu juga ingin melihat kakakmu sukses seperti dulu."
"Terus sekarang bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Apa ibu bisa meminta bapak agar besok apa tidak usah mengantar Farah ke Cibadak, karena kalau naik motor Nanti Farahnya kecapean di jalan."
"Ya sudah nanti Ibu akan coba ngobrol sama bapak, tapi kamu harus mengerti, Kalau bapak, sama keras kepalanya seperti kakak kamu."
"Terima kasih ya Ibu, dan doakan yang terbaik buat Farah. Agar parah bisa diterima bekerja dan bisa Mengabdi sesuai dengan ilmu yang dimiliki."
"Iya, Ibu akan selalu mendoakan kamu yang terbaik. walaupun gak diminta, Ibu akan tetap melakukan hal itu, karena hanya itulah yang bisa Ibu berikan buat kamu sekarang."
Akhirnya ibu dan anak pun terlarut dalam obrolan obrolan perpisahan, padahal Farah belum tahu pasti, Apakah dia bisa diterima atau tidak, bekerja di rumah sakit. Namun waktu itu mereka habiskan mengobrol banyak, karena ngobrol seperti itu mereka jarang lakukan.
Setelah puas mengobrol dengan anaknya, Sri pun meminta izin untuk keluar dari kamar Farah. dia mau menemui Farhan untuk membicarakan tentang keinginan anaknya, yang tidak mau diantar oleh bapaknya itu.
Sesampainya di ruang tengah, terlihat Farhan sedang duduk menonton televisi sambil ditemani kopi yang dibuat sendiri. karena dia adalah orang yang tidak suka merepotkan orang lain, sehingga kalau hanya untuk menyeduh kopi, dia bisa membuatnya sendiri.
"Ngobrol apa aja, kok lama banget?" tanya Farhan setelah melihat Sri duduk di sampingnya.
"Kenapa...? apa gara-gara diantar pakai motor, sehingga si Farah nggak mau diantar sama Akang?"
"Bukan begitu Kang! Farah mau-mau aja kalau Akang yang mengantar Bahkan dia sangat senang sekali mempunyai bapaknya tanggung jawab seperti Akang. namun yang perlu kita ketahui jarak dari sini ke Cibadak lumayan jauh, kalau ditempuh dengan menggunakan motor, nanti akang capek dan parah juga merasa capek karena harus duduk di atas motor selama itu. berbeda dengan mobil anak kita bisa duduk dengan nyaman," jelas Sri dengan berhati-hati, karena dia sudah sangat paham sikap suaminya yang selalu mudah tersinggung.
Mendengar penjelasan istrinya, Farhan pun terlihat menarik nafas, kemudian terdiam sesaat seolah Sedang berpikir mencerna dengan apa yang disampaikan oleh Sri.
"Emang kalau anak kita menumpang mobil si Fathan, boleh gitu?"
"Pasti bolehlah Kang,Farah itu adiknya Fathan. masa sama adek perhitungan."
"Iya siapa tahu aja dia akan perhitungan."
"Enggak lah Kang, Akang Jangan berpikiran sejahat itu," sanggah Sri menepis prasangka buruk suaminya.
"Kapan ya?" ujar Farhan sambil menghisap asap yang ada di tembakau, matanya terfokus ke layar televisi, namun pandangannya terlihat kosong.
"Kapan apanya Kang?" tanya Sri yang mengerutkan dahi.
"Ya kapan, Si Fathan mau bekerja lagi. coba tolong ibu kasih tahu anak laki-laki kita satu-satunya itu, agar dia mau bekerja kembali. mumpung masih ada Kirana, anak bosnya. dia akan sangat mudah kalau mau kembali bekerja," gumam Farhan mengutarakan keinginannya.
__ADS_1
"Kirain Akang mau nanya, kapan anak kita berangkat. kalau Farqh kita berangkat besok pagi Kang, ikut sama mobil pertama yang mengirim sayuran ke pasar."
"Iya, kalau melihat Farah, hati Akang rasanya sangat senang sekali, seperti ada obat dari semua kekecewaan yang ditimbulkan oleh anak laki-laki kita."
"Iya Pak....! Sebenarnya walaupun Fathan bertani, tapi dia selalu ngasih uang belanja bulanan tidak pernah kurang, bahkan sekarang bisa lebih."
"Awas.....! apa jangan-jangan Ibu sudah terkena racun sang Petani itu, yang menganggap pertanian adalah segalanya. ingat Bu...! lihat Bapak! dari kita baru berrumah tangga, sampai sekarang. kita selalu bertani dan bertani. namun Mana hasilnya, kita cuma cukup buat makan sendiri, itu pun makan dengan seadanya."
"Nggak lah Pak! Tapi kalau melihat keberhasilan Fathan sekarang, memang harus kita akui. bahwa anak kita sekarang sukses mengembangkan pertaniannya, berarti dia sangat tanggung jawab dengan apa yang diucapkan."
"Eh Sri.....! asal kamu tahu hujan itu ada redanya, sakit akan ada sembuhnya. sama seperti bertani, pasti suatu saat akan rugi. dan kamu harus tahu, ketika pertanian rugi maka akan habislah semuanya, bisa-bisa tanahnya juga ikut dijual."
"Sudahlah Pak...! Nggak usah ngobrolin Fathan terus, rasanya setiap hari selalu itu aja yang kita bahas. sekarang kita doakan Farah, agar besok di perjalanan diberikan kelancaran, dan dia bisa diterima bekerja di rumah sakit." Ujar Sri mengakhiri perdebatan yang sudah mulai sedikit memanas.
"Kalau doa buat Farah, jangankan diminta, nggak diminta pun bapak akan selalu mendoakan anak baik seperti dia ,tapi ibu harus ingat perintah bapak."
"Perintah apa?" Tanya Sri yang mengurutkan dahi
"Kamu harus bujuk Fathan dan bujuk Kirana, agar mereka mau bekerja kembali di kantor. jangan di sini, jangan mencari duit di kampung," ujar Farhan mengulang kembali perintahnya.
"Kenapa harus Ibu, kenapa nggak bapak aja, kalau bapak bisa, kenapa harus nyuruh ibu?"
"Yah kalau nggak nyuruh kamu, akang mau nyuruh siapa lagi, kan Kamu ibunya?"
"iya saya memang ibunya, tapi akang kan bapaknya."
Suami istri itu terus berdebat memperebutkan hal yang tidak penting. sang istri sudah mulai luluh terlihat mau menerima apa yang sudah dipilih oleh anaknya, namun pendapat itu ditolak mentah-mentah oleh suaminya. Dia tidak setuju Kalau anaknya terus bertani, karena dengan bertani, itu sama saja hidup mereka kembali ke zaman purba.
****
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali. Farah sudah bersiap-siap hendak ikut sama Asep, untuk mendatangi rumah sakit yang berada di Cibadak, dia ingin melakukan interview sesuai panggilan yang dikirim lewat email.
"Doakan Farah ya Bu, Pak! agar Farah diterima bekerja di rumah sakit," pinta anaknya itu sambil mengambil kedua tangan orang tuanya.
"Amin...! kami akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu."
"Oh iya, Ibu belum tanya, apa kamu ketika diterima bekerja, kamu pulang kembali apa langsung bekerja."
"pulang dulu kali bu! kan Farah belum membawa baju ganti."
"Ya sudah, kalau begitu hati-hati di jalan!"
Setelah bersalaman sama kedua orang tuanya, Farah pun menghampiri ke arah Fathan, kemudian dia memeluk Kakak laki-lakinya itu, dengan pelukan yang begitu erat. "Doakan Farah ya Kak! agar parah diterima bekerja."
__ADS_1