Keranjang Sayur

Keranjang Sayur
KS. 90


__ADS_3

Niat Farhan


"Nggak usah kaget Kang Ujang, karena saya malu kalau mau bertamu ke rumah orang kaya seperti Kang Ujang. maksud kedatangan saya ke sini, Saya ingin menyusul janji akang yang dulu," ujar Farhan yang mengungkapkan tujuannya.


"Janji yang mana ya kang?" tanya Ujang sambil mengerutkan dahi, mungkin dia sedang mengingat-ingat apa yang pernah diucapkan olehnya.


"Lima bulan yang lalu, Akang ketika menghadiri lamaran anak saya, Farah. Akang menyarankan kalau saya harus mengadakan resepsi yang sangat mewah. Waktu itu saya menolak, karena saya tidak punya uang. tapi Akang berniat membantu saya dengan membeli sawah saya, apa tawaran itu sekarang masih ada?" jelas Farhan berdiplomasi.


"Oh itu, kirain apa...! hahaha," jawab Ujang yang terlihat bahagia, karena dia bisa menemukan jalan untuk menghancurkan Fathan sehancur-hancurnya.


"Kenapa Akang tertawa sampai kedengaran ke dapur?" tanya Darmi yang membawa nampan berisi kopi.


"Nggak apa-apa! ini urusan laki-laki, sana kamu masuk ke kamar, lanjutkan main handphonenya!" jawab Ujang yang tak melepas senyum.


"Ih,,, kok gitu...! nggak apa-apa kali kalau saya ikut tahu, kan saya istri Akang!" jawab Darmi sambil menekuk muka.


"Nggak apa-apa nanti akang ceritain, sini duduk..!" tawar Ujang yang selalu memanjakan istrinya.


"Enggak ah, Darmi di kamar aja..! Ini kan urusan laki-laki, oh iya kopinya Kang Farhan...!" jawab Darmi sambil menawarkan jamuannya.


"Terima kasih teh...!" jawab Farhan sambil manggut.


Akhirnya Darmi pun masuk kembali ke kamar, melanjutkan aktivitas kebiasaannya yang selalu bermain handphone. sedangkan ruang tengah terdengar Hening sesaat, hanya ada suara seruputan kopi dari kedua bibir laki-laki yang berada di ruangan itu.


"Bagaimana Kang?" tanya Farhan yang belum mendapat jawaban.


"Dari dulu sampai sekarang, tawaran saya tidak akan berubah. saya selaku warga kampung yang baik, saya akan membantu Setiap kesusahan warganya!"


"Percaya...! percaya...!" Puji Farhan.


"Untuk itu, akang nggak usah khawatir, Saya akan membeli tanah Akang, namun kalau Boleh saya tahu, berapa tanah Akang mau jual?"


"Saya hanya mau Menjual sawah Kang!"


"Iya nggak apa-apa, mau berapa sawahnya dijual?" tanya Ujang mengulang.

__ADS_1


"Kalau bisa dan Kalau boleh, saya ingin menjual tanah saya seharga yang pernah Akang tawarkan," jawab Farhan.


"Dulu saya nawar berapa ya? Saya lupa."


"Dulu Akang menawar Rp150 juta, Apa itu masih tersedia Kang?"


"Aduh....! kalau sekarang uangnya sudah terpakai Kang, jujur kalau kemarin-kemarin saya masih ada uang. namun sekarang sudah dipinjamkan sama Kang Dadun dan teman-temannya. biasa untuk modal usaha," jelas Ujang membuat Farhan sedikit menahan kecewa.


"Haduh....! Terus bagaimana?"


"Paling saya bisa membayar di angka Rp120 juta Kang, Saya tidak akan berbasa-basi dengan Akang. karena saya tahu Akang orangnya sangat baik, jadi saya tidak berani bermacam-macam dengan Akang," ujar Ujang menawarkan kesanggupannya.


"Haduh...! kalau 120 juta Bagaimana ya Kang, Soalnya uang itu buat nikahan Farah. Awalnya saya mengandalkan si Fathan, tapi itu tidak mungkin, sekarang dia sudah bangkrut sehabis ditinggal para anggota dan diserang pandemi." keluh Farhan walaupun sebenarnya harga 120 juta itu sudah sangat lebih dari harga tanahnya, karena harga sawah yang ia miliki paling laku 80 sampai 100 jutaan.


"Iya Kang...! paling saya berani naik 5 juta, kalau bukan sama Akang, saya Mana mungkin berani membeli, karena seperti yang sudah kita ketahui, Sekarang kita sedang ditimpa wabah kopid 19, walaupun di kampung tidak ada, namun dampaknya sangat terasa."


"Iya benar juga sih, Kang!" jawab Farhan seperti orang yang kehabisan topik pembicaraan.


"Sekarang Akang pikirkan matang-matang, kalau mau Rp125 juta maka saya akan bayar. kalau nggak mau Mohon maaf saya tidak berani Kang, jujur saya berani nawar harga tanah segitu, karena sama Akang. orang yang paling baik yang ada di kampung sukadarma."


Mendengar jawaban Ujang, Farhan pun terlihat menghela nafas pelan, karena apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Ayah sang petani itu berharap bahwa Ujang akan memberikan tawaran lebih, Namun ternyata sekarang malah kurang.


"Kalau bisa secepatnya Kang! karena seperti yang akang tahu, uang saya terus berputar, Nanti uangnya keburu habis dipakai kebutuhan orang lain."


"Siap Kang, siap...! Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas semua kebaikan Akang, Untuk itu saya akan pulang terlebih dahulu, nanti saya hubungi Akang lewat telepon, Boleh?"


"Boleh...! boleh! kalau setuju Besok saya akan antarkan uangnya."


"Siap Kang...! Ya sudah saya pamit dulu."


"Nggak usah buru-buru Kang! habiskan dulu kopinya, cemilannya juga belum dimakan," tahan Ujang.


Akhirnya Farhan pun mengalah, dia mengobrol ngalor ngidul membahas kehidupan sehari-hari, namun walaupun seperti itu, pembahasannya tidak jauh dengan seputar tanah yang hendak mereka jual belikan.


Ketika adzan isya berkumandang, Farhan pun berpamitan. sekarang Ujang tidak menahan, dia mempersilahkan tamunya untuk pulang. Mereka berjanji nanti setelah Farhan mengobrol dengan Sri, dia akan segera menghubungi Ujang untuk memberi keputusan.

__ADS_1


Ujang mengantarkan tamunya sampai keluar dari pintu gerbang, dia terus berdiri sampai Farhan Tak Terlihat Lagi ditelan oleh belokan jalan.


"Hahaha.....! anak ingusan kena juga kamu sekarang, kamu nggak akan bisa bertani lagi, karena tanahmu sebentar lagi akan menjadi milikku," gumam hati Ujang sambil tersenyum aneh, kemudian Ia pun masuk kembali ke dalam rumah.


Sedangkan Farhan setelah melaksanakan salat Isya berjamaah, dia bergegas pulang ke rumah. sesampainya di rumah dia mengajak istrinya kembali masuk ke dalam kamar, karena dia takut kalau pembicaraannya terdengar oleh Fathan atau orang lain.


"Bagaimana jadi ke Kang Ujang?" tanya Sri sambil menatap penuh penasaran ke arah Farhan.


"Jadi..! namun,"


"Namun apa?" potong Sri.


"Namun Kang Ujang menurunkan tawarannya, dia tidak berani membayar tanah kita dengan harga yang ditawarkan dulu, karena menurut keterangannya sekarang sedang musim pandemi, dia juga sedang butuh uang."


"Haduh...! Bagaimana kalau begini?"


"Tapi walau begitu, Kang Ujang tetap baik. dia menawar tanah kita dengan harga yang masih luar biasa."


"Emang nawar berapa?" Tanya Sri.


"Rp125 juta!"


"Itu sudah besar Kang, karena kalau melihat sawah yang kita punya paling hanya laku di Kisaran 80 sampai 100 juta. itupun akan susah untuk menjualnya, apalagi sekarang orang-orang sedang membutuhkan uang untuk bertahan hidup, bukan untuk berinvestasi," jawab Sri mengungkapkan pengetahuannya.


"Tapi yang jadi permasalahan, apa dengan uang segitu kita bisa mengadakan resepsi yang mewah untuk anak kita?"


"Tergantung kitanya, kalau kita bisa menghemat, Sri yakin akan cukup," jawab Sri.


"Emang apa aja sih yang dibutuhkan ketika mengadakan resepsi pernikahan?"


"Menurut yang Sri tahu, untuk biaya pernikahan kita hitung mulai dari buat dekor 15 juta, dangdut 12 juta, buat makan Taruhlah 50 juta. jadi kita masih punya sisa 50 juta untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang lainnya,"


"Cerdas juga kamu, kalau masalah hitung menghitung uang," Puji Farhan yang mengulum senyum.


"Apaan sih Kang....!" jawab Sri yang terlihat malu-malu.

__ADS_1


"Bagaimana, Apa kamu setuju Kalau tanah kita dijual dengan harga segitu, soalnya Akang harus secepatnya memberi keputusan sama Kang Ujang."


"Kalau Sri, terserah Akang saja. kalau Akang mau menjual, silakan jual..! yang terpenting seperti yang tadi Sri bilang, akang siap tanggung jawab tentang kehidupan kita kedepannya."


__ADS_2