
Rencana membangun mini Hotel
"Doa Kakak yang terbaik buat kamu! semoga kamu bisa menjadi perawat, sesuai dengan apa yang kamu cita-citakan jawab Fathan sambil mengelus kepala adiknya yang tertutup oleh hijab.
Setelah Memeluk kakaknya, dia pun memeluk adiknya. yang sejak dari tadi terlihat menjadi pendiam, mungkin dia nggak kuat menahan perasaan sedih, Ketika Harus ditinggalkan Kakaknya lagi.
"Sudah jangan nangis....! Lagian Nanti sore kakak pulang lagi," ujar Farah sambil memeluk adiknya, kemudian dia mengacak-ngacak rambut Adik terkecilnya itu.
"Semoga aja Kakak nggak diterima bekerja, Sarah sudah senang ketika keluarga kita komplit seperti sekarang. Eh kakak malah mau pergi, Kakak sama aja menghancurkan kebahagiaan adik," ujar Sarah yang terlihat matanya sudah mengembun, tak kuat menahan kesedihan.
"Jahat Amat kamu Dek, kok doanya seperti itu."
"Biarin....! agar kita semua bisa terus berkumpul seperti ini."
Mendengar perkataan adiknya seperti itu, Farah hanya mengulum senyum, kemudian dia menatap ke arah Kirana yang sejak dari tadi memperhatikan.
"Doakan aku ya Kak!" Pinta Farah sambil mengulum senyum, kemudian dia memeluk calon kakak iparnya.
"Doa terbaik kakak buat kamu dek!"
"Semangat terus Mengejar Cintanya, semoga pria batu ini hatinya cepat mencair," ujar Farah sambil mengulum senyum, kemudian dia melirik ke arah Fathan dengan sudut matanya.
Setelah berpamitan sama semua orang, Farah pun menghampiri mobil yang terparkir di depan gang, di mana Asep sedang menunggu. setelah Farah naik, mobil yang dikendarai oleh Asep mulai melaju dengan pelan, meninggalkan kampung sukadarma diantar oleh tatapan-tatapan Haru dari keluarganya.
Setelah Farah tidak terlihat lagi, keluarga Farhan pun kembali masuk ke dalam gang, masuk ke rumahnya. Fathan masuk ke kamar untuk bersiap-siap bekerja, sama seperti Kirana. sedangkan Sarah dia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
Matahari di ufuk timur cahayanya sudah mulai terlihat, memancarkan warna kuning keemasan, memberikan semangat lebih untuk menjalani hari. burung-burung mulai terdengar berkicau, sambil menunggu sinar mentari hangatkan tubuhnya. suara ayam dan suara ternak lainnya, mulai terdengar membuat suasana Asri di perkampungan.
Fathan yang sudah rapi dengan memakai seragam kerjanya, dia pun pergi ke arah dapur untuk berpamitan terlebih dahulu sama orang tuanya. meski sambutannya begitu dingin, namun dia tetap melakukan hal itu.
"Tunggu.....! Kita berangkat bareng," pinta Kirana yang baru keluar dari kamar Sarah.
Mendengar permintaan kekasihnya seperti itu, Fathan pun hanya melirik sebentar, kemudian melempar senyum. namun dia tetap melangkah menuju keluar rumah, seolah cuek dengan wanita yang selalu mengejarnya
Fathan terus berjalan Keluar dari gang menuju ke rumah Kamal, di mana semua peralatan pertanian terparkir di halaman rumah Pamannya.
Kamal yang melihat keponakannya baru datang, dengan cepat dia pun menyambut mengajaknya masuk ke tengah rumah.
"Ngopi belum tan?" tanya Sari meski sebenarnya dia sudah tahu kalau Fathan di rumahnya tidak pernah ngopi.
"Sudah bi," jawab Fathan berbohong.
__ADS_1
"Halah..! kamu pakai nanya segala, pasti Fathan tidak akan berani menjawab jujur," ujar Kamal mendelik ke arah istrinya.
"Kirana mana, Kok belum kelihatan?" tanya Sri sambil celingngukan mencari keberadaan gadis kota itu.
"Ada di belakang Bi." jawab Fathan singkat.
Setelah mendengar jawaban keponakannya, Sari Pun menuju ke arah dapur, tak lama dia pun kembali sambil membawa dua gelas yang berisi kopi susuk panas.
"Ini buat Kirana?" tanya Gadis cantik yang sudah sampai ke rumah Kamal.
"Iya itu Buat kamu. tuh goreng pisangnya dimakan! di saung nggak ada sarapan," Jawab Sari sambil menunjuk ke arah pisang goreng yang sudah tertata rapi di meja.
"Wah....! jadi nggak enak nih! Ngerepotin Bibi terus. Tapi terima kasih yah!" jawab Kirana sambil mengambil gelas yang berisi susu panas, kemudian dia pun mulai membasahi tenggorokannya dengan air berwarna putih itu.
"Neng Farah jadi ke Cibadaknya Tan" tanya Kamal yang sudah mengetahui keponakannya mau interview kerja di rumah sakit.
"Jadi mang, tadi setelah melaksanakan salat subuh, dia sudah berangkat ikut sama Asep."
"Syukurlah...! semoga saja dia keterima, agar Kang Farhan gak terlalu kuring-uringan, memikirkan anaknya yang tidak mau bekerja." Timpal Sari menambahkan.
"Hush...! Kamu itu, Pagi-pagi sudah gosip!" sanggah Kamal yang terlihat tidak setuju dengan apa yang dibicarakan oleh istrinya.
"Bukan begitu kang, emang kenyataannya benar kan seperti itu. kang Farhan dia mau anaknya bekerja di kantor. padahal dengan bertani kita bisa hidup dengan layak," Timpal Sari yang terlihat tidak mau kalah.
"Ya Allah.....! pagi-pagi sudah berisik, kalian memperebutkan Apa sih?" Pisah Idan yang baru keluar dari kamar mandi, Mungkin dia selesai membersihkan tubuh, karena terlihat rambutnya yang masih basah.
"Bapakmu tuh dan! kalau menasehati itu tidak benar, Masa menasehati sambil bentak-bentak."
"Ya kalau nggak dibentak-bentak, kamunya kan nggak ngerti." jawab Kamal tidak terima.
Akhirnya perdebatan itu mulai terdengar kembali, Idan hanya menggeleng-gelengkan kepala, seolah tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. dia pun masuk ke kamar untuk mengganti baju, bersiap-siap untuk pergi ke kantor keranjang sayur.
Setelah mengganti baju Idan pun keluar, dia masih melihat kedua orang tuanya yang masih berdebat, memperebutkan pepesan kosong. Dia pun duduk di tengah-tengah orang tuanya, untuk memisahkan perdebatan mereka. Kemudian mengambil gelas yang berisi kopi lalu meneguknya.
"Sarapan dulu pak, Mah. agar berdebatnya kuat sampai sore," ujar Idan menyindir disambut oleh senyum Fathan dan Kirana.
"Oh iya, mang. bulan depan kita selain mengirim hasil pertanian kita ke supermarket, bulan depan juga rencananya kita akan mulai membuat Mini hotel, untuk menampung para wisatawan yang hendak menginap. Terus kalau bisa bagaimana caranya agar kita selain menyediakan tempat menginap, Kita juga bisa menyediakan makanan yang nikmat." ujar Fathan yang memisah perdebatan dengan cara elegan.
"Mini hotel, seperti yang kamu buat di dekat Saung bukan?:
"Yah seperti itu mang, namun mungkin yang sekarang akan membuatnya lebih bagus lagi, agar para wisatawan betah berlama-lama berkunjung ke kampung kita."
__ADS_1
"Emang uangnya ada?" tanya Kamal.
"Siapa tahu aja Ada Mang, lihat Bulan depan saja!"
"Terus kalau menyediakan makanan nikmat, tujuannya untuk apa?" Tanya kamal menatap lekat ke arah Fathaan.
"Ya tujuannya tetap sama, agar para wisatawan betah. karena mereka tidak harus jauh-jauh keluar untuk mencari makan, sebab kita sendiri bisa menyediakan makan untuk mereka.
"Oh begitu....!" jawab Kamal yang terlihat mengangguk-anggukkan kepala, mungkin dia mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Fathan.
"Ya mang begitu, tapi yang jadi permasalahan, siapa orang kampung kita yang bisa masak?"
"Banyak kalau yang bisa masak. kan ada Bi Onah, di sumi, mereka adalah pemasak handal, ketika waktu hajatan," jawab Sari menimpali.
"Oh begitu, apa harus kita memanggil koki dari luar, agar para istri dari anggota keranjang sayur, bisa ikut bergabung ke dalam kelompok kita," saran Fathan menyampaikan pendapatnya.
"Mahal gak, kalau manggil guru privat masak seperti itu?"
"Mahal Dan murah itu relatif Mang, yang terpenting ilmunya kita bisa dapat. karena kalau kita punya ilmu, Maka penghasilannya akan lebih dari apa yang kita keluarkan untuk belajar."
"Nah, kalau itu Bibi setuju, sekalian Bibi juga mau belajar agar bisa membuatkan mamangmu makanan-makanan yang lezat dan mewah seperti yang ada di film-film."
"Setuju, mendingan Bibi cari orang yang mau belajar masak. sekalian bibi kasih tahu, Bi inoh sama Bi Sumi. karena kalau orang yang sudah memiliki basic, tidak akan susah untuk diajarkan, jadi nanti yang lain bisa berguru sama mereka berdua."
"Benar....! benar....! Kalau sudah ada orang yang bisa, nanti Kita berguru sama warga kampung saja," jawab Sari yang terlihat semangat.
"Emang tanah bagian mana Yang mau dijadikan Mini Hotel?" Tannya Kamal kembali ke pokok permasalahan.
"Nah, kalau menurut Kirana, Hotel itu akan berdiri di tepian sawah, jadi viewnya adalah sawah yang membentang luas seluas mata memandang. sedangkan untuk menuju Mini Hotel itu, kita suguhkan dengan berbagai macam tanaman, agar mereka bisa betah berlama-lama menginap di hotel kita."
"Ya Bener, bagus....! Mamang juga Tadinya mau mengusulkan di situ, tapi kalau bisa bangunnya di tanah-tanah kita saja,"
"Maksudnya?" tanya Fathan sambil mengurutkan dahi menatap ke arah pamannya.
"Iya membangun Mini Hotelnya di tanah kita, di tanah bapakmu dan tanah Mamang."
"Kenapa begitu?"
"Mamang nggak enak kalau membangun bangunan permanen di tanah orang lain, sedangkan kelompok keranjang sayur hanya berhak menggunakan tanah warga untuk bertani, bukan untuk membangun Mini Hotel. Lagian kalau membangunnya di tanah kita, itu akan menjadi milik kita," jelas Kamal.
Mendengar penjelasan dari pamannya, Fathan pun terdiam seolah mencerna dengan apa yang disampaikan oleh Kamal. setelah Lama berpikir dia pun mulai mengerti dengan apa yang dimaksud oleh pamannya, Akhirnya dia pun manggut-manggut lalu menatap kembali ke arah Kamal.
__ADS_1
"Bener juga mang?"
"Iya, lagian tanah Bapak dan tanah Mamang, itu cukup buat membuat 20 Mini Hotel."