Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
ks 28


__ADS_3

SUDAH PUNYA GEBETAN


Keesokan paginya, seperti biasa Kirana pun berangkat ke kantor meski dia tidak mau bekerja. namun melihat keseriusan permintaan orang tuanya yang memohon karena mereka tidak punya penerus selain dirinya. akhirnya Kirana pun setuju mengikuti apa yang diperintahkan oleh kedua orang tuanya.


Sesampainya di ruangan kantor, terlihat ada bunga mawar yang ditaruh di pas bunga, wanginya semerbak memenuhi ruangan. di samping pas bunga ada buket dengan tulisan selamat pagi. dengan penasaran Kirana mengambil buket itu, untuk melihat siapa pengirimnya. namun setelah dicari beberapa kali, pengirimnya tidak muncul membuat sudut bibir Kirana terangkat.


Dengan cepat dia pun berlari keluar ruangan, terlihat ada seorang cleaning service, yang sedang membersihkan koridor kantor.


"Kamu lihat Fathan?" Tanya Kirana


"Bukannya pak Fathan udah resign Bu?" cleaning service itu balik bertanya.


"Iya, sudah! tapi barusan dia mengirim bunga ke saya." ujar Kirana sambil menunjukkan buket bunga yang sedang dipegang.


"Itu bukan dari Pak Fathan Bu, tadi pagi ada laki-laki putih ke bule-bulean, yang menyimpan Bunga itu di ruangan ibu."


"Siapa?"


"Maaf jelasnya, Saya kurang tahu?"


Tring! tring! tring!


Tiba-tiba telepon Kirana berbunyi, dengan cepat gadis cantik itu mengambil handphone yang ada di dalam tasnya. namun dia terlihat termenung, karena nomor yang menelpon itu adalah nomor baru.


Kirana menunggu sampai panggilan telepon itu berakhir, namun setelah menunggu beberapa saat teleponnya pun kembali berbunyi. dengan penasaran dia mengangkat telepon itu, berharap pria idamannya yang meneleponnya.


"Halo Apakah bunganya sudah kamu peluk dan kamu cium?" tanya suara seorang laki-laki di ujung telepon.


"Fathan, kamu di mana, kok Aku cari kamu nggak ada?" tanya Kirana, padahal cleaning service tadi sudah memberitahu bahwa yang mengirim bunga itu bukanlah Fathan, melainkan orang baru yang ia temui.


"Siapa Fathan? saya David Kir!"


"Oh David, Kenapa?"


"Apa bunganya sudah kamu peluk dan kamu cium?"


"Bunga apa?" tanya Kirana pura-pura nggak tahu.


"Bunga yang tadi pagi aku kirim?"


"Oh itu bunga dari kamu, Kirain dari siapa. maaf Vid! tadi aku langsung buang, Aku alergi dengan bunga." jawab Kirana berbohong


"Aduh! kok bisa informenku salah, bukannya kamu sangat suka dengan bunga?"


"Nggak! Maaf ya aku lagi kerja!"


Tap! tap! tap!


Kirana pun memutus telepon itu, lalu memanggil cleaning service yang tadi mengobrol dengannya.


"Ada apa Bu?"


"Bunga buat kamu! kalau kamu nggak suka dan alergi juga, tolong buang ke tong sampah. dan ini uang untuk ongkos membuang bunganya!" seru Kirana sambil menyerahkan bunga kemudian menyerahkan uang pecahan Rp50.000.


"Terima kasih banyak Bu! Tapi boleh nggak saya bawa bunganya ke rumah, biar kelihatan Saya punya pacar gitu." Pinta cleaning service itu sambil tersenyum malu-malu.


"Boleh! sekalian bawa yang ada di ruangan saya. dan Lain kali kalau ada orang yang masuk ke ruangan saya, tolong kamu cegah! itu adalah ruangan privasi."

__ADS_1


"Maaf bu! tadi juga saya udah melarangnya, tapi pria itu punya akses masuk ke dalam. tapi Saya jamin orang itu tidak berbuat macam-macam, hanya meninggalkan bunga saja.


"Udah ambil sana! sekalian sama pasnya!"


Dengan manggut cleaning service itu pun masuk ke dalam ruangan, untuk melakukan apa yang disuruh oleh atasannya. setelah benda-benda pemberian dari David dibersihkan, barulah Kirana masuk kembali ke ruangannya.


Dengan menyandarkan tubuh, dia mengulang kembali Memori Indah saat berjuang mendapatkan cinta seorang laki-laki yang acuh dengannya. namun ketika pria itu membalas cinta yang diberikan oleh Kirana, ada keluarga yang tidak setuju


Tiba-tiba kedua sudut bibirnya terangkat, sesaat setelah membayangkan dirinya yang mengenakan sarung dan baju kebaya. kepalanya ditutup oleh cetok topi yang terbuat dari anyaman bambu. sedang bercanda dengan Fathan di sawah. khayalan itu terhenti sesaat setelah dia sadar dengan perubahan sikap pada dirinya.


"Huh! semakin aku melupakanmu, semakin aku terhanyut dalam khayalanmu." Gumam Kirana sambil membuang nafas.


Truk! truk! truk!


"Masuk!" seru Kirana.


Dengan cepat orang yang mengetuk itu pun masuk dengan membawa beberapa berkas. lalu diserahkan kepada Kirana, setelah itu dia berpamitan untuk keluar.


"Kerja! kerja! semangat! semangat!" ujar Kirana motivasi dirinya agar dia tidak terus terfokus Memikirkan orang yang jauh di sana.


Sore hari, setelah pulang dari kantor. dia pun mampir ke toko kebaya untuk membeli beberapa baju dan sarung jarik, tak lupa dia pun mencari aksesoris pelengkap.


Setelah menemukan apa yang dia cari, kemudian dia mengarahkan mobilnya menuju ke studio foto.


"Ibu mau foto dengan konsep pertanian?" tanya fotografer.


"Iya, kebetulan pacar saya seorang petani sukses. kalau kamu nggak percaya lihat akun channel YouTubenya, keranjang sayur!" jawab Kirana dengan menunjukkan raut wajah bangga.


"Ya sudah! Ibu di make over dulu ya." Pinta fotografer.


Akhirnya Kirana pun terlarut dalam sesi foto menggunakan tema pertanian, setelah melihat hasil fotonya. dia pun meminta hasil foto itu untuk dikirimkan ke nomor kontaknya.


Namun angan hanyalah angan, setelah pesan yang dikirim, dan bercentang biru. Fathan pun seperti biasa tidak memberikan respon berlebih. jangankan memberikan respon, membalas pesan Kirana pun sepertinya enggan.


Dengan kesal Kirana menekan tombol Panggil. tak lama telepon itu terhubung.


"Yah ada apa Bu?" tanya Fathan seperti biasa dengan suara datarnya.


"Bagaimana, aku sudah cocok belum jadi Bu Tani?"


"Aduh maaf bu, saya lagi mengemas hasil pertanian, untuk dibawa ke kota, nanti saya telepon balik!"


Tap! tap! tap!


Telepon itu terputus, membuat Kirana mengepalkan tangan. merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh Fathan. namun meski begitu dia semakin tertantang untuk menaklukkan hati pria yang sudah beralih profesi menjadi petani.


"Sudah Bu, ini albumnya!" ucap fotografer sambil menyerahkan album foto.


"Cepet amat selesai?"


"Iya Bu, Biar ceritanya semakin ringkas!"  jawab fotografer itu sambil tersenyum.


Kemudian Kirana pun menghampiri resepsionis untuk membayar jasa yang telah Ia gunakan. setelah selesai melakukan pembayaran dia pun bergegas Kembali menuju mobilnya.


"Halo Windy!" sapa Kirana sama orang yang berada di ujung telepon.


"Tumben-tumbenan Lu, nelpon gua! pasti lu mau curhat kan?"

__ADS_1


"Hahaha, tahu aja nih sahabat gua!"


"Tahulah! kalau bukan hal itu, Mana Mungkin lu mau menghubungi sahabat, sekaligus pendengar setia lo."


"Yuk! mau di mana?"


"Pokoknya gua pengen di cafe termahal!"


"Ya sudah, lu siap-siap. Bentar lagi gua sampai, jangan bikin sahabatmu emosi! gara-gara menunggu lo dandan lama."


"Emangnya lo! yang dandan harus membutuhkan waktu berjam-jam."


Tap! tap! tap!


Windy pun memutus telepon itu, dengan kesal Kirana menyimpan handphonenya ke dasbor mobil, lalu menghidupkan mobil itu, meninggalkan studio fotografer.


Tak di ceritakan lamanya di perjalanan, dia pun sudah sampai di salah satu Cafe termahal yang ada di kota Jakarta. dengan membawa Windy, sahabatnya.


"Lu mau apa, lu mau cerita apa?" tanya Windy.


"Nih bagus gak, gua udah cocok belum jadi Bu Tani?" tanya Kirana sambil menyerahkan album foto.


"Bentar! lu ini mau ke sawah, apa mau ke Mall. kok petani dandanannya rapi seperti ini." cibir Windy setelah melihat beberapa hasil foto yang ada di album.


"Yey! bukan seperti itu loh tanggapannya!"


"Terus?"


"Kamu tuh cantik banget! kamu cocok banget jadi Bu Tani! nah, gitu yang harusnya yang lo ucapkan." Kirana mengajarkan sahabatnya.


"Aduh bu Kirana, Kamu memang cantik banget, tapi kamu nggak cocok jadi Bu Tani."


"Apaan si lo! gak asik. nyesel gua ngaja lu."


"Iya, iya! kenapa sahabat gua yang paling cantik ini, sampai-sampai ngebela-belain foto beginian segala."


"Gua mau bertani aja! ngikutin pacar gua."


"Pacar Khayalan?"


"Eh lu, jangan sembarangan. dia sudah mengakui bahwa dia mencintai gua, di depan orang tua gua sendiri."


"Terus bagaimana sekarang, kan udah hampir 3 bulan cowok idaman lo itu, tidak memberikan kabar."


"Ada kok, kabarnya! dia setiap hari upload video di kanal youtube-nya.


"Serius!"


"Channel youtube-nya, namanya keranjang sayur!"


"Waduh jangan-jangan dia sudah punya gebetan lagi di sana, kok mainnya ranjang-ranjang seperti itu." usil Windy.


"Nggak seperti itu Windy! tapi emang bener apa begitu?" ujar Kirana yang terlihat tidak konsisten.


"Ya siapa tahu aja begitu"


"Gua serius Windy!"

__ADS_1


"Emang kelihatan gua sedang bercanda apa?"


Mendengar penuturan Windy seperti itu, Kirana pun mulai terhasut oleh omongannya.


__ADS_2