Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 75


__ADS_3

Terus Bergerak


Deru suara hujan yang menimpa Genteng genteng rumah warga Kampung sukadarma, kilatan cahaya petir menambah getirnya suasana malam itu. Dadun yang baru pulang dari rumah Pak RT, dia dengan cepat masuk ke dalam rumah, terlihat istrinya masih menunggu di ruang tengah.


"Dari mana saja Kang, Kok jam segini baru pulang? biasanya habis salat isya langsung ke rumah," tanya indah sambil menatap ke arah sang suami.


"Dari rumah Pak RT," jawab Dadun sambil masuk ke kamar. tak lama dia pun keluar dengan mengusap-ngusap kepalanya menggunakan handuk, karena mungkin basah terkena air hujan.


"Ngapain dari rumah Pak RT, ada rapat?" tanya istri Dadun.


"Nggak, akang ada rencana yang mungkin bisa membuat kita bahagia."


"Rencana apa?" tanya Indah sambil membenarkan posisi duduknya, agar dia bisa menatap ke arah Dadun yang sudah duduk di hadapannya.


"Akang mau keluar dari kelompok pertanian keranjang sayur."


"Kok begitu, nanti bagaimana kehidupan keluarga kita, yang sudah mulai menikmati hasil dari bergabung dengan kelompok tani itu."


"Akang mau bertani sendiri, mau menjual sendiri, Karena setelah dipikir-pikir. selama ini kita dibodohi oleh Fathan sang petani sialan itu."


"Kok Akang bicaranya seperti itu?"


"Iyalah Indah...! masa kamu nggak ngerti, dari kebun pepaya kita saja, sebulan penghasilannya bisa 10 sampai 15 juta. namun apa yang kita dapat, kita hanya diberi uang 3 juta. Itupun harus bekerja setiap hari."


"Tapi itu lumayan Kang, daripada dulu kebun kita hanya ditumbuhi pohon Ilalang atau rumput-rumput liar yang tak bisa dimanfaatkan."


"Yah, itu kan dulu. sebelum akang mengerti. sekarang akang sudah paham, jadi Akang mau bertani sendiri. Lumayan kalau penghasilan kita dalam jangka waktu sebulan 15 juta, setahun saja sudah 180 juta. kita bisa beli mobil dan bisa merenovasi rumah," khayal Dadun.


"Tapi emang nggak apa-apa, kalau Akang bertani sendiri?"


"Nggak apa-apa lah, Indah....! kan itu tanah Akang, tanah kita! ngapain Kita harus takut."


"Tapi sebaiknya menurut Indah, Akang berbicara dulu sama Fathan. karena walau bagaimanapun dialah orang yang pertama memberi saran agar warga Kampung sukadarma bertani ikut dengannya." Saran indah yang seorang perempuan, yang perasaannya sehalus Sutra.


"Iya Akang akan berbicara, tapi nanti .setelah Akang berbicara dengan para petani lainnya. Oh iya, nggak apa-apa kan, kalau nanti kita bertani Berdua, dan hasilnya dinikmati oleh kita berdua.


"Kalau indah hanya sebagai seorang istri, indah akan mengikuti Semua yang akang inginkan. yang terpenting itu tidak melanggar syariat dan aturan yang berlaku di negara kita."

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu!" ujar Dadun sambil mencubit hidung istrinya, membuat Indah mendengus manja.


"Apa-apaan sih Kang...! Bau tau tangannya."


"Si misro sudah tidur?"


"Sudah, dari tadi juga udah tidur. kalau handphonenya belum mati mana mungkin dia mau tidur. mau ngapain nanyain si misro?"


"Nggak apa-apa, Ya sudah ayo ke kamar. mumpung di luar hujan," ajak Dadun sambil menarik tangan istrinya.


Terlihat indah tidak menolak, dia pun mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar. kemudian lampu kamarnya pun mati, entah apa yang mereka lakukan, karena lampunya sudah mati jadi penulis tidak bisa melihat.


*****


Keesokan paginya. kira-kira pukul 06.00, sebelum Dadun berangkat ke kebun dia sudah berjalan menuju rumah Ujang ditemani oleh Parmin dan Nanang. Mentari dari upuk Timur terlihat mulai menampakkan wujud, memberikan kehangatan bagi jiwa-jiwa yang sudah bergerak untuk memulai hari. burung-burung berterbangan sambil menjemur sayap-sayap yang basah terkena hujan semalam. gemerlap Embun Pagi yang menempel di ujung-ujung daun, membuatnya terlihat begitu indah bak mutiara.


Ketiga orang itu terus berjalan, sehingga akhirnya mereka sampai di salah satu rumah terbesar di kampung sukadarma. setelah memukul-mukul pagar dengan kuncinya, keluarlah Ujang yang terlihat masih memakai sarung. di lehernya melilit handuk, seperti dia sangat kedinginan.


Awalnya terlihat Ujang hendak marah, karena merasa terganggu dengan kebisingan di pagi itu. namun ketika melihat yang datang adalah Dadun. dia pun dengan cepat mengubah raut wajahnya dipenuhi dengan senyum, lalu bergegas berjalan menuju ke pintu gerbang.


"Kang Dadun! tumben-tumbenan pagi-pagi sudah main ke rumah?" Tanya Ujang sambil membuka pintu.


"Ya sudah ayo masuk, kita ngobrolnya di dalam, jangan di sini!" Ujar Ujang mempersilahkan tamunya.


Mereka berempat pun berjalan melewati halaman yang suka dipakai menjemur padi. hingga akhirnya sampai ke teras rumah. setelah dipersilahkan, para tamunya pun duduk dengan santai.


"Ada apa nih?" Kata Ujang mengulang pertanyaannya. matanya membagi tatap Ketiga orang yang berada di hadapannya.


"Begini Kang Ujang, seperti yang sudah kemarin Kang Ujang sampaikan. saya sudah mengobrol dengan Kang Parmin dan Kang Nanang. Alhamdulillah! mereka bisa tersadar dan mereka mau keluar dari kelompok keranjang sayur. namun ketika saya mengajak Pak RT, beliau menolak bahkan terlihat sangat angkuh."


"Terus?"


"Jadi kedatangan saya ke sini, Saya harus bagaimana, agar usaha saya membuahkan hasil."


"Usaha untuk mengajak para petani, keluar dari mata keranjang?" Ujang memastikan.


"Benar kang!"

__ADS_1


"Menurut saya, kamu kalau mengajak orang jangan langsung ke inti permasalahannya. kamu bersosialisasi terlebih dahulu, pancing dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus, apakah mereka betah atau tidak bergabung dengan keranjang sayur. kalau ada ketertarikan dengan apa yang kamu sampaikan. barulah Kang Dadun mengajaknya untuk keluar dari pertanian."


"Oh begitu... Iya! iya!, jadi kalau saya seperti itu, nanti saya tidak akan salah mengajak." Ujar Dadun sambil manggut-manggut.


"Nah, itu benar!"


"Terima kasih atas sarannya Kang!"


"Sama-sama!. kita harus berjuang menyadarkan para warga yang sudah ditipu oleh mata keranjang. yang perlu akang-akang ketahui Fathan itu sangat licik, buktinya dia membuat hotel di tanahnya. karena kalaupun kalian keluar dia sudah mendapatkan untung, mempunyai bangunan yang harganya ratusan juta." jelas Ujang mulai kembali memasukkan asutannya.


"Iya benar! Kok kita nggak sadar sampai ke sana ya!" ujar Parmin membenarkan.


"Karena Kalian bertiga sudah di doktrin oleh ucapan-ucapan sang penipu itu. sehingga kalian tidak sadar kalau kalian sedang diperah, dimanfaatkan dan disiksa. kalian tak beda dengan budak yang sedang dijajah." Jelas Ujang yang terlihat menggebu-gebu bak orator demo.


Mereka bertiga pun terdiam, seolah percaya bahwa ujanglah orang yang terbaik di dunia ini. karena dia mau menyadarkan mereka yang telah ditipu oleh pertanian yang diketuai oleh sang petani itu.


"Ya sudah! kalian jangan terlalu banyak terdiam, jangan terlalu banyak berpikir. kalian harus cepat bergerak menyelamatkan warga Kampung kita. agar Secepatnya mereka sadar dan hidup dengan layak!" lanjut Ujang setelah tidak mendapat jawaban dari para tamunya.


"Ya sudah kalau seperti itu, Mulai detik ini Kami bertiga akan berusaha semaksimal mungkin menyadarkan para warga, agar tidak dibodohi oleh Fathan dan Kamal," ujar Dadun yang terlihat membulatkan tekad.


"Kalau begitu kami pamit dulu kang Ujang...! Terima kasih atas wejangannya," Timpal Nanang sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Mau Kemana, kan kalian belum sarapan. Mending sarapan dulu! tapi istri saya belum masak. maklum hidupnya sangat senang." Ujar Ujang yang terlihat tidak niat.


"Nggak apa-apa! nggak usah ngerepotin kang!"


"Tapi tunggu sebentar, kalian beli sarapan di warung bi jijoh saja. nih, uangnya!" ujar Ujang yang terlihat sangat Dermawan, berbeda ketika dulu, dia terkenal dengan kepelitanya. jangankan memberi uang untuk sarapan, main ke rumahnya pun tidak pernah disuguhi, walaupun itu hanya segelas air putih.


"Nggak usah repot-repot Kang Ujang!" ujar Nanang, namun dengan cepat dia mengambil uang itu, kemudian memasukkan ke dalam kantong celananya.


"Ya sudah kami pamit dulu kang!" ulang Dadun sambil mengulurkan tangan, diikuti oleh Parmin dan Nanang. setelah berpamitan, mereka bertiga pun keluar dari rumah Ujang, meninggalkan tuan rumah yang sudah merubah raut wajahnya.


"Dasar orang miskin....! katanya nggak usah, tapi uangku diambil.  Hilang deh 100.000 saya! tapi nggak apa-apa lah! daripada nyuruh si Sobri, pekerjaannya nggak benar uang melayang 100 juta lebih." gumam Ujang yang mengobati kekesalan hatinya.


Sedangkan ketiga tamunya yang baru saja meninggalkan rumah Ujang. mereka terus berjalan menuju ke warung bi Jijoh untuk mengisi perut yang sudah mulai terasa melilit, karena kebiasaan para petani mereka akan sarapan pagi-pagi.


Selesai sarapan, Mereka pun pulang ke rumah untuk mengganti baju terlebih dahulu. kemudian mereka menuju ke kebun masing-masing menjalankan rutinitas seperti biasa.

__ADS_1


Dadun yang sudah terpengaruh oleh perkataan Ujang, dia mulai mengajak para anggota keranjang sayur untuk keluar dari kelompoknya. namun sekarang dia mengajaknya secara halus, seperti Ujang ketika mempengaruhinya.


Setiap bertemu dengan para anggota kelompok lain, mereka bertiga terus membahas, berbicara, mempengaruhi agar mereka bertani sendiri. anggota yang tidak memiliki pendirian seperti Dadun, Mereka pun mulai terpengaruh, tertarik untuk bertani sendiri. hingga lama-kelamaan anggota-anggota yang mau keluar hampir 30%. itupun mereka yang memiliki tanah yang luas, Karena merekalah yang merasa dirugikan oleh pihak kelompok.


__ADS_2