Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 102


__ADS_3

Berjalan seiring


Kirana yang terkaget mendapat pelukan erat dari orang yang selama ini ia kagumi, awalnya hendak menolak namun tubuhnya tidak berani melakukan hal itu. sehingga akhirnya dia memejamkan mata menikmati ketakutan sang petani atas dirinya.


"Kalau mau mesum jangan di toilet! ngalangin jalan aja!" bentak ibu-ibu yang baru keluar dari kamar mandi, membuat Fathan dengan segera melepaskan pelukannya, Kemudian mereka pun menggeser kan tubuh memberi jalan agar orang yang mendumel tadi bisa lewat.


"Kamu dari mana saja, aku takut kamu pergi meninggalkanku." ujar Fathan sambil menatap Kirana yang tertunduk.


"Mau pergi ke mana, rasanya tidak ada tempat bersembunyi yang aman dari gangguanmu," jawab Kirana dengan sedikit menggigit bibir, karena Sebenarnya dia tidak ingin mengucapkan ucapan seperti itu.


"Iya kalau mau pergi, kamu bilang dulu! Jangan buat aku khawatir. sudah selesai ke kamar mandinya?" tanya Fathan


Kirana pun mengangguk tanpa memberikan jawaban, kemudian dia pun berjalan meninggalkan toilet menuju minimarket yang biasa ada di pengisian bahan bakar.


Setelah masuk, dia mengambil beberapa botol Minuman dan beberapa cemilan, untuk menemani mereka di perjalanan. namun ketika dia mau membayar, dengan cepat sang petani itu mengeluarkan uang untuk membayarkan belanjaannya. membuat Gadis itu menatap penuh heran, seolah tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Fathan, karena biasanya sang petani itu lebih cuek. apalagi hal-hal seperti itu, Mungkin dia takkan mempedulikannya. namun meski merasa heran, Kirana tetap bahagia walaupun yang diberikan Fathan tidak seberapa, kalau dibandingkan dengan perjuangannya.


Setelah membayar makanan, Fathan pun mengambil goodie bag yang sudah terisi penuh oleh belanjaan Kirana. kemudian dia pun memegang tangan Kirana bahkan membukakan pintu, membuat hati gadis itu semakin terbang melayang, mungkin kalau minimarket itu tidak ada atap, dia sudah pergi jauh ke antariksa.


Mereka berdua terus berjalan menuju ke parkiran mobil dengan terus berpegangan tangan, kalau Kirana bisa meminta, dia ingin waktu itu terhenti, untuk lebih lama menikmati kebersamaannya bersama pria pujaan hati yang sekarang sudah menunjukkan kasih sayang.


Sesampainya di mobil Fathan yang dari dulu tidak pernah membukakan pintu, entah hantu apa yang merasuki dirinya. sekarang dengan segera dia membukakan pintu mobil depan, membuat Kirana hanya berdiri menatap penuh keheranan.


"Kenapa masih diam bu, apa mau duduk di belakang lagi?" tanya Fathan sambil mengulum senyum, membuat hati dan jantung Kirana terasa copot. senyum yang sudah lama ia harapkan, Kini baru terlihat. ternyata begitulah rasanya ketika mendapat senyuman dari orang yang dia kagumi.


"Ayo kita berangkat...! nanti kemalaman," ajak Fathan untuk yang kedua kalinya.


"Nggak usah membukakan pintu! saya juga bisa sendiri." Ketus Kirana sambil masuk ke dalam mobil kemudian menutup pintunya sendiri.


Sang petani itu hanya mengulum senyum, dia pun berlari ke arah samping kanan untuk mengemudi kembali. sedangkan Kirana yang sudah berada di dalam mobil dia pun menepuk-nepuk kepalanya, karena seharusnya dia bukan Ketus seperti tadi melainkan harus Anggun bak putri raja yang sedang dimanjakan oleh sang pangeran.


"Kenapa mukul-mukul kepala, sakit kepala Bu, apa Saya mau beliin obat dulu?" tanya Fathan yang melihat kelakuan Kirana.


"Nggak....!" jawab Kirana singkat, kemudian dia memfokuskan pandangan ke arah depan. sedangkan Fathan dia menyimpan tasnya kursi belakang, sedangkan belanjaannya dia simpan di dasbornya.

__ADS_1


"Siap berangkat?" lagi tanya Fathan setelah dia duduk di belakang kemudi.


"Jalan, ya jalan aja sih! Ngapain harus minta izin segala," Ketus Kirana Sebenarnya dia tidak ingin berbicara seperti itu, namun Entah mengapa semakin dia Ketus semakin terasa bahagia.


"Wajahnya jangan ditekuk!"


"Urusan amat! Kenapa emang?" ujar Kirana mata indahnya mendelik ke arah Fathan.


"Ibu terlihat semakin cantik kalau galak."


"Emang kalau aku nggak galak, nggak cantik gitu!"


"Nggak, Ibu tetap cantik. tapi kalau galak cantiknya nambah," ujar Fathan membuat Kirana membalikkan pandangan ke arah samping, menyembunyikan senyum tipis yang Terukir di bibirnya.


Keadaan mobil pun kembali Hening, hanya deru mesinnya yang terdengar dari kap depan. Fathan sudah melewati cek poin ppkm, namun dia yang lewatnya lumayan agak malam, sehingga terbebas dari pemeriksaan.


Kirana yang sejak dari tadi terdiam, sudut matanya melihat ke arah pria yang sedang duduk di sampingnya. Sebenarnya dia ingin berbicara mengobrol panjang lebar, namun Fathan yang cuek, sehingga membuatnya merasa malu, kalau harus berbicara duluan dan dia merasa takut Fathan kembali ke mode aslinya.


"Bu...!" Panggil Fathan.


"Nggak apa-apa, Lagian dari tadi diam saja."


"Oooooh!" jawab Kirana singkat menyembunyikan kekecewaannya.


"Ibu ngantuk?" tanya Fathan kembali seolah sedang melakukan pendekatan.


"Nggak...! nggak ngantuk!"


Di dalam mobil pun Hening kembali, pandangan mereka terfokus ke arah depan. sesekali mobilnya berpapasan dengan kendaraan yang lain, namun tak sepadat ketika tidak diberlakukan ppkm.


Merasa bosan karena Fathan tak kunjung mengajak Kirana mengobrol  Gadis itu pun mengambil botol minum yang tadi dia beli, kemudian meneguknya tanpa sedikitpun menawari Fathan.


"Boleh minta?" ujar Fathan yang melirik Kirana dengan sudut mata.

__ADS_1


"Emang mau?"


"Mau lah! dari tadi saya belum minum."


"Kirain orang dingin seperti kamu, tidak membutuhkan air." Ketus Kirana namun dia pun mengambil botol yang satunya lagi, Kemudian membuka penutupnya lalu diserahkan kepada Fathan.


"Saya manusia bu, bukan kaktus!" jawab Fathan sebelum meminum air yang baru diberikan. "Tutupnya dong Bu!" pinta fathan setelah dia selesai minum.


"Sini aku aja yang nutup!" pinta Kirana sambil mengambil air yang ada di tangan kekasihnya, sehingga tangan Mereka pun bersentuhan, membuat hati Kirana kembali berdegup, dengan cepat dia pun menarik tangan itu tak kuat menahan desiran aneh yang mengalir di tubuhnya.


"Bu....!" Panggil Fathan kembali.


"Apa sih manggil-manggil terus, Lagian Kenapa kamu panggil saya Ibu, Aku bukan ibumu!"


"Sayang...!" Panggil Fathan.


"Apa....! panggil apa barusan?" tanya Kirana sambil menatap lekat ke arah wajah Fathan, seolah dia ingin memastikan kebenaran ucapannya.


"Sayang...!" ujar Fathan tatapannya sekilas memenuhi wajah Kirana. membuat kedua pandangan itu beradu, dengan cepat wanita itu membenarkan posisi duduknya, menatap kembali ke arah depan.


"Kenapa membuang pandangan?"


"Nggak apa-apa! senyummu aneh, makanya biasakan tersenyum biar nggak kaku!" Ketus Kirana.


Mobil pun kembali hening. kadang suasana di dalam mobil terlihat begitu mencair, namun dengan cepat membeku kembali, seolah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan masing-masing. Padahal di dalam hati mereka dipenuhi dengan keinginan-keinginan namun susah untuk diungkapkan.


Perlahan tangan kiri Fathan menggenggam tangan Kirana, yang berada di atas pahanya, kemudian jari tangan itu mengelus tangan lembut milik gadis Jakarta. membuat Kirana menatap penuh keheranan, karena tak menyangka Fathan bisa teromantis itu. sebenarnya dia ingin menghindar agar dia lebih mengetahui sejauh mana Fathan akan mengejarnya, namun Entah Mengapa tubuhnya berkata lain, tubuh itu seolah menikmati setiap belaian yang ada di tangannya.


"Sayang...!"


"Apa sih manggil-manggil!"


"Jangan galak-galak apa, aku mau ngomong serius nih!"

__ADS_1


"Kuping aku kan nggak kemana-mana, kalau kamu mau ngomong. ngomong aja! pasti aku dengerin." jawab Kirana yang tetap menekuk Muka.


__ADS_2